"Apa ada resiko jika melakukan sc sebelum waktunya, Dok?" "Nah, ini saya butuh pengamatan lebih lanjut sesuai kondisi Ibu Luna. Mulai dari tes darah, radiologi, rekam jantung serta riwayat penyakit yang diderita. Untuk meminimalisir terjadinya hal yang tidak diinginkan, maka dari itu saya butuh persetujuan dari pihak suami" jelas Dokter Adam dengan detail. "Baik, dok. Lakukan saja mana yang terbaik. Asal istri dan anak saya bisa diselamatkan" "Iya, Pak. InsyaAllah. Saya pasti berusaha semaksimal mungkin. Biar perawat yang akan membantu melakukan serangkaian tes, doakan saja hasilnya bagus, agar operasi bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Namun, tetap satu kuncinya. Berdoa, Pak. Minta sama sang Pencipta untuk kelancaran persalinan istri Bapak. Karena berusaha tanpa berdoa sama dengan sia-sia. Saya permisi dulu" dokter Adam berlalu setelah menepuk pundak Fathir singkat. "Ya Allah, berikanlah kelancaran untuk persalinan istri hamba, hamba mohon" ujar Fathir dalam hati. Hatinya berdebar-debar, seperti ini rasanya menemani istri yang akan melahirkan, panas dingin tak beraturan, jantung pun terpacu tak karuan. ****** ****** ****** Malam hari, Luna tersadar. Ia merintih kesakitan, perutnya seperti mulas dan perih, serta muncul rasa mual yang berlebihan. Fathir bergegas memencet bel untuk menghubungi petugas medis. Tak menunggu lama, dokter dengan ditemani dua orang perawat datang tergopoh-gopoh. Mereka memeriksa kondisi Luna. "Baru pembukaan dua, Pak," ujar Dokter kepada Fathir. "Lalu, tindakan apa selanjutnya, dok? Tanya Fathir cemas. "Apa Bu Luna merasakan ada sesuatu yang mendesak keluar? Mungkin rasanya sudah tak tertahan?" Dokter menatap wajah Luna. "Sa..ss..sakit, Dok" sahut Luna lirih. "Detak jantung janin masih stabil, kita tunggu tiga jam ya, mungkin pembukaan akan bertambah. Apa Bu Luna masih kuat menahan sakitnya?" Luna mengangguk pasrah. "Baik, saya berikan obat untuk membantu meredakan rasa sakit, namun jika pembukaan Bu Luna tak kunjung bertambah, dengan terpaksa malam ini juga kami melakukan tindakan operasi sc, apa Bapak setuju?" Dokter Adam menatap Fathir memastikan. "Ya, dok. Laksanakan" jawab Fathir mantap. "Nggak, Mas. Aku gak mau operasi, aku takut, Mas" jerit Luna dengan suara tertahan sembari menahan sakit. Fathir tak menyahut, ia malas meladeni perdebatan Luna kali ini. Dua jam berlalu, pembukaan tak kunjung bertambah. Dokter memeriksa sekali lagi kondisi Luna dan bayi yang ada dalam kandungan. Tekanan darah Luna tinggi, wajahnya pucat dan lemas. Hal itu sontak membuat Dokter bergegas cepat melakukan tindakan. Setelah persetujuan Fathir menandatangani berkas sebelum operasi, perawat membantu Luna menjalani serangkaian persiapan untuk operasi. Mulai dari memasang kateter, menyuntikkan obat ke selang infus, menyuntikkan bius anestesi, merapikan rambut kemaluan, serta memasang alat medis lainnya ke tubuh Luna. Luna tampak pasrah, tubuhnya lemas. Matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing, hingga beberapa menit sebelum masuk ke dalam ruang operasi, Luna pingsan, tak sadarkan diri. Obat bius sudah bekerja dalam tubuh Luna, dokter bersama beberapa perawat mulai melakukan tindakan. Mengoleskan antiseptik terlebih dahulu, barulah dokter mulai menyayat satu persatu lapisan kulit perut Luna. Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki berhasil dikeluarkan, dengan berat 2,2 kilogram dan panjang 48 centimeter. Karena lahir prematur, bayi akan dirawat dengan intensif di ruang NICU hingga organ dalamnya bisa berkembang dengan sempurna dan lebih lagi. Tekanan darah Luna melemah, ia mengalami kejang, dokter serta perawat bergegas melakukan tindakan medis dengan cepat dan cekatan untuk menyelamatkan nyawa Luna. Dokter memberikan magnesium sulfat untuk menghentikan kejang agar tak berlanjut lebih parah. Luna kembali tak sadarkan diri saat dokter anestesi kembali menyuntikkan obat bius pada tubuhnya. Dua jam berlalu, Luna dipindahkan ke ruang ICU karena koma. Dokter keluar ruang operasi menemui Fathir yang sedang berjalan mondar-mandir menunggu proses operasi. "Mohon maaf, Pak Fathir. Saya beserta rekan sudah mengupayakan yang terbaik, namun kondisi Bu Luna sangat lemah. Saat ini Bu Luna koma, terbaring lemah. Kami akan pindahkan ke ruang ICU untuk beberapa waktu. Beliau sempat mengalami kejang saat operasi berlangsung, dokter anestesi segera melakukan tindakan tanpa menunggu persetujuan dari Bapak, hal itu dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan karena kejang berlebihan bisa merusak jantung dan organ tubuh lainnya. Maaf, jika kami dianggap lancang dan tidak sesuai prosedur, kami hanya ingin melakukan yang terbaik untuk pasien," ujar Dokter Adam dengan raut wajah yang getir. "Tak apa, dok. Saya percaya dokter, lakukan semua yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan anak saya. Terima kasih banyak, dok," ucap Fathir. Raut wajah Fathir terlihat kusut, lagi-lagi ia harus mendapat kabar tentang kondisi Luna yang lemah. Fathir tampak pasrah, dipandangnya bayi mungil dalam ruang inkubator yang hanya terpisah kaca. Air matanya menetes, melihat bayi merah sekecil itu harus dipasang selang pada beberapa bagian tubuhnya. Dadanya seperti ditusuk puluhan belati, nyeri. Fathir tak tega melihat bayi, yang mungkin saja darah dagingnya tergolek lemah di dalamnya. Ingin sekali rasanya ia menggendong, menimang dan menciumnya. Fathir menyeka air matanya, dokter keluar dari ruang NICU. "Bagaimana kondisi bayi saya, dok?" tanya Fathir dengan sendu. "Belum stabil, Pak. Untuk sementara dia butuh penyesuaian dengan lingkungan sekitar, mengingat organ tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna," ujar Dokter menjelaskan. "Kapan kira-kira saya bisa menjenguknya, dok?" Suara Fathir mulai terdengar parau. "Sabar, ya, Pak. Kami akan terus memantau perkembangannya, untuk sementara belum bisa dijenguk karena bayinya masih rentan dan sensitif dengan suara maupun cahaya. Biarkan dia beradaptasi terlebih dahulu, banyak berdoa, Pak. Dan…." Kalimat dokter terdengar menggantung. Fathir menautkan alis, "Dan apa, dok?" "Jika Bu Luna sudah siuman nanti, bisa segera kontak kulit dengan bayi, karena bayi di dalam kandungan sudah terbiasa dengan suara detak jantung dan aliran darah milik Ibunya. Hal itu bisa membantu membuat bayi beradaptasi dengan cepat. Menurut psikolog, physical touch antara ibu dan anak sangat penting untuk menjalin ikatan lebih kuat. Mungkin saja hal itu bisa membuat bayi pulih dengan cepat, karena ia tahu tak berjuang sendirian menghadapi dunia baru, melainkan ditemani Ibu yang selalu ada sejak ia tumbuh dalam kandungan." Dokter tersenyum tipis, membuat Fathir menghela nafas lega. "Baik, dok. Akan saya coba, semoga Luna segera sadar dari komanya. Tapi, apakah mungkin Luna bisa pulih cepat, dok?" "Bisa saja, Pak. Jika Allah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi kondisi Bu Luna cukup kuat, hanya saja mungkin pikiran berat yang mengganggunya membuatnya drop dan mengalami tekanan lebih" "Terima kasih banyak, dok, atas semua informasi dan upaya yang dokter lakukan, saya sangat berterima kasih," ujar Fathir menunduk sopan di hadapan dokter. "Baik, saya permisi dulu, Pak. Semangat ya, banyak berdoa" dokter berlalu meninggalkan Fathir yang masih terpaku menatap bayi imut yang menggeliat. "Ya Allah, Nak. Lucu sekali kamu, aku janji, terlepas siapapun anak siapa kamu, aku akan tetap merawatmu. Bahkan, sejak dalam kandungan pun aku sudah jatuh hati padamu. Sehat lah, Nak. Aku tak sabar ingin membawamu dalam dekapanku," gumam Fathir lirih. **** Wah, wah, wah Anak siapa ya ini? Fathir atau Frans? Ikatan batin Fathir kuat banget, ya? Tapi, benarkah itu anaknya? Eh, terus Luna gimana tuh? Pingsan terus bawaannya, eh sekarang koma. Bagusnya diapain, ya, nih Luna? Mau gak ya Luna merawat bayi itu? Terus kabar Frans gimana? Ah, daripada kepo, mendingan ikutin terus kisah Luna, jangan sampai bosen ya❤️❤️ Sini sayang dulu sama Mamak, love dari Mamak, ya, semua😘😘😘 Dan juga terima kasih, Kak. Sudah mau baca kisah Luna sampai sejauh ini. Tap tombol like/love ya, Kak, kalau suka sama ceritaku. Mohon krisannya😘😘 Jangan lupa baca ceritaku lainnya yang ber judul 'LC AMOY' . Pastinya tak kalah seru dan menggoda dari kisah ini. Love dari Mamak ❤️❤️❤️❤️❤️❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rezeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0ดูทั้งหมด