logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Terbongkar

Rival mengetuk pelan pintu kamar Ningsih, mencoba menjelaskan.
"Sayang, ayo buka dong pintunya"
Ningsih tak menyahut, tentu saja ia kesal bukan main.
"Ningsih, Mas mau jelasin semuanya. Tapi pintunya buka dulu ya?" 
Cklek.....
Suara pintu terbuka dari dalam, Rival masuk dan menutup kembali pintu kamar.
"Ningsih sayang, Mas gak ada maksud apa-apa. Soal omongan Mas ke Luna, Mas sungguh minta maaf. Kalimat itu meluncur begitu saja, waktu Mas nolongin Luna tadi itu dia menangis kakinya terkilir, Mas cuma bilang kalau lebih baik tersenyum daripada menangis. Senyum bikin keliatan jadi manis, itu semata untuk menghibur saja. Sama sekali gak ada maksud atau tujuan lain. Kamu yang bener aja, aku masij tau batesan dong. Luna kan istri Fathir, adik ipar aku. Aku niat tulus cuma pingin bantuin dia aja sekaligus menghibur tadi. Kamu tau juga kan bawaan Ibu hamil gimana? Mas cuma kasihan aja, gamau Luna stres. Kamu jangan mikir macem-macem, Mas sayang sama kamu Ningsih" ujar Rival menjelaskan panjang lebar.
"Bener Mas?" Ningsih terlihat mulai melunak mendengar penjelasan Rival.
"Iya dong Sayang, mungkin kalimat Luna aja yang bikin kamu salah paham. Arti sebenernya gak seperti itu kok. Jangan biasain suudzon ah, Mas gak suka" Rival memeluk Ningsih, merayu istrinya agar tak cemburu buta lagi.
"Janji ya, Mas. Jangan kecewain aku, jangan pernah hianati aku" 
"Iya Sayang, buktinya dari pacaran mana pernah hayo Mas duain Ningsih" Rival menatap Ningsih lembut, mencium keningnya.
Ningsih hanyut termakan rayuan Rival, menikmati pelukan hangat dari suaminya.
***
Keesokan harinya, Chintya datang ke rumah Ibu bersama Lita. Mereka sudah janjian bersama Ningsih akan membuat dessert dna rujakan bersama, sambil bergosip pastinya.
"Eh kalian udah datang, ayo kita masuk dulu" Ningsih mempersilahkan Chintya dan Lita duduk di ruang tamu.
Lita menatap sekeliling seperti mencari-cari sesuatu.
Ningsih yang menyadari hanya terdiam, tak ingin salah mengira dan berburuk sangka.
"Kamu udah beli bahan untuk dessertnya Chin?" Ningsih menatap Chintya penuh tanya.
"Udah dong, Mba. Ini aku ajak Lita juga ada untungnya, biar bisa dapet bahan gratis hahahha" 
"Maksutnya?" Ningsih tak paham.
"Lita baru saja buka toko bahan kue, laris banget Mba. Disana lengkap banget, harganya pun terjangkau. Pantes baru sebulan buka udah banyak pelanggannya" puji Chintya.
"Wah, Alhamdulillah. Selamat ya" Ningsih memandang Lita penuh kekaguman.
"Iya, Mba. Buat sambilan, hasilnya Alhamdulillah disyukuri" selalu saja Lita merendah, padahal asetnya berjumlah miliaran warisan dari Papanya.
Mereka asyik  ngobrol ngalor ngidul terlihat saling menyahut, seru sekali.
Suara yang sedikit berisik itu mengganggu tidur Luna, bergegas ia menghampiri mereka.
"Pada asyik banget nih kayaknya" Luna menyapa dengan wajah khas bangun tidur.
Seketika, matanya melotot melihat Lita yang sedang santai duduk di karpet bersandar pada kaki sofa.
"Baru bangun nih?" ujar Lita menatap Luna dengan senyum sinis.
Luna hanya terdiam tak berani lagi menatap mata Lita.
"Ayo sini gabung sama kita, biasanya orang hamil muda tuh paling gencarnya lihat rujak gini. Hummmm" Chintya menunjuk tumpukan buah segar di depannya, ada gula merah kental yang tak kalah menggoda.
"Siapa yang lagi hamil?" alis Lita terangkat.
"Luna kan lagi hamil, baru sebulan kayaknya" ujar Ningsih menimpali.
Lita memandang Luna penuh selidik, ada semburat kebencian di mata Lita.
"Alhamdulillah, selamat ya. Semoga bisa menjadi Ibu yang baik kelak" kalimat Lita penuh tekanan.
Luna hanya mengucapkan terima kasih dengan singkat, tanpa ekspresi.
"Ngapain berdiri disitu kayak patung pancoran, sini duduk. Makan tuh buah biar anakmu sehat dan cerdas" ajak Chintya.
Luna akhirnya bergabung bersama Chintya, Ningsih dan Lita.
Mereka makan rujak buah dengan lahap, seketika suasana menjadi hening dan terasa canggung.
"Oh ya Lit, kenapa Lala gak diajak aja sekalian? Kasihan di rumah sama Babysitter terus" Chintya memulai obrolan.
"Iya sengaja, biar nantinya terbiasa aja kalau aku tinggal kerja" ucap Lita santai.
"Oh, kamu mau kerja? Bukannya suamimu si Frans gak ngijinin ya?" 
"Iya Chin, tapi kan kalau nanti sudah bukan suamiku, terserah aku dong kalo mau kerja" sontak perkataan Lita barusan membuat mereka menyimak, menghentikan aktifitas menikmati rujak.
"Maksudmu apa?" kening Chintya berkerut.
"Lita kalau ngomong dijaga ah, ngomong yang baik-baik aja" Ningsih menimpali.
"Emang bener, Mba. Kalau prinsipku sih ya, suami udah berani melenceng itu udah ga bener, dan gaada kata maaf untuk penghianatan dalam kamus hidupku" 
"Emang Frans ngehianati kamu?" kali ini Chintya duduk lebih maju di depan Lita.
"Ya gitudeh, udah ah aku gamau bahas. Niatku kesini buat havefun tauk!" Lita memasang wajah masam.
Ningsih dan Chintya hanya manggut-manggut seakan ikut memahami perasaan Lita.
"Tapi menurutku selama gak terbukti atau masih bisa diselamatkan hubungannya, ya gapapa lah maafin. Toh manusia tempatnya khilaf, apalagi pernikahan itu sakral banget, janjinya di hadapan Allah langsung lho" Luna yang sedari tadi diam, ikut membuka suara untuk memberi saran.
Lita terlihat tak suka, ia segera menolak pernyataan Luna.
"Lah itu paham, udah tau kan kalau janji di hadapan Allah. Kenapa masih ingkar? sama Pencipta-Nya aja berani, apalagi sama hamba-Nya. Soal rumah tangga itu tergantung masing-masing pribadi untuk menyikapi, jadi ya terserah aku dong. Hidup juga hidup aku, mending urus diri sendiri deh. Kaya sendirinya udah paling bener aja. Sok bijak banget menasehati, bawa-bawa khilaf lagi. Khilaf itu sekali, kalau berkali-kali mah doyan" Lita terlihat kesal.
Ningsih dan Chintya hanya melongo, menyaksikan kedua wanita cantik di hadapannya berseteru saling bersahutan.
"Lah kok kamu ngatain aku gak bener? Maksud kamu gak bener gimana? Hati-hati dong kalo ngomong! Kamu gatau aku istri abdi negara? Buat jadi seorang istri dari abdi negara itu ada beberapa tahapan, gak semudah dan serendah yang kamu tuduhkan" Luna tersulut emosi mendengar ocehan Lita.
"Hahhaha, tahapan yang seperti apa? Bisa jelasin gak kamu? Ibarat orang ngelamar kerja nih, kamu tuh gapake ikut test wawancara, psikotest, interview danlainnya. Tapi...pake jalur orang dalem, alias nyogok. Wkwkwkwk bener ga tuh? Lagian ya, istri abdi negara kok attitude nya buruk banget, tidak mencerminkan adab-adab" 
"Kamu ya keterlaluan! Tau apa sih kamu itu tentang aku? Awas aja, aku adukan penghinaanmu ini sama Mas Fathir nanti. Kamu akan menyesal udah menghina istrinya seperti itu, memangnya kamu siapa?" 
"Heh, aku memang bukan siapa-siapa. Bukan dari keluarga terhormat juga, tapi aku tau tata krama dan yang pasti ya, aku ga gatel sama milik orang lain, apalagi saudara sendiri juga dimangsa!" ujar Lita puas.
"Apa maksud kamu Lit?" Ningsih terlihat tak suka Luna sedari tadi dihina, Ningsih memang kerapkali kesal sama Luna, tapi kali ini menurutnya Lita sudah keterlaluan menuduh Luna dan memojokkannya seperti ini. Apalagi bawa-bawa nama Fathir, adik kesayangannya. Ningsih tak rela ada yang merendahkan anggota keluarganya.
"Gimana Ibu Luna yang terhormat, istri dari  seorang abdi negara. Kamu sebagai ipar yang akan menjelaskan atau perlu aku yang bukan siapa-siapa ini yang terpaksa harus membeber semuanya?" tawar Lita angkuh.
"Aku gak paham maksud kamu!" bentak Luna.
Chintya yang tak paham hanya terdiam melihat Kakak kandungnya Ningsih ikut terlibat.
"Mba Ningsih gak curiga sama Iparnya yang cantik ini? Mungkin pernah mepet atau pasang kode ke suamimu, Mas Rival?" Lita bergantian menatap Luna dan Ningsih dengan tatapan mengejek.
"Tutup mulutmu! Jangan fitnah kamu. Memangnya aku pasang kode apa? Rupanya kamu sudah gila, mana mungkin aku menggoda Iparku sendiri" sahut Luna dengan senyum dipaksakan.
"Katakan saja, tak usah berbelit-belit. Apa maksud kamu?" ucapan Ningsih mendesak Lita.
"Stop! Ini pada kenapasih? Heran deh aku, kalian sudah dewasa tapi berantemnya kayak anak SD rebutan gebetan. Malu lah Mba, tolong hentikan. Mba yang paling tua disini, hentikanlah lelucon ini. Apa sih yang diributkan?" Chintya menatap Ningsih, wajahnya mengiba.
"Diam dulu, Chin. Mba perlu tau apa maksud Lita berbicara kasar hingga seperti ini pada Luna" sambar Ningsih tajam.
Lita menghembuskan nafas panjang, sepertinya akan memulai pembicaraan yang panjang.
Luna menautkan jari-jarinya, tampak gegabah dan kalut. Terlihat wajahnya gusar, ada rasa takut terlukis disana.
"Asal Mba tau ya, andai saja Luna gak mancing emosiku, aku gak akan ikut campur masalah kalian. Tapi, dia sudah kelewatan. Jadi, maafkan aku, Mba. Aku akan beber semua kebusukannya. Aku juga gak tahan liat Mba Ningsih terus-terusan dibodohi bocah ini." Tunjuk Lita tepat di wajah Luna.
"Gausah macem-macem kamu, bangs*t!" Luna menepis kasar telunjuk Lita di depannya.
"Luna ini mantan pelacur, dulunya dia seorang LC. Bukan hanya sebagai pemandu lagu biasa, melainkan sudah melampaui batas, yakni menjajakan tubuhnya ke puluhan bahkan ratusan lelaki hidung belang yang haus belaian. Aku gak tau sejauh apa hubungan dia dengan Mas Rival, suami Mba Ningsih. Tapi yang aku tau, Luna pernah ada hubungan dengan Mas Rival, tepatnya saat Mba Ningsih hamil dan melahirkan. Keduanya tampak saling mengenal, tapi dengan pandainya si Lont* ini bisa menutup dengan rapat, aktingnya sungguh patut diacungi empat jempol. Atau mungkin Mas Rival juga terlibat dalam sandiwaranya. Tapi, yang gak aku sangka, bisa-bisanya mantan pelacur menikah dengan abdi negara sesempurna Fathir. Aku gak bermaksud menghancurkan keluarga, Mba. Tapi aku gak mau nyimpen informasi yang aku tau ini lama-lama. Terserah Mba, mau percaya atau nggak, yang pasti semua kalimat yang aku ucapkan barusan, aku berani bertanggung jawab kebenarannya. Selebihnya, Mba tanyakan saja sama Lont* ini. Makasih buat jamuannya, makasih juga buat semua kebaikan keluarga ini, Lita minta maaf, Mba, Chin. Lita pamit, Assalamualaikum" 
Lita bergegas menyambar tas dan pergi meninggalkan mereka yang masih mematung.
"Mba, jangan dengerin omongan Lita. Dia cuma fitnah, dia hanya ingin menghancurkan keluarga kita, Mba. Luna mohon, Mba Ningsih percaya sama Luna ya" 
Ningsih hanya diam, beberapa detik kemudian Ningsih bergegas menuju kamar, meninggalkan Luna dan Chintya di ruang tamu.
Brak!!!
Ningsih menutup pintu kamar dengan keras, membanting tepatnya.
Chintya bingung harus bagaimana, ia masih syok dengan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Lita, sahabatnya.
"Mba, kamu percaya sama aku kan?" Luna menatap Chintya dengan mata berkaca-kaca.
Chintya menatap Luna sekilas, mengedikkan bahu dan bergegas menuju kamarnya.
Tinggal Luna sendiri yang termangu di ruang tamu, Luna meremas rambutnya kasar.
Hancur sudah kini reputasinya, masa lalu yang kelam terbongkar dengan jelasnya di depan Kakak-kakak Iparnya.
Luna bingung, bagaimana kedepannya. Ia merutuk dirinya kesal, tangannya terkepal kuat. Antara emosi dan benci serta sedih tercampur semua menjadi satu.
Masihkan Luna diterima di keluarga ini? Jika Fathir tau, apa yang akan dilakukannya? 
Luna benar-benar bingung, semuanya berkelibat di otaknya. Kepalanya mendadak pusing dan terasa berputar. Matanya semakin buram dan tak bisa melihat apa-apa. Tubuhnya ambruk ke lantai, lemas. Luna tak sadarkan diri sendirian di ruang tamu.
*******          ******           ******
*******              ********             ********
Bakal makin seru nih kelanjutannya, yuk simak terus kisahnya ya Shay... Mamak sayang kalian semua .... Ditunggu next nya 😘😘😘😘
******        ******        ******
******         ******          ******
******           ******             ******
Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด