logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Mulai curiga

"Assalamualaikum" kepulangan Fathir disambut hangat oleh Luna.
Fathir terlihat terburu-buru memasuki kamar. Ada sesuatu yang harus dipastikan, netranya menyapu seisi ruangan. Barang yang dicarinya tak ada . Ia menghelas napas kasar.
Luna terlihat bingung akan tingkah suaminya ,matanya ikut menyapu sekeliling ruangan dan sesekali melirik Fathir.
Karna tak menemukan jawaban, Luna mengajukan pertanyaan. Ia tak ingin dirundung penasaran.
"Kenapa sih, Mas?"
"Haaa? Ohhh, enggak. Gapapa Sayang" Fathir termangu dalam diam.
"Apasih? Cari apa? Kok kelihatan serius gitu?" Luna bersedekap, matanya sibuk mencari kejujuran dari suaminya.
"Gapapa kok. Oh iya, kamu masak apa hari ini?" Fathir berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ha? Sejak kapan aku masak , Mas. Bukannya semenjak tinggal disini kita selalu go-food ya" ujar Luna .
"Oh iya hehe. Mas lupa" Fathir mengusap tengkuknya , terlihat salah tingkah.
"Yaudah, delivery pizza aja ya?" Luna menawarkan .
"Mas lagi pingin ayam krispy Lun, McD aja gimana?" Fathir memperhatikan ekspresi Luna .
"Bosen ah , Mas. Baru aja tadi siang Luna makan itu juga" Luna mengerucutkan bibirnya.
"Tadi siang?" Tanya Fathir menyelidik.
"Eh oh Iya. Tadi siang aku go-food McD kok, Mas" kikik Luna.
Fathir tampak menerka-nerka , kembali mengingat pesan kaleng yang diterimanya siang tadi.
"Mas? Gimana? Jadi pizaa aja?" Luna membuyarkan lamunan Fathir.
"Iyadeh, terserah. Mas mau mandi dulu" 
Luna hanya mengacungkan jempol.
***
"Mampir konter ya Kev, aku mau beli kartu perdana dulu" Lita sibuk mengamati hasil rekamannya tadi.
"Lagi? Mau berapa banyak nomer lagi sih? Kalo diblokir lagi gimana?" Kevin tampak sedikit kesal.
"Ya beli lagi dong, gitu aja dibikin susah" 
Ya ..... Nomer palsu Lita diblokir oleh Fathir, itulah alasan Lita membeli perdana baru lagi untuk meneror Fathir serta Luna.
"Ribet banget sih , Lit. Kenapa gak langsung cerai?" 
"Gak semudah itu, Kev. Kamu kan tau Papaku gimana orangnya. Papa tuh lebih sayang Frans daripada aku, kalau sampai aku bertindah gegabah sedikit saja, bisa-bisa aku yang di depak dari keluargaku" Lita masih sibuk memindah file ke dalam laptop. Dengan gesit jari-jarinya berjalan diatas keyboard.
"Segitunya? Parah sih. Emang kenapa kalau kamu didepak?" Kevin menggoda Lita.
"Gila ya kamu, aku gak mau lah harta warisan jatuh ke menantu Papa sialan itu. Aku anak Papa satu-satunya , ada beberapa perjanjian pra nikah yang tak kamu pahami. Jadi ya, aku harus bertindak dengan hati-hati. Kasihan Lala, jika harus kehilangan warisan tunggal dari Kakeknya" 
Lita melirik Kevin dengan tajam, mengisyaratkan untuk tak membahas urusan rumah tangganya lebih dalam lagi.
***
Keesokan harinya,
"Lun, bangun sayang. Masak gih. Mas juga pingin lho sekali-sekali makan masakan kamu" Fathir menepuk pelan pipi mulus istrinya.
Luna hanya menggumam.
"Ayo dong Sayang, mumpung Mas libur. Ntar Mas kasih hadiah deh, tas inceran kamu kemarin tuh" Fathir membisikkan pelan ke telingan Luna.
"Males ah, aku udah punya,Mas" Luna menjawab setengah sadar.
Fathir mematung mendengar jawaban Luna barusan, apa benar Luna sudah membelinya? Dapat darimana ia uang sebanyak itu? Ah pikiran Fathir menjadi kacau.
Luna yang menyadari perkataannya barusan , langsung bangun dan terduduk di kasur. Matanya sayu menatap Fathir.
Fathir tak menggubris seolah tak terjadi apa-apa.
Luna bergegas mandi dan keluar rumah mencegat tukang sayur , biasanya jam segini tukang sayur keliling sudah nangkring di depan pos kosong markas Ibu-ibu.
Benar saja, baru dua menit. Terlihat Kang sayur mengendarai motor tuanya berhenti di depan pos . Seketika Ibu-ibu berkerumun memilih sayuran. Luna tak tinggal diam, ia ikutan bergabung bersama mereka.
"Eh Luna, tumben. Belanja juga?" Bu RT menyapa Luna, Luna hanya mengangguk pelan.
"Neng baru ya? Kok Akang gapernah lihat" Kang sayur menatap Luna tak berkedip.
"Iya , aku mau ayam ya sekilo sama sambelan , sayur bayam dua ikat. Sekalian garam" 
Kang sayur segera memasukkan pesanan Luna ke dalam kantong plastik. 
"Berapa?" 
"57.000 Neng semua" 
Luna menyerahkan selembar uang berwarna merah. Setelah mengambil kembaliannya, ia bergegas pulang tanpa berpamitan ke Ibu-ibu yang juga asyik berbelanja.
Luna mengeksekusi dengan gesit, ternyata ia lumayan pandai memasak, masakannya pun enak. Pas di lidah Fathir.
"Besok main ke rumah Ibu ya,Lun. Mas kangen" 
"Besok aku mau main ke Bude, Mas. Minggu depan aja gimana kalau Mas libur lagi? Kita nginep sekalian"
"Minggu depan Mas nggak ada libur,Lun. Awal bulan depan baru dapat libur dobel" Fathir terlihat sedikit kecewa.
"Yaudah Mas, bulan depan aja ya"
Fathir hanya mengangguk. Padahal jarak dari rumahnya ke rumah Ibu tak terlalu jauh. Tapi sudah seminggu ini , ia belum mengunjunginya. Tebersit rasa rindu dalam hatinya, tapi Fathir tak boleh egois. Luna juga sudah lama tak berjumpa dengan Bude yang merawatnya sejak kecil. Semenjak menikah Luna jarang bertemu Budenya , makanya Fathir memilih mengalah mengundur kunjungan ke rumah Ibu.
***
Fathir mengantar Luna ke rumah Bude, baru berangkat kerja. Pagi-pagi sekali mereka berangkat karena arah menuju rumah Bude berlawanan dengan tempat Fathir bekerja, Fathir tak ingin terlambat tentunya. Mengingat status pekerjaannya, disiplin diatas segala-galanya.
"Nanti pulang kerja aku jemput" Fathir mengecup puncak kepala Luna.
Luna hanya mengangguk sambil tersenyum, melambaikan tangan melepas kepergian Fathir.
"Assalamualaikum, Bude" 
Luna mengetuk pintu berulang kali, tak ada sahutan.
Akhirnya Luna memutuskan duduk di kursi rotan halaman rumah Budenya, matanya menatap sekeliling , sepi sekali.
Lima belas menit kemudian, Bude nya terlihat datang sambil membawa sayur-mayur yang lumayan banyak.
"Lho Luna, kapan sampai? Kok gak telfon Bude dulu" 
"Kangen Bude, darimana nih?" Luna melirik sayuran yang terikat di sepeda milik Budenya.
"Ini lho, habis panen sayuran. Nanti jam 8 sudah diambil sama Bu Retno, kemarin pesan soalnya" 
Bude menggandeng Luna memasuki rumah.
Mereka bercengkrama dengan hangat layaknya anak dan Ibu. Luna terlihat manja bersama Bude.
***
Lita mengumpulkan berbagai bukti yang didapatnya, dengan cekatan menyusunnya menjadi sebuah album. File-file penting lainnya berserakan di gudang. Lita memang melakukan misinya secara sembunyi-sembunyi di dalam gudang, tempat yang tak akan dijamah oleh Frans. Jadi aman.
Tinggal menunggu satu bukti lagi tentang Rival dan Luna di masa lalu, baru Lita akan menangkap basah Frans dan Luna secara memalukan di tempat umum .
Dengan begitu, Lita bisa dengan mudah mengajukan gugatan cerai pada Frans di saksikan banyak orang tentunya. Dan untungnya, semua harta akan jatuh je tangan Lita, biarkan Frans hanya mendapat pakaian dan motor pribadinya sesuai dengan perjanjian pra nikah yabg dibuat dan disetujui berdua tempo lalu.
Membayangkan saja sudah membuat Lita puas, namun akan lebih puas lagi tentunya menyaksikan mereka menjadi konsumsi public dan trending satu di sosial media. Bukankah sanksi sosial lebih memalukan dan memberatkan daripada hukum ? Itulah keinginan terbesar Lita.
Setelah selesai dengan semuanya, Lita menyimpan dan merapikan ke dalam lemari tak terpakai di gudang. Dikuncinya gudang, dan menaruh kunci gudang di lipatan baju lemari atas. Aman.
Lita menghampiri putrinya yang sedang tertidur, setelah puas memandang  . Ia ikut merebahkan diri di samping putrinya. Rasanya lelah. Hati, pikiran, dan tenaga. Semuanya bekerja dengan sangat keras. Tak menunggu lama Lita sudah tertidur pulas memeluk Lala .
***
Seminggu berlalu........
Luna memutuskan menjauhi Frans untuk sementara waktu. Ia takut Fathir mencium perselingkuhan mereka, Luna nerasa Fathir mulai curiga padanya, entahlah. Atau mungkin hanya perasaan Luna saja.
Tring ..
Satu pesan masuk ke ponsel Luna.
"Kangen banget!!!! Lusa berkembang biak yuk. Ke hotel R , aku rindu belaianmu" 
Luna tersenyum membaca pesan dari Frans. Selingkuhannya itu selalu mampu membuatnya terpikat.
"Ih mesum. Bolehlah hehe, seeyou lusa" 
Luna membalas dengan cepat, hatinya kembali berdebar. Padahal baru saja ia khawatir akan kecurigaan Fathir . Tapi mendapat pesan dari Frans barusan, Luna tak kuasa menolaknya . Tak peduli lagi dengan perasaan Fathir, yang pasti dia harus bahagia! Begitu prinsip hidupnya.
*****
******            *******            *******
Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (629)

  • avatar
    iqmal haziqFaizi

    bagus

    2d

      0
  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด