logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 5 Menolong Tak Perlu Menunggu Kaya

Malam ini suasana begitu sepi, mungkin karena musim penghujan juga. Meski begitu, masih ada saja pembeli yang datang walau tidak seramai biasanya.
Kebanyakan pembeliku adalah penumpang bus, tapi juga terkadang ada pengemudi ojek online. Lambat laun aku sudah memiliki pembeli tetap dari pengemudi ojek online, pada jam-jam tertentu mereka akan datang untuk mangkal di Halte ini, apalagi saat jam pulang kerja.
"Kopinya satu, Bang Adi," pinta salah seorang langgananku.
"Iya, Bang. Tunggu, ya. Sambil nunggu, mending gorengannya sekalian, Bang."
"Ada tahu isi?"
"Ada, Bang. Masih panas, cocok jadi temannya kopi."
Lelaki bernama Jamal itu langsung memilih beberapa gorengan lalu disantapnya dengan lahap. Aku sebisa mungkin beramah tamah pada pelanggan, menawarkan dagangan dengan cara baik tentu saja membuat pembeli tidak terbebani.
Beberapa orang bercerita kalau terkadang mereka terpaksa membeli makanan lainnya karena penjual kopi selalu beralasan tak ada kembalian, aku tidak mau melakukan hal yang sama. Jadi, uang receh dari lima ratus hingga ribuan selalu tersedia untuk kembalian.
"Gorengan Bang Adi memang paling enak, meski udah dingin sekalipun tetap enak," puji Jamal.
"Alhamdulillah kalau Abang suka. Ini kopinya, Bang. Silakan."
Kepuasan pelanggan memang menjadi prioritas utamaku dan Nayla. Istriku tidak sembarangan dalam mengolah gorengan, dia membuatnya dengan bahan yang bagus dan kualitas baik, itulah kenapa rasanya enak.
Air panas yang kubawa juga bisa dipastikan matang sempurna, karena banyak pembeli yang mengeluh kalau terkadang suka sakit perut setelah membeli kopi pada penjual kopi keliling seperti kami.
Alhamdulillah, tidak ada usaha yang sia-sia. Perharinya pendapatanku juga meningkat, yang terpenting bisa untuk modal, makan sehari-hari dan menyisihkan untuk bayar kontrakan bulan depan.
Nayla juga tidak banyak meminta, kebutuhan utama terpenuhi saja sudah syukur—katanya. Terkadang aku berharap dia meminta sesuatu, siapa tahu dengan begitu semakin memotivasiku. Tapi, Nayla tetaplah Nayla yang ku kenal, dia selalu mempertimbangkan banyak hal.
Beberapa hari lalu aku sengaja membelikannya gamis baru secara online, harganya tidak seberapa, tapi dia malah bilang kalau sebaiknya uang itu untuk menambah modal atau membeli sendalku yang sudah usang.
Aku malu, selama pernikahan ini, tidak banyak yang bisa kuberikan untuknya termasuk barang pribadi. Padahal aku sudah berjanji untuk membahagiakannya, namun hanya sebatas ini saja hasil dari kerja kerasku.
Aku memang tidak bisa menjanjikan materi yang berlimpah untuknya, tapi darah, keringat dan nyawaku seluruhnya untuk kebahagiaan Nayla dan kedua anak kami. Aku bisa pastikan semua itu.
***
Hari semakin larut, kulihat daganganku juga sudah separuhnya habis. Hanya saja gorengan Nayla masih tersisa cukup banyak, sekitar dua puluh gorengan.
Sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk terus melanjutkan dagang, apalagi semakin malam pasti semakin tidak aman.
Kuputuskan untuk merapihkan dagangan segera, sebelum nanti preman yang baisanya meminta pungutan liar kembali datang dan memintaku kembali.
Semenjak Halte ini cukup ramai, terkadang ada preman yang mengaku bagian keamanan wilayah, mau tidak mau aku harus rela mengeluarkan sedikit uang dari lima hingga sepuluh ribu untuk mereka.
Terdengar sepele, tapi sejujurnya uang itu sangat berharga untuk pedagang kecil seperti kami. Tapi kami bisa apa? Lebih baik mengikhlaskan sedikit uang yang terpenting kami tetap aman.
Saat sudah siap berangkat, sayup ku dengar dari kejauhan suara orang memanggil namaku. Netraku mencoba untuk memperjelas sosok itu, semuanya jadi semakin jelas saat dia menyeberangi jalan dan menghampiriku.
"Yudi!"
"Adi, Ya Allah. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, sehat. Kamu sendiri bagaimana, Yud?"
Yudi menghela nafas panjang. "Tak lama setelah kamu di keluarkan, aku juga menyusul. Ini mau pulang, cari kerja tapi belum dapat juga."
"Naik angkutan kota? Kemana motormu Yud?"
"Nggak kebayar, Di. Ditarik leasing, mau bagaimana lagi. Untungnya aku belum punya anak Istri, kondisi sulit begini."
"Yang sabar ya, Yud."
"Iya, Di. Oh ya, sekarang kamu jualan kopi?"
"Iya, sekalian nunggu panggilan kerja. Kalau aku diam saja, mau makan apa anak istriku, Yud."
"Setuju, selagi halal."
Grrruuukkkk
Suara perut Yudi begitu nyaring terdengar, sepertinya dia belum makan malam.
"Duh, nih perut malu-maluin banget. He he he."
"Duduk, Yud."
Segera kuturunkan kembali barang daganganku, terutama gorengan Nayla yang masih sisa cukup banyak.
"Aku buat kopi dulu, kamu makanlah gorengannya. Masih enak, kok."
"Tapi, Di—"
"Makan lah, Yud. Temani aku, kebetulan aku juga lapar."
Yudi hanya mengangguk pelan. Kasihan sekali dia sampai telat makan seperti ini. Ku buatkan kopi susu kesukaannya dan susu hangat untukku, setidaknya bisa untuk menghangatkan tubuh kami dari dinginnya malam.
Banyak sekali yang kami bicarakan, mulai dari sulitnya mencari pekerjaan hingga hal apa yang terjadi sejak kami terkena PHK.
"Besok aku ada panggilan kerja, jadi supir. Do'akan ya, Di."
"Aamiin. Semoga keterima ya, Yud."
"Tapi ...."
"Kenapa, Yud?"
"Ongkosku habis, Di. Uang ditangan hanya sepuluh ribu, bingung juga aku."
Kasihan sekali Yudi, dia pasti sangat kesulitan sampai untuk makan saja tidak ada. Aku sebenarnya tidak punya uang lebih, tapi aku hanya memposisikan diri sebagai Yudi, ditambah dia seorang perantauan.
"Ambillah ini, Yud. Enggak banyak memang, tapi semoga bisa sedikit meringankan," ucapku seraya memberikan uang langsung pada tangannya.
"Nggak usah, Di. Kamu juga pasti butuh."
"Aku memang butuh, tapi saat ini kamu jauh lebih butuh."
"Di ...," lirihnya.
"Ambil saja, aku ikhlas."
Yudi menerimanya seraya berkaca-kaca. "Terima kasih, Di."
"Sama-sama, bawa juga ini. Lumayan buat lauk makan, ada kopi juga tinggal kamu seduh buat sarapan besok."
Aku memanglah bukan orang kaya, tapi membantu orang tak melulu harus menunggu jadi kaya raya, selagi ada dan bisa.
***
Nayla seperti biasa menungguku sampai pulang, dia langsung membantuku menurunkan gerobak berisi dagangan. Tangan kecilnya begitu gesit, padahal dia juga pasti sudah lelah.
"Malam sekali pulangnya, Bang."
"Tadi pas mau pulang malah ketemu sama Yudi, teman kerja Abang."
"Pantas saja, Bang."
"Nay, sebenarnya ...."
Kuceritakan apa yang terjadi tadi, aku tak mau menutupi apa pun dari Nayla. Sebenarnya aku merasa bersalah karena tiak berkompromi dulu padanya, tapi tadi itu sungguh darurat.
"Maaf ya Nay, sebagian gorengannya Abang kasih dia, lalu tadi Abang kasih dia uang untuk ongkos besok."
"Kirain kenapa, nggak apa-apa, Bang. Nay juga ikhlas, lagipula dia jauh lebih membutuhkan dari kita."
"Iya, Nay. Terima kasih, ya."
"Sama-sama, Bang. Menolong 'kan tidak harus menunggu kaya."
"Masha Allah, istri Abang ini orang yang kaya rupanya ... kaya hati lagi cantik," pujiku.
Nayla tersipu malu, namun justru membuatnya semakin terlihat cantik menawan. Dia mampu membuatku terus merasakan jatuh cinta dengan segala kebaikannya.
Untunglah Nayla tak marah. Semoga apa yang kuberikan pada Yudi menjadi berkah dan bisa sedikit meringankan bebannya, Amiin.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (93)

  • avatar
    RifqiLalu

    ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞

    05/05/2022

      0
  • avatar
    MeilianaEstina

    alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus

    02/12

      0
  • avatar
    HendrawanNasrul

    bagus

    13/07

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด