Dua minggu berlalu, tak ada hal yang istimewa . Semua berjalan monoton, seperti biasanya. Luna sudah mau memasak untuk Fathir setiap hari, meskipun kadang mengeluh capek ,lesu dan letih setiap malam dan berujung Fathir yang memijit hingga ia tertidur. Fathir baru saja berangkat kerja, Luna menutup pagar dan bergegas masuk ke dalam rumah. Bersantai menikmati camilan sambil memainkan ponsel. Ada 2 pesan yang dikirim sekitar satu jam yang lalu. [ Kangen 😍 ] [ Ayo ketemuan, rindu berkembang biak 😝] Luna membalasnya, [ Boleh, kapan? ] Tak menunggu waktu lama, Frans menjawab, [ Sabtu siang gimana? ] [ Bisa sih, tapi sore balik ya? Takut Mas Fathir tiba di rumah sebelum Isya ] [ Oke, ntar tempatnya aku kabari ] Luna tak membalas lagi, langsung dihapus percakapan dengan Frans hingga tak ada riwayat apapun. Luna merasa, perasaannya ke Frans mulai biasa saja alias tak berdebar-debar dan menggebu seperti dulu. Tinggal berdua bersama Fathir bisa mengalihkan semua perhatiannya untuk Frans. Bersama Fathir hidupnya terasa sejuk, hatinya tentram dan damai. Walaupun Luna tak yakin akankah ia bisa merasakan seperti itu lagi bersama Frans. Luna tak mau banyak mikir, saat ini ia hanya menjalani kehidupan layaknya air yang mengalir, lebih ke pasrah. Luna membuka kembali ponselnya , menscroll galeri dan tersenyum hangat menatap foto dirinya bersama Fathir. Hanya ada beberapa saja foto mereka, padahal mereka tinggal serumah . Iseng ia mengirim pesan pada suaminya [ Lagi apa , Mas ? ] Ia terlihat gugup, seperti remaja yang baru jatuh cinta. Padahal hanya mengiriminya pesan, tapi mampu membuat debaran hangat bersemayam di dadanya. [ Mas sibuk beberapa jam kedepan, ntar Mas hubungi lagi ya Sayang. Maaf ya❤️ ] Luna mengerucutkan bibir sebal, padahal ia masih ingin bertukar pesan lebih lama dengan Fathir, ahhh entah. Tumben Luna uring-uringan seperti ini. *** Pagi yang cerah di kediaman Frans.... Alita sedang sibuk membuatkan sarapan untuk Frans, menu pagi ini nasi goreng nugget plus susu sapi murni hangat. Lita menengok kanan dan kiri , memastikan Frans masih terlelap dalam tidurnya. Segera ia menuangkan cairan dari dalam botol kecil yang tinggal sedikit. Ramuan dari Wak Weni habis , Lita tak sabar segera menunggu hasilnya. Seperti yang dijanjikan Wak Weni. 'Maaf ya , Mas. Aku cuma ingin sedikit saja bermain denganmu' ujar Lita dalam hati. Setelah menata semua makanan di atas meja, Lita segera membangunkan Frans. Frans mengucek mata dan menguap, lalu berjalan ke meja makan. Aroma nasi goreng menguar lezat memancing perut yang kosong . Frans makan dengan lahap, menghabiskan susunya dengan sekali teguk. Lita tersenyum puas melihatnya. "Hekk.... Kamu gak makan?" Frans mengelap bibirnya dengan tisu, melirik sekilas ke arah Lita. "Udah tadi sama roti bakar, masih kenyang" Frans beranjak ke luar menikmati udara segar pagi hari , duduk bersantai di halaman rumah sambil merokok. Lima belas menit kemudian , Frans masuk ke dalam rumah. Mencari Lita yang sedang sibuk menyusui Lala. Melihat pemandangan itu membuat libido Frans naik, hasratnya menggebu-gebu. Setelah Lala tertidur, Lita memakaikan selimut dan merapikan tempat tidur putri semata wayangnya itu. "Lit.......Mas tunggu di kamar ya" bisik Frans ke telinga Lita mengkode sesuatu. Lita memasang wajah lembut, mengusap pelan lengan suaminya. "Maaf, Mas. Aku sedang halangan" Terdengar decakan kesal dari bibir Frans. Ia segera pergi meninggalkan Lita dan Lala yang terlelap. 'Syukurin kamu, Mas. Maaf aku terpaksa bohong . Setelah tau kamu bercinta dengan jalang itu, Aku jijik dan haram untuk kamu sentuh , Mas. Rasakan pembalasanku' Lita tersenyum dalam hati, penuh kemenangan. *** Luna sedang rebahan sambil memakai masker wajah, me refresh sejenak memanjakan kulitnya. Terdengar satu pesan masuk di ponselnya. Luna terburu-buru mengambil ponsel di dekatnya, mentimun terjatuh dari kelopak matanya. Setelah melihat nama si pengirim , ia mendesah kecewa. Bukan Mas Fathir ternyata, Luna mengira pesan itu dari suaminya. Mengingat Fathir tadi berpesan akan segera mengabari saat pekerjaannya lengang. [ Lun, keluar sekarang bisa gak? Ketemuan yuk! Aku kangen berat ] Pesan itu berasal dari Frans tentunya, siapa lagi. Setelah menimbang dan berpikir matang, Luna menyetujui permintaan Frans. Bergegas menyambar handuk, masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air. Terasa segar saat air menyentuh tubuhnya inci demi inci, sudah lama Luna tak merasakan hidup tenang dan damai seperti saat ini. Setelah siap, Luna segera memesan taxi online seperti biasanya. Menuju tempat yang sudah dipesan oleh Frans. Untuk sekian kalinya Luna memasuki Hotel berbintang. Langkahnya bergerak dengan cepat, meskipun kacamata hitam selalu bertengger di matanya, ia masih saja takut jika ada seseorang yang mengenali dan memergokinya. Membayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Kali ini pintu tak dikunci, Luna bergegas masuk ke dalam kamar hotel . Disambut pelukan hangat dari Frans yang menginginkannya. Frans meraih tangan Luna, menciuminya dengan napas yang memburu. Luna terheran dengan tingkah Frans, ia seperti singa yang kelaparan menemukan mangsa empuk dan lezat untuk disantap. Luna sudah rebahan di atas kasur, tak ada sehelai pakaianpun yang menutupi tubuhnya. Frans melepas kemeja dan celananya. Ingin memasukkan sesuatu ke dalam sarangnya, tapi tak berhasil. Dicobanya berulang kali, benda miliknya tak juga mau berdiri, lembek dan kenyal menutup diri. Luna curiga ada sesuatu yang tak beres , melihat Frans seperti kewalahan. "Kenapa Mas?" Luna beranjak dari atas kasur, duduk di menghadap Frans. "Sial! Bendaku tak mau berdiri" Frans emosi "Ha? Maksutnya?" Luna terlihat bingung. "Ya gak bisa berdiri! Padahal aku pengen banget. Coba relax aja dulu, 10 menit kita coba lagi" "Oke" Luna kembali merebahkan diri diatas kasur, selimut tebal ditarik hingga memenuhi dadanya. Lanjut memainkan ponsel. Frans ikut merebahkan diri di samping Luna, memeluk gadis itu. Menatapnya dengan lekat, dan mencium bibirnya. Kembali naik hasrat lelakinya , ia menyuruh Luna mengambil kendali. Seperti sudah paham, Luna meraih benda milik Frans dan mengulumnya. "Aneh! Kok lembek banget ya , Mas?" Frans terduduk, kembali memegang benda miliknya, mencoba memainkan naik turun. Nihil, benda itu tetap menutup diri . Bahkan semakin mengecil dan lunglai, terlihat lemas. "Apa kamu menghabiskan beronde-ronde kemarin malam , Mas? Dengan istrimu mungkin?" Tanya Lita hati-hati. "Nggak! Aku jarang berhubungan dengan Lita. Bahkan terakhir kali itu sama kamu, niatnya tadi pagi aku ingin bercinta dengan Lita. Tapi ia sedang datang bulan, jadinya aku ajak kamu" Frans gusar, merasa aneh dengan benda miliknya. Tak ereksi seperti sebelum-sebelumnya. Luna hanya mengedikkan bahu, memunguti pakaiannya yang berserakan dan bergegas memakainya kembali. "Kamu mau kemana?" Frans terlihat kesal. "Pulang. Ngapain lagi emang disini? kalau cuma rebahan sih di rumah juga bisa" ujar Luna santai. "Yaudah sana pergi!" Bentak Frans. "Jangan lupa transfer ke rekening , setengah dari biasanya juga gapapa" Luna mengambil tas dan berlalu pergi, meninggalkan Frans yang dilanda emosi jiwa. 'Sial! Kenapa begini sih. Aku lagi pingin banget, mana Lita datang bulan. Luna juga sekarang tak becus , membuat gairah hilang saja' geram Frans. Frans juga segera memakai kembali bajunya dan beranjak pulang. Sesampainya di rumah..... "Kok tumben , Mas . Udah pulang? Biasanya kan kalau janjian sama Clien bisa sampai tengah malem, kadang sampai pagi" ucapan Lita terasa seperti sindiran di telinga Frans. "Diem ah! Jangan cerewet kamu. Bikin suami serba salah aja, ribet!" Ujar Frans membentak Lita. Lita hanya diam, dalam hatinya tertawa lebar mengetahui ramuan Mak Weni mulai bekerja dan manjur. Top markotop deh emang Wak Weni! "Heh, kamu kapan selesai halangannya?" Frans melongok dari dalam kamar. "Ngomong sama aku, Mas?" "Yaiyalah, siapa lagi" "Tauk! Biasanya sih delapan sampai sepuluh hari. Ini juga masih hari pertama" sahut Lita menahan tawa. "Ck" Lita bisa mendengar decakan Frans yang terlihat geram. 'Kapokmu kapan , Mas! Salah cari musuh kamu rupanya' Lita tak kuasa menahan tawanya . "Ngapain kamu ketawa gajelas gitu?" Rupanya Frans masih memperhatikan gerak-gerik Lita sedari tadi. "Ah eh enggak, Mas. Gapapa" Lita tergagap. "Dasar aneh! Udah sana, bikinin aku jahe anget plus madu telor ayam kampung. Sepertinya aku butuh stamina, kurang enak badan. Aku tunggu di kamar gapake lama ya" perintah Frans sangat memuakkan bagi Lita. Mau tak mau Lita menurutinya, tak ada salahnya hanya membuatkan minuman. 'Apa tadi katanya? Stamina? Wahahahhaha. Benar kalau bendanya tak bisa bergerak, asyik juga mengerjai Frans yang sok segalanya' batin Lita , kembali ia terkikik sendiri seperti orang tak waras . ****** ****** ******* Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
bagus
1d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0ดูทั้งหมด