Seminggu setelah kejadian di Hotel lalu, Frans tak pernah lagi menghubungi Luna. Biasanya Luna merasa sepi dan kehilangan bila tak ada kabar dari Frans , tapi sekarang ia justru merasa tenang dan bahagia bersama Fathir. Tak menjadi masalah andainya pun Frans sudah memutuskan hubungan dengannya, Luna tak peduli. Ia akan fokus membina rumah tangga bersama Fathir, merawatnya sebaik mungkin hingga tutup usia. Malam ini hujan turun rintik-rintik, suasana dingin menusuk hingga ke tulang. Aroma tanah basah yang bercampur dengan air hujan semakin membuat suasana menjadi syahdu. Di meja makan, Fathir menikmati masakan Luna dengan lahap. Istrinya hanya menemani, tak ikut makan. Luna mengoles tengkuknya dengan freshc*re , perutnya terasa mual dan kepalanya berdenyut pusing. Masuk angin sepertinya. "Kenapa Sayang?" Fathir melihat wajah Luna yang sedikit pucat. "Masuk angin deh kayaknya, Mas" Luna menghirup dalam aroma balsem di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk mengolesi perut dengan freshc*re. Fathir yang baru saja selesai makan, menghampiri Luna, tangannya dengan gesit memijit kepala istri tercinta lalu turun ke pundak. "Istirahat gih, jangan kecapekan" titah Fathir lembut. "Aku ga capek , Mas. Tapi perutku rasanya diaduk-aduk, kepalaku pusing banget. Pingin muntah terus" "Apa jangan-jangan kamu hamil?" Mata Fathir berbinar memandang Luna. Luna mematung, mengingat kapan terakhir kalinya menstruasi , bagaimana mungkin ia sampai kelupaan jika sekarang tak lagi minum pil KB nya. Kemungkinan hamil sangat besar tentunya, tapi jika ia benar hamil. Anak siapakah yang dikandungnya? Mengingat setelah lepas KB ,ia masih berhubungan dengan Frans selain dengan Fathir. Luna meremas rambutnya kasar, Fathir yang melihat segera menghentikannya. "Sayang, kamu kenapa?" Fathir terlihat khawatir. "Tolong belikan testpack, Mas . Mungkin saja aku beneran hamil" ujar Luna tersenyum kecut. Fathir segera meraih kunci motor dan berlalu ke apotek. "Gercep banget kamu, Mas . Semoga saja ini memang benihmu . Kuharap juga seperti itu karena aku ingin hidup selamanya denganmu , Mas" hati Luna menjadi terharu melihat Fathir antusias menyambut kehamilan yang belum tentu kepastiannya. Air mata menetes tak terbendung , Luna menjadi mudah baper akhir-akhir ini . Perasaannya sensitif sekali. Dua puluh menit kemudian, Fathir sampai di rumah, dengan tergesa-gesa Fathir memberikan bungkus plastik berlogo apotek kepada Luna. Menyuruh Luna mengetest saat ini juga. "Besok pagi aja, Mas. Bangun tidur, biar hasilnya lebih akurat. Pastinya gitu" Luna menjelaskan. Fathir menautkan alisnya, terlihat bingung "Benarkah seperti itu, Lun?" Luna menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lelaki di depannya itu sungguh polos. "Yaudah sekarang ayo istirahat aja. Rebahan sana, biar mas pijitin" Fathir menuntun Luna dan merebahkan tubuh Luna di atas kasur berukuran king size . Tak sampai sepuluh menit, Luna tertidur pulas. Dipandangi wajah Luna , wajah yang selalu ingin Fathir bahagiakan. Wajah yang membuat Fathir nyaman dan semangat menjalani hidup kedepan. Fathir mengambil selimut ,menutupkannya pada setengah tubuh Luna. Mengelus lembut pipinya, membacakan sesuatu dan mencium ubun-ubun kepala Luna. Fathir bergegas mematikan lampu dan ikut tidur di samping Luna. *** Keesokan harinya..... "Huekkkk....Huekkkkkkk....Nghhhhhh" Fathir yang sedang tidur seketika kaget mendengar suara Luna yang muntah. Dihampiri Luna yang sedang muntah di atas wastafel dekat dapur. Fathir memijit pelan tengkuk Luna, memberinya air putih dan membalurkan minyak kayu put*h ke seluruh tubuhnya. "Ke dokter ya Sayang?" Fathir terlihat khawatir. Jam di dapur berdenting, waktu menunjukan pukul 04.00 WIB "Ayo sholat shubuh dulu, Sayang" Fathir merangkulkan tangan Luna agar bersandar di bahunya. "Aku bisa jalan kok, Mas. Lebay ah" Luna tersenyum kecil. "Ambil wudhu dulu gih, ati-ati lho. Pegangan tembok ya" Raut cemas sangat tercetak jelas di wajah tampan milik Fathir. Luna ingat sebelum buang air kecil, ia harus menampungnya ke dalam gelas kecil. Luna juga penasaran, ingin mengetahui hasil testpack yang dibeli semalam. Setelah merobek bungkus plastik di tangannya, Luna segera mencelupkan benda seperti bulpoint itu dan menaruhnya di atas kotak sabun. Hatinya berdebar-debar menanti hasil. 'Ah mending aku wudhu dulu aja, lihatnya sehabis sholat aja deh' Luna bergegas mengambil wudhu dn menuju mushola kecil yang dibuat khusus di rumahnya. Fathir sudah menunggu. Setelah menunaikan kewajiban 2 rakaat, Luna melepas mukenahnya. Beranjak ke dapur membuatkan sarapan untum Fathir. Hendak membuka kulkas, aroma berbagai makanan menguar seperti tusukan di hidung Luna. Kembali ia mual dan muntah-muntah hingga terlihat lemas. Fathir yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an segera mengakhiri bacaannya dan menghampiri Luna yang sedang kepayahan untuk berjalan. "Ya Allah Sayang, diem disitu. Biar Mas gendong" Dengan cekatan, Fathir membopong tubuh Luna dan menaruhnya di atas kasur. "Mmas...." Panggil Luna lirih. "Ya Sayang? Mau apa?" "Tolong ambilin testpack yang aku letakkan di atas kotak sabun ya." Fathir segera paham apa maksut perkataan istrinya, setelah mendapatkan apa yang diperintah. Fathir memberikan benda panjang itu ke tangan Luna. Luna masih tak percaya memandang benda di depannya. Matanya berkaca-kaca antara haru bahagia dan sedih. "Mass.... Aku positif" ujar Luna setengah berbisik. "Positif? Maksutnya?" "Aku hh..hhh...hamil, Mas" "MasyaaAllah..Tabarakallah..Alhamdulillah" reflek Fathir bersujud ke lantai, air matanya tumpah membasahi pipi putihnya. Luna ikutan menangis melihat pemandangan di hadapannya. "Ya Allah Sayang, aku masih seperti mimpi. Sebentar lagi akan menjadi Ayah. Subhanallah" Fathir bersyukur tak henti-henti. Ada sebersit rasa bersalah di hati Luna, merutuki semua kebodohannya. Bagaimana bisa selama ini ia menyianyiakan suami sebaik Fathir. Ya Allah ya Rabbi, bahkan mengingat-Mu saja aku lalai. Luna menangis sesenggukan. "Ih Sayang, terharu banget ya" Fathir memeluk Luna bahagia. "Mulai sekarang, Luna hanya boleh makan dan rebahan. Tidak boleh keluar rumah, mengerjakan urusan rumah dan tidak boleh kecapekan. Biarkan pekerjaan rumah,Ayah Fathir yang mengurusnya" binar mata bahagia sangat kentara di wajah Fathir. "Makasih ya, Mas" Luna memeluk Fathir dengan erat. Namun, hatinya masih bertanya-tanya. Anak siapa sebenarnya yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Dan bagaimana ia bisa membuktikan siapa Ayah kandung sebenarnya. "Sayang?" "Oh, iya Mas?" Panggilan Fathir membuyarkan lamunan Luna. "Kita tinggal di rumah Ibu saja ya sementara? Kasihan kamu sendirian kalau Mas tinggal kerja. Mas khawatir sama kamu, apalagi calon anak kita" "Luna takut malah ngerepotin Ibu, Mas" "Gak kok Sayang . Ibu pasti seneng banget ngerawat kamu. Apalagi menyambut calon cucunya. Disini kamu sendirian Luna, Mas takut terjadi apa-apa sama kamu tak ada yang tau" Fathir mencium tangan Luna berkali-kali. "Yasudah, atur yang terbaik aja Mas. Luna ikut" pasrah Luna. "Siap boss! Besok pagi kita ke rumah Ibu ya. Sementara kamu tinggal disana, biar ada temennya. Lagian Ibu pasti lebih tau gimana cara ngadepin kehamilan hehe" Luna hanya mengacungkan jempol tanda setuju. Luna tak berbohong, ia memang benar-benar takut merepotkan Ibu. Luna tahu, Ibu sangat baik terhadap Luna. Menganggapnya seperti putri kandung. Hanya saja, kehadiran Kakak-Kakak iparnya terkadang membuatnya kesal dan sebal . Ada saja tingkahnya yang dianggap selalu salah di mata Kakak Iparnya. Luna tak paham, mungkinkah Kakak Iparnya tak menyukainya? "Tuh kan , ngelamun lagi. Ih bumil itu harus happy lho, Sayang! Gaboleh stres ntar anaknya ikut stres kan gak lucu" Fathir mengomel layaknya wanita, terlihat menggemaskan bagi Luna. "Idih bumil hahahahha. Tau darimana istilah gitu? Paham banget Pak wkwk" Luna menggoda Fathir "Eh , Mas gini-gini sudah sigap sejak dini ya. Mas banyak baca di google tuh, seluk beluk menjadi Suami dan Ayah yang sigap" Fathir tertawa memamerkan sederet giginya yang putih dan rapi. "Kita gak usah telfon Ibu ya tentang kehamilan kamu. Biar besok kita langsung berkunjung aja , jadi ceritanya sureprise gitu" Fathir terlihat antusias. "Ahsyiaaaap Ayah Fathir" Serentak mereka berdua tertawa, semilir rasa hangat hinggap di hati mereka masing-masing . Menikmati keindahan bahtera rumah tangga. "Mas... Kok aku pingin makan bubur ayam di dekat Stasiun sana ya" Luna menelan air liur , Fathir yang mendengarnya terkekeh. "Ayok berangkat, pake motor aja ya biar Mas keburu absen dulu, terus anterin kamu" "Emang bisa?" "Bisa khusus buat calon anak Ayah yang tersayang" rayu Fathir mengusap pelan perut rata milik Luna. Pipi Luna memerah mendapat rayuan dari Fathir bertubi-tubi. "Pake babydoll atau daster aja sayang! Jangan yang ketat-ketat. Aku gakmau ya anakku kesempitan" Fathir menegur Luna halus. "Ih apaan sih, Mas. Baru juga benih , belum tumbuh" Luna bersungut-sungut. "Sekalian ke dokter ya Sayang? Mas pingin tau calon anak kita cowok apa cewek" pertanyaan Fathir barusan memancing tawa Luna yang meledak. Fathir yang sedang memakai sepatu, bingung melihat istrinya terbahak tanpa alasan. "Apasih?" Fathir celingukan mencari apa gerangan yang membuat Luna terpingkal-pingkal . "Kamu itu lho...hahahahhaha. Aneh bin polos atau gimana sih hahahahhaha" Luna tak kuasa menghentikan tawanya. "Ssssttttt....apaan sih" Fathir mulai kesal ditertawakan tak henti-henti. "Kamu itu lho aneh, Mas! Mana bisa ketahuan jenis kelaminnya. Beratnya sekarang mungkin hanya sebiji cabe, lucu deh" "Sebiji cabe? Kamu yakin?" "Yaiya, ntar kalau udah usia kandungannya 6 bulan keatas baru bisa dilihat jenis kelaminnya, gitu." Luna dengan telaten menjelaskan . "Oh yayaya" Fathir menggaruk kepalanya yang tak gatal, tengsin. "Yaudah sekarang periksa dulu aja umur kandungan kamu udah berapa bulan. Yuk makan bubur dulu, kasihan anak Ayah laper tuh, pasti nungguin" Fathir menyeret tangan Luna menuju garasi. Mereka memilih mengendarai motor saat ini , menikmati udara segar yang memanjakan paru-paru. Angin berhembus sepoi-sepoi menambah kesan romantis . 'Semoga Mas Fathir tetap seperti ini, jangan biarkan ia berubah. Aku nyaman dan merasa spesial menjadi pendamping hidupnya' batin Luna dalam hati. Luna mengeratkan kedua tangannya memeluk pinggang Fathir, menikmati berkendara bersama pujaan hati . ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0ดูทั้งหมด