logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 5 Kaya Jadi Terpandang

Sara turun dari mobil mewahnya, dibukakan pintu oleh pengawal wanita—Auris. Dia menaikkan kacamata hitamnya sambil memandangi gedung yang ada di depan sana. Jika sudah menginjakkan kaki di perusahaan, maka tidak ada jalan baginya untuk kembali. Dia akan menjadi cucu kakek yang bermartabat setelah ini.
"Mari, Nona Sara."
Sara berjalan lebih dulu dengan sang pengawal yang mengawasi dari belakang. Orang-orang memandangi wanita berpenampilan layaknya model itu dengan mulut terbuka lebar. Belum membuka kacamata saja mereka sudah terlihat begitu, bagaimana jika nanti setelah membuka kacamata?
"Lihatlah gayanya, sudah seperti seorang bintang papan atas saja. Aku yakin dia menyembunyikan jerawat di balik kacamatanya."
Langkah Sara seketika berhenti. Dia membalikkan badan. Tidak jauh dari tempat berdirinya kini, tampak seorang wanita sedang membicarakan sesuatu yang dapat dipastikan perkataan itu ditujukan untuk dirinya, karena hanya dia yang berpenampilan mencolok serta diperhatikan saat ini.
Sara menghampiri wanita itu dan berkata, "Apa Anda pegawai di perusahaan ini?"
"Y—ya."
"Dari divisi mana Anda berasal?"
Auris meraih kartu nama yang menggantung di leher sang pegawai wanita. "Indri. Dia berasal dari divisi pemasaran."
"Pecat dia," ucap Sara. "Kita tidak membutuhkan pegawai yang mengkritik secara sembarangan."
"Hah? Kau pikir ini tempat yang tepat untuk bermain-main seperti seorang atasan?" Indri berkata.
Sara melepaskan kacamata, menunjukkan bagaimana cantiknya paras wanita yang sejak tadi diperhatikan orang banyak. Dia agak membungkuk agar dapat menyejajarkan pandangan matanya dengan Indri, karena wanita itu tidaklah tinggi dibandingkan dirinya.
Sara tersenyum miring. "Jadi, kau pikir ini adalah tempat yang tepat untuk bermain-main seperti seorang juri?"
Sara menarik dirinya kembali, lalu mengenakan kacamata kembali. "Aku tidak ingin melihat batang hidung wanita ini lagi besok. Pecat siapa saja yang berani mengkritikku dengan buruk."
"Baik. Saya akan mengurus proses pemberhentiannya." Auris berkata.
Sara memperhatikan sekeliling yang hanya memandanginya dengan penuh tanda tanya. Dia pun berkata di hadapan semua orang, "Mulai dari sekarang, aku adalah atasan di perusahaan. Sara Davis, cucu dari orang yang kalian hormati selama ini."
"Apa? Cucu dari pemilik perusahaan?"
"Jadi, dia orangnya?"
Kira-kira itulah yang Sara dengar dari mulut para pekerjanya. Dia pasti akan menjadi topik hangat di kantor selama beberapa waktu. Itu memang yang dia inginkan, membuat dirinya populer sehingga dapat menunjukkan pada dunia siapa dia sebenarnya.
"Apa yang aku lakukan sudah benar, Auris?"
Pada kenyataannya, baru pertama kali Sara bersikap demikian pada seseorang. Baru pertama menunjukkan diri, dia juga sudah berani memecat pegawai kakek. Bagaimana jika hal buruk terjadi pada perusahaan setelah ini?
"Anda sudah melakukan yang terbaik. Saya seperti melihat kakek di diri Anda. Beliau juga tidak suka pegawainya berbicara hal buruk di belakang, karena itu bagaikan sebuah pengkhianatan."
"Aku berharap tidak merugikan kakek dan orang-orang di perusahaan."
Auris menipiskan bibir. "Anda harus memperkenalkan diri pada para pemegang saham. Rapatnya akan dimulai lima menit lagi."
"Secepat itu?! A—aku bahkan belum bisa bernapas dengan benar."
"Tenang saja. Saya akan menemani Anda."
Sara melalui rapat dengan percaya diri, di samping itu tangan dan kakinya sangat lemas, jantungnya berdegup kencang seolah riwayatnya sebentar lagi akan tamat. Dia sengaja tidak beranjak terlalu jauh dari tempat duduk agar dapat menopang diri dengan benar. Untung saja ada Auris yang membantu sehingga keawamannya bisa terselamatkan.
Begitu hari pertama Sara masuk ke perusahaan, sangat menguras tenaga. Dia hanya bisa terduduk lesu di mobil ketika berada dalam perjalanan pulang. Selama itu bertanya-tanya, apa bekerja di perusahaan memang segitu melelahkannya? Tidak heran Rion selalu pulang dalam keadaan letih.
"Ini pengalaman baru bagi Anda, jadi wajar jika membuat kesalahan. Tidak perlu khawatir, karena cepat atau lambat Anda akan terbiasa," ucap Auris yang menyetir di bangku depan.
"Sebelum pulang ke rumah, bolehkah kita singgah ke suatu tempat sebentar?"
"Anda akan singgah ke mana?"
"Perusahaan keluarga Atkinson. Aku ingin melihatnya dari jauh."
Auris menatap kaca tengah dengan pandangan iba, lalu berkata, "Kalau Anda menginginkannya begitu, maka kita akan ke sana."
Sara menghitung waktu, di mana seharusnya mantan suami sebentar lagi akan ke luar dari kantor. Ingin rasanya dia bertemu meskipun sebentar. Apa itu masih tidak mungkin?
"Anda benar-benar menyukai Tuan Rion?"
Sara menganggukkan kepala. "Awalnya, aku memang hanya menerima perjodohan dengan alasan kakek. Setelah waktu berjalan, aku jadi menyadari bagaimana perasaanku terhadapnya. Aku memang menyukainya, tapi sepertinya hanya aku saja."
"Kenapa Anda begitu yakin kalau Tuan Rion tidak memiliki perasaan terhadap istrinya sendiri?"
"Itu karena dia memilih untuk berpisah denganku. Jika dia memiliki perasaan, pasti akan mempertahankan hubungan kami bagaimanapun caranya."
Setelah berbicara, perhatian Sara tersita ke satu arah. Dia melihat mantan suami ke liar dari gedung perusahaan dan berdiri di depan sana. Tidak lama kemudian, mobil berhenti dan membawa Rion pergi. Dia hanya bisa melihat wajah mantan suami sekilas ketika kendaraan mereka berdekatan.
"Anda ingin kita mengejarnya?"
Sara menggelengkan kepala. "Dia tidak menginginkanku, jadi lebih baik kembali saja."
Auris melakukan apa yang diperintahkan, sedangkan Sara menikmati kesendirian dengan perasaan sedih. Dia masih belum bisa lepas dari bayang-bayang kehidupannya bersama Rion.
Namun, kehidupan Sara terus berlanjut. Dia adalah orang yang cepat belajar dan dengan didampingi oleh Auris, dia dapat menjadi sosok diperhitungkan di dunia bisnis. Orang-orang yang sempat menolak kehadirannya pun semakin lama semakin berkurang.
Hingga tidak terasa sudah memasuki waktu satu tahun lebih sejak Sara menjadi seorang wanita karier yang memegang kendali atas perusahaan. Selama itu dia juga diundang untuk menghadiri perjamuan orang-orang besar.
Sedangkan, Rion tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Sara berusaha untuk tidak mengikat dirinya dengan kenangan tentang pria itu. Tetapi takdir membawa mereka kembali bertemu di sebuah pesta perayaan.
Dendam yang dia urungkan untuk dibalas, saat melihat sosok Belinda dan Charla yang ikut hadir membuat perasaan menyesakkan itu muncul kembali, ingatan terkubur memaksa dirinya untuk memikirkan soal perlakuan mereka.
Sara tidak akan lupa bagaimana dirinya dijebak bersama pria asing di dalam hotel, lalu saat difitnah di depan Rion. Lebih menyakitkan lagi ketika suaminya sendiri tidak mempercayai, justru memilih jalan perceraian sebagai tindakan.
"Halo, Sara. Kau juga ada di sini ternyata," ucap Belinda.
"Berusaha menjadi orang kaya dengan penampilanmu yang sekarang, huh? Apa ingin balas dendam?" Charla tertawa. "Jangan bermimpi, karena kau tidak akan pernah bisa mengalahkan kami, mantan kakak ipar."
Sara mengeratkan genggamannya pada gelas. Kemarahan, kekecewaan, serta kesedihan yang masih dia rasakan bercampur aduk menjadi satu. Ingin rasanya dia menuangkan air ke pakaian mereka berdua. Apa mungkin di posisinya yang sekarang? Di depan para pebisnis yang sangat dihormati ini?

หนังสือแสดงความคิดเห็น (124)

  • avatar
    prabataSirda

    sangat menarik👍

    19/03/2025

      0
  • avatar
    acutachut

    ok sangat berkena di hati

    03/01/2025

      0
  • avatar
    SahibIntan

    Jalan. cerita nya bagus, tetapi cara penulisan very bad. Membaca nya seperti direct translation from Google translate or macam bad subtitle movie.

    15/09/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด