logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 7 Peringatan Rion

Kembali ke perusahaan, Sara terkejut mendengar kabar dari sekretaris kalau mantan suaminya menunggu di ruang kerja. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh Rion sampai berani menginjakkan kaki di perusahaan kakek. Tidak ada alasan pula baginya menolak setelah pria itu datang langsung menemuinya.
"Jika kau datang untuk meminta bantuanku untuk memperbaiki citra keluarga Atkinson, lebih baik pergi saja," ucap Sara.
Rion menghampiri wanita yang enggan duduk bersamanya, lalu berkata, "Aku datang ke mari bukan untuk memohon padamu."
"Lalu?"
"Jauhi Charlie."
Sara mengerutkan dahi. "B—bagaimana kau bisa tahu?"
"Bagaimana tidak? Dia adik tiriku."
"A—apa? T—tapi aku belum pernah melihatnya selama ini."
"Itu karena dia tinggal di luar negeri. Kakek mengirimkannya ke sana, karena Charlie bukan cucu yang patuh. Aku baru tahu kalau dia kembali setelah tidak sengaja mendengar percakapan Charla dengannya. Mereka menyebut namamu. Aku segera ke mari setelah tahu kalau Charlie sengaja mendekatimu."
"A—apa? Jadi, dia sengaja mendekatiku?"
Sara merasa dibohongi, dia yang hampir memiliki harapan atas hubungan barunya. Ternyata dia harus memakan rasa kecewa kembali. Dia seperti orang bodoh sekarang.
"Aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan," ucap Rion, kemudian pergi begitu saja.
Sara terduduk di sofa dengan perasaan campur aduk. Untung saja, dia mengetahui lebih awal kalau Charlie memiliki tujuan mendekatinya. Kalau dia jatuh terlalu dalam dikarenakan pria itu bisa membuat dirinya nyaman pula, tidak menutup kemungkinan jika dia akan kembali terjerat dalam keluarga Atkinson yang ingin dilupakannya.
Dia menatap pintu ruang kerja yang tertutup rapat, lantas bergegas keluar untuk mengejar Rion. Mereka bertemu ketika pria itu hendak naik lift.
"Tunggu!"
Pintu lift ragu untuk menutup atau membuka, karena Sara kini berada tepat di garisnya agar bisa menghalangi. Dia berlari dengan cepat sehingga begitu tersengal-sengal. Sementara mereka yang ada di dalam kotak pembawa penumpang itu tercengang menatap bos besar mereka menyusul lift dengan bersemangat.
Kedua mata Rion sendiri masih melebar, begitu terkejut ketika mantan istri tiba-tiba berada di hadapannya. Sara yang bertindak memalukan pun naik bersama mereka dan turun dari lantai perusahaan tanpa sepatah kata.
Sara juga melihat Rion seolah memang tidak memiliki urusan dengannya lagi, lantas dia menghalangi pria itu kembali. Tindakan yang begitu tiba-tiba membuat Rion terkejut kembali.
"A—apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Rion.
"Ya. Karena itu, mari kita bicara di tempat yang lebih sepi."
Rion melonggarkan dasi, melirik jam tangan, kemudian berkata, "Aku sudah harus kembali ke perusahaan. Tapi jika benar-benar penting, aku masih memiliki waktu sepuluh menit."
Mereka memutuskan untuk bicara di area yang agak sepi, tempat di mana para pegawai jarang melewatinya. Bahkan, di sana pun hanya terdapat dinding dan tanaman perusahaan. Menurut Sara itu adalah spot yang cocok untuk bicara.
"Kita akan membereskannya dalam lima menit," ucap Sara.
"Baiklah."
"Kenapa kau memberitahukan soal Charlie padaku?"
"Karena aku rasa dia akan melakukan sesuatu yang buruk padamu."
"Kita sudah berpisah, Tuan Rion. Apa itu membuatmu khawatir bahwa dia akan mencelakakanku? Meskipun aku sangat berterima kasih atas ketangkasanmu dalam membantu seseorang yang mungkin sedang terancam bahaya."
"Apa itu sesuatu yang patut untuk dipertanyakan ketika seseorang ingin menyelamatkanmu?"
"Ya! Kau membuatku bingung dengan tindakanmu."
Rion mengepalkan tangan. "Aku tidak akan melakukannya lagi jika hal itu mengganggumu."
"Tidak bisakah kau mengatakannya secara jelas?"
Rion menyipitkan mata. "Kau ingin aku mengatakan apa?"
Sara frustrasi, tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan Rion. Dia sendiri juga bingung kenapa menghentikan mantan suaminya yang jelas-jelas sudah bahagia bersama orang lain.
"Terima kasih sudah memberitahukannya padaku. Tapi aku harap lain kali kau tidak melakukan hal ini lagi, karena aku sudah memiliki tiga pengawal yang akan melindungiku."
"Aku mengerti."
Sara menatap kepergian Rion, entah sudah berapa kali begitu. Sampai akhir dia memang tidak pernah menjangkau isi pikiran pria itu. Mereka memang tidak memiliki keterbukaan di dalam hubungan.
Dan rasanya, sangat kesal.
Sebaliknya, Sara tidak mengindahkan perkataan Rion. Dia tetap pergi bersama Charlie untuk makan malam. Sikap yang ditunjukkannya seolah tidak ada kejanggalan dalam hubungan mereka.
Tentunya Sara tidak akan berlaku bodoh lagi kali ini. Dia membawa Auris diam-diam, karena Charlie yang menjemput berarti mereka hanya pergi berdua. Insting mengatakan kalau Charlie sengaja agar dia pergi tanpa perlindungan.
"Sara, kau mabuk? Aku sudah katakan untuk tidak minum terlalu banyak."
"Entahlah. Aku hanya minum sedikit, tapi langsung membuat kepalaku pusing."
"Apa kau baru sekali minum alkohol? Itu pertanda kalau batas toleransimu hanya sampai di sini."
Charlie pun memapah Sara untuk pergi dari restoran. Dia mendudukkan wanita yang sedang mabuk itu di depan.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Sara bergumam, "Aku tidak ingin pulang."
Charlie tersenyum miring. "Lihatlah wanita berumur tiga tahun lebih tua dariku ini. Dia seperti anak kecil sekarang."
Charlie mendekat, lalu berbisik, "Jika tidak pulang, kau mau kita ke mana? Apa ke hotel saja? Tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak melakukan apa-apa padamu."
Ini adalah alasan kenapa Sara tetap pergi makan malam bersama. Dia ingin memastikan niat Charlie yang sebenarnya. Tadinya, dia berpikir kalau kejahatan keluarga Atkinson akan memakai cara yang sama yaitu menjebaknya tidur bersama seorang pria dan membuat namanya buruk.
Namun, Charlie tampak tidak memiliki niat untuk melakukan pola yang sama. Hal itu membuat dia ragu apakah Charlie termasuk dalam proyek rasa tidak suka mantan mertua dan mantan adik iparnya?
"Tetap saja, aku harus mengantarkanmu. Terlalu cepat untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh dari berpegangan tangan. Kau juga merasa begitu, bukan?"
Sara tersentuh dengan sikap Charlie. Dia semakin bingung, apakah dia akan dicelakai atau tidak. Sejak tadi dia hanya diperlakukan dengan baik, bahkan setelah dia berpenampilan menarik.
Kegelisahan Sara mengantarkannya ke rumah. Dia tidak mendapatkan cara apa pun untuk membongkar keburukan Charlie. Justru hatinya terus tersentuh oleh perilaku hangat yang tidak pernah dia dapat.
Sangat berbeda dengan Rion, meskipun dia orang yang baik, tetapi tidak pernah begitu perhatian. Tidak heran karena mereka pun bukan orang yang saling terbuka. Mungkin, akan aneh dan canggung jika tiba-tiba ada yang bersikap romantis.
Rion memang orang yang seperti itu, tetapi bukan berarti dia tidak romantis. Dia memiliki sisi romantis tersendiri dalam menghadapi wanita. Misalnya saja berkata-kata dengan tatapan mendalam.
Ah, kenapa dia jadi mengingat tentang mantan suaminya?
"Aku akan membaringkanmu di kamar," ucap Charlie setelah mengetahui dari pelayan ada di mana kamar Sara.
Ini adalah waktu penentuan akhir, apakah Charlie memang bersekongkol atau tidak. Charlie seharusnya memiliki hasrat jika membaringkan seorang wanita di atas ranjang, terlebih dalam keadaan hanya mereka berdua saja di satu ruangan.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (124)

  • avatar
    prabataSirda

    sangat menarik👍

    19/03/2025

      0
  • avatar
    acutachut

    ok sangat berkena di hati

    03/01/2025

      0
  • avatar
    SahibIntan

    Jalan. cerita nya bagus, tetapi cara penulisan very bad. Membaca nya seperti direct translation from Google translate or macam bad subtitle movie.

    15/09/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด