logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Melemahkan senjata

Luna bersolek secantik mungkin. Hari ini ia akan berkencan bersama Frans. Memakai tanktop pink dipadu dengan blazer hitam dan rok jeans selutut. Heels 10 centimeter, dan jam tangan mewah melekat di pergelangan tangannya. Aroma parfum mahal menguar ke seluruh ruangan.
Luna sengaja memesan taxi online, bertemu langsung di Hotel yang sudah dibooking oleh Frans, Luna tak mau lelaki itu menjemputnya.
[ Kamar 201, lantai 4 ] 
Luna tersenyum saat mendapat pesan singkat yang masuk ke ponselnya.
Segera ia menuju lift yang akan mengantarkannya ke tujuan.
Cklik.......
[ Aku di depan ]
Luna mengetik balasan ke pengirim.
Beberapa detik kemudian terbuka pintu hotel dari dalam, Luna bergegas masuk.
Belum sempat melepas heelsnya, Frans sudah menggendong Luna dan merebahkannya ke atas kasur.
Luna tertawa " Sabar dong, Mas. Baru juga aku sampe, belum lepas heels "
Frans tak mempedulikan ucapan Luna, seperti kesetanan Frans menciumi Luna dari kepala hingga menuju leher .
"Mmmm...Mas.....Sabar dong...Ahh...Sshh" Luna mendesah kegelian dengan perlakuan Frans.
Berikutnya, mereka telah asyik menyelami surga dunia.
Luna merebahkan dirinya diatas dada bidang milik Frans, pergulatan telah usai. Peluh masih membasahi sekujur badan mereka berdua, padahal udara dari AC terasa sangat sejuk. Namun entahlah, permainan mereka barusan sangat panas hingga menimbulkan gerah.
"Kamu semakin menggila Sayang" Frans mengusap pipi Luna.
"Ahhh... Kamu tuh semakin binal aja sekarang," ujar Luna malu-malu.
"Makasih ya, Lun. Udah bikin Mas puas pake banget. Aku sayang beneran sama kamu, pake banget!" 
"Sama Mas, apa kita akan menikah nantinya?" Kalimat barusan yang keluar dari mulut Luna sedikit membuat Frans kaget.
"Jalani aja dulu. Aku belum siap kalau harus menikah sekarang" 
"Apa kamu takut kehilangan Lita, istrimu itu Mas?" 
"Tidak, hanya saja. Aku masih kepikiran Lala" Frans terlihat lemas, pikirannya sibuk menerawang.
"Ck.... Yasudahlah . Kita nikmati saja, lagian aku juga belum sanggup kehilangan Mas Fathir" 
"Apa kamu sudah jatuh cinta padanya?" Frans menautkan alisnya, menatap tajam ke arah Luna.
Luna hanya mengedikkan bahu.
Frans terlihat gusar, jujur saja dalam hati ia takut Luna berpaling dan meninggalkannya.
***
Fathir fokus mengatasi berbagai masalah  tentang pekerjaan, membuatnya sangat sibuk. Belum lagi, rekannya ada keperluan sehingga mau tak mau ia harus menggantikan meneruskan shift, demi melayani masyarakat.
Fathir membuka ponselnya, dan mengetikkan sesuatu ke nomor istrinya .
[ Sayang, aku hari ini ada pam double. Ambil 2 shift, pulang tengah malam. Kamu jaga diri baik-baik ya ]
Hanya centang satu
Ahhh...Luna pasti masih tidur , batin Fathir.
Ia segera melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai dan biss sedikit bersantai.
***
Lita menyuruh Kevin ke rumahnya, ada seseorang yang ingin dikunjunginya. Ia sedang malas membawa mobil sendiri, takut pikiran kacaunya malah membuatnya bahaya. Itulah sebabnya ia menghubungi Kevin untuk diantarkan ke suatu tempat.
"Mau kemana sih? Kamu kebiasaan deh. Ganggu waktu istirahatku aja" gerutu Kevin.
"Idih, minta tolong bentar aja. Katanya siap standby kapan aja. Hoax deh kamu" Lita pura-pura ngambek
"Iyadeh iya, standby selalu Ndan! Siap 86!" Frans menirukan suara siaran yang sering di tontonnya di Televisi.
"Kamu tau alamat ini gak?" 
Lita menyodorkan ponsel ke arah Kevin, yang langsung saja disambar .
"Gendeng, cek adohe" decak Kevin.
"Berapa jam perjalanan?" Lita bertanya.
"Kurang lebih 6 jam" Kevin memutar bola mata dengan malas.
"Oke ,berangkat!" Lita antusias
"Ha? Sekarang?" 
"Yaiya dodol, lebih cepat lebih baik" 
"Aduh Gusti, nduwe konco kok yo edan koyok ngene seh" 
"Uwes tala gausa cerewet , hayuk. Ntar Lala tak titipno Mbak dulu" Lita berjalan menuju ke garasi , Kevin hanya mengekor dengan pasrah.
Setelah melewati jalanan yang sempit, menuju pelosok yang rimbun dengan dedaunan, pohon besar menjulang tinggi. Dan bertanya-tanya pada warga sekitar, akhirnya mereka sampai juga.
Terlihat sebuah rumah yang luas dari anyaman bambu khas pedesaan . Pohon beringin mengitari rumah yang terlihat tua tersebut, hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Sedikit menyeramkan jika ditamatkan.
"Lit, mau ngapain sih? Ini tempat apa coba. Serem lho, Lit" Kevin mencolek pundak Lita, ia tak ikut turun. Lita sedang sibuk menatap layar ponselnya. Memperhatikan rumah di depan dan disamakan dengan gambar yang terlihat di ponsel.
"Bener ini! Yuk turun" Lita melongokkan kepala ke dalam jendela mobil, menyuruh Kevin turun.
Kevin hanya menurut, berjalan membelakangi Lita. Matanya menatap ke seluruh arah, perasaannya tak enak.
"Assalamualaikum, permisi" 
 Tak ada sahutan, rumah terlihat sepi, seperti tak berpenghuni.
Lita mengulangi salamnya.
"Assalamualaikum" 
Tergopoh-gopoh wanita tua berambut putih menghampiri Lita. Walaupun tua dan terlihat kurus, tapi tenaganya terlihat penuh. Berstamina.
Wanita tua itu menatap Lita dan Kevin dari atas ke bawah secara bergantian.
"Maaf, Bu. Bener ini rumah Wak Weni?" Lita tersenyum sopan sambil sedikit membungkukkan badan.
Wanita itu tersenyum "Betul, Nak. Saya sendiri, yuk masuk" 
Lita masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari rotan, sedikit reyot karna usia mungkin.
"Ada perlu apa, Nak? Apa yang bisa saya bantu?" 
"Maaf sebelumnya Wak, saya dapet info dari temen. Saya mau minta tolong . Menurut info yang saya denger, Wak bisa membantu 'melemahkan senjata' apa betul?"
Lita bertanya sangat hati-hati .
"Kikikikikikikikikiki" Wanita tua itu terbahak, membuat Lita seketika kaget dan merasa takut. Tangannya meremas celana, menutupi ketakutannya.
"Tenang, itu masalah gempil. Asal sudah pahamkah syaratnya?" 
"Sudah, Wak" Lita menyerahkan foto close up Frans kepada Wak Weni .
Setelah merapalkan beberapa kalimat yang Lita tak paham apa itu, Wak Weni pamit ke belakang meracik sebuah ramuan yang di masukkan ke dalam botol kecil seukuran obat tetes mata.
"Nih, ambil. Campurkan ke minuman ataupun makanannya. Habiskan, maka ramuan akan meresap selamanya ke tubuh suamimu. Wak jamin, suamimu tak akan bisa ereksi kecuali hanya bercinta denganmu" 
Lita segera mengambil botol kecil itu dan menyerahkan amplop coklat kepada Wak Weni.
"Terimakasih ya, Wak" 
"Ya, semoga rumah tanggamu kembali utuh dan semoga bahagia" Wak Weni mengantar Lita hingga ke depan.
Lita bersama Kevin segera berpamitan dan masuk ke dalam mobil, bergegas pulang.
"Kamu mau melet ya? Ngapain sih pake jompa-jampi" Kevin menatap Lita tak suka.
"Udah ah bawel, biarkan ini menjadi urusanku" sahut Lita.
Lita tak sabar sampai ke rumah dan segera memberikan ramuan ini hingga habis kepada Frans. Ia ingin tau, seberapa manjur ramuan Wak Weni .
Tak sadar ia tersenyum, bagaimana jika Frans tak bisa ereksi selain dengannya? Seru dong , pasti.
***
Sore hari di hotel R
"Lebih lama lagi ya, Sayang?" Frans mempererat pelukannya.
"Boleh, kebetulan banget ini Mas Fathir juga lembur. Kita bisa main lagi sepuasnya" Luna mengerling nakal ke arah Frans.
Frans langsung menerkam Luna dan mengulangi kejadian haram yang memabukkan , mereka benar-benar dimadu kasih saat ini, tak mengingat apapun demi memuaskan hawa nafsu.
Setelah Isya, Luna bergegas mandi dan memakai kembali pakaiannya, ia mematut diri di depan cermin dan mulai memoles makeup ke wajahnya dengan hasil natural. Frans memandangnya dari tempat tidur.
"Cepet banget ya waktu bergulir, masih kangen sama kamu" Frans menghampiri Luna dan merangkulkan tangannya ke leher Luna.
"Sabar, next time kita atur lagi. Tapi jangan keseringan ya. Aku bener-bener takut Mas Fathir mengetahui hubungan ini" wajah Luna memelas.
Frans hanya mengangguk pelan, ingin rasanya memiliki wanita di depan ini seutuhnya, pasti hidupnya akan menjadi lebih sempurna.
"Istrimu gak nyari?" Luna melirik Frans sekilas, lalu melanjutkan menyemprot parfum mahal ke semua tubuhnya.
"Ahhh dia orangnya sante, gaakan berani nuntut ke aku macem-macem. Untungnya dia takut sama aku, kelihatan banget kalau dia memang wanita bodoh" tawa Frans mengingat betapa penurutnya istri malangnya itu.
"Bagus deh.  Gambaran istri sholeha idaman dong" Luna menggoda Frans yang menatapnya tanpa berkedip.
"Idamanku tuh kamu, jago goyang" Frans berbisik pelan ke telinga Luna, hingga membuat Luna kegelian seperti cacing kepanasan.
"Udah ah, aku pulang dulu ya"
"Yakin nih? Gak aku anter aja?" 
"Gausah, aku pesan taxi online aja. Gapapa" 
"Oke deh, hati-hati ya. Biar aku anter sampe lobby. Aku mau mastiin aja bidadariku naik mobil dengan selamat tanpa lecet" Frans menggandeng mesra tangan Luna.
Luna tersenyum, hangat merasakan tangannya ada di genggaman Frans. Namun, rasanya berbeda jika dibandingkan dengan genggaman Fathir. Bersama Fathir, hatinya pun ikut terasa menghangat. Tapi saat ini? Hatinya netral, tak ada rasa apa-apa.
'Ah apasih aku ini, gajelas banget. Efek kecapekan bikin aku ngelantur' batin Luna.
***
Taxi online sampai di depan gerbang rumah Luna. Setelah membayar dan turun, Luna tercengang mendapati mobil Fathir sudah terparkir rapi di garasi. Ia menelan salivanya dengan susah payah, menghembuskan napas panjang mencoba mengatur detak jantungnya yang gugup.
Bukankah tadi Fathir bilang akan pulang tengah malam? Lalu kenapa jam segini udah sampai rumah? Aku sengaja tak berpamitan padanya karna kupikir aku bisa pulang pergi di jam tertentu tanpa harus dia tau aku meninggalkan rumah.
Luna membuka pagar dengan gemetar, tangannya yang tak fokus menjatuhkan gembok , membuat suara gaduh .
"Lho Sayang? Darimana aja? Aku juga baru aja sampai rumah" Fathir terlihat penasaran.
"Ehh Oh Iyaaa, Mas. Dari ikut arisan di rumah Bu RT sana , sebentar kok. Cuma hadir nampakin diri aja biar ndak dikira sombong. Mas katanya lembur?" 
Fathir sepertinya tak puas akan jawaban Luna, tapi ia tak mau memperpanjang masalah.
"Iya, Mas buru-buru pulang. Kangen kamu," ujar Fathir mencolek dagu Luna gemas .
"Ih ganjen! Mau makan malam apa nih?" Tawar Luna.
"Mandi gih, pake baju seksi. Mas pingin makan kamu aja sekarang" sorot mata Fathir mengkode meminta hak nya malam ini.
Luna terlihat kelimpungan, bagaimana dia bisa melayani Fathir malam ini? Jika dari pagi hingga sore ia sibuk main beronde-ronde bersama Frans. Bahkan sekarang tubuhnya terasa sangat pegal, kakinya sudah loyo tak sanggup menapak ke tanah dengan baik , matanya mengantuk. Sungguh staminanya sudah terkuras, Ia hanya  ingin segera beristirahat.
"Luna capek, Mas. Besok pagi aja gimana?" Luna memelas , wajahnya memohon sambil bergelayut manja ke tangan Fathir.
Fathir hanya diam , menelan kekecewaan yang teramat dalam. Padahal ia sangat ingin bercinta dengan Luna malam ini, makanya ia rela menyempatkan pulang sejenak meninggalkan pekerjaan demi Luna .
*****        ******         *******
Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (629)

  • avatar
    iqmal haziqFaizi

    bagus

    1d

      0
  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด