Luna menggendong baby Zhue yang tertidur pulas, ia hendak membawanya masuk ke dalam rumah. Baru saja beberapa langkah, ada rasa nyeri di perut Luna. Seperti ngilu, perih dan langkahnya terasa semakin berat. Luna memaksakan kakinya untuk melangkah lebih lebar, agar cepat sampai masuk ke dalam kamar. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Kali ini rasanya seperti luka yang teriris pisau, terasa perih. Gendongan baby Zhue di tangannya semakin mengendur, Luna mencoba melangkahkan kakinya secara perlahan. Tetap saja, hal itu tidak mengurangi rasa ngilu di dalam perutnya. "Ah, sial! Kenapa sih nih perut? Sakitnya beneran nih, bukan kaleng-kaleng. Kenapa, ya?" Luna menggeram dalam hati. Perutnya seperti akan lepas, tak menyatu dengan pahanya. Luna memutuskan untuk duduk bersandar di depan pintu. Ia tak peduli lagi, perutnya terasa sengkring-sengkring. Luna meringis menahan sakit. "Duh, sial!" Jeritnya tertahan. *** Ibu tergopoh-gopoh menghampiri Luna yang sedang kesakitan sembari memegangi perutnya. Diambilnya baby Zhue dari dekapan Luna, ibu tampak khawatir. Bukan pertama kali ibu melihat Luna mengerang kesakitan. Namun tetap saja, kekhawatirannya tampak semakin jelas di wajahnya yang mulai keriput. “Kamu kenapa, Nduk? Tunggu, ya, sabar. Ibu cari bantuan dulu, kamu tunggu di sini,” ujar ibu seraya berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan. Luna meringis memegang perut, air matanya tumpah. Tak berselang lama, ibu beserta beberapa warga datang berbondong-bondong untuk memapah Luna, membawanya ke rumah sakit. Ibu bergegas menghubungi Fathir. Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa kondisi Luna. Ibu tak ikut ke rumah sakit, beliau memilih menjaga baby Zhue di rumah bersama Bapak. Luna diantar oleh beberapa warga, Fathir bergegas menyusul untuk melihat kondisi Luna. Tetap saja, raut kecemasan terlihat jelas di wajah tampannya. Dokter menasihati Luna agar tak banyak beraktivitas dan bergerak berlebihan, karena itu bisa berisiko besar untuk nyawanya. “Saya mohon, ya, Pak, untuk lebih intens lagi memperhatikan ibu Luna. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, kondisinya masih lemah. Tak seharusnya Bu Luna membawa beban dan beraktivitas terlalu berat. Sangat rawan untuk kondisi jahitannya. Bahkan, dalam kurun waktu lima tahun pun, belum tentu jahitan dalam bisa pulih sepenuhnya,” ujar Dokter Adam dengan mimik wajah prihatin. “Baik, Dok. Maafkan saya, InsyaaAllah saya akan lebih teliti lagi untuk menjaga kondisi Luna,” jawab Fathir dengan senyum tulus. “Ya, kalau gitu saya permisi. Bu Luna sudah saya berikan obat dan vitamin khusus, untung saja kondisi lukanya tak terlalu parah. Obatnya diminumkan teratur, ya. Tidak ada pantangan makanan, semua boleh dimakan asal tidak berlebihan. Minggu depan silakan kembali kontrol,” pamit Dokter Adam sebelum beranjak pergi. Fathir hanya mengangguk mencerna kalimat Dokter Adam. “Kenapa, sih, Lun? Kerjanya cari masalah terus, pusing aku, tuh, ngadepin semua tingkah konyolmu!” sentak Fathir menatap garang wajah Luna. “Konyol apa, sih, Mas? Memangnya aku ngelakuin apa?” tantang Luna tajam. “Ah, sudahlah. Cepat akhiri dramamu, aku tak sabar lagi menghadapi tingkahmu,” ucap Fathir dingin. Luna hanya melengos, tak menjawab perkataan Fathir. Hatinya kembang kempis karena tak berhasil mengambil hati Fathir lagi hingga saat ini. Setelah 2 hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Luna diperbolehkan juga untuk pulang. Dengan langkah pelan, dituntun Fathir, Luna memasuki mobil dengan hati-hati. Perutnya masih terasa jarem, nyeri hingga ke ubun-ubun. Sesampainya di rumah, sudah ada bapak, ibu, Ningsih beserta Chintya yang menyambut kepulangannya. Ningsih menatap Luna dengan iba, bagaimanapun ia tahu rasanya melahirkan melalui persalinan caesar. “Mending kamu banyak istirahat, deh, Lun. Jangan ngelakuin hal berat dulu, kalau kamu sakit, kan, kasihan bayimu harus minum susu formula,” ujar Chintya turut prihatin. Luna menatap kakak iparnya dengan pandangan sinis, “memang kenapa, sih, Mbak? Kalau susu formula? Sudah menjadi hak ku, dong. Mau aku kasih susu apa, kok jadi situ yang ribet.” Chintya hendak membuka suara, dengan cepat Ningsih mengkode untuk tak memperpanjang masalah sepele ini. Chintya hanya mampu mengelus dada, sabar. “Bawa istrimu ke kamar, Le. Luna butuh istirahat” kalimat ibu terdengar bijak. Fathir hanya mengangguk dan bergegas menuntun Luna, membawanya masuk ke dalam kamar. Setelah membaringkan Luna ke atas kasur, Fathir beranjak meninggalkan Luna. Namun, tangan Fathir dicekal oleh Luna, ia tak ingin Fathir pergi. “Temani aku, ya, Mas. Takut aku perlu sesuatu, aku butuh kamu saat ini, Mas. Aku mohon,” pinta Luna lirih. Fathir melepas tangan Luna yang berada di lengannya, ikut merebahkan dirinya di samping Luna dengan posisi membelakangi, tentu saja hal itu membuat Luna senang, dipeluknya Fathir dari belakang. Dengan cepat, Fathir segera menepis tangan Luna di perutnya dengan kasar. Luna mengerucutkan bibirnya dengan kesal. *** Beberapa waktu berlalu, hari ini bertepatan dengan acara selapan sekaligus aqiqah baby Zhue. Acara diadakan dengan sederhana, terop dipasang dengan hiasan rumbai berwarna hijau muda, kursi plastik ditata rapi sedemikian rupa. Di dapur, para warga juga ikut membantu menyiapkan aneka hidangan. Hati Fathir merasa deg-degan. Begini rasanya menjadi seorang ayah, masih tak percaya rasanya. Namun, di bilik hati lainnya, Fathir masih penasaran. Benarkah baby Zhue putra kandungnya? Atau kah bukan? Fathir tetap akan melakukan tes DNA, tidak sekarang tentunya. Ia menunggu baby Zhue setidaknya berumur setahun. Entah kenapa, Fathir merasa nyaman dengan baby Zhue. Ada ikatan batin tersendiri yang mampu dirasakan olehnya. “Semoga kamu menjadi anak yang sholeh, ya, Le,” ujar Fathir mencium lembut kepala baby Zhue. Besar keinginannya untuk memberikan masa depan yang terbaik untuk baby Zhue, menjadikan baby Zhue orang yang sukses, berguna untuk semua dan menjadi orang yang bertakwa. “Anak kita lucu, ya, Mas?” ucap Luna sembari memandang manja ke arah Fathir. Fathir hanya meliriknya sekilas sambil berdehem. “Mas ...,” ujar Luna. “Hm?” “Kamu masih marah sama aku? Apa gak ada lagi sedikit saja cinta kamu buat aku? Semudah itukah kamu menghapusku dalam hatimu, Mas?” Luna menatap Fathir dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku ...,” ujar Fathir menggantung karena mendengar ponselnya berdering. Kau ... putuskan ... tuk mendua ... dengan dia ... di belakangku ... Suara ringtone dari ponsel Fathir terdengar nyaring, hal itu membuat Luna tersipu. Hati Luna sangat percaya jika Fathir masih mencintainya, terbukti dari dering ponselnya saja menggunakan ringtone lagu yang seakan menggambarkan isi hatinya. Luna berpikir Fathir masih mencintainya, hanya saja butuh waktu. Fathir mengangkat panggilan di ponselnya menjauh dari Luna. “Ya ... Kenapa?” ujar Fathir menyahut suara di ujung telefon. Wajahnya terlihat serius dan sedikit tegang. “Alhamdulillah, kabar baik. Saya mohon, Pak. Lakukan yang terbaik, usahakan semaksimal mungkin. Saya butuh kabarnya cepat, terima kasih banyak, ya, Pak!” Fathir menutup telefonnya dengan wajah yang semringah. Entah apa yang direncanakan dengan orang di seberang telefon, karena sepertinya sangat penting. Luna yang memperhatikan gerak-gerik Fathir, bergegas menyusul mendekati Fathir. “Siapa, Mas? Serius amat?” tanya Luna. “Apa, sih. Bikin kaget aja!” bentak Fathir kesal, ia sedikit terjungkat karena kaget Luna sudah berdiri di belakangnya. “Telefon sama siapa, sih? Serius amat!” Luna mengulangi pertanyaannya. “Bukan urusan kamu!” “Kok gitu? Aku ini masih istri sah kamu, loh, Mas!” jelas Luna. “Tidak lagi, setelah hasil tes DNA ini nanti keluar.” Ucap Fathir dingin. “Maksud kamu apa, Mas?” titah Luna mendadak bingung, wajahnya pucat pasi. “Gak usah berlagak bego, deh, Lun. Takutnya jadi bego permanen baru tahu rasa, tuh!” Fathir terkekeh meninggalkan Luna yang mematung. Lutut Luna terasa lemas, tubuhnya membeku seketika mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan Fathir, Luna tak mau rumah tangganya hancur. Malu sekali jika ia harus menyandang status janda. Apa yang akan terjadi jika baby Zhue bukan darah daging Fathir? Lalu, apakah Fathir akan tetap menceraikan Luna, jika ternyata baby Zhue adalah anak kandungnya ? **** Wah, akhirnya setelah sekian purnama Mamak bisa juga nayangin bab ini huft. Maaf, ya, teman2. Mamak lagi bener2 stuck nih, kehabisan ide. Enaknya ini cerita dilanjut atau enggak ya? Komen, dong, temen2! Kasih saran dan komentarnya, ya. Jujur saja Mamak lagi ada di fase jenuh, buntu, otak mampet banget gak dapet ide. Coba komen, dong, siapa tahu bisa bikin Mamak fresh dan kembali menemukan ide berikutnya untuk cerita Luna. He he he Terima kasih juga buat temen2 yang sudah setia mengikuti kisah Luna sampai bab ini, pantengin terus, ya. InsyaaAllah Mamak bakal kasih hadiah beberapa one set dan daster untuk ibu2 manjah yang setia sama cerita Luna setelah cerita ini TAMAT. Komen, dong! Jangan lupa baca cerita Mamak yang judulnya ‘LC AMOY’ Gak kalah seru, loh! Kepoin langsung cus🥳 ***
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0ดูทั้งหมด