logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 4 Saudara

Meski sempat merasa dirugikan saat membantu Bu Tono, tapi aku tidak pernah jera untuk menawarkan jasa pada tetangga sekitar, pekerjaan apapun itu jika aku bisa akan kulakukan.
Alhamdulillah, perlahan namun pasti ada saja orang yang butuh jasaku, malah upahnya bisa untuk menambah modal.
Kini aku mulai memperbanyak jenis dagangan, supaya menarik minat pelanggan tentunya. Dengan menyisihkan sedikit demi sedikit uang, aku mulai menambah perlengkapan lain seperti termos es dan membeli bahan untuk membuat gerobak yang lebih layak.
Penghasilannya memang belum bisa dibilang besar, tapi cukup lah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bayar kontrakan dan sisanya disisihkan untuk disimpan.
Sebisa mungkin kami berhemat, yang terpenting masih bisa makan dan juga memiliki tempat untuk bernaung, itu saja sudah cukup. Lupakan dulu hasrat membeli sesuatu yang dirasa kurang penting, apalagi dalam kondisi keuangan yang kini tengah morat-marit.
Hari ini seorang tetangga baru memintaku membantunya mengecat rumah, tentu saja itu jadi kabar baik untukku. Kebetulan masih ada bahan yang kurang untuk menyelesaikan gerobak baruku, jadi hasil upah nanti bisa ku belikan sebagian untuk melengkapi yang kurang.
"Sudah mau jalan, Bang?"
"Iya, Dek. Teh manisnya simpan saja, nanti Abang minum lagi."
"Iya, Bang."
Nayla membawa pergi gelas berisi teh manis milikku, tidak lama kemudian dia kembali seraya menggendong Marwah dan menuntun Safa.
"Mau kemana, Nay?"
"Ke rumah pemilik kontrakan, Bang."
"Uangnya memang sudah kumpul?"
"Sudah, Bang. Alhamdulillah."
"Lalu, sekarang kamu pegang uang berapa?"
Nayla membuka dompet miliknya, itu pun dompet hadiah dari toko perhiasan tempatku membelikannya mas kawin saat pernikahan dan sudah terjual tahun lalu.
"Masih ada seratus lima puluh, Bang."
"Maafin Abang ya, hasil jualan selama ini baru bisa untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari saja."
"Enggak apa-apa, Bang. Itu sudah lebih dari cukup, Alhamdulillah. Masih bisa makan, penuhi kebutuhan anak-anak dan ada tempat tinggal saja sudah bersyukur."
"Nanti uang upah buat kamu saja, deh. Biar nanti saja gerobaknya lain kali, siapa tahu ada rezeki lain."
"Eggak perlu, Bang. Itu 'kan buat usaha, lagipula kebutuhan pokok lainnya sudah Nay beli untuk satu mingguan. Pokoknya tenang saja."
"Makasih ya, Nay."
"Iya, Bang."
"Abang jalan dulu, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Nayla mencium punggung tanganku dengan takzim, diikuti oleh kedua putri kecilku. Merekalah semangatku dalam mencari nafkah, ku cium kening mereka sebagai bentuk sayangku sekaligus mengisi kembali semangat hari ini.
***
Alhamdulillah, pekerjaan hari ini berjalan lancar dan menyenangkan. Tetangga baruku ini orangnya rendah hati meski ternyata dia seorang Bos besar. Dia bahkan tidak segan tinggal di rumah sederhana ini. Padahal, bisa saja dia membeli rumah di komplek yang letaknya tidak jauh dari sini, jauh lebih besar dan nyaman.
"Terima kasih loh, Pak Adi. Hasil catnya rapi, nanti saya kabari lagi kalau butuh bantuan, ya."
"Sama-sama, Pak."
Dia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih dari sana.
"Ini upahnya, kalau sekiranya kurang, nanti kasih tahu saya saja. Maaf, ini kali pertama saya pakai tukang selain dari langganan."
"Iya Pak. Terima kasih. Saya terima uangnya ya, Pak."
"Oh ya, tunggu sebentar."
Dia berlalu pergi menuju kamarnya, namun tidak lama kemudian dia kembali membawa serta sebuah goodie bag dengan isi aneka makanan.
"Ini bingkisan kecil dari saya, untuk keluarga."
"Terima kasih, Pak. Alhamdulillah."
"Sama-sama, Pak."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Safa dan Marwah pasti senang sekali, banyak makanan kesukaan mereka di sini. Semenjak aku dipecat, Nayla memang sedikit mengurangi jatah jajan mereka, untunglah hari ini ada rezeki tidak terduga.
Ku langkahkan kakiku kembali menuju rumah, biasanya pada jam segini Safa dan Marwah sudah bangun tidur siang, tak sabar rasanya melihat wajah bahagia mereka.
Setibanya di rumah, tampak beberapa pasang sandal berjejer rapi di teras, sepertinya kami kedatangan tamu. Ku bungkus bingkisan pemberian bapak tadi dengan plastik, tidak enak rasanya jika itu tamu penting lalu melihatku datang dengan membawa serta bingkisan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam," jawab mereka serempak.
Ternyata Mbak Nani dan suaminya yang datang, tumben sekali mereka berkunjung, biasanya kalau ada hal penting sekali pun Mbak Nani yang akan memintaku datang menemuinya.
"Sudah lama, Mbak?"
"Baru saja, duduk."
"Sebentar, Mbak. Aku simpan perkakas dulu."
Setelah menyimpan perkakas dan plastik berisi bingkisan, aku duduk disamping Nayla dan kedua anakku. "Ada apa, Kak? Tumben."
"InsyaAllah awal bulan depan aku mau menikahkan Alisa, Di."
Alisa adalah putri sulung Mbak Nani, tapi setahuku dia masih sekolah di bangku menengah atas. Sepertinya sudah terjadi sesuatu.
"Kamu pasti bisa menebak, Alisa hamil, Di."
"Ya Allah, yang sabar ya, Mbak."
"Ya, terima kasih. Tapi yang jadi masalah, calon suaminya hanya mampu kasih Mbak sedikit, enggak akan cukup kalau buat pesta."
"Nikahkan biasa saja, Mbak, yang penting sah."
"Enggak bisa! Apa kata orang nanti, mentang-mentang hamil duluan dinikahin macam janda."
Astagfirullah, Mbak masih saja memikirkan gengsi disaat seperti ini. Padahal maksudku baik, daripada menyusahkan diri sendiri dengan membuat pesta, lebih baik uang itu di simpan saja.
"Lalu bagaimana?"
"Kamu ada uang enggak? Tolong tambahin, minimal satu juta."
Minimal katanya? Apa dia tidak tahu kalau uang segitu banyak saja sulit kucari saat masih bekerja apalagi sekarang.
"Maaf, Mbak. Kalau segitu banyak Adi nggak ada, lagipula Mbak 'kan tahu kalau sekarang Adi enggak kerja. Masih bisa makan dan bayar kontrakan saja sudah Alhamdulillah."
"Satu juta kamu bilang banyak, Di? Padahal baru kali ini Mbak minta tolong sama kamu!" sentak Mbak Nani.
"Tapi Adi memang enggak ada, Mbak. Kalau punya, jangankan satu juta, sepuluh juta bahkan seratus juta pun Adi kasih."
Mbak Nani bangkit dari tempat duduknya, disusul oleh Mas Yoga—suaminya. Jelas sekali saat ini mereka marah dan kecewa padaku.
"Ayo pulang, Pak. Percuma kita ngomong sama dia, sama saudara saja perhitungan."
"Mbak ...."
Tanpa berpamitan, Mbak Nani dan Mas Yoga berlalu pergi. Astagfirullah, padahal aku bicara jujur apa adanya, kenapa mereka salah paham seperti ini.
"Biarkan saja, Bang. Jangan diambil hati. Nanti juga Mbak Nani baik kembali, ini bukan kali pertama Mbak Nani marah, kan?"
Benar, malah sudah terlalu sering. Namun nanti dia akan kembali mendekati kami jika sedang butuh bantuan, apalagi kini dia hendak menikahkan Alisa, pasti butuh banyak bantuan tenaga.
"Iya, Nay. Oh ya, tadi Abang dikasih bingkisan sama yang nyuruh kerja, banyak makanan kesukaan anak-anak."
Mendengar kata makanan, anak-anak langsung berlari menuju dapur dan langsung mencari bingkisan yang ku maksud. Terdengar nyaring sorak kegirangan mereka.
"Ini uangnya, ambil lah."
"Bukannya buat bahan gerobak Abang?"
"Buka dulu, Abang akan ambil secukupnya saja."
Nayla membuka amplop itu dengan antusias. "Alhamdulillah ya Allah, seratus lima puluh ribu, Bang."
"Alhamdulillah, Abang ambil lima puluh ribu saja."
"Apa cukup?"
"InsyaAllah, Abang amanahkan sisa uangnya untuk kamu atur."
"Alhamdulillah, terima kasih, Bang."
Hanya inilah yang bisa kulakukan untuk keluargaku, terus berusaha sebaik mungkin selagi itu bisa mencukupi kebutuhan mereka.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (93)

  • avatar
    RifqiLalu

    ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞

    05/05/2022

      0
  • avatar
    MeilianaEstina

    alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus

    02/12

      0
  • avatar
    HendrawanNasrul

    bagus

    13/07

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด