logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Pendarahan

Senyum Luna merekah, meskipun terpaksa, Fathir tetap mau menuruti keinginannya.
"Gak usah senyum-senyum ke-GR-an ya, kamu. Ini demi menjaga nama baik keluarga, jangan sok kecantikan, yang ada aku eneg" kalimat dari Fathir cukup tajam sehingga membuat Luna menarik kembali senyumnya.
'Sekarang boleh jadi kamu eneg, Mas. Tapi tunggu saja, saat anak ini lahir nanti, masihkah kamu bisa eneg sama aku, Mas?' batin Luna dalam hati.
Sebuah senyum licik terukir dari bibirnya.
******         ******     ******
Sebulan berlalu, perut Luna terlihat semakin membesar. Meskipun tengah hamil, wajah Luna tak berubah, ia tetap cantik dan berseri seperti biasa.
Luna bangun pukul 05.00 WIB, melakukan senam pagi dan berjalan kecil keliling di sekitar rumah tanpa menggunakan alas kaki, bulir keringat menetes di dahinya.
"Wah, rajin banget bumil satu ini pagi-pagi udah keliling" sapa Umik Dona, tetangga sebelah dengan tatapan hangat.
Luna hanya mengangguk sekilas, bibirnya menyunggingkan senyum.
"Sudah berapa bulan ini, Mbak?" tanya Umik sembari mengelus lembut perut Luna.
"Delapan bulan, Mik" 
"Alhamdulillah, sebentar lagi lahiran, ya. Duh, momen menanti anak pertama itu sungguh menyenangkan lho, hati rasanya dag dig dug ser, belum lagi keluarga besar ikut antusias, bahagia banget saat wanita berubah gelar menjadi seorang ibu" Umik tersenyum.
"Iya, Mik. Aku aja gak sabar juga pengen ndang cepet lahir" jawab Luna.
"Iya, itu pasti. Gak sabar pengen nimang, gak sabar pengen ngerawat, gak sabar semuanya pokoknya. Bawaannya pengen cepet lahir karena udah gemes duluan, bahkan semenjak dalam perut yang kita belum tau pasti wajah dan jenis kelaminnya saja sudah membuat kita jatuh cinta, ya" 
"Bukan gitu, Mik" sela Luna.
Umik menautkan alis, memandang Luna tak mengerti.
"Maksudnya gimana, Lun?" 
"Ya, aku gak sabar ngelahirin ini anak. Berat banget soalnya, aku gak bisa bebas beraktifitas, mana badanku yang dulu bagus jadi melar gini, wajah kusem gak bisa bebas perawatan" decak Luna menampilkan ekspresi tak suka.
"Astaghfirullahaladzim, jangan gitu. Banyak lho yang rela merogoh kocek puluhan juta buat dapetin anak, banyak juga yang puluhan tahun belum dititipi amanah besar ini sama Allah, harusnya Mbak Luna ini bersyukur. Dikasih gratis, cepet pula. Istighfar, Mbak" Umik mengelus dada.
"Gratis? Terus makan, buah, susu, sayur, vitamin dan kontrol ke dokter kandungan emang gak pakai duit, Mik? Dih, Umik ngadi-ngadi. Justru kebutuhan hamil itu banyak Mik, belum lagi pas udah lahir nanti jadi anak, beuuuuhh. Bakalan makin membengkak nih pengeluaran, huftt" Luna meniup-niup poni yang menutupi matanya.
Mata Umik melotot, menggelengkan kepala mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Luna, bahkan yang ber notabene akan menjadi seorang Ibu sebentar lagi. Umik tak percaya, masih ada Ibu kurang waras seperti Luna.
"Ya sudah, saya balik dulu, ya. Semoga lancar sampai persalinan. Dimudahkan dan sehat selamet semua Ibu dan bayinya" Umik menepuk pundak Luna berpamitan, bergegas masuk ke dalam rumahnya.
"Dih, dasar. Dikira ngelahirin cuma mak encrit crit langsung lahir apa. Dikira punya anak gak butuh biaya, dia bilang gratis, ya gratis orang dia tinggal ceramah, gak ikut mengurus. Udah naik haji, tapi soal ginian aja gak paham. Ya, gitu kalau Hajah abal-abal" Luna tak henti mengoceh, hingga kakinya telah sampai melangkah ke dalam rumah.
"Jangan capek-capek, Nduk. Tuh, liat keringetmu sampai deres gitu" ujar Ibu bergegas mengambilkan Luna segelas air.
"Wah, kebetulan. Haus banget nih, Bu" Luna mengambil minum dari tangan Ibu, menenggaknya hingga tak bersisa.
"Makan dulu atau mandi dulu?" tawar Ibu sangat perhatian.
"Mandi dulu aja deh, Bu. Gerah" Luna meringis memamerkan giginya yang putih.
Setelahnya, Luna bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan serangkaian perawatan di dalamnya.
Selesai mandi, Luna memakai handuk dalam kondisi setengah basah menuju ke kamar.
Rambutnya yang basah meneteskan air di sepanjang lantai yang dijajakinya.
Pintu kamar sudah terlihat, kurang beberapa langkah lagi.
Namun, untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak.
Luna jatuh terpeleset air licin yang mengotori lantai, membuatnya hilang keseimbangan dan tersungkur ke lantai.
"Aduhhhh, sakitttt!" Luna berteriak sambil memegangi perutnya yang terasa amat sangat sakit.
Ibu tergopoh-gopoh menghampiri Luna karena suara jeritan Luna yang membuatnya khawatir.
"Masya Allah, Ya Allah ya Rabb. Nduk, kamu kenapa? Ya Allah" Ibu panik melihat Luna yang tersungkur di lantai.
Darah segar keluar dari arah bawah tubuh Luna, mengalir hingga tercecer di lantai.
Ibu keluar rumah meneriaki tetangga untuk meminta tolong, hatinya berdebar melihat menantunya dalam bahaya.
"Tolong, saya mohon buat tetangga semua yang mendengar suara saya, tolong keluar. Saya butuh bantuan, saya minta tolong" teriak Ibu sambil menangis mengitari rumah para tetangga.
Semua orang keluar mendengar teriakan Ibu, berbondong-bondong menghampiri Ibu.
"Pak Tejo saya minta tolong ya, menantu saya jatuh, Pak. Tolong panggil ambulans, bawa menantu saya ke Rumah Sakit, dia sedang hamil" ujar Ibu terisak.
"Iya, Bu. Tenang, ya. Saya telfonkan ambulans dulu" 
"Jeng, kamu temani Luna ya, ikut ke Rumah Sakit bersamanya. Biar aku jemput dulu suami kamu di sawah" ujar Bapak setengah baya yang memakai topi.
Ibu pasrah, air mata tak henti-henti keluar dari matanya.
Luna tak sadarkan diri, membuat Ibu semakin dilanda kecemasan.
****
Fathir mendatangi Rumah Sakit tempat dimana Luna dirawat. Terlihat kecemasan  terpancar sangat jelas di wajahnya.
Ceklek…
Fathir membuka pintu kamar ruang inap yang ditempati Luna. Terlihat Ibu di samping brankar memegangi tangan Luna sambil sesekali mengusap mata.
Luna tergolek lemah di atas pembaringan dengan selang infus tertancap di tangannya. Tabung dan alat oksigen tak lupa bertengger tenang di hidung bangir milik istrinya.
Fathir sedikit lega, mengetahui perut Luna masih buncit, pertanda bayinya mungkin dalam kondisi yang baik.
"Bu, sudahlah. Jangan nangis terus" Fathir mengelus pelan pundak Ibu, menenangkan hati malaikat tak bersayap yang dimilikinya.
Ibu mendongak, menyadari kehadiran Fathir.
"Maafkan Ibu ya, Le. Ibu gak becus jaga Luna" ujar Ibu dalam.
"Ssst! Ibu ngomong apa, sih? Semua sudah kehendak Allah, Ibu gak perlu merasa bersalah gitu, ah" 
"Tapi tetep aja Ibu merasa gagal, Le. Padahal kamu udah nitipin dia ke Ibu, tapi Ibu lalai, maaf, Nak" air mata di pipi Ibu kembali menetes.
"Gimana kondisi Luna, Bu? Bayinya baik-baik saja kan?" Fathir mengalihkan pembicaraan, jika tidak, Ibunya akan terus menyalahkan diri sendiri.
"Luna sudah ditangani dokter. Karena jatuh lumayan berat, Luna mengalami pembukaan, Le. Namun, baru pembukaan satu. Detak janinnya melemah, dokter menunggumu untuk membuat keputusan" 
"Ya udah, Fathir pergi dulu menemui dokter Adam, Ibu jangan nangis lagi, ya." 
Ibu hanya mengangguk menyaksikan Fathir melangkah meninggalkannya berdua dengan Luna.
Baru menutup pintu ruang, Fathir berpapasan dengan dokter Adam yang akan memeriksa lanjut tentang kondisi Luna.
"Dok, maaf saya baru datang. Apa kondisinya darurat?" sela Fathir tak sabar.
"Begini, Pak. Kondisi Ibu Luna cukup kuat, ia hanya pingsan. Tetapi, akibat terjatuh tadi, membuatnya mengalami pembukaan di usia dini sebelum HPL, saya masih tetap melakukan pemantauan, jika dalam waktu 1x24 jam pembukaan belum juga bertambah, terpaksa harus dilakukan sectio caesar, operasi pembedahan untuk mengeluarkan bayinya. Karena kondisi jantung bayi yang melemah, saya khawatir terjadi sesuatu" ujar Dokter Adam.
"Apa ada resiko jika melakukan sc sebelum waktunya, Dok?" 
"Nah, ini saya butuh pengamatan lebih lanjut sesuai kondisi Ibu Luna. Mulai dari tes darah, radiologi, rekam jantung serta riwayat penyakit yang diderita. Untuk meminimalisir terjadinya hal yang tidak diinginkan, maka dari itu saya butuh persetujuan dari pihak suami" jelas Dokter Adam dengan detail.
"Baik, dok. Lakukan saja mana yang terbaik. Asal istri dan anak saya bisa diselamatkan" 
"Iya, Pak. InsyaAllah. Saya pasti berusaha semaksimal mungkin. Biar perawat yang akan membantu melakukan serangkaian tes, doakan saja hasilnya bagus, agar operasi bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Namun, tetap satu kuncinya. Berdoa, Pak. Minta sama sang Pencipta untuk kelancaran persalinan istri Bapak. Karena berusaha tanpa berdoa sama dengan sia-sia. Saya permisi dulu" dokter Adam berlalu setelah menepuk pundak Fathir singkat.
"Ya Allah, berikanlah kelancaran untuk persalinan istri hamba, hamba mohon" ujar Fathir dalam hati.
Hatinya berdebar-debar, seperti ini rasanya menemani istri yang akan melahirkan, panas dingin tak beraturan, jantung pun terpacu tak karuan.
******         ******        ******
Halo Kakak2 semua, ketemu lagi nih sama Mamak othor😁
Kira-kira Luna lahiran penuh drama gak ya? Lahir normal atau sesar nih Buibu?
Yuk! temenin Luna melalui proses persalinan di next bab👌
Dan juga terima kasih, Kak. Sudah mau baca kisah Luna sampai sejauh ini.
Tap tombol like/love ya, Kak, kalau suka sama ceritaku.
Mohon krisannya😘😘
Jangan lupa baca ceritaku lainnya yang ber judul 'LC AMOY' . Pastinya tak kalah seru dan menggoda dari kisah ini. Love dari Mamak ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rezeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด