Pov Ningsih Saat ini seperti biasa, waktunya berkunjung ke rumah Ibu, Mas Rival sudah siap mengantarkanku dan Alea sebelum ia berangkat kerja. Aku juga mengajak Chintya untuk bergabung, tapi Chintya baru bisa menyusul besok karena Kiara sedang demam, Chintya takut merepotkan Ibu nantinya disana. Kami akan menginap dua hari seperti biasa. Sesampainya di rumah Ibu, aku melihat mobil Fathir sudah terparkir rapi di garasi. Apa mungkin Fathir juga menginap disini?, 'Aduh bakal ketemu lagi nih sama Luna' geramku dalam hati. "Assalamualaikum," aku menggandeng Alea masuk ke dalam rumah Ibu. "Waalaikumsalam" suara sahutan wanita dari dalam sangat kukenal, baru juga tadi aku bilang, makhluk astral satu itu rupanya sudah asyik rebahan di sofa sambil menonton TV. Berbagai macam buah tertata rapi di atas meja, tepat di samping sofanya. "Tumben main, Mba" sapanya datar. "Kan memang jadwalku kunjungan, harusnya aku yang nanya. Tumben kamu main kesini?" jawabku setengah judes. "Iya aku bebas kali Mba, mau kesini kapan aja kek, mau tinggal disini atau nggak kek, ini kan rumahnya Mas Fathir seperti yang Bapak bilang, karena aku ini istrinya, jadi ya ini rumahku juga dong. Terserah aku mau sering atau jarang kesini, suka-suka aku lah" teriaknya dengan gaya angkuh seperti biasa. Baru masuk rumah, sudah dibuat naik nih tekanan darah. "Heh, cecunguk! Maksut aku ya, disini itu masih ada Bapak&Ibu lho. Harusnya ya, kamu sebagai istri yang baik sudah menjadi kewajibanmu mengingatkan Fathir buat sering-sering jenguk Ibunya! Mumpung masih ada, kamu jangan harta terus dong pikirannya!" Bentakku kesal. "Idih, Mba nyumpahin Bapak&Ibu umurnya gak panjang? Ya ampun Mba, ngomong tuh dihati-hati lho, durhaka banget sih sama orangtua. Jangan gitu, Mba. Ibu itu yang udah ngelahirin Mba lho, susah payah ngerawat Mba dari kecil, kok bisa-bisanya omongan jelek yang keluar untuk orangtuanya, huh" ujarnya mendramatisir. Aku mengernyit heran, kenapa nih bocil ngomongnya ngelantur kemana-mana ? "Sudah-sudah, kalian ini ya. Selalu saja bertengkar. Luna sabar, gausah dimasukin hati omongan Mbakmu ini, Ningsih juga yang akur sama Luna, kok Ibu lihat kamu ngajakin Luna ribut terus" entah sejak kapan Ibu sudah berdiri di belakang kami. 'Wah sial nih bocil, pantes tiba-tiba ngedrama, sialan. Aku jadinya yang dikira nyari ribut sama Ibu' Aku memutuskan untuk diam, untuk menghargai Ibu tentunya. "Kok gak dihabisin buahnya, Lun? Ayo makan buah yang banyak, kamu kan gak mau makan nasi. Jadi makan sayur&buah aja ya banyakin. Nanti Ibu belikan lagi" senyum Ibu merekah menatap Luna yang asyik melahap kelengkeng, kulitnya berserakan di bawah sofa. "Apa-apaan ini? Kok Ibu memanjakan Luna segitunya sih?" ucapku tak suka. "Sudahlah, Nduk. Ibu biasa aja kok, lagian itu semua buat calon cucu Ibu juga. Luna sedang hamil" jawab Ibu berseri-seri. "Hamil? Oh, syukurlah kalau gitu. Hamil bukan alasan untuk bermalas-malasan ya!" "Dih ngiri aja terus" ketusnya. "Ningsih, udah ah! Ibuk pusing deh liat kalian terus-terusan bertengkar seperti ini" Ibu menengahi, matanya menatapku lembut. "Yaudah sana, bela aja terus tuh mantu kesayangan" ujarku kesal seraya bergegas masuk ke dalam kamar yang selalu kutempati tiap main kesini. Sebelum membuka pintu kamar, kulirik sekilas, Ibu menggelengkan kepala sambil memegang tangan Luna. Sedangkan Luna menatapku sambil menjulurkan lidah. 'Wah, awas ya kamu bocil' Setelah merapikan tempat tidur dan menyusun pakaian ganti, aku keluar kamar untuk mengisi perut. Di meja makan sudah tertata ikan goreng, tahu telor balado, cah kangkung dan soto tetelan. Masakan Ibu selalu menggugah selera, mampu membuatku hampir meneteskan air liur hanya dengan mencium aromanya. Bergegas mengambil piring dan sendok, aku menyiduk satu centong nasi ke piringku, mengambil lauk dan melahapnya. Baru dua suapan, suara khas bocil lagi-lagi mengagetkanku. "Widih, enak banget ya dateng-dateng langsung makan. Sikat habis, sapu bersih" ucapnya cekikikan. "Kayak ada suara tapi gaada wujudnya ya, merinding ih serem" decakku menyindirnya. "Mba pikir aku setan apa? Udah cantik gini kok, mana lagi hamil. Jadi semakin kelihatan aura kecantikanku kalau lagi hamil gini" Hampir saja aku menyemburkan kembali makanan di mulutku, tak kuasa untuk menahan tawa. "Bhuahahahhaahahah, ada setan lagi bunting nih" "Heh! Aku ini adik iparmu, sama bumil gitu banget sih. Iri ya?" "Aku? Iri sama kamu? Buat apa hahahaha!" "Kali aja Mba iri, belum hamil lagi" "Gak tuh, eh tapi tunggu deh. Kamu ini hamil anak siapa sih emang?" kalimatku barusan mampu membuat Luna pucat pasi, sempat kulihat ia tergagap, seperti menyembunyikan sesuatu. Namun, bak pemain sinetron senior, dengan cepat ia merubah wajahnya seolah biasa. Luna mendekatiku, membisikkan kalimat yang membuatku menegang. "Yang penting kan bukan anak dari suamimu, Mas Rival" Sontak bisikan kalimatnya di telinga membuatku naik pitam. "Lancang banget kamu, apa maksud kamu bicara seperti itu sama aku? Kamu itu yang sopan! Aku ini lebih tua dari kamu" bentakku bertubi-tubi. Luna hanya terkikik, "coba dong tanya tuh suami kamu, apa maksudnya" Luna beranjak meninggalkanku yang bingung mengartikan ucapannya. Seketika rasa laparku hilang, moodku berubah hanya karna kalimat yang meluncur dari mulut Luna barusan. Aku segera menghubungkan sesuatu yang kutemukan dan kucurigai antara Mas Rival dan Luna. Bukankah insting seorang istri sangat kuat? Aku yang kemarin memutuskan untuk mengakhiri penyelidikanku, ingin memulainya kembali karena ucapan Luna barusan. Aku harus menyelidiki dengan pasti, ada hubungan apa antara Mas Rival dengan Luna? Seperti percaya tak percaya, mereka tak saling mengenal, tapi kenapa aku merasa ada sesuatu diantara mereka. Bermula dari mereka yang kutemukan berteman di facebook lalu diperkuat dengan tawa haha hihi Mas Rival saat ngobrol dengan Luna tempo lalu, terlihat akrab. Dan sekarang harus di kejutkan lagi dengan kalimat Luna barusan. Aku tau, Luna tak bohong. Ia tak akan mungkin berani berbicara seperti itu jika tak ada apa-apa dengan Mas Rival sebelumnya. Kuputar otakku untuk bekerja lebih keras, aku harus menanyakan sendiri pada Mas Rival nanti. Sore harinya, Mas Rival pulang dengan wajah kusut seperti biasanya, khas baru pulang kerja. Setelah mandi dan makan, barulah aku berniat menanyakan perihal hubungan mereka. "Mas..." "Hmmmmm, kenapa?" ujarnya menatapku lekat. "Aku mau tanya sesuatu, tapi Mas jangan tersinggung" Mas Rival terlihat bingung, hingga alisnya hampir menyambung. "Oke" jawabnya samar. "Apa Mas dulu pernah ada hubungan sama Luna? di masa lalu mungkin?" tanyaku hati-hati. Terlihat Mas Rival sedikit terlonjak, kaget dengan pertanyaanku. Mungkin ia tak akan menyangka aku akan bertanya seperti ini. "A...Ap....Apa maksudmu?" ucapnya sedikit senyum, yang terlihat dipaksakan. "Ya itu, apa Mas dulu pernah mengenal Luna sebelum dia menikah dengan Fathir?" kuulang pertanyaanku, sedikit kuralat agar tak terkesan mengintimidasi. "Nggak tuh, memangnya kenapa?" "Yaudah kalau gitu, berati Mas tahu dan kenal Luna baru sekarang? Setelah menikah dengan Fathir kan?" kuulang-ulang lagi pertanyaan tersebut, aku masih berharap jawaban Mas Rival tak akan menyakiti hatiku, aku berharap memang ia tak pernah mengenal Luna sebelumnya. "Iya" sahutnya cuek. Entah kenapa hatiku belum lega mendengar jawabannya, hendak kuajukan lagi pertanyaan berikutnya. Tapi kulihat Mas Rival sepertinya tak tertarik, cenderung malas membahas hal ini. Jadi kuputuskan mengakhiri sementara topik tentang Luna, lain kali saja akan kubahas lagi. Aku takut semakin dalam aku mencari tahu, maka akan semakin dalam luka yang aku rasakan, jika memang mereka pernah saling mengenal sebelumnya. Tapi itulah wanita, seringkali rasa keingintahuannya lebih besar. Harusnya benar kata pepatah, jika kamu mengetahui sesuatu yang membuatmu sakit hati, berhentilah untuk mencari tahu. Sebab, mencintai bukan seni untuk menyakiti diri sendiri. Terkadang ketidaktahuan lebih baik daripada memenuhi rasa penasaran yang ujung-ujungnya menyakitkan. Ahhh.....lelah hati memikirkan hal yang belum tentu pasti seperti ini. Mending aku rebahan sambil berselancar di sosial media. Baru saja sekitar lima menit aku melihat status teman-teman di beranda facebook, terdengar suara berisik dari kamar sebelah. Luna berteriak sepertinya. 'Apasih, lebay amat' Tak kuhiraukan suara berisik Ipar satu itu, hampir setengah jam aku berkutat dengan ponsel. Tenggorokanku haus, aku memutuskan keluar kamar dan mengambil air di dapur. Melewati meja makan, kulihat Luna sedang asyik tertawa bersama Mas Rival. Hatiku memanas menatap pemandangan didepanku. "Mas? Ngapain disini berduaan? Haha hihi lagi, Alea mana?" "Eh itu, anu.. Alea pergi sama Ibu main ke rumah Tania, tetangga depan. Tadi Mas denger suara Luna kesakitan, Mas kira kamu tidur Sayang karna Mas takut terjadi apa-apa, akhirnya Mas samperin. Ternyata Luna terpeleset, kakinya terkilir. Makanya Mas bawa Luna kesini, kami cuma ngobrol biasa kok Sayang. Pikiranmu jangan kemana-mana" jelas Mas Rival panjang lebar. "Lho, emangnya aku mikir apa sih Mas?" ujarku memastikan. "Ya enggak sih. Yaudah kalau gitu Mas keluar dulu jemput Alea ya" Mas Rival terlihat seperti salah tingkah, ia terburu-buru meninggalkan aku dan Luna di meja makan. Luna makan brownies dengan gayanya yang kemayu, kakinya diselonjorkan di kursi samping. Menatapku tersenyum seperti mengejek. "Ngapain kamu senyum-senyum gitu ke aku? Jijik tau nggak!" ujarku malas. Aku mengambil air dari dalam kulkas, menuangkan ke gelas dan meneguknya hingga sisa setengah. "Ya kamu jijik Mba, tapi suami kamu suka lho lihat aku senyum, manis katanya" serunya tak tahu malu. "Mbok kira aku percaya karo lambemu? wong lambemu lho lamis, lunyu koyok welut" decakku sebal. "Dih emosi, coba sana tanya. Maksud suami Mba tadi bilang ke aku 'udah jangan nangis, kalau senyum pasti lebih manis' tuh apa? Coba gih tanya tuh sama suami setia kamu!" Apa-apaan dia? beraninya bilang gitu didepanku. Tak banyak bicara, aku segera menghampirinya dan menampar pipinya dengan keras. Aku sudah dikuasai emosi, istri mana yang tak akan cemburu digoda seperti itu berulang kali. Dikira lelucon, tapi perihal rumah tangga tak selelucon itu! Plakkkk!!! "Aduh, sakit Mba" Luna meringis memegangi pipinya. Bertepatan dengan kehadiran Fathir di meja makan, kami yang sejak tadi beradu mulut tak sadar kalau Fathir sudah datang. "Mba Ningsih! Kenapa Mba tampar Luna? Mba ini kelewatan ya!" Fathir memeluk Luna yang sedang menangis. 'Hadeh, drama apalagi ini' batinku. "Kalau istri tersayangmu itu gak kurang ajar sama Mba, gaakan Mba kasarin dia. Tanya sendiri sama dia! Mba udah muak" "Luna cuma bilang sesuai kenyataan kok, Mas. Daridulu kan memang Mba Ningsih gasuka sama Luna, selalu aja Luna salah di mata Mba Ningsih..hu..hhu..hu" Luna menyapu air matanya yang sudah mengalir deras, Fathir mempererat pelukannya. Karena suara kami yang sedikit ribut. Ibu, Mas Rival dan Alea tergopoh-gopoh mengahampiri kami. "Ada apa, Nduk?" ibu terlihat khawatir. "Tanya aja tuh sama menantu kesayangan di keluarga ini!" "Ningsih! Jangan bentak Ibu kayak gitu. Dia Ibu yang melahirkanmu, istighfar Sayang. Jangan kalah sama emosimu" Mas Rival ikut-ikutan memarahiku. "Sekarang aku tanya sama kamu, Mas. Apa maksud kamu bilang ke Luna kalau senyum Luna manis? Ha? Wajarkah kalian sesama Ipar bersikap seperti itu? Dan untuk kamu Fathir, apa menurut kamu juga wajar istri kamu yang baik itu tertawa berdua sama suamiku, bagaimanapun mereka bukan mahram! Tak pantas berduaan seperti itu di dalam rumah, macam tak punya adab. Ningsih minta maaf banget sama Ibu, kalau Ningsih selalu ngajak ribut. Tapi Ibu harus tau kalau mulut Luna itu berbisa, kalau kita terlena sedikit, bisa hancur dan mati kena racunnya!" setelah puas, aku beranjak pergi, masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Masa bodoh dengan orang-orang disana. Terakhir yang kulihat, mereka saling mematung, mencerna semua kalimat yang barusaja aku lontarkan. Biarlah mereka sadar, Luna wanita ular yang sangat menjengkelkan. ****** ****** ******** ****** ****** ****** ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0ดูทั้งหมด