logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Ke Pulau Madura

Seperti perkataan Fathir, untuk sementara Luna tinggal di rumah Ibu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi karena kurang pengawasan.
Hari ini tumben Luna bangun pagi sekali, rasa mual dan muntah yang dialami membuatnya susah tidur. Kali ini ia ingin sekali makan rujak buah pakai petis Madura. Dulu saat masih gadis, ia sering sekali makan rujak buah bersama teman-teman seprofesinya. Mengingat, kebanyakan temannya berasal dari berbagai daerah. Jadi jika salah satu dari mereka ada yang libur, maka wajib hukumnya balik bekerja harus membawa oleh-oleh khas daerah masing-masing.
Karena Amoy, temannya yang berasal dari Madura itu sering pulang. Jadilah Luna sering kebagian petis Madura yang rasanya uhlalaaaaa. Tinggal belanja buah, jadi deh rujakan bersama. Seru sekali jika mengingat sebagian dari masa lalunya, walaupun kelam.
Luna hampir saja meneteskan ludah, saat membayangkan makan rujak buah petis merah. Air liur menggenang di dalam mulut tipisnya.
"Mas" rengek Luna saat Fathir akan berangkat bekerja pagi ini.
"Apa Sayang?" Fathir yang sedang memakai kaus kaki melirik Luna sekilas, dan melanjutkan aktifitasnya.
"Aku kok pingin rujak ya" 
"Iya, nanti biar Mas gojek-kan" 
"Gakmau!" 
"Lho, terus maunya apa?" Fathir beranjak dari tempatnya, menghampiri Luna yang sedang manyun di atas sofa.
"Mau rujak petis yang asli Madura" 
Fathir membulatkan matanya, permintaan istrinya benar-benar tak terduga.
"Sekarang?"
"Iyalah! masak taun depan. Keburu anak ini lahir" ketus Luna.
"Tapi kan, Mas mau kerja Sayang sekarang" ucap Fathir lembut.
"Yaudah, gapapa. Gausah!"
"Besok waktu Mas libur pasti Mas belikan, janji." Fathir mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.
"Berarti aku makannya tunggu Mas libur aja, mulai sekarang aku mogok makan!" Luna berlalu pergi, masuk ke kamar dan membanting pintu kamar dengan keras.
Fathir meremas rambut bimbang, namun ia tetap memutuskan berangkat kerja tanpa berniat membujuk Luna yang sedang kesal. Saat ini, pekerjaannya lebih penting. Bukankah seorang abdi negara harus mengabdikan dirinya penuh untuk negara, menomorsatukan negara, kepentingan negara diatas keluarga. Itu janji dan sumpah yang sudah di ikrarkan dulu saat pelantikan.
Lima belas menit kemudian, Luna keluar dari kamar memastikan Fathir sudah berangkat. Entah setan apa yang merasuki pikiran Luna, hingga ia nekat mengajak Frans pergi ke Madura untuk menikmati rujak buah petis Madura.
[Mas, lagi sibuk gak sekarang?]
Luna mengirimkan pesan kepada Frans.
Tak sampai lima menit, Frans membalas.
[Nggak. Knp?]
Luna mengerucutkan bibirnya sebal, ia heran kenapa Frans mendadak cuek padanya.
[Oh, oke]
Luna membalas tak kalah cuek.
[Mau ketemu?]
Luna tersenyum membaca pesan barusan.
'Sok jual mahal cuek sama aku, dicuekin balik gak bisa kan' batin Luna.
[Boleh, temani aku makan rujak buah di Madura mau? Satu jam dari sekarang jemput aku di depan Supermarket biasa]
Sambil menunggu balasan dari Frans, Luna segera berganti pakaian, ia yakin jika Frans akan menyetujuinya.
Saat asyik membubuhkan blush on di pipi kirinya, ponselnya bergetar menandakan ada satu pesan masuk.
[Oke, aku otw aja sekarang. Gasabar ketemu kamu]
Luna mempercepat riasannya, ia mengenakan jeans panjang dipadu sweater putih dan sneakers berwarna senada dengan sweater, lalu mengikat tinggi rambutnya. Tak lupa kacamata hitam dan masker untuk penyamaran seperti biasa.
Kebetulan Ibu dan Bapak sedang berada di sawah jam segini, jadi ia bisa bebas keluar tanpa pamit terlebih dahulu.
Luna memasuki taxi yang akan mengantarkannya ke Supermarket tujuan, karena Frans sudah menunggunya disana.
Sesampainya di depan Supermarket, Luna dengan cepat mengenali mobil milik Frans dan bergegas masuk ke dalamnya.
Frans memandang Luna tak berkedip.
"Huft, haus banget. Ada minum gak?" Luna mengagetkan lamunan Frans.
"Nih" Frans menyodorkan air minum kemasan botol kepada Luna.
"Thanks" Luna meraihnya dan langsung menenggak habis tanpa sisa.
Frans masih tak beralih memandang Luna, kali ini lebih intens.
"Apasih, ngeliatnya gitu banget" Luna risih dipandang Frans seperti itu.
"Kamu cantik banget, makin cantik tepatnya" rayu Frans membelai pipi Luna.
Reflek tangan Luna menepis pelan tangan Frans yang menyentuh pipinya, sontak hal itu membuat Frans kaget dan menatap Luna heran.
"Sorry, aku lagi gak mood Mas" seru Luna pelan.
Frans hanya menghembuskan napas kasar.
"Kita ke Bangkalan aja ya, jangan jauh-jauh. Pokoknya di Madura. Lewat jembatan Suramadu aja ya, Mas" ujar Luna memerintah.
Frans hanya diam, masih kecewa dengan penolakan Luna barusan.
Luna yang menyadari, ikut terdiam. Ia bingung harus berkata apa. Mendadak suasana menjadi hening, hanya suara mesin mobil yang beradu dengan angin. Tercipta kecanggungan diantara mereka.
Hendak memasuki gerbang tol Suramadu, barulah Frans bersuara.
"Kamu kenapa? Lagi dapet?" 
"Nggak, Mas. Malahan aku sekarang lagi hamil. Semenjak itu moodku sering berubah dengan cepat, maaf" Luna hanya menunduk tak berani menatap Frans.
Frans menanjak rem tiba-tiba, membuat Luna hampir terjungkal ke depan andai saja tak memakai sabuk pengaman. Tindakan Frans barusan membuat mobil di belakang mengklakson dengan keras, untung saja jarak mobil lainnya lumayan jauh dan posisi tol sedang sepi.
Frans kaget dengan kalimat yang dilontarkan Luna barusan, ia segera menepikan mobilnya. Berhenti di dekat trotoar.
"Mas, kenapa berhenti? Ini di tol, bahaya. Ayo kita lanjut" Luna memasang wajah melas.
"Kkaa...kamu hamil?" Ujar Frans tergagap.
"Iya, Mas" ucap Luna pelan, nyaris tak terdengar.
"Aa..anak siapa?" 
Luna mengedikkan bahu, karena memang ia sendiri belum tahu anak siapa yang kini sedang dikandung.
"Setelah anak ini lahir, aku akan mencari tahu, Mas. Karena hanya dengan kamu dan Mas Fathir aku melakukannya" 
Frans tersenyum, ekspresi wajahnya tak setegang tadi.
"Jelas saja itu anak Fathir, Lun. Kamu kan tau sendiri, terakhir kali kita tak jadi melakukan" 
"Tapi aku tak minum pil KB sudah lama, Mas. Bahkan saat kita sering melakukannya bulan lalu" 
Seketika wajah Frans kembali menegang.
"Aaa...Aku belum siap, Lun. Jika kamu hamil di saat posisiku dulu yang belum menikah, pasti aku akan senang menyambutnya. Tapi sekarang, aku bingung. Aku menginginkanmu, aku membutuhkanmu dan bahkan aku mencintaimu. Tapi untuk punya anak darimu, saat ini aku benar-benar belum siap. Aku belum siap kehilangan Lita, terutama Lala, yang sudah jelas darah dagingku" 
Luna menatap Frans berang.
"Lalu apa maksudmu? Jika benar ini anakmu, apa kamu tak akan mengakui ini darah dagingmu, Mas?"
"Bbukan Lun, bukan begitu. Ahhh" Frans mengacak rambutnya hingga sedikit berantakan.
"Udahlah gausah dibahas, meskipun ini anakmu, kamu tenang saja. Aku tak akan bilang pada Mas Fathir, biarkan ia mengira ini anak kandungnya. Aku tak akan merepotkanmu, Mas. Apalagi menyusahkanmu" Luna memang mampu berbicara seperti itu, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ada perasaan sakit yang teramat dalam mengetahui Frans tak menginginkan anak darinya.
"Maafkan aku, Lun" Frans menggenggam tangan Luna lembut.
"Santai aja, Mas. Yuk jalan lagi" 
Luna berusaha terlihat tegar, ia tetap tersenyum meskipun hatinya hancur.
Ia tak mau Frans melihatnya kalut dan lemah.
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di kawasan wisata yang sedang viral. Sebuah rumah makan berbentuk kapal lumayan besar, terdapat dermaga buatan untuk melengkapi suasana. Pemandangan laut yang terbentang luas, hamparan pasir dan jembatan yang terlihat indah serta semilir angin yang sejuk membuat tempat ini semakin terasa nyaman. Tersedia berbagai makanan khas Madura di tempat ini. Mulai dari kerupuk, rujak, martabak suwir dan bakso mercon. Luna bahagia melihat aneka makanan berjejeran di atas meja, ia sampai meneguk ludah berkali-kali tak sabar menyantap habis makanan di depannya yang menggugah selera.
Sengaja hari ini ia mematikan ponsel, tak ingin diganggu siapapun, termasuk Fathir. Luna tak peduli suaminya kelabakan menunggu kabarnya. Biar saja Fathir tau rasa, istri ngidam malah ditinggal kerja. Untung ada Mas Frans. Sekali-sekali Fathir memang perlu dikasih pelajaran.
Luna makan dengan lahap, rujak buah habis tak bersisa. Saat ini ia sedang menikmati martabak suwir, belum pernah ia merasakan jajanan enak seperti ini. Masih ada kerupuk lorjuk, sop buah, dan semangkuk bakso mercon di hadapannya. Frans hanya menggeleng melihat perubahan nafsu makan wanita di sebelahnya.
Jika dulu, Luna hanya makan separuh makanan di piring yang disajikan. Kali ini, berbagai makanan dalam porsi satuan sanggup dilahapnya tanpa jeda.
"Apasih mandang aku gitu banget, kebiasaan" Luna masih sibuk membelah pentol berukuran jumbo di depannya.
"Kamu lucu banget kalau makannya lahap gini" Frans tersenyum simpul.
"Wahh...sssh...uhhhh....sshh... Aslik! Ini pentol enak banget, Mas. Kamu wajib cobain, rasanya sampai mao meninggal. Seriusan deh, gak bohong" ujarnya menggebu-gebu. Tangannya asyik memegang pentol berisi irisan cabe yang tinggal setengah, mulutnya masih penuh dengan setengah pentol lainnya.
"Hahahha, kamu tuh udah mirip sama selebgram yang diendorse makanan deh" 
"Beneran, Mas. Yang ini mantap bener" 
Saat mereka asyik makan, sekumpulan lelaki memperhatikan Luna dari atas kebawah. Menatap Luna dengan takjub.
Luna yang merasa, segera menoleh ke arah sekumpulan lelaki tersebut.
"Aboh, mak raddin kadok seng binih" ucap salah satu lelaki berjaket kuning yang berdiri sambil merokok, tetap melihat Luna tak berkedip.
"Heh, jek ajeling tok! Bedeh lakenah ruah. Degik ecarok kakeh taoh rasa" lelaki lain berbaju hijau di sebelahnya menepuk pundak teman lelakinya. Terlihat malu-malu menatap Luna.
"Wes lah, jek atokar. Yok atofoto edisah. Jek binik tok seng apeker, duh palang" akhirnya mereka pergi ke arah dermaga.
Luna yang sedari tadi memperhatikan, tak paham apa yang dibicarakan mereka. Karena Luna tahu, itu bahasa Madura. Bahasa yang terkadang digunakan Amoy, temannya. Saat bertengkar dengan teman lainnya. Ahhh...Luna jadi rindu Amoy.
Gimana kabar Amoy sekarang ya? Apa Amoy masih bekerja di tempat itu?
"Woy, malah ngelamun! Ayo cepet habisin terus pulang. Anginnya kenceng banget disini, kasihan tuh anak di perut" Frans menunjuk perut Luna yang masih rata.
Luna hanya tersenyum. Matanya menyapu sekeliling, tiba-tiba ia melihat seseorang  yang tak asing diantara sekumpulan orang lainnya.
Mereka berjalan hendak melewati meja yang ditempati dirinya bersama Frans.
Luna mengucek matanya, memastikan sekali lagi bahwa penglihatannya masih berfungsi dengan baik.
Benar saja! Orang itu  Mas Fathir, suaminya. Bersama empat teman sejawatnya. Oh tidak! sedang apa Mas Fathir disini? Luna membeku seketika.
Lidahnya kelu, selera makannya hilang mendadak, langkah Fathir bersama keempat temannya semakin dekat dengannya. 
Luna mengkode Frans untuk melihat arah bola matanya. Frans ikut terjingkat melihat 
 arah mata Luna, mereka bingung gelagapan. Hendak kabur kemana jika jalan ini hanya searah? Mengusir mereka jelas tidak mungkin. Meja disana juga penuh, hanya tersisa beberapa meja yang kosong. Itupun arah pojok, dimana menuju kesana pasti melewati meja Luna.
Keringat dingin membasahi tubuh Luna, juga Frans.
Mereka sama-sama memanjatkan doa agar tak ketahuan.
Kini, langkah Fathir semakin dekat.
Luna segera memakai kacamata dan maskernya, begitu juga Frans. Mereka membalikkan badan, saling berpelukan memunggungi jalan. Berpura-pura sibuk selfie.
Kini, jarak mereka dan Fathir Cs hanya berjarak kurang dari dua meter.
Tubuh Luna semakin menegang, bahkan bibirnya gemetaran. Ia sangat takut Fathir memergokinya sedang bersama Frans.
Duh!!!!!! Umpat Luna dalam hati.
*****         ******         *****
.
******           ******             ******
Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด