"Sejak kapan, Mas?" Ningsih menatap tajam sosok lelaki yang tengah bersimpuh di depannya. "Maaf, sungguh maafin aku. Aku khilaf, kamu harus paham satu hal Sayang, aku sama Luna hanya teman main, sebatas untuk hiburan saja, tak lebih. Itupun jauh sebelum Luna kenal dan menikah dengan adikmu, Fathir" Rival masih saja menggenggam kedua tangan Ningsih, berlutut untuk meyakinkan istrinya. "Aku hanya tanya sejak kapan, Mas?" kembali Ningsih mengulangi pertanyaannya. "Ssee..sejak kamu hamil Alea, maafkan aku Ningsih, ampuni aku. Aku memang khilaf" ucap Rival dengan serak. "Berapa kali?" tanya Ningsih dingin. Rival mendongak, bingung akan pertanyaan Ningsih, Rival hanya mengedikkan bahu. Ningsih terkekeh, mencoba menyembunyikan tangis yang sebentar lagi akan pecah. "Kamu bilang khilaf, Mas? Tapi kamu tidak tau sudah berapa kali melakukannya. Itu doyan, Mas, bukan khilaf. Aku gak tau harus berbuat apa setelah ini, Mas." "Hanya beberapa kali, Ningsih. Tak banyak, sungguh. Aku masih paham batasan" Plakkkkk!! Satu tamparan mendarat di pipi Rival. "Paham batasan kamu bilang? tidur dengan pelac*r hingga beberapa kali itu yang kamu bilang paham batasan? Kamu bener-bener keterlaluan, Mas. Aku mau kita pisah, ceraikan aku!" pinta Ningsih sengit. "Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu, apa kamu tak kasihan dengan Alea? Apa kamu tega menghancurkan masa kecilnya? Apa kamu siap Alea kehilangan keceriaan dan kasih sayang? Ngomong yang bener, kamu!" ujar Rival dengan mata yang nyalang. "Mas Rival yang terhormat, apa kamu pernah mikir sebelumnya? Akibat dari perbuatanmu? Apa saat 'melakukannya' dengan Luna tak terbersit sama sekali akan rumah tangga kita? dan apakah kamu pikir dengan kita tetep seperti ini bisa membuat Alea bahagia? Punya otak itu dipake, Mas buat mikir bener. Ojok gawe mikir selangkangan teros!" Ningsih terlihat geram. "Makanya aku minta maaf, kita perbaiki semua. Aku cuma khilaf, tak ada niatan lagi untuk mengulanginya. Sungguh, percayalah padaku, Sayang" Rival melunak, ditatap lembut wajah Ningsih. "Cih, persetan dengan khilaf! Aku butuh waktu, Mas. Untuk sementara tinggalkan aku dan Alea disini, pulanglah!" Ningsih melepaskan genggaman Rival di tangannya. "Baiklah, aku beri waktu untukmu beristirahat, agar bisa berpikir lebih jernih. Lusa aku jemput kesini, kita pulang dan mulai kembali lembaran baru. Aku balik, Assalamualaikum" Rival melangkahkan kaki meninggalkan Ningsih, bergegas pulang. Selepas kepergian Rival, Ningsih menumpahkan air matanya, tangisannya pecah. Ningsih masih tak percaya, ini semua nyata. Suami yang diagungkan kesetiaannya selama ini, ternyata lebih hina dibandingkan puluhan lelaki yang sering menggodanya di sekitar jalan raya. Suami yang dibanggakan itu tak sesempurna yang ia kira. Ningsih terus menangis meratapi nasibnya. Bagaimana bisa ia melanjutkan hidup dengan bayangan iparnya sendiri? bagaimana hatinya bisa lapang, menerima cobaan seberat ini. 'Ya Allah ya Rabbi, kuatkanlah hatiku untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi kini' batinnya dalam hati. *** Hari ini Luna sudah diperbolehkan pulang, karena kondisinya yang membaik. Luna meminta Fathir untuk pulang ke rumah mereka, tak mau lagi tinggal di rumah Ibu. Fathir hanya mengiyakan, asal Luna senang. "Kamu yakin ini kita langsung pulang ke rumah? Gak mampir ke Ibu dulu?" tanya Fathir memastikan. Saat ini mereka sudah berada dalam mobil yang terparkir di Rumah Sakit tempat Luna menjalani rawat inap. "Iya, Mas. Aku nggak mau ngerepotin Ibu lagi, apalagi sampai bikin Ibu kepikiran seperti kemarin. Kasihan" "Terus kalau aku kerja, kamu sama siapa?" "Ya sendiri dong, aku masih bisa jaga diri dan anak ini kok" tunjuk Luna ke arah perutnya. "Anak kita, tepatnya" sangkal Fathir. "Iya, iya. Udah ah, ayo!" "Oh, aku sewain ART aja gimana? yang pulang sore aja? Biar bisa nemeni kamu kalau aku tinggal kerja. Atau yang bisa segala waktu, jadi pas dibutuhin malem bisa siap, berjaga-jaga kalau aku dinas malam, gimana?" "Boleh, deh. Terserah kamu aja, aku pinginnya sekarang cepat sampai ke rumah. Udah pegel nih, rindu kasur di rumah" Luna terlihat merajuk. "Iya, iya. Baca doa dulu, yuk capcus" *** "Bu, Ningsih mau cerita sesuatu. Tapi Ibu gak boleh kepikiran ya, Ningsih hanya minta solusi, Bu." tanya Ningsih hati-hati. Ibu yang sedang mengupas bawang, menatap Ningsih dalam. "Ada apa, Nduk? Sudah sini cerita. Ibu juga paham apa yang kamu rasakan. Ini ada hubungannya dengan Luna yang kemarin sampai pingsan ya?" tanya Ibu menyelidik. Kening Ningsih mengernyit, "Ibu tau darimana?" "Adikmu, Chintya. Dia sudah menceritakan semuanya dengan jelas, tanpa dikurangi dan ditambahi, dia cerita sesuai apa yang dia dengar" Ibu melanjutkan memotong bawang. "Lantas? Kok Ibu diam saja? Tak menegur atau memastikan ke kami?" "Ya buat apa, Nduk. Kalian sudah besar, Ibu tidak mau ikut campur. Biar kalian selesaikan sendiri, toh itu juga belum terbukti bagaimana sebenarnya. Ibu cuma bisanya berdo'a agar rumah tangga anak-anak Ibu di berikan keberkahan dan bisa menjadi keluarga yang samawa hingga maut yang bisa memisahkan" wajah Ibu terlihat sendu. "Tapi, Mas Rival sudah mengakuinya, Bu. Ningsih bingung" mata Ningsih kembali berkaca-kaca. Ibu meletakkan pisau dan bergegas mencuci tangan, dielusnya lembut tangan putri sulungnya. "Nduk, jangan gegabah. Pikirkan kembali nasib anakmu kedepannya. Bagaimana juga dengan mertuamu? Ingatlah semua kebaikan suamimu. Jangan karna satu kesalahannya lantas membuatmu buta akan semua kebaikannya. Rival suami yang baik, bertanggung jawab lahir&bathin, tak pernah membentak, mengasari atau memukulimu kan? Rival juga memenuhi semua kebutuhanmu, bahkan semenjak kamu menikah dengannya, kamu dijadikan Ratu di rumah, semua keinginanmu dipenuhi. Dia juga ayah yang baik, lembut dan penyayang untuk Alea, serta Menantu yang sopan dan penurut sama Bapak&Ibu. Tapi semua keputusan tetap di tanganmu, Nduk. Jangan biarkan omongan dan nasehat Ibu ini meracuni keputusanmu, Ibu tau kamu lebih bijak memutuskan yang terbaik untuk hidupmu, kamu berhak bahagia, Nduk. Pikirkanlah dengan kepala dingin, minta petunjuk Allah SWT, perbanyak sholat malam" tutur Ibu menenangkan. "Bolehkah Ningsih mempertemukan keluarga besar, Bu? Untuk mencari solusi dari masalah ini. Jujur saja, Ningsih khawatir Mas Rival akan mengulangi. Kami pastinya akan sering bertemu, mengingat ia juga adik iparku, Ningsih juga ingin tau, apa keputusan Fathir" pinta Ningsih. Terlihat Ibu mendesah, menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, Nduk. Nanti biar Ibu ceritakan sama Bapakmu dulu, khawatir beliau kaget jika tiba-tiba tau saat perkumpulan nanti" Ningsih hanya menganggukkan kepala. "Sudah, tak usah berlarut dalam kesedihan. Lihat tuh, Alea. Bersyukurlah masih ada malaikat kecil yang bisa meredam kesakitanmu" Ibu melanjutkan kembali memasak. Ningsih segera menghampiri Alea yang sedang bermain boneka di karpet bulu. Dipeluk dan diciuminya dengan sayang bocah gembul itu. *** # WA grup Keluarga Basuki # Ningsih : [ Hari Minggu pagi kita berkumpul di rumah Ibu ya. Ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan, bawa suami dan istri masing-masing. Sekalian makan-makan keluarga lengkap😁, see you ] Chintya : [ Widih, serius amat. Baiklah👍] Fathir : [ Wah, mantap nih makan-makan. Syiap Mba, pasti hadirlah 🤩 ] Ningsih : [ Pokoknya Mba tunggu, yang lengkap yaa. Awas kalau enggak🥺 ] Chintya : [ Ok ] Fathir : [ 👌 Mba ] Ningsih tersenyum melihat balasan kedua adiknya. Ningsih tak sabar menunggu beberapa haru lagi, ia tau apa yang harus ia pilih. Ningsih harus bijak, semoga keputusannya membawa keberkahan dan bisa menjadikannya lebih dewasa lagi kedepannya. *** "Sayang, hari Minggu ke rumah Ibu ya" ujar Fathir yang sedang asyik melahap sarapannya. "Ngap...ngapain, Mas?" Luna sedikit tergagap. "Main aja Sayang, makan-makan semua keluarga" "Semua, Mas?" Luna menautkan alisnya. "Iya, Mba Ningsih ngajak ketemuan keluarga besar gitu, ya tiga pasangan beserta anak istri/suami gitu lho. Seperti biasa" "Iya, Mas" Luna susah payah menelan ludahnya, ia sedikit ketakutan. Semenjak masalah terakhir kemarin, ia belum bertemu dengan kedua iparnya. Mereka bahkan tak ada satupun yang menjenguk Luna, dengan alasan mempunyai balita yang bisa dipahami. Tapi Luna yakin, bukan itulah alasan mereka tak menjenguknya. Luna bingung, bagaimana bisa ia menolak acara perkumpulan itu beberapa hari lagi. Tak mungkin juga ia beralasan sedang hamil, terlalu tak enak menolak ajakan Fathir. Luna terlihat gusar, ia sangat takut kedua Iparnya membahas masalah itu. "Kenapa Sayang? Kok resah?" mata Fathir memicing memperhatikan tingkah Luna. "Nnggg....nggak kok, Mas. Cuma agak mual" ujar Luna beralasan. 'Yasudahlah, kepalang tanggung. Lagian juga belum tentu Mba Ningsih membongkar semuanya di acare besok. Aku lihat saja dulu, jika tidak. Maka aku aman selamanya, tapi gimana ya reaksi Mas Fathir nantinya? Duh, aku sejak kemarin ingin rasanya menjelaskan dan jujur akan semuanya, tapi kenapa sekarang rasanya berat sekali. Lidahku seakan kelu, aku tak sanggup. Aku begitu takut kejujuranku akan merubah segalanya, termasuk kasih sayang Mas Fathir untukku saat ini tak akan lagi sama nantinya. Ahhhhhh...gimana ini' batin Luna berkecamuk. "Yasudah, aku berangkat dulu Sayang, nanti agak siang ada Bi Sarmi datang, beliau yang akan menemanimu dan membantu semua keperluanmu di rumah nantinya. Baik-baik di rumah ya. Mas berangkat, Assalamualaikum" Fathir mencium puncak kepala Luna. "Ya, Mas. Hati-hati, waalaikumsalam" ujar Luna seraya mengantarkan suaminya ke depan hingga punggungnya tak lagi terlihat. 'Ah, ada-ada saja sih Mba Ningsih. Untuk apa juga ngajakin ketemuan, mending aku tanya saja, apa tujuannya mengajak kami makan-makan bersama sekeluarga besar' Luna meraih ponselnya dan menuliskan sesuatu disana, mengirimkan ke kontak bernama Ningsih. [Mba, ngapain sih Minggu pake ajak makan-makan sekeluarga. Mau ngomongin hal penting apa memangnya?] Tak sampai semenit, pesan Luna bercentang dua biru, menandakan pesan sudah terbaca. [Kepo!] Balasan singkat, padat dan jelas dari Ningsih mampu membuat Luna berdecak sebal. 'Sialan, awas aja kamu, Mba. Semoga saja Mas Fathir masih mau berpihak padaku, bakalan malu sendiri kamu nanti, Mba' Luna tersenyum dalam hati. ****** ****** ****** Gemesh gak nih? gemesh gak nih? Gemeshlahhhhh!!! Masak engga?! ****** Ayo ikuti terus kelanjutan Luna, bab berikutnya pasti kebongkar, seperti janji Mamak, kurang beberapa bab lagi cerita ini TAMAT. 😁😁😁 Gimana ya Fathir nantinya? Pastinya jauh diluar prediksi kaleaaaan dong 😅🤣 mengingat Fathir yang lempeng aja selama ini😁 Tetep staytune yaaaa Sayang2nya mamakkkkkkk...... Setia terus yuk ikutin kisah Luna 😘😘😘😘 ******* ******* ******* ****** ******* ******** ******** Bakal makin seru nih kelanjutannya, yuk simak terus kisahnya ya Shay... Mamak sayang kalian semua .... Ditunggu next nya 😘😘😘😘 ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘 Kakak2 yang udah baca, next nya yang SOLUSI BIKIN GREGET DULU ya, baru SOLUSI (lagi). Maafkan Mamak karena kesalahan teknis bab nya terhapus. Jadi post ulang deh huhu. Jadi kesannya kebalik 2 bab setelah ini . Mamak hanya manusia tempatnya sakah dan dosa, maafkan Mamak ya semua😘😘😘😘
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0ดูทั้งหมด