Musim penghujan telah datang. Bulan November kembali bersama kisah lalu yang terus diperbaharu. Rintik air yang membumi seolah-olah turut serta membawa tangis yang tak pernah usai. "Aluna!" Satu nama yang selalu terpatri di ingatanku. Tak peduli seberapa banyak aku menyerukan namanya ... suaraku hanya mengudara, pecah, dan kembali--tak berbuah balasan. Setiap hari aku semakin mengingatnya. Rasa rindu terus terpupuk seiring berjalannya waktu. Aku masih enggan melupakan wanitaku. "Aku masih menunggumu!" bisikku. Aku seperti orang yang tidak waras. Terus mengeluh dan protes terhadap takdir dan juga waktu. Dari antara dua belas bulan, aku hanya tidak ingin bertemu dengan November. Bulan di mana Aluna pergi untuk selamanya dari sisiku. Kata orang-orang, Tuhan lebih menyayanginya. Maka dari itu Tuhan menyudahi penderitaan wanitaku ... setelah tiga tahun terakhir berjuang melawan kanker stadium empat. Masih terdengar jelas apa yang dia ucapkan pada pertemuan terakhir kami. "Liam, berjanjilah untuk selalu bahagia, walaupun nanti kamu tidak bersamaku," katanya sambil tersenyum hangat. Netraku tak bisa sedetik pun berpaling memandangi manik matanya. Bagaimana bisa dia tersenyum saat mengatakan hal yang begitu memilukan? Walaupun wajah Aluna terlihat pucat, rambut mulai merontok, dan tubuh yang hanya terbaring lemah ... dia masih terlihat cantik di mataku. Sangat cantik. "Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk berbahagia tanpamu, sedangkan hal yang membuatku bahagia adalah kamu?" ungkapku seraya menggenggam tangan kanannya yang terbebas dari peralatan medis. Aluna tampak tersenyum getir. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih. Dia adalah pembohong yang buruk. Dia menarik tangannya dari genggamanku, kemudian beralih membelai wajahku. "Kamu akan menemukan kebahagiaan, tetapi bukan padaku. Jadi berjanjilah untuk selalu bahagia!" Mengatakan hal tersebut, setitik air mata melolos begitu saja menuruni wajahnya ... yang dengan cepat ia usap. Ah, seharusnya aku yang menyeka air mata itu. Aku menatap sayu pada netranya yang balas menatap sendu. "Berjanjilah untuk sembuh! Aku menginginkan itu darimu Aluna!" Ia tersenyum pilu kemudian menggeleng perlahan. "Aku tidak janji untuk hal itu, Liam!" "Aku hanya tinggal menunggu kapan waktuku akan habis. Kamu tidak boleh bersedih ketika nanti aku pergi. Aku ingin melihatmu bahagia, jadi tolong ... berjanjilah!" gumamnya hampir terdengar sebagai bisikan. Suara Aluna seperti hilang tertelan. Dadaku seketika merasakan sesak yang begitu hebat. Jantungku berdetak dua kali dari biasanya. Apa yang baru saja dia katakan? Dia benar-benar ingin meninggalkanku di sini. "Apa kamu sudah tidak mau bersamaku lagi?" lirihku. Aluna menggeleng dengan air mata yang mulai turun membasahi wajahnya. Kali ini, tanganku terulur menghapus air matanya. Air mata itu terasa hangat, tetapi wajah Aluna begitu dingin ... sama seperti tangannya. "Aku tidak bisa, Liam. Jadi tolong mengertilah!" "Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Tuhan, Aluna. Aku hanya berharap keajaiban itu nyata!" kataku serius. Terlihat Aluna menyunggingkan senyuman tulus, kemudian dia mengusap pucuk kepalaku. Ah, aku rindu diperlakukannya seperti itu. Dia senang sekali mengusap rambutku, mengacaknya sampai tak beraturan. Namun, kali ini usapan yang diberikannya terasa begitu lembut. "Aku sudah menemukan banyak keajaiban pada dirimu," kekehnya terdengar hambar. "Kamu adalah manusia paling ajaib yang pernah aku kenal, Liam," imbuhnya. Aku tidak suka melihat tawanya itu. Apa dia masih berusaha membohongiku? Seolah-olah semuanya akan tetap baik-baik saja. "Aku hanya berharap untuk bisa selalu bersamamu," pungkasku pada akhirnya. Namun, seperti apa yang diucapkannya ... benar saja, Aluna pergi November tahun lalu—beberapa bulan setelah percakapan kami yang terasa begitu menyayat hati. Rasa sakit yang dideritanya hilang. Kini tinggallah aku ... bersama duka yang amat mendalam. Kepergiannya masih belum bisa aku terima. "Kamu bilang tidak bisa janji untuk sembuh, dan aku juga tidak janji untuk bisa melupakanmu," ucapku pada nisan atas nama 'Aluna Prameswari'. Langit sendu kini mulai menurunkan air matanya. Rintik hujan kian membasahi tubuhku secara perlahan. Semesta seolah-olah turut berduka cita dan prihatin terhadap diri ini. Menyedihkan! "Aku akan kembali lagi besok untuk menemuimu," pungkasku kemudian beranjak pergi. Aku berjalan gontai meninggalkan pemakaman, menyeberang jalan karena mobilku terparkir di seberang sana. Namun, tiba-tiba saja suara klakson motor berbunyi sangat panjang ... membuat pandanganku beralih terhadapnya. Tepat di samping kananku, sebuah motor kopling retro berhenti. Ah, aku kira hidupku akan berakhir detik itu juga. Namun, ternyata tidak. Si pengendara turun dan membuka helm yang dikenakannya. Ternyata seorang wanita. Aku terpaku kala melihat sosoknya. "Mas kalau mau menyeberang jalan hati-hati! Untung saja saya bisa rem mendadak, coba kalau tidak? Nanti yang akan kena masalah, saya!" protesnya terhadap sikapku yang sembrono. Dia mengomel tanpa menuruni motornya. Wajah itu, mengapa mirip sekali dengan Aluna? Walaupun wanita di hadapanku kini berpenampilan tomboy dan terlihat seperti anak motor. Berbeda dengan Aluna yang senantiasa berpenampilan anggun dan lembut. Dia juga tidak memiliki tahi lalat di dagunya seperti Aluna. "Mas? Hey! Anda melamun?" tanyanya membuat kesadaranku kembali. Apa yang baru saja aku pikirkan? Dia memang bukan Aluna. "Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut ini. "Ya. Lain kali, Mas harus lebih berhati-hati!" pesannya. Wanita itu melesat pergi melewatiku tanpa mengatakan apa pun lagi. Apa ini akhirnya ... atau justru awal? Aku dipertemukan kembali dengan sosok wanita yang memiliki rupa sama dengan kekasihku. Namun, aku tidak mungkin bisa mencintainya, seperti bagaimana cintaku terhadap Aluna. Rasa ini tidak bisa diganggu gugat ... mutlak!
seruu, menarikk juga alue ceritanya🙏🏻😭
28/05
0bagussss banget
26/03
0bagus
11/03
0ดูทั้งหมด