Hari Minggu telah tiba, seperti yang tersusun dalam rencana. Keluarga besar Basuki tengah berkumpul bersama. Ningsih datang bersama Rival dan Alea, memakai polo couple berwarna coklat muda. Terlihat Chintya juga datang bersama Arif dan Kiara yang asyik menjilati ice cream varian vanilla. Mereka menunggu kedatangan Fathir dan Luna untuk memulai acara makan-makan. Tak sampai dua puluh menit menunggu, akhirnya Fathir datang bersama Luna. Fathir tampak macho dengan kaos hitam polos dipadu kemeja flanel dan celana jeans berwarna light blue, auranya terlihat seperti remaja yang baru saja lulus sekolah. Serasi dengan Luna yang memakai dress slimfit panjang berwarna hitam dipadu cardigan bermotif floral, rambutnya dicepol membuatnya semakin terlihat cantik. "Karena semua udah kumpul, ayo kita makan dulu" Ningsih mengajak semua untuk berkumpul di meja makan. Tersedia aneka lauk, buah, sayur dan kue tertata rapi menggugah selera. "Bahagianya ya bisa berkumpul bersama formasi lengkap seperti ini, tak harus menunggu moment megengan atau idul fitri" ujar Fathir tersenyum bahagia. Mereka hanya tersenyum dan menganggukkan kepala menyetujui pernyataan Fathir. Setelah semuanya makan, mereka berbgi tugas. Para istri membersihkan cucian piring kotor, sedangkan para suami menata ruang tamu dan menggelar karpet sambil momong anak mereka. Suasana terlihat hangat dan harmonis. Ningsih yang melihat suasana tersebut, mengelus dada pelan. 'Akankah suasana seperti ini bakal terulang lagi nantinya? Saat ia selesai mengeluarkan uneg-uneg perihal apa yang sudah terjadi dalam rumah tangganya selama ini.' Ningsih membatin. Hatinya mencelos mengetahui kenyataan pahit yang mau tak mau harus dihadapinya. Setelah semuanya bersih dan rapi, barulah mereka menuju ruang tamu untuk berkumpul. Semua, kecuali Ibu dan Ningsih pastinya, penasaran dan sibuk bertanya-tanya hal apakah yang akan dibahas hingga terlihat serius dan sedikit menegangkan. Ningsih bersama Rival sudah berada di atas karpet sebelah kanan, ditengah ada Bapak dan Ibu, sampingnya Chintya bersama Arif berhadapan dengan Luna dan Fathir. Mereka membentuk sebuah lingkaran besar, agar lebih jelas dan detail. Kiara dan Alea tentunya sudah diamankan bersama babysitter Kiara, atas perintah Chintya untuk membawa kedua balita bermain di luar, pembicaraan ini tidak akan melibatkan anak di dalamnya, untuk menjaga mental tentunya. "Baik, karena semua sudah berkumpul. Bapak serahkan pembicaraan ini ke Ningsih, karena sepertinya dia lebih berhak daripada Bapak harus ikut campur tangan" Bapak membuka suara dengan bijaksana. Ibu hanya tersenyum tipis mempersilahkan Ningsih untuk mengambil alih. Terlihat Ningsih menghela nafas panjang, seakan menyimpan beban berat di setiap hembusan nafasnya. Suasana hening, membuat perasaan semakin dag dig dug tak keruan. Mereka semua sibuk bertanya-tanya dalam hati masing-masing. Hanya Luna yang tampak gugup dan resah, bolak-balik ia memutar memainkan kedua tangannya, meremas pelan dan mengetukkan jari-jarinya. "Sebelumnya aku mau minta maaf banget, kalau nantinya apa yang aku jelaskan ini akan membuat kalian semua kecewa, bahkan lebih. Aku hanya ingin mencari solusi, bagaimanapun kita keluarga, baik buruknya harus kita terima dengan lapang dan tangan terbuka." Ningsih membuka obrolan, manik matanya tak lepas menatap ke arah Fathir dan Luna. Lagi, Ningsih menghembuskan nafas panjang dan dalam. "Awalnya aku udah curiga sebagai seorang istri, bahwa Mas Rival dan Luna pernah kenal di masa lalu, atau bahkan pernah mempunyai hubungan lebih, itu biar menjadi aib untuk keluarga kecilku, harusnya. Namun, pernyataan dari Lita baru-baru ini membuatku sangat tercengang serta kecewa saat mengetahui dengan pasrahnya Mas Rival mengakuinya, walaupun tak semuanya. Jadi aku harap, Mas Rival dan Luna bisa menjelaskan semuanya dengan jujur tanpa ada yang ditutupi lagi sekecil apapun, silahkan!" Ningsih menatap ke arah Rival dan Luna secara bergantian, terlihat tajam dan menusuk. Fathir mengerutkan kening, mencoba mencerna apa yang Kakaknya ucapkan baru saja. Luna meremas jarinya dengan gusar, ia tergagap dan matanya berkaca-kaca tak berani menatap siapapun, Luna hanya menunduk. Sedangkan Rival, ia tampak sedikit tenang. Namun, tetap terlihat sedikit raut wajahnya yang tegang. Chintya dan Arif hanya saling pandang, dari mata Arif tersirat mencari jawaban pada Chintya, namun Chintya hanya mengedikkan bahu, walaupun ia mengetahui secara garis beras, ia tak ingin ikut campur terlalu dalam masalah saudaranya. "Bagaimana? tak ada yang mau menjelaskan kah?" ulang Ningsih dingin. "Baiklah, sebenarnya aku malu, ini aib. Apalagi dibongkar di depan keluarga besar seperti ini" Rival melirik Ningsih sekilas, lalu melanjutkan kalimatnya. "Memang benar, aku mengenal Luna jauh sebelum dia menikah dengan Fathir. Saat itu Ningsih tengah hamil, naluri lelakiku tak tertahankan. Kalian pasti tau saat Ningsih hamil bagaimana? mual muntah terus menerus, lemas dan bahkan harus bedrest di empat bulan pertama kehamilannya. Dokter menyarankan untuk tak berhubungan hingga melahirkan, aku yang suntuk dengan urusan pekerjaan, akhirnya berani mencari hiburan ditemani wanita malam. Awalnya hanya menemani karaoke biasa, jalan, minum. Namun kelamaan, hasrat dan nafsuku tak terkendalikan, aku khilaf hingga berani melakukannya dengan Luna. Hal itu terjadi cukup sering, hingga Ningsih melahirkan Alea, setelah Ningsih melewati masa nifas, aku tak pernah datang lagi ke tempat seperti itu. Memutuskan untuk berhenti, hingga sekarang. Semua ini aku bicarakan jujur tanpa ada yang aku kurangi dan tambahkan, aku sangat menyesal tak bisa menjaga kesucian rumah tangga ini. Sungguh aku khilaf, aku minta maaf sebesar-besarnya, terutama buat Bapak&Ibu. Maafkan Rival, tapi Rival janji, jika memang Rival masih diberikan satu kali kesempatan, Rival akan melakukan yang terbaik, menebus semua kesalahan Rival dan sampai kapanpun Rival tak akan pernah mengulanginya. Ningsih, ampuni Mas. Mas sayang banget sama kamu dan Alea. Mas menyesali kebodohan yang sudah Mas perbuat" Rival terlihat menundukkan kepala, pasrah akan apa yang akan didapatkan nantinya. Rival menyesali semua perbuatannya, ia mengaku salah. Fathir memandang Luna tak percaya, wajahnya memerah terlihat emosi yang sedari tadi berhasil ia tahan. Fathir mengangkat pelan dagu Luna, "Katakan semua itu tidak benar, ayo jelaskan semuanya." Luna hanya terisak menahan tangis, Fathir semakin tak sabar dibuatnya. "Cepat katakan, Lun! aku butuh penjelasan yang keluar dari mulutmu!" Luna tersentak, Fathir benar-benar emosi hingga berani membentaknya. "Mmm...ma..maaf, Mas. Semua yang dikatakan Mas Rival benar, maafkan aku" hanya itu yang sanggup Luna katakan di hadapan Fathir. "Apa kau seorang pelacur?" tanya Fathir garang. "Bb..be..benar, Mas" Luna menunduk, tak berani menatap Fathir yang sudah dilanda emosi di depannya. Fathir meninjukan tangannya ke lantai dengan keras, Chintya dengan sigap memegangi pundak adiknya, mengusap lengannya pelan untuk menenangkan. "AllahuRobbi....Allahuakbar...Astagfirullahaladzim" Fathir menggelengkan kepala sambil beristighfar. "Kenapa bisa kamu menikahi jalang? apa yang sudah meracuni otakmu?" tanya Ningsih. "Aku tak tau, Mbak. Semua mengalir begitu saja, aku sendiri tak menyangka dia seorang jalang. Rasanya aku jijik melihatnya ada disini, Mbak!" Fathir menunjuk Luna dengan tatapan tak suka. "Mm..mas, tolong. Jangan hakimi aku seperti ini. Aku sedang mengandung anakmu, Mas!" Luna histeris sambil menangis kencang memegangi perutnya yang sedikit buncit. "Anakku? kebohongan apalagi? dulu aku mengira kau wanita baik yang tak sengaja terjebak ke dalam maksiat bersamaku malam itu, tapi ternyata kamu hanya jalang yang memanfaatkan karirku, bukan seperti itu? Katakan!" Mata Fathir berapi-api menunjukkan emosi yang sangat besar. "Mas tolonglah, aku mohon. Aku memang salah, tapi percayalah, Mas. Aku mencintaimu, dan anak yang aku kandung saat ini benar anakmu, Mas" ujar Luna lirih. "Sejak kapan kau menjadi jalang? Apakah sudah berhenti? atau masih lanjut saat statusmu sah menjadi istriku?" "Sudah lama aku berhenti, Mas. Sejak aku kehilangan seseorang yang aku cintai beberapa tahun lalu, aku berjanji dalam diriku sendiri untuk membuka lembaran baru, menjadi wanita yang lebih baik. Hingga aku bertemu denganmu, aku jatuh cinta denganmu, ingin menjadi istrimu selamanya. Mengabdi sepenuh jiwa dan raga hanya untukmu, Mas" suara Luna terdengar serak, matanya terlihat sembab. Fathir hanya diam, dadanya naik turun dengan cepat menandakan emosinya belum juga mereda. Terlalu dalam sakit hati yang ia rasakan, Luna terlihat hina saat ini di matanya. Ia tak habis pikir, kenapa tak menyadari bahwa Luna mantan pelacur. Bisa-bisanya Fathir merendahkan diri untuk menikahi mantan kupu-kupu malam. Cinta Fathir untuk Luna perlahan mengikis, tergantikan dengan rasa jijik yang teramat sangat. Membayangkan istrinya pernah bergumul dengan puluhan lelaki, berbagi peluh dan mani di atas ranjang membuatnya bergidik ngeri. Nigsih hanya terdiam menyaksikan adiknya bertengkar dengan iparnya. Sebenarnya ia merasa kasihan, namun rasa benci dan sakit hati mampu menutupi rasa belas kasihan dalam hatinya. Fathir hendak pergi, ia menyambar kunci mobil di atas nakas menuju parkiran. Dengan sigap, Ningsih menahannya. "Tunggu, masih ada beberapa hal lagi yang perlu kamu ketahui, setelah itu pergilah" Fathir tak jadi beranjak, kembali ia masuk duduk di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, datang Lita bersama Frans, masuk ke dalam rumah. Bapak, Ibu, Chintya, Arif dan Rival tak menyangkan akan kehadiran tamu di tengah keributan seperti ini. Mereka tampak berdrama seolah tak terjadi apa-apa. Luna semakin takut, kali ini ia benar-benar tak bisa berkutik lagi, mati kutu. Fathir dan Ningsih menyambut mereka dengan hangat. "Silahkan Lit, aku sudah selesai" ujar Ningsih menatap ke arah Lita, Lita mengangguk dan mengeluarkan berbagai album berisi foto-foto dari dalam tasnya. Tak lupa sebuah laptop, Frans yang memahami kondisi terlihat linglung menerka-nerka apa yang akan terjadi dan apa yang tengah dilakukan oleh istrinya. Frans hanya tau diajak main ke rumah teman Lita, tanpa tahu jika teman yang dimaksud adalah keluarga besar Luna yang tengah menunggunya. "Maaf ya Pak,Bu kalau kedatangan Lita membuat gaduh. Tapi kebenaran harus terungkap" Lita mengangguk sopan melihat Bapak dan Ibu. Frans menatap Lita seakan mencari tahu ada apa gerangan. Bapak dan Ibu hanya tersenyum sekilas. Lita bergegas membuka laptop, memutar satu per satu foto dan video yang tersusun rapi dalam file pribadinya. Semua orang yang melihat dibuatnya melongo, tak terkecuali Frans. Wajah Frans terlihat tegang, keringat dingin bercucuran di dahinya, ia sama sekali tak nenyangka jika Lita telah mengetahui semuanya, secara jelas dan detail. Sedangkan disampingnya, Luna merasakan kepalanya semakin pusing, tubuhnya gemetar, matanya berkunang-kunang. Hingga beberapa detik kemudian, Luna ambruk, tak sadarkan diri. ****** ****** ****** Next kilat ga nih??? Komen dong! ****** ****** ******* Kira-kira apa ya yang ditunjukkan Lita di laptopnya? Kok semua pada melongo😁 Terus bagaimana kelanjutan hubungan mereka masing-masing? Fathir marah ga ya??? Ayokkk ikuti terus kisahnya... Semakin banyak komen, semakin cepet nih Mamak upload next nya hihi. ****** Tetep staytune yaaaa Sayang2nya mamakkkkkkk...... Setia terus yuk ikutin kisah Luna 😘😘😘😘 ******* ******* ******* ****** ******* ******** ******** Bakal makin seru nih kelanjutannya, yuk simak terus kisahnya ya Shay... Mamak sayang kalian semua .... Ditunggu next nya 😘😘😘😘 ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘 Kali ini, yang udah baca sampe sini, wajib KOMEN!!!!!! Tunjukin dong kalo kalian suka sama cerita Luna, biar Mamak seneng gitu huhu. Yuk komen yuk!!!
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0ดูทั้งหมด