"Siap Lit?" Tanya Kevin menatap manik mata hitam milik Lita dengan lekat. "Yeah" jawab Lita singkat. Meskipun tampak baik-baik saja di depan, Kevin paham betul hati Lita sedang cemas dan terluka. "Dengerin aku, apapun yang kamu lihat dan semua bukti yang kamu dapatkan nanti. Kamu gaboleh nangis, jangan biarkan satu butirpun air matamu tumpah. Kamu harus kuat, bertahan sebaik mungkin demi hasil yang maksimal. Paham?" Kevin mengingatkan , namun lebih ke perintah menurut Lita. "Iya iya bawel" Lita menjawab sekenanya. "Oh ya, aku lupa bilang sama kamu. Tadi saat aku bangun tidur, rekanku memberikan satu info lagi yang tak kalah mencengangkan. Kamu juga pasti bakal kaget, tak akan menyangka" Kevin sengaja membuat Lita penasaran. "Apa?" Lita hanya melirik Kevin sekilas. "Hmmm apa ya?" Kevin menggoda Lita. "Buruan napa sih. Aku gasuka basa-basi" ketus Lita. "Dih sensi banget" Lita tak menggubris, ia asyik dengan pikirannya. "Iya iya gausah galo gitu. Ternyata ya, salah satu pelanggan Luna itu ada hubungannya dengan Fathir. Bahkan orang terdekatnya lho" "Haaaa? Siapa?" Mata Lita membulat kaget, membuat Kevin terkejut . "Walah c*k , kaget aku matamu itu lho! Ga bisa dikondisikan" Kevin mengelus dadanya, irama napasnya naik turun dengan cepat. "Hehehe maaf . Penasaran parah nih aku" "Rival" Kevin sengaja menjawab singkat tanpa penjelasan, ia masih sedikit dongkol akibat perbuatan Luna barusan. "Maksut kamu? Rival mantan pelanggan Luna? Rival suami Mba Ningsih? Iparnya Chintya temanku? Yakin kamu gak salah orang?" Lita menatap Kevin tak percaya. "Ya ampun, suer ! Ini juga aku masih cari bukti fisik dari fakta itu. Sabar kaleeee! Aku jamin infoku selalu akurat , rekanku ini temen nongkrongnya Rival sedari dulu" Kevin memasang wajah meyakinkan. Lita menggeleng lemah, masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Dunia sempit banget ya, kenapa juga muter-muter saling berhubungan seperti ini" Lita mendesah pelan, kepalanya mendadak sedikit pusing. "Kamu dapet info juga gak? Kira-kira kapan mereka berhubungan? Apa sebelum Mba Ningsih menikah? Kalo itu mah wajar kalee" Lita menatap Kevin penuh tanya. "Yaa oneng! Kalo gitu Luna umur berapa pas itu? Ya kaleee Rival pedofil, makanya punya otak buat mikir yang logis. Jangan emosi aja di gedein. Suka lucu kadang ya nih bocah" Kevin menggelengkan kepala menganggap lucu sikap Luna. "Lalu? Kapan dong?" "Setauku sih, menurut informasi yang aku dapetin. Rival sama Luna sering kencan saat Ningsih hamil gitu deh. Cuma untuk pastinya sejak kapan mereka mulai berhubungan, aku belum bisa memastikan" Kevin mengedikkan bahu. "Wah biadab! Ini sih gabisa dibiarin ya. Hmmmm" Lita tampak berpikir sangat keras, telunjuk diketukkan di pelipis kanannya berulang kali . "Udah sih gausah ikut-ikut . Itu kan diluar urusanmu. Yang pasti kamu urusin dulu aja tuh biduk rumah tanggamu" Kevin menyikut lengan Lita pelan. "Ya ga bisa gitu dong! Aku sama Mba Ningsih sama-sama wanita. Apalagi ya, Mba Ningsih itu baik banget sama aku udah kayak kakakku sendiri. Aku gak rela dong dia dimainin kaya gitu. Apalagi sundel nya satu orang yang sama. Aku sangat-sangat tidak terima, jalang itu bener-bener harus kukasih pelajaran tanpa ampun. Lihat saja!" Lita terlihat berapi-api setelah mendapatkan informasi tersebut. "Yaudah sih serah. Yuk turun, kita sudah sampai Mall tujuan target. Kita tunggu aja di McD sana" Kevin menunjuk gerai fastfood yang sudah ramai. Antrian sangat panjang. "Okedeh, Bismillah lancar dan aku kuat. Semangat!" Lita hendak turun dari mobil. "Pake dulu tuh kacamata dan masker! Biar penyamaran kita semakin maksimal" Kevin menaikkan alisnya menggoda Lita yang terlihat kesal . *** "Mas, makasih banyak ya udah mau beliin aku tas ini. Makin sayang deh sama kamu" Luna gelandotan mesra ke tangan Frans. "Iya Sayang, anything for you" Frans memeluk Luna dengan sayang. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata di seberang sedang mengamati mereka. Bahkan Lita sudah siap dengan kamera tersembunyinya untuk merekam perbuatan suami bersama jalangnya . Lita mengambil ponsel cadangannya, ponsel yang baru-baru ini dijadikan teror untuk Luna. Tak menunggu lama, dikirimkan foto Luna bersama Frans dari arah belakang ke nomer seseorang. Lita sengaja tak menampilkan wajah mereka dalam foto yang dikirim ke orang tersebut, ia ingin membuat empunya penasaran. 'Berani sekali kamu ngelawan aku, jalang . Lihat saja nanti' geram Lita. Lita mengecek kembali pesan berisi foto yang ditujukan ke seseorang. Send a picture Lihat di foto ini. Apa dia istrimu? Begitu isi pesannya yang ternyata ditujukan kepada Fathir. Belum ada balasan, mungkin Fathir masih bekerja. Lita tak habis pikir dengan Luna, suaminya kerja dia malah enak-enakan shopping sama suami orang. Dasar istri yang tak tahu diuntung. Lita tetap memperhatikan gerak-gerik Frans dan Luna tanpa jeda. Didampingi Kevin yang sibuk bermain game di ponselnya . *** Fathir baru saja selesai bertugas, istirahat sejenak menyesap kopi bersama rekannya. Diambilnya ponsel dari saku, dan melihatnya. Dahinya mengernyit tatkala melihat 1 pesan masuk dari nomer yang tak dikenal. Dibukanya pesan tersebut, menampilkan foto seorang wanita dan lelaki sedang duduk berpelukan menikmati hidangan. Hatinya sakit seketika, meyakini wanita di dalam foto tersebut memang benar Luna, istrinya. Meskipun tak memperlihatkan wajah, tapi Fathir paham betul dari gaya berpakaian dan postur tubuh, wanita itu benar-benar mirip sekali dengan Luna. Hatinya pun ingin mengiyakan, tapi dengan tegas logikanya menolak, ia tak akan gampang percaya sebelum menemukan dan melihat sendiri. Segera dibalasnya pesan kaleng dari nomer asing tersebut. 'anda siapa? Jangan main-main. Itu bukan istri saya' balasnya tajam. Meskipun begitu, tak mungkin ia mengumbar aib rumah tangganya apalagi istrinya kepada orang lain. Tak menunggu lama, balasan kembali datang. 'Anda yakin? Coba perhatikan baik-baik baju dan asesorisnya. Kalau tak percaya, coba telfon sekarang, dimana istrimu berada. Hahaha' Fathir mendadak gusar, ia segera memencet nomer Luna , tersambung namun tak diangkat. Fathir semakin dikuasai amarah, pesan tersebut berhasil menghasutnya. Di dalam Restaurant, ponsel Luna berdering dengan keras, tapi Luna tak segera mengangkatnya, bahkan diacuhkannya hingga deringan berhenti. Lita tersenyum puas menyaksikan semua, misinya perlahan-lahan berhasil. Kembali Lita mengirimkan pesan kepada Fathir. 'gimana? Apakah istri anda sudah diketahui keberadaannya? Apakah telfon anda diangkat? Karna setau saya, istri anda sedang sibuk menyuapi lelaki idamannya' Lita merasa jahat, tak tega sebenarnya memperlakukan Fathir seperti itu, tapi apalah daya. Mending ketahuan sekarang daripada terlalu jauh nantinya. Lita hanya ingin menyelamatkan masa depan Fathir, Lita tau Fathir orang yang baik ,tak pantas rasanya jika harus bersanding dengan Luna berlama-lama. Fathir yang kembali membaca pesan dari orang asing semakin emosi. Orang itu paham betul, ia menghubungi Luna dan tak digubris. Fathir memilih menghapus dan memblokir nomer asing tersebut. Ia tak ingin prahara rumah tangganya hancur hanya karena dihasut apalagi diadu domba. Namun dalam hatinya, ada rasa tak enak yang ia sendiri bahkan tak tau itu apa. Kembali Fathir mencova menelfon Luna, tak ada sahutan. Fathir memutuskan mengirim pesan singkat. 'Susah banget dihubungin, kemana aja!' Tetap tak ada balasan. Kemana Luna istriku? Fathir bertanya-tanya dalam hati. Perasaannya kalut, tak karuan. *** "Yuk Mas, pulang. Takut keduluan Mas Fathir sampe rumahnya" Luna memberi pengertian kepada Frans. Frans hanya tersenyum, lalu bergegas mengantarkan wanita pujaannya pulang ke rumah. Luna turun di ujung komplek, tak mengijinkan Frans mengantar hingga depan rumah. Ia takut ada yang memergokinya, apalagi statusnya masih menjadi warga baru disini. Sesampainya dirumah, Luna bergegas mandi dan berganti pakaian rumahan. Ia merebahkan diri ke atas kasur. Diambilnya ponsel dari dalam tas dan membuka pesan dari Fathir. Ia bingung menatap ponsel, membaca pesan dari Fathir. Tak seperti biasanya, Fathir posesif seperti ini. Luna segera membalas pesan Fathir. 'Maaf baru bales Sayang, baru bangun tidur nih' tak lupa ia menambahkan foto selfie nya barusan agar Fathir tak curiga. Fathir tersenyum tipis memandang foto selfie Luna. Segera ia mengalihkan ke panggilan video dan dengan cepat Luna mengangkatnya . "Assalamualaikum, kemana ajasih Mas hubungi susah bener?" "Baru bangun, Mas" Luna berpura-pura menguap. "Ish, baru bangun aja kelihatan fresh banget gitu" Fathir menggoda Luna, padahal dalam hatinya mulai percaya perkataan dari orang asing yang mengiriminya pesan tadi . "Emang gini bawaannya. Mas lagi apa? Tumben banget sih nelfon berkali-kali , posesif lagi. Kenapa hayo?" Luna mengerlingkan mata dengan manja menghadap kamera depan agar Fathir biss melihat dengan jelas. "Gak kenapa-napa, kangen ajasih" "Uhuyyyy....gombal deh" Luna memasang wajah malu-malu. "Yaudah kalo gitu Mas tutup ya..." Fathir hendak menutup panggilan video dengan Luna, tapi matanya menatap bungkusan karton dengan merk ternama teronggok manja di dekat Luna. "Oke , Mas... Assalamualaikum" "Ehhh Lun, tunggu du...." "Titttttt" belum selesai Fathir bertanya, telfon sudah dimatikan oleh Luna. Fathir semakin penasaran, apa isi karton belanjaan itu? Hendak mengirimi Luna pesan, diurungkannya niatnya tersebut. Fathir harus mencari tau sendiri sesampainya di rumah nanti. Siapa tau itu bisa menjadi bukti dari hal yang disembunyikan Luna selama ini. Jika Fathir bertanya sekarang, Luna pasti akan menyangkalnya. Jadi lebih baik biar Fathir sendiri yang memastikan. ***** ****** ***** Wah gimana ? Makin seru nggak nih? Penasaran gaaa sih? Detik-detik TAMAT ya gaesss, beberapa bab lagi mungkin hehehe Ikuti terus kisahnyaaaa ****** ******** ******** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
bagus
2d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0ดูทั้งหมด