Sampai di depan rumah, Luna segera turun dari mobil dan membuka pagar untuk Fathir. Pikirannya tak bisa fokus, memikirkan suaminya itu pasti menghujani serentet pertanyaan dan tak lupa ceramah seperti biasanya . Membayangkan saja sudah membuat Luna jenuh. "Kenapa kamu keluyuran dengan pakaian kayak gitu?" Fathir meletakkan kunci mobil asal, tersirat amarah pada wajah tampannya. "Keluyuran? Aku cuma jogging aja kok! Wajar dong jongging pake baju kayak gini. Sejak kapan olahraga mengharuskan memakai gamis?" Luna mendelik sebal. "Bukan gitu, khan kamu bisa pake kaos berlengan dan celana training yang panjang. Bukan pakaian kurang bahan begitu!" "Ya gerah dong, Mas. Kamu ini makin hari makin aneh aja. Semua yang aku lakuin dilarang, ada saja salahku tiap hari . Sebenarnya mau kamu apa sih, Mas?" Luna berteriak seperti orang kesurupan. "Jaga bicaramu Luna! Kamu ngomong sama suami yang sopan. Telingaku masih normal, gak budeg! Aku pikir selama ini manjain kamu adalah caraku mendidikmu menjadi lebih baik, tapi nyatanya enggak . Kamu malah menjadi-jadi. Bener-bener gak punya aturan!" Fathir terlihat marah, tangannya melayang hendak menampar pipi Luna . "Apa? Tampar aja! Tega kamu,Mas. Hanya karna pakaian, begini caramu mengingatkanku? Ini sifat aslimu? Kasar sekali! Jangan mentang-mentang kamu abdi negara, didikan keras dan kasarmu kamu praktekin ke aku ya. Aku pergi dari rumah ini, Mas. Aku pulang ke rumah Bude! Kamu akan menyesal,Mas!" Luna meninggalkan Fathir yang mematung ,menuju kamar. Diambilnya koper di atas lemari, semua pakaian dimasukkan ke dalam koper dengan asal. Air matanya tumpah. "Lun, Luna Sayang. Maafin,Mas . Mas gak ada maksut kasar sama kamu. Mas sedikit emosi Sayang, Mas gak mau tubuhmu jadi tontonan umum, dinikmati khalayak ramai seperti tadi. Sungguh Mas gak rela" Fathir memeluk Luna dengan erat. "Lepasin,Mas! Luna mau pulang. Mas nyesel kan udah manjain Luna? Mas udah gak sayang khan sama Luna? Biarin Luna pergi ,Mas" Luna menepis tangan Fathir. Fathir masih berusaha menenangkan Luna yang berontak. "Sayang, please! Maafin,Mas. Mas emosi Sayang. Mas janji gaakan kasar sama Luna lagi. Mas mohon,jangan pergi! Mas sayang banget sama Luna. Maafin Mas ya, Sayang?" Fathir terduduk di hadapan Luna. Tangannya meraih kedua tangan Luna dan menciumnya. Luna hanya terdiam diperlalukan seperti itu. Fathir berdiri dan membawa Luna dalam pelukannya, tak ada penolakan dari Luna . Hanya terdengar suara gadis itu terisak. Fathir mempererat pelukannya, dihirupnya dalam aroma rambut istri tercintanya tersebut. Fathir sungguh telah dalam terjatuh dengan pesona Luna. *** Di rumah lain, Frans baru saja pulang. "Alhamdulillah, tumben sore sudah pulang Mas. Aku jadi kangen deh momen lalu , mengingat akhir-akhir ini kamu sering pulang larut. Jarang ada waktu buat aku sama Lala" Lita menyambut kedatangan suaminya dengan senyum hangat. "Cerewet kamu. Aku pulang larut salah, pulang sore di tumbenin. Repot" Frans terlihat kesal, sepertinya suasa hatinya sedang tak bagus. Lita hanya meneguk ludah dengan susah payah, hatinya sakit. Lagi-lagi. "Maaf, yaudah yuk kita makan malam bareng. Aku udah siapin masakan spesial buat makan bareng nanti" Lita masih berusaha mencairkan suasana. Dalam lubuk hatinya, ia rindu akan kehangatan rumah tangganya. "Udah sana siapin aja, aku mau mandi dan rebahan sebentar" "Dicari Lala tuh,Mas. Kasihan kangen Ayahnya." Lita menggandeng tangan Frans menuju kamar putri tercinta. "Apa-apaan sih kamu! Gak denger aku bilang kalo aku mau mandi terus rebahan bentar. Aku capek Lit, tolong ngerti. Nanti saja aku main sama Lala nya" Frans melepaskan tangan Lita dengan pelan. Lita mengepalkan tangan ,segera menelfon nomer yang berada di daftar paling atas log panggilannya. Tut.....panggilan tersambung langsung hanya sekali deringan . "Assalamualaikum, halo Kev. Tolong besok jalankan misi kedua untuk wanita itu. Tetao hati-hati, dan jangan sampe ninggalin jejak," titahnya dengan sinis. Pria di seberang menyahut seperti biasa, "Waalaikumsalam. Oke, siap. Laksanakan" Lita tak sabar menunggu hasil dari misi keduanya esok hari. Sedangkan Kevin memastikan esok berjalan lancar semuanya sesuai rencana. Ia ikut tak terima, sahabat tercintanya terluka. *** Setelah adegan tadi sore, Luna dan Fathir terlihat semakin hangat . Luna asyik bergelayut manja di pelukan sang suami sambil memainkan ponselnya. "Mas," ujar Luna . Suaranya dibuat semanja mungkin. "Ya sayang?" "Luna pingin shopping, ada tas keluaran terbaru dari Fos*il . Lucu deh , Mas. Boleh?" "Mana lihat?" Luna menunjukkan gambar di ponselnya ke arah Fathir. "Hmm bagus. Berapa?" "Kalo ke store nya sih kurang lebih Tujuh jutaan deh, Mas" "Haaa? Sekecil itu? Tujuh juta, Lun?" Fathir terperangah. "Apaan sih ,Mas . Norak deh" Luna memanyunkan bibirnya . "Boleh, tapi tunggu tunjangan Mas aja ya. Tabungan Mas sudah makin menipis, itukan tabungan buat masa depan nanti, buat calon anak kita ini" Fathir mengusap pelan perut Luna yang rata . Luna hanya menggumam, dan mengiyakan. "Yaudah bentar Mas, Luna mau ke toilet dulu ya. Kebelet" cengirnya sambil beranjak dari tempat tidur. "Lho, ke toilet aja bawa ponsel. Gitu banget" Fathir menatap Luna curiga. "Iya Mas, sambil ngedrakor . Tanggung nih lagi asyik marathon hehe" "Yaudah sana, dasar!" Luna bergegas menuju toilet. Ia berbohong, di dalam toilet ia segera mengirimkan pesan ke nomer yang sudah di hafalnya diluar kepala. 'Mas, besok jalan yuk. Bisa? Luna pengen tas keluaran terbaru di Fos*il' tak sampai semenit pesan itu bercentang dua menandakan telah terkirim pada tujuan. 'Ga mahal kok. Cuma 7 jutaan. Boleh ya?' belum ada balasan, Luna mengirimkan lagi pesan berikutnya. Kemana sih Mas Frans? Tumben balesnya lama, Luna ngedumel dalam hati . *** Frans tertidur pulas di kasur empuknya. Lita yang mendengar suara ponsel mendekat ke arah meja. Dimana ponsel Frans tergeletak. Dengan perlahan, Lita mengintip notifikasi yang terlihat di layar ponsel Frans. Menggerakkan kearah bawah, agar bisa melihat lebih banyak isi pesan di ponsel tersebut. 'Mas, besok jalan yuk. Bisa? Luna pengen tas keluaran terbaru di Fos*il' 'Ga mahal kok. Cuma 7 jutaan. Boleh ya?' 2 pesan dari kontak bernama L , Frans menyimpan kontak Luna hanya dengan inisial huruf . Lita kembali emosi, ingin membunuh Luna detik itu juga. Berani-beraninya tuh jalang morotin suamiku, ini gak bisa dibiarin. Aku harus bertindak cepat, sebelum semuanya habis dikuasai jalang sialan! Batin Lita . Lita kembali meletakkan ponsel Frans ke tempat semula. Segera menuju ke kamar Lala, putrinya. Dipeluk bayi mungilnya itu , tak terasa air matanya menetes sedikit demi sedikit. Lita menangis dalam diam. Sakit sekali rasanya , seperti ditikam belati hingga ke tulang, remuk redam. *** Keesokan harinya, seperti biasa menjalani aktifitas layaknya hari-hari sebelumnya . Hari ini Luna janjian bertemu Frans untuk shopping . Hatinya senang bukan main, mengingat akan bersenang-senang dengan pujaan hati, ditambah asyiknya belanja gratis. "Bahagia banget hari ini, kelihatan seger. Kenapa?" Fathir hendak berangkat kerja memperhatikan mata Luna yang tampak berbinar. "Tiap hari juga gini kok, Mas" sangkal Luna tak ingin Fathir curiga. "Okedeh, aku berangkat ya! Diem di rumah. Jangan keluyuran. Kalo mau pergi pamit" ujar Fathir mengecup lembut kepala Luna. "Siap,bos!" Luna memberi hormat seperti ajudan kepada komandannya. Luna menutup pagar dan menguncinya dari dalam sebelum masuk ke dalam rumah. Hendak menikmati sepotong brownies, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Di tatap layar ponselnya, tak ada nama. Nomer asing menguhubunginya. Tak menunggu lama, Luna segera mengangkatnya. "Iya Halo, siapa?" Ujarnya Tak ada sahutan "Halo......" Kembali Luna menyapa sang penelpon , tetap saja tak ada sahutan. Luna segera mengakhiri menutup ponselnya. Hendak diletakkan , ponselnya kembali berdering . Kali ini sms yang masuk. 'Pergilah dengan selingkuhanmu, maka suamimu akan tau kebenarannya tentangmu' Luna mengernyit heran, siapa lagi? Jaman seperti ini masih ada aja orang iseng , pake sms lagi. Luna tak menggubrisnya. 1 pesan kembali masuk di ponselnya. 'Abaikan saja, kau akan menyesal jika tak percaya. Akan kubuktikan' Pesan terakhir membuat Luna bimbang, antara percaya dan tidak. 'siapa sih yang iseng kayak gini. Apa mungkin Mas Frans ya? Mencoba menggodaku' pikir Luna. Luna kembali tak menggubris isi pesan tadi. Ia tetap bersikukuh pergi berkencan dengan Frans. *** Lita menitipkan Lala pada baby sitter harian kepercayaannya. Hari ini ia fokus menjadi mata-mata bersama Kevin. Mencari bukti sebanyak-banyaknya. Lita sudah tak bisa hanya menunggu hasil, ia harus turun tangan sendiri menyelamatkan harga dirinya. Misi apakah yang akan dilakukan Lita bersama Kevin? Berhasilkah mereka memberi pelajaran untuk Luna? Jera kah Luna? Yuk ikuti terus kisahnya!!!! ****** ****** ******* Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
bagus
3d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0ดูทั้งหมด