logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Periksa Kandungan

Matahari bersinar terang, suara lalu-lalang kendaraan jalanan begitu memekakkan telinga. Rutinitas sang pencari nafkah berangkat pagi pulang petang, memadati jalan raya .
Fathir sudah bersiap bersama Luna, hendak mengunjungi Ibu. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Fathir masuk ke dalam mobil. Luna duduk bersandar di kursi samping kemudi .
"Udah siap semua, Mas?" Tanya Luna.
"Beres" Fathir mengangkat jempolnya menandakan semua sudah siap.
"Yuk berangkat. Jangan lupa berdo'a dulu" Fathir dengan khusyu' memimpin do'a.
Mobil mereka meluncur dengan kecepatan normal, membelah jalanan yang lumayan padat.
Perjalanan menuju rumah Ibu tak sampai satu jam. Itupun dalam kondisi macet, jika keadaan normal hanya memakan waktu singkat. Sekitar setengah jam.
Ddrt....ddrt......
Satu pesan masuk ke ponsel Luna, ia sengaja mengatur profil mode getar.
[ Apa kabar ? ] 
Pesan singkat dari Frans terkesan basa-basi.
Luna segera menghapus pesan masuk tersebut, berniat mengabaikannya. Ia sedang tak mood untuk berbalas pesan, keinginannya saat ini hanya menghabiskan waktu bersama Fathir. Bawaan bayi mungkin.
Empat puluh menit berlalu, mereka sudah sampai di rumah Ibu. Kedatangan mereka disambut hangat karena memang sudah lama mereka tak berkunjung.
"Owalah Le, mau kesini gak bilang-bilang dulu toh." 
"Nggeh, Bu. Sengaja" Fathir mencium punggung tangan Ibu dengan takzim.
Diikuti Luna, juga mencium tangan Ibu Mertua yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
"Titip Luna ya, Bu" Fathir sengaja menggantung kalimatnya.
Ibu mengernyitkan kening, tak paham maksud dari kalimat Fathir barusan.
"Karena sebentar lagi Ibu akan punya  tambahan cucu, InsyaaAllah"
"MasyaaAllah, benarkah?" Ibu terlihat bahagia, matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya, Bu. Doakan kandungan Luna sehat, bayi dan Ibunya sehat ,lancar dan selamat hingga persalinan. Aamiin" Fathir menatap Ibu penuh haru. Ia bahagia melihat wanita yang sudah melahirkannya menangis karena terharu.
"Aamiin, Allahumma Aamiin. Sudah berapa bulan, Le?" Tangan Ibu terulur mengelus lembut perut Luna.
"Belum tau, Bu. Rencananya nanti malam biar periksa ke klinik dekat sini saja" 
"Wah! kebetulan sekali. Baru dua minggu yang lalu, anak sulung temen Ibu jadi  seorang Dokter Sp.O.G, namanya Ririn. Dia buka praktek di jalan raya depan. Nanti kita coba kesana aja, kan deket" ujar Ibu antusias.
"Gimana Lun? Setuju Sayang?" Fathir meminta persetujuan Luna, ia tak mau egois tentunya. Karena Luna juga berhak menentukan.
"Boleh, Mas. Luna setuju" 
Fathir tersenyum simpul, begitu juga Ibu. Mereka terlihat sangat bahagia.
***
Sore hari Luna sudah rapi dengan leging hitam dipadu kaus polo berwarna navy. Simple memang, tapi tetap terlihat cantik jika Luna yang memakainya.
Ia duduk di teras ditemani segelas susu coklat, menunggu kedatangan Fathir. Mereka akan pergi bersama ke klinik dr.Ririn seperti yang dikatakan Ibu.
"Fathir belum pulang ya, Nduk?'' Ibu menghampiri Luna yang sedang bermain ponsel.
Luna segera meletakkan ponselnya, dan berbalik menatap Ibu.
"Belum, Bu. Mungkin sebentar lagi" 
"Yasudah, kamu tunggu di dalam saja ya. Takut masuk angin kalau kelamaan disini. Mau maghrib, Nduk. Pamali wanita hamil masih diluar jam segini" titah Ibu lembut.
Luna masuk ke dalam menuruti perintah Ibu, tapi terlihat wajahnya tak suka.
'Apaansih, hari gini masih percaya pamali. Mitos kok dituruti' gerutu Luna dalam hati.
Lima belas menit kemudian, terdengar deru mobil masuk ke dalam garasi. Menandakan Fathir sudah pulang.
"Assalamualaikum" ucap Fathir masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" Luna menyambut Fathir dan mencium tangannya.
"Nanggung Sayang, berangkat setelah Maghrib aja gapapa ya? Kita sholat dulu" Fathir merangkul Luna dengan manja.
"Iya, Mas." 
Luna sekarang banyak berubah, ia menjadi istri yang penurut dan tak lagi membantah seperti sebelumnya. Meskipun gaya bicaranya masih sama, tapi masih mending daripada awal menikah.
Setelah sholat Maghrib berjamaah, mereka menuju klinik dengan perasaan yang tak menentu. Penasaran tapi bahagia. Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya untuk Fathir pergi ke Dokter kandungan menemani istri tercinta.
Sesampainya disana, Fathir segera melakukan registrasi di bagian depan. Klinik masih sepi, hanya ada dua orang yang mengantre karena dr.Ririn baru datang dan menangani pasien selepas Isya.
Sambil menunggu kedatangan dr.Ririn, Luna mengajak Fathir membeli sempol di  luar, tepatnya di seberang klinik ini.
"Mau berapa Sayang?" tawar Fathir.
"Ehm, sepuluh tusuk aja deh Mas" 
Fathir segera memesankan sepuluh tusuk sempol untuk Luna. Setelah pesanan selesai, mereka kembali menuju klinik.
"Huwekkkk.....Huwekkkkkk" 
Fathir panik melihat Luna mendadak mual, seperti ingin muntah.
"Huwekkkkk......Aaduh,Mas. Tolong, ini bawa jauh-jauh dari sini. Bau sempol ini bikin aku mual" Luna menyerahkan sempol yang masih mengepul di dalam kantung plastik ke arah Fathir.
Fathir terheran dengan sikap istrinya barusan, ia segera mengambil bungkusan sempol dan menjauhkan dari Luna.
"Bukannya tadi kamu pengen banget Sayang?" 
"Iya aku pingin banget makan sempol, tapi nyium baunya aja bikin aku mual, Mas" sahut Luna pelan.
Setelah menunggu hampir satu jam, tibalah giliran Luna diperiksa.
"Assalamualaikum, Bapak dan Ibu. Bagaimana kabarnya hari ini? Sehat?" Sambut seorang wanita berhijab yang ayu dengan hangat. Tutur katanya terdengar santun nan lembut.
"Baik, duduk dulu Bapak. Ibu biar langsung naik ke situ, yuk mari saya bantu." 
"Perkenalkan saya dr.Ririn, ini dengan Ibu siapa?" Tanya dokter sambil memasang alat stetoskop di kedua telinga yang terbungkus dengan hijab polos berwarna peach.
"Luna" hanya sahutan singkat yang Luna berikan.
"Baik Ibu Luna, saya periksa dulu ya" 
Luna hanya menganggukkan kepala.
"Sudah terlambat haid berapa hari Bu Luna?" 
"Kurang tau dok, itulah gunanya saya periksa kesini" ketus Luna.
Dokter hanya tersenyum menanggapi jawaban Luna. Beliau membuka baju atas Luna dan mengoleskan gel khusus usg, baru mendeketeksi dengan menggunakan alat usg. Terlihat dokter sedang menggerakkan alat sambil fokus melihat ke layar monitor.
"Menurut hasil pemeriksaan saya, usia kandungan Ibu ini sudah menginjak empat minggu. Disini ada penebalan rahim, sebentar lagi akan terbentuk embrio. Sementara jangan melakukan pekerjaan berat terlebih dahulu ya, nanti saya resepkan vitamin serta penguat kandungan" ucap sang Dokter mengakhiri pemeriksaan.
Luna bergegas turun dari tempat tidur, ikut duduk di samping Fathir yang berseberangan dengan kursi dokter.
"Gimana, Dok? Sehat kan istri dan calon anak saya?" Tanya Fathir.
"Alhamdulillah untuk saat ini sehat, Pak. Karena janin di dalam kandungan akan berkembang nantinya seiring usian kandungan yang bertambah. Jadi saya mohon, Bapak lebih memperhatikan asupan Bu Luna ya. Agar nutrisinya terserap dengan sempurna, jangan biarkan istri Bapak mengalami stres karena itu akan membahayakan untuk janin serta Ibunya sekalipun" Dokter menjelaskan dengan serius.
"Baik, Dok. Siap" 
"Ini saya buatkan resep, boleh ditebus di apotek depan. Bisa juga ditebus di apotek lain, silahkan. Yang penting diminum, karena asam folat yang saya resepken ini sangat bagus membantu pembentukan bayi" Dokter menyerahkah selembar kertas berisikan tulisan tangan yang tak begitu jelas.
"Ada lagi yang mau ditanyakan? Atau mungkin penjelasan saya kurang, biar saya bantu" Dokter tersenyum ramah.
"Sudah, Dok. Cukup" Luna menengahi pembiraan antara Dokter dan Fathir, ia seperti tak rela melihat Fathir beramah-tamah dengan dr.Ririn.
"Kapan kembali kontrol, Dok?" Fathir kembali membuka suara
Luna melirik sekilas, memutar bola mata malas.
"Tiga minggu lagi boleh, biar tau perkembangan bayinya. Lebih cepat lebih baik" 
"Iya, Dok. Kalau gitu saya dan istri permisi ya, Dok. Terimakasih banyak" pamit Fathir meninggalkan ruangan sambil merangkul pundak Luna.
"Kamu duduk sini ya, Sayang. Mas tebus dulu vitaminnya" Fathir menuju apotek di sebelah klinik.
Luna kembali sibuk dengan ponselnya, seketika moodnya menjadi buruk. Tanpa alasan, ia tak suka dengan dr.Ririn.
Padahal mereka baru berjumpa sekali, tapi Luna seperti menyimpan bara api melihat wajah dr.Ririn. Ia tak mau berbasa-basi apalagi ramah terhadap wanita berhijab yang mempunyai dua lesung pipit itu.
Melihat Ririn bercengkrama dengan Fathir saja membuatnya gelisah seperti cacing kepanasan, ia tak rela Fathir tersenyum untuk wanita lain. Ia takut Fathir berpaling darinya.
"Yuk, Sayang. Ini Mas sudah selesai" Fathir memamerkan berbagai kaplet vitamin yang terbungkus plastik.
"Laper, Mas" rengek Luna manja.
"Ayo kita makan. Kamu pingin apa?" 
"Sate boleh ya?" 
"Berangkat, Istrikuuuuu" Fathir menatap Luna dengan mesra.
Luna segera menggelayut manja di lengan Fathir, seakan menunjukkan pada dunia bahwa Fathir miliknya seutuhnya. Tak  boleh ada siapapun itu orangnya, yang  berhak mendapatkan perhatian Fathir kecuali dirinya .
*****        *****         *****
******        ******        ******
Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด