Luna dan Frans saling berdebar-debar saat Fathir bersama teman-temannya lewat, terdengar riuh karena mereka saling bercanda. Luna dan Frans mematung membelakangi jalan, tak berani menoleh sedikitpun. Setelah dirasa aman, barulah keduanya kembali ke posisi semula. Luna dan Frans mengelus dada bersama, bernafas lega. Dibalik kaca mata hitamnya, Luna melihat Fathir Cs duduk di pojok, sedikit jauh darinya. Luna menghembuskan nafas panjang. "Gilaaaa, rasanya tuh lebih heboh dari naik jetcoaster gak sih? Hampir copot nih jantung" Luna berbisik pelan ke arah Frans. "Asli deh! Aku takut banget, mana dia bawa pasukan lagi. Merinding jadinya" Frans menyedot es tehnya hingga tandas. "Yuk ah pulang, aku takut banget nih. Mumpung dia belum nyurigain kita" Luna beranjak berdiri, membalikkan badan dan langsung berjalan ke arah parkiran dengan langkah yang panjang dan cepat. Tak lucu, jika Luna sampai kepergok Fathir, bersama rekannya pula. Sesampainya di parkiran, Luna menunggu Frans yang jauh tertinggal di belakangnya. Ia berdecak sebal, 'Frans lelet banget sih jadi cowok. Nyebelin' rutuknya dalam hati. "Nungguin siapa kamu?" Ucap seorang wanita yang berdiri di belakangnya. Luna menoleh ke belakang dan kaget melihat Lita sudah tersenyum sinis sambil menghadapkan ponsel ke arahnya. Lita sepertinya akan merekam Luna. "Ngappp....ngapain kamu?" Luna tergagap. "Yang harusnya tanya ngapain tuh aku! Ngapain kamu disini ? Eh di sebelah mobil suamiku maksutnya!" Lita menekankan kata suami pada Luna, tangannya masih saja diarahkan ke wajah Luna. "Apasih! Hapus nggak!" Luna terlihat emosi. "Enggak hahahha. Halo gaess, ini dia nih pelakor kakap yang aku maksud dari kemarin, yang sukanya gatal godain suami orang. Dan parahnya lagi sih, dia ini mantan PELACUR! ngeri gak sih gaes?" Lita sengaja ingin mempermalukan Luna, ia bergaya di depan ponsel seperti gaya orang nge-vlog. "Heh apa maksudmu? Punya bukti apa kamu ngatain aku pelacur?" Luna tak tinggal diam, ia selangkah lebih maju. Mendekatkan wajahnya ke ponsel Lita. "Terus jalan dan bobok manjah sama suami orang dibayar dibelanjain namanya apa sih Mbak kalo bukan lont*. Ha? Sebutan apa pantasnya?" Lita terkikik. "Kalau ngomong itu dijaga! Kamu asal tuduh aja gaada bukti, mau aku laporin atas dasar pencemaran nama baik?" ancam Luna. "Hahahhaha, yakin mau bukti? Kalau bukti transfer dari suami saya buat kamu dan chat mesum kamu bersama suami saya, serta foto bugilmu di ponsel suami saya, gimana? Mau saya perlihatkan disini juga Mbak?" Luna terlihat malu, wajahnya merah padam bak kepiting rebus yang dibumbu saus padang. Ditepisnya ponsel Lita dihadapannya, Lita yang sigap, sudah lebih dulu menjauhkan diri dari Luna. "Gimana ya kalau video ini viral nantinya? Terus gimana juga kalau suamimu yang abdi negara itu tau. Malu gak ya dia kira-kira? Belum lagi masalalumu, bekas pekcun! Sadar diri dong harusnya kamu!" Lita sengaja tak bermain fisik, ia tak mau susah payah mengotori tangannya hanya demi Frans, males banget. "Hapus foto itu sekarang, kalau nggak...." "Kalau nggak apa?" Lita menantang Luna. "Kalau nggak, aku akan buat kamu menyesal udah main-main sama aku!" Luna mencoba mengancam Lita, ia terlanjur malu serta takut akan tersebarnya video. "Udah cukup, segini dulu aja deh main-mainnya sama kamu. Next kita jumpa lagi, silahkan tuh kalau mau ngadu sama suamiku!" Lita segera meninggalkan Luna, Lita melihat dari kejauhan Frans sedang berjalan ke arah sini. Frans belum menyadari apa yang sudah terjadi, karena harus menyelesaikan pembayaran ke kasir dan antrian yang panjang, Frans jadi lama menyusul Luna ke parkiran. Jantung Luna berdebar-debar, ia takut sekali Lita tak main-main dengan ancamannya. Dengan tarikan nafas dalam, Luna menghembuskan nafas pelan dan panjang. Seolah menetralkan jantung yang sudah terpontang-panting daritadi. Luna membutuhkan banyak oksigen untuk menenangkan paru-parunya, soal Fathir lewat dan labrakan Lita barusan mampu membuatnya merasa di ambang kematian. "Kamu kenapa?" Frans terlihat khawatir melihat Luna yang pucat dan lemas. "Gakpapa, ayo cepet kita pulang aja" Luna bergegas masuk ke dalam mobil, tak ingin masalah lebih runyam jika menceritakan kejadian barusan. Frans menginjak gas dengan kuat, mereka pergi meninggalkan parkiran dengan kecepatan diatas rata-rata. Lita yang memperhatikan tersenyum getir, air mata yang sejak tadi ingin keluar, akhirnya lolos juga. Lita menangis dalam diam, segera dihapus air mata yang jatuh dan masuk ke dalam mobil. "Sabar, udahlah. Aku kan udah bilang berulang kali. Stop nangisin dia! Ga capek apa kamu bela-belain ngenyiksa diri buat cowok sialan macem Frans" Kevin menyerahkan sekotak tisu kepada Lita yang menangis di sampingnya. Lita hanya diam, menghapus air matanya. Menghembuskan nafas panjang. "Kalau kamu gini terus, aku gaakan mau bantuin kamu lagi. Percuma, aku tuh bantu kamu biar kamu cepet-cepet selesein hubungan rumah tanggamu yang gak sehat itu, bukan malah ngelihat kamu makin tersakiti kayak gini" Kevin terlihat kesal, tangannya memukul-mukul setir dengan pelan, berharap emosinya bisa mereda. Lita terdiam, pikirannya menerawang Beberapa hari lalu sengaja Lita memasang gps di mobil Frans yang langsung tersambung ke ponselnya, Lita penasaran kemana saja pasangan laknat itu memadu kasih dan menghabiskan waktu dalam kehangatan. Meskipun merogoh kocek yang cukup dalam, ia rela. Asal mendapat tambahan bukti yang kuat untuk memenangkan gugatan di pengadilan nantinya. Lita memandang Kevin penuh arti, lelaki disampingnya sungguh tulus dan baik hati. Kevin selalu ada dalam suka maupun duka yang dirasakan Lita, orang luar yang sangat memahami perasaan Lita dibandingkan dengan Ayah kandungnya sendiri. "Makan dulu yuk Kev, kita coba bebek yang terkenal di daerah sini" Kevin hanya mengangguk, dan membelokkan mobil ke arah yang dituju. Mereka sampai ke bebek Sinj*y di daerag Bangkalan. Warung makan ini sangat ramai, sedikit sesak. Tempatnya sangat luas, ditemani angin yang sepoi-sepoi dan satu degan utuh membuat jiwa nyaman dan tenteram, sejenak bisa membuat Lita terlena dan lupa akan masalah yang dihadapinya saat ini. "Wenak banget Lit, bukan kaleng-kaleng. Bebeknya lho wempuk ya, maknyus" Kevin mengacungkan jempolnya. "Iya, liat nih sambelnya. Aku baru ini lho makan sambel mangga, ternyata mantap banget ya. Nasinya anget lagi, nambah boleh kali" Lita mengangkat piring menggoda Kevin. "Udah taruh aja disitu, ntar biar aku pesenin lagi kalau mau tambah, sekalian seporsi jeroan plus kriwilan kan? Kamu jagonya krikit-krikit" Kevin segera beranjak menuju tempat pemesanan, Lita memandangnya dengan senyum. Hati Lita kembali menghangat, perlakuan kecil dari Kevin mampu membuatnya tenang dan bahagia. Andaikan Frans bersikap seperti Kevin, tentu saja aku akan memiliki keluarga yang sempurna, batinnya dalam hati. *** Luna telah sampai di Supermarket, ia memang sengaja meminta Frans untuk mengantarnya di tempat itu. Luna segera menaiki taxi online yang sudah dipesannya. Melambaikan tangan pada Frans, dan berlalu pulang. Sesampainya di rumah, Ibu menyambutnya dengan lembut. "Darimana Nduk? Ibu telfon kok ndak aktif, Luna gak bilang pergi kemana, Ibu jadi khawatir" "Maaf Bu, Luna tadi mendadak pingin rujak buah di depan Supermarket situ, eh sekalian jalan-jalan deh. Taunya lupa waktu sampe gak sadar hehe" "Yasudah, kamu mandi ya terus makan. Ibuk masak ayam kecap sama sayur sop" "Iya, Buk" Luna masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Jujur saja ia masih kenyang, ingin rebahan. Tapi tak enak hati, Ibu sudah baik padanya. Luna memutuskan mandi dan berganti pakaian. Ia mengenakan babydoll panjang, melangkah ke meja makan. Karena masih kenyang, Luna hanya mengambil sepotong ayam dan sayur sop, tanpa nasi. "Makan yang banyak, Nduk. Biar sehat calon cucu Ibuk" Luna hanya tersenyum. "Habis makan Luna mau tidur ya Bu, istirahat dulu. Badan Luna pegel" "Iya, Nduk. Gausah cuci piring, taruh situ aja. Biar Ibu nanti yang beresin, kamu jangan capek-capek." Setelah makan, Luna kembali masuk ke kamar. Merebahkan diri untuk bersantai sambil memainkan ponsel. Ada sepuluh chat dan lima panggilan tak terjawab dari Fathir. [Sayang, lagi apa? Jangan ngambekan dong😘] [Sayang, kok gabales ya] [Lun?] [Mas carikan petis khas Madura nya dulu ya Sayang, Mas gak mau anak Mas nanti ileran🤱😁] [Sayang, coba tebak Mas dimana?] [Picture] [Mas mau balik nih Sayang, udah ya gamau apa-apa lagi selain petis?] [Ihh kok ga aktif terus yaaa, pasti bobok nih. Kalau hamil muda emang gitu ya, tidur terus karena bawaannya lemes. Mas udah baca sayang artikel tentang bumil😝] Luna menghangat membaca semua pesan yang dikirimkan Fathir beberapa jam lalu, ia sampai bingung mau membalas apa. Luna hanya membaca semua pesan dari Fathir, hingga ia pun akhirnya tidur. Terlelap bersama mimpi indahnya. Dua jam kemudian, Fathir pulang langsung masuk menuju kamar. Tak sabar rasanya ingin segera menunjukkan buah tangan yang dibelinya untuk istri tercinta. "Sayangg, tuh kan bener. Masih bobok" Fathir menepuk pelan pipi Luna, membelai lembut rambut istri yang amat dicintainya. Luna membuka mata, mengerjap sesekali dan menguap. Setelah beberapa detik, barulah ia duduk di pinggiran kasur menatap oleh-oleh yang dibawa Fathir. "Sayang, nih lihat Mas bawa apa. Ayo dibuka, sini Sayang. Kamu pasti seneng, ini asli lho sayang dari Madura. Bentar ya Mas ambilkan tempat dulu" Fathir tergopoh keluar kamar, menuju dapur. "Nah ini Sayang, yuk dimakan" "Mm...mmm..mma..makasih ya Mas" Luna tergugu, tangisannya pecah. "Lho Sayang kenapa? Kok malah nangis" Fathir membawa Luna ke pelukannya. Luna tak menjawab, hanya terdengar suara isakan yang sedikit kencang. Luna menyesali lagi keputusannya hari ini, mengajak Frans memenuhi ngidamnya. Padahal ia mempunyai suami yang begitu perhatian padanya. Luna merasa orang yang paling egois dan tak pandai menerima kenyataan, ia terlalu disibukkan dengan egonya yang selalu ingin terpenuhi. "Udah ah cup. Jangan nangis" Fathir mencium kening Luna bertubi-tubi. Luna mendongak, menatap manik mata Fathir. Tersirat ketulusan disana, kembali Luna menangis. "Ih sayang, kok makin baper. Mas baca juga katanya orang hamil tuh emosinya labil ya? Sedikit marah sedikit lagi nangis, duh segitunya ya. Kalau gitu Mas harus siapin stok kesabaran dan tenaga yang banyak deh. Semua demi buah hati kita" kembali Fathir mencium kening Luna. Memeluknya dengan erat, Luna kehabisan kata-kata, Luna merasa terlalu hina bersanding dengan orang sebaik Fathir. ******* ****** ****** ****** ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0ดูทั้งหมด