logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Baby Zhuema

"Ya Allah, Nak. Lucu sekali kamu, aku janji, terlepas siapapun anak siapa kamu, aku akan tetap merawatmu. Bahkan, sejak dalam kandungan pun aku sudah jatuh hati padamu. Sehat lah, Nak. Aku tak sabar ingin membawamu dalam dekapanku," gumam Fathir lirih.
***
Setelah tak sadar hampir dua hari, akhirnya Luna membuka mata.
Dokter memeriksa keseluruhan tubuh Luna, memastikan jika tak ada lagi masalah serius yang perlu diperhatikan.
Luna dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, kondisinya cukup stabil. Hanya saja, perlu beberapa waktu untuk segera pulih.
"Alhamdulillah, Nduk. Akhirnya kamu sadar. Cepat pulih, ya, Nduk. Kasihan anakmu butuh ASI dan juga kasih sayangmu, kamu belum melihatnya sama sekali, bukan?" Tanya ibu dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
"Luna gak mau kasih ASI, Bu. Belikan saja susu formula, Luna gak mau payudara Luna kendor nantinya," gumam Luna menggembungkan pipinya pertanda tak suka.
"Sudah kodratnya jika menjadi ibu seperti itu, Nduk. Kamu gak boleh egois, kasihan bayimu," ujar ibu memandang Luna tak percaya.
"Malas ah, Bu. Kalau ibu mau, ya, sana. Kasih aja susu ibu ke dia" Luna berdecak sebal.
"Luna! Kenapa kamu keterlaluan? Bahkan dengan darah dagingmu sendiri. Masya Allah, istighfar lah!" bentak ibu dengan nada tinggi. Beliau tampak murka kali ini, sikap Luna sudah dinilai keterlaluan.
Fathir yang baru saja membuka pintu hendak masuk ke dalam, mengernyitkan kening heran melihat wajah ibu yang memerah.
"Ada apa ini?" Tanya Fathir.
Hening
Luna maupun ibu hanya diam, tak ada yang berniat menjawab pertanyaan Fathir.
Fathir menghembuskan panjang, ia menyadari ada yang tidak beres diantara keduanya, namun Fathir memilih bungkam.
"Oh, iya, Lun. Kalau sudah lepas kateter dan infus, kamu bisa mulai menemui anakmu di NICU, beri dia ASI dan dampingi dia walau hanya sebentar," tukas Fathir.
"Ahhh …. " Desah Luna sedikit tertahan.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Sindir Fathir.
Luna menggeleng malas.
"Ibu pulang dulu, ya, Le. Kasihan Bapak ditinggal terus. Jaga kesehatan terus, ibu pergi dulu. Assalamualaikum," pamit ibu beranjak meninggalkan mereka.
"Fathir antar, ya, Bu," pungkas Fathir hendak berdiri dari sofa.
"Nggak usah, Le. Ibu udah pesen taxi online, sudah di depan. Kamu disini saja, kasihan anak dan istrimu kalau butuh apa-apa," jawab Ibu tersenyum hangat.
Selepas kepergian ibu, Fathir menghampiri Luna di atas brankar yang sibuk dengan ponselnya.
"Kamu apakan ibu?" Tuduh Fathir, matanya nyalang menatap Luna.
"Apa-apaan, sih kamu? Baru dateng udah ngaco. Ibumu aja tuh yang lebay," cibir Luna terlihat santai.
"Cukup! Kamu semakin hari bukannya semakin baik, malah semakin gak ada akhlaq! Secepatnya aku akan urus tes DNA bayi itu, kita lihat saja nanti, benih siapa dia," desis Fathir.
Luna melirik Fathir sekilas tanpa menjawab, lalu kembali asyik menatap layar ponselnya.
Fathir merebahkan tubuhnya di sofa, badannya terasa lelah dan lunglai. Bagaimana tidak? Setelah pagi hingga sore bekerja, sisa waktunya dihabiskan untuk menemani dan merawat istri serta anaknya. Belum lagi perihal administrasi dan tetek bengek lain yang diperlukan oleh rumah sakit, Fathir mengurus semuanya seorang diri.
***
Tuk…. Tuk…. Tuk…..
Suara ketok palu dari Majelis hakim terdengar nyaring. Hari ini, Frans dan Lita resmi bercerai. Seperti umumnya, hak asuh anak jatuh ke tangan Lita.
Frans terduduk lesu, hancur sudah biduk rumah tangganya. Ia resmi menyandang status duda saat ini.
Papa dan Mama Frans tampak kecewa, mendengar keputusan Hakim.
Bahkan, Stefi (adik perempuan Frans) menatap Kakaknya dengan sorot kebencian.
"Gak tau diri banget, ya, kamu, Kak! Mbak Lita kurang apa, sih sama kamu? Udah cantik, kaya, pendidikannya bagus, kasih kamu anak yang cantik dan lucu. Apa lagi, Kak, yang kamu cari? Emang gak ada otak, kamu!" Teriak Stefi lantang, membuat Frans geram.
"Kamu anak kecil gak usah kurang ajar! Tau apa kamu soal rumah tangga? Hah!" Frans menatap garang badan Stefi dari kepala hingga kaki.
"Aku memang anak kecil, tapi aku sudah paham kalau lelaki model kamu gini, otaknya pasti cuma mikirin selangk*ngan," cela Stefi tak takut akan tatapan menyeramkan yang ditunjukkan oleh Frans.
"Jaga mulut kamu!" Frans hendak melayangkan tangannya ke pipi Stefi, dengan cepat gadis berusia 18 tahun itu menahannya.
"Hahaha, kenapa? Bener kan ucapanku tadi? Kalau bukan soal jalang, mana mungkin Mbak Lita menghempaskanmu seperti ini," ujar Stefi dengan pandangan mengejek.
"Berhenti! Apa-apaan kalian ini? Sudah Stefi, Frans. Jangan bikin Papa tambah malu!" Pak Dibyo, papa Frans berteriak mendengar putra dan putri nya bertengkar.
Stefi melepaskan tangan Frans, mendengkus sebal dan beranjak meninggalkan tempat.
"Papa kecewa berat sama kamu, Frans. Untuk sementara, papa akan mengirimmu ke rumah nenek, temani beliau hingga kondisi disini sudah tenang" perintah Pak Dibyo sebelum meninggalkan Frans.
Tubuh Frans merosot, lemas seketika.
"Ckkk … mana mungkin aku tinggal di perkampungan yang kuno seperti itu? Belum lagi harus menemani nenek yang cerewetnya berkali lipat dari Mama," batin Frans dalam hati.
Mau tak mau, Frans tetap harus mematuhi perintah Papanya. Ia paham betul tentang konsekuensi yang akan diterima, jika ia menolak perintah Pak Dibyo. 
Frans menerima dengan hati yang lapang, ia harus bertanggung jawab atas semua kesalahannya selama ini.
Anggap saja ini balasan atas tingkahnya.
Terpaksa, Frans mengasingkan diri ke desa nenek. Untuk sejenak menenangkan jiwanya yang hancur, berjuang memupuk kembali harapannya pada dunia.
***
Luna berjalan pelan menuju ruang NICU.
Setelah memakai pakaian khusus, ia menuangkan hand sanitizer di telapak tangannya dan membalurkan ke seluruh tangan. 
Luna terpaku melihat bayi mungil tergolek di dalam inkubator. Bayi berkulit putih, hidung bangir dan bibir pipis, sangat tampan. Selang menempel di beberapa bagian tubuh. Matanya terpejam, irama nafasnya naik turun dengan cepat.
Luna meraih jari kecil milik anaknya, digenggamnya dengan erat. Ada perasaan asing yang menjalar di dadanya, rasa hangat dan tenteram.
"Sehat, ya, Nak. Bantu mama bertahan, mari kita berjuang menaklukkan dunia," ujar Luna setengah berbisik di telinga bayi itu.
Setelah puas memandang dan bermain dengan anaknya, Luna keluar dari ruang NICU sambil mengusap titik air di matanya.
Tak bisa dipungkiri, meskipun logikanya menolak kehadiran bayi yang membuat hidupnya berubah, namun hatinya merasa nyaman saat bersama dengannya. Belum pernah Luna merasakan perasaan sehangat ini. Jujur, Luna sangat menyayangi anaknya.
Hari berganti hari telah berlalu, tak terasa sudah satu minggu Luna dan bayinya berada di rumah sakit. Saat ini, kondisi Luna sudah stabil, hanya saja luka bekas operasi masih terasa ngilu sehingga membuatnya kesulitan untuk bergerak atau berjalan. Dengan kondisinya yang membaik, Luna sudah diperbolehkan pulang esok hari.
Bayi Luna belum boleh pulang, ia masih harus melakukan perawatan intensif di rumah sakit hingga bisa beradaptasi dengan lingkungan luar.
Bayi tampan itu diberi nama Zhuema, Fathir lah yang memberikan nama, Zhuema berarti teduh, seperti aura yang dipancarkannya. 
Bapak dan Ibu sangat antusias menunggu kepulangan baby Zhuema. Bahkan mereka akan mengadakan tasyakuran beserta aqiqah untuk kelahiran cucu laki-laki yang pertama dalam keluarga.
Luna yang mendengar kabar itu tentunya tersenyum senang. Luna mengira Fathir akan memaafkan, menerimanya kembali dan melupakan semua yang sudah terjadi, karena hadirnya baby Zhuema bisa menjadi alasan terkuatnya untuk bertahan di keluarga Basuki.
Hampir sebulan baby Zhuema dirawat, akhirnya diperbolehkan pulang dengan catatan khusus.
Tentu saja hal ini membuat seluruh keluarga Basuki bahagia. Bapak dan Ibu sudah siap menyambut kedatangan cucu laki-laki pertamanya.
"Alhamdulillah, Bu. Akhirnya cucu kita sebentar lagi pulang. Bapak nggak sabar pengen gendong," sahut Bapak dengan mata berbinar-binar.
"Sabar, Pak. Semoga diberikan kesehatan selalu untuk Zhuema," imbuh ibu dengan senyum hangat.
"Aamiin," ujar mereka serempak. Menyadari mengucapkan aamiin secara bersamaan, Bapak dan ibu saling pandang dan mereka tertawa bersama.
Beberapa menit kemudian,
"Assalamualaikum…." Ujar Fathir memasuki rumah sambil menggendong baby Zhuema.
Luna mengekor di belakang Fathir, membawa tas selempang kecil.
"Waalaikumsalam," sahut ibu ramah.
"Wah, cucu Kakek sudah datang. Sini peluk, kakek pengen gendong" Fathir menyerahkan baby Zhue ke tangan Bapak.
"Duh, gitu banget, sih. Harusnya kan aku yang disambut duluan. Baby Zhue juga gak akan ada kalau gak aku yang ngelahirin. Gak kasih hadiah kek, sambutan kado gitu, atau minimal ngucapin terima kasih kek, enggak. Malah ribut gendong bayi, gak menghargai aku banget yang baru lahiran!" Luna menghentakkan kakinya kesal, melihat semua orang di rumah hanya antusias menyambut baby Zhue sehingga lupa akan kehadirannya. Luna masuk ke dalam kamar, membanting pintu dengan keras. 
"Hah, percuma saja habis melahirkan tetep aja dicuekin, gak dianggep lagi! Kukira bakal dikasih sureprise atau berlian, minimal mobil gitu. Dasar keluarga gak tau diri, kok ya gak punya rasa terima kasih gitu lho!" Rutuk Luna kesal dalam hati.
Luna merebahkan tubuhnya ke atas kasur, bersantai memejamkan mata. Ia tak menghiraukan gedoran Fathir di depan pintu kamar. 
********        ********        ********
Luna tuh, ya. Habis ngelahirin kok makin menjadi-jadi…. Hm……
Tunggu next part ya, kita hadapi Luna yang lagi baby blues hihi😁
***
******           ******             ******
Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด