"Jelasin aja sekarang , sejujur-jujurnya. InsyaaAllah aku gaakan marah, jangan berani bohong sama aku" suara Fathir berubah sedikit lembut. "Huuuu....huuuuu...huuuuu.... Maafin Luna Mas, maaf . Bukan maksut Luna pingin nunda atau gamau punya momongan. Tap....tapiiiii..." Luna menangis sesenggukan. "Tapi kenapa?" "Luna belum siap , Mas . Apalagi rumah juga belum jadi. Luna takut ngerepotin kalau hamil di rumah Ibu, kasihan Ibu sudah sepuh masih ngerawat Luna. Luna janji Mas, mulai sekarang Luna berhenti minum pil KB itu. Luna siap hamil sekarang Mas, sungguh maafin Luna" Luna duduk di hadapan Fathir , kedua tangannya menutup muka, air mata mengalir deras dari matanya. "Hft , sudahlah. Mas ngerti, jangan bohong lagi. Mas lebih suka kamu bilang jujur kalau emang kamu belum siap. Mas paham, udah gausah nangis. Mas maafin kamu" Fathir membantu Luna berdiri dan membawanya dalam pelukan, tangannya dengan lembut mengelus rambut dan mencium puncak kepala istrinya. "Maafin Luna ya, Mas" "Ssstttt, udah" tangan Fathir dengan gesit mengusap air mata Luna. Ada perasaan hangat mengalir dalam hati Luna, hampir sama seperti yang dirasakan bersama Frans tempo lalu. Apakah Luna sudah mulai jatuh cinta pada Fathir? *** Matahari bersinar terang, suara kicauan burung saling bersahut-sahutan. Fathir sudah siap berangkat dengan pakaian dinasnya, sedangkan sang istri masih molor di balik selimut. "Lun...Luna...." Fathir menepuk pelan pipi Luna. "Ehmmmmmm....." Luna hanya mengerang , matanya masih terpejam. "Ayo salim dulu, Mas berangkat" "Hmmm..." Luna menyerahkan tangannya menyambut tangan Fathir dan menciumnya. "Hati-hati di rumah ya. Jaga diri baik-baik, kalau perlu sesuatu hubungi Mas. Sesekali keluarlah berbaur dengan tetangga" "Ya , Mas" Luna hanya menyahut singkat. *** Setengah jam setelah Fathir berangkat, teriakan kurir kembali mengagetkan Luna yang lagi asyik bergelut dengan alam mimpi . "Permisi.....paket.....paket" suara nyaring terdengar disusul dengan suara pagar yang di getar-getarkan memekakkan telinga. "Ish, siapa sih ganggu banget" dengan malas Luna beranjak dari tempat tidurnya menuju ke depan. "Paket, Mba" kurir mengangkat kerdus kecil di hadapan Luna. Luna mengernyit heran, ia bahkan baru sehari pindah kesini. Seingatnya juga ia tak memesan barang online . Apalagi ke tujuan alamat rumah barunya. "Untuk siapa Mas?" Luna membuka pagar. Terlihat kurir membaca sekilas kerdus kecil di tangannya. "Untuk Luna, Mba. Alamatnya bener disini" "Oh ya, saya sendiri. Dari siapa ya Mas?" "Waduh Mba, mana saya tahu. Ini silahkan diterima, saya buru-buru. Dengan Mba Luna sendiri kan ya?" Luna hanya mengangguk sambil menerima paketan kerdus kecil dari Mas kurir. "Oke , saya permisi. Makasih, Mba" Mas kurir segera menancap gas meninggalkan Luna yang sedang bertanya-tanya. 'Apa mungkin Mas Fathir kasih kejutan ya?' Luna tersenyum kecil berangan-angan. Langsung saja dibukanya paketan kerdus kecil itu. Banyak sekali bungkusannya. Di dalamnya, Hanya ada kertas gulungan kecil berwarna putih . Luna segera membukanya, serentet tulisan didalamnya berhasil membuat tubuhnya menegang dan pucat seketika. 'Halo mantan pelacur, eh masih pelacur sih belum mantan. Ups ! Kira-kira suamimu sekarang tau nggak nih? Kalo kamu lonte pujaanku dulu. Pasti kamu tau dong Club T ? Gimana ya reaksi Fathir kalo tau, apalagi kalo sampe nyebar ke keluarga besar dan rekannya? Btw, berapa nih sekarang tarifnya? Boleh dong aku booking lagi kapan-kapan. Salam sayang❤️' Luna meremas surat itu dengan kuat. 'Siapa yang berani ngancem aku!' Luna membatin. Bahkan Luna sudah bersusah payah meninggalkan dunia hitam itu, menguburnya dalam-dalam. Tapi siapa orang di masa lalunya yang sekarang berani membongkar aib beberapa tahun silam. Luna penasaran dibuatnya, jujur saja ia juga takut. Jika itu bukan hanya ancaman semata, kepalanya pusing memikirkan kemungkinan yang akan terjadi bila Fathir tau semua fakta tentangnya. Luna meremas kepalanya geram. 'Sial! Aku harus bisa menemukan pelaku surat kaleng ini' *** "Assalamualaikum, halo Lit. Sudah sesuai rencana. Awal serangan berhasil" suara bariton terdengar dari ujung telfon. "Bagus! Thanks ma brohhhh" Lita tersenyum puas mengetahui misi pertamanya berhasil. 'Tunggu saja Lont* , ini belum seberapa. Aku bisa memastikan kalo kamu bakal hancur di tanganku sendiri.' guma Lita, ia menyimpan dendam yang begitu besar. Gara-gara Luna rumah tangga yang diperjuangkan hampir kandas, bahkan sudah kandas sepertinya, hanya saja Lita masih mencoba untuk bertahan demi membalaskan dendamnya. Gara-gara Luna, anak semata wayangnya tak lagi mendapatkan perlakuan hangat dan kasih sayang dari ayah kandungnya. Gara-gara Luna juga, biduk rumah tangga yang baru mulai mencapai kata harmonis harus kembali lagi menjadi hambar. Lita benar-benar akan membuat perhitungan dengan Luna, jika saja hanya ia yang tersakiti, ia tak akan sebegini dendamnya. Namun Lala, buah hati tercintanya juga merasakan luka menjadi korban . Itulah sebabnya Lita berjanji akan menghancurkan Luna hingga ke akar. *** "Eh Neng, baru ya disini? Kenalan dulu dong" Bu Neneng menyapa Luna yang sedang asyik duduk di kursi halaman rumahnya. "Oh iya, Bu. Masuk" Luna membuka pintu pagarnya. "Kenalin, aku Luna" "Panggil aja aku Bu Neneng" Luna hanya tersenyum, matanya tak lepas dari ponsel di depannya. Bu Neneng yang merasa diacuhkan berpamitan pulang. Canggung rasanya , Tuan rumah tak menyambut dengan hangat. "Eh Bu Neneng, darimana?" Sapa Tita yang berpapasan dengannya. "Dari tetangga baru, juteknya gak ketulungan" sindir Bu Neneng. "Ohya? Lagian Bu Neneng ngapain juga kesana duluan. Biarin dia dong yang ngenalin diri. Dia kan warga baru, harusnya sih tau lah ya cara memperkenalkan diri dengan baik, biar akrab juga" celoteh Tita ikutan sebal . "Udah ah yuk ke pos, dia orangnya mah gaasik" Mereka pergi beriringan menuju pos. Disana sudah duduk dengan formasi lengkap Ibu-Ibu lainnya yang sedang bersantai sambil bergosip. Tiba-tiba Luna menghampiri mereka, ikut bergabung dengan mereka. "Halo Buibu, maaf baru muncul ya. Kemarin sibuk banget ngurus pindahan. Kenalin, saya Luna istrinya Fathir" Luna melambai-lambaikan tangannya. Para Ibu hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum menyambutnya. "Kenapa pada betah disini sih? Ga takut kulitnya gosong ya?" Ujar Luna menutupi lengannya. "Kita disini udah pada kebal, udah laku udah punya anak juga. Ga peduli lagi kulit mau gosong apa ndak. Ya gak buibu?" Serempak ibu-ibu mengiyakan ucapan Bu RT. "Dih, tiati aja Bu, jaman sekarang pelakor dimana-mana lho. Serem banget!" Luna menakut-nakuti mereka. "Gowo rene sing jenenge pelakor yo! Nek gak tak uleg iku mom*k e" (Bawa sini yang namanya pelakor ya, biar saya uleg kemaluannya) Bu Harto menjawab sengit . Seketika Ibu lainnya tertawa. Luna hanya melengos kalah suara. "Heleh, yaudah aku pulang dulu. Bisa leleh aku lama-lama disini. Udah ngabisin banyak duit , sayang kalo kulitku kusam gara-gara nongkrong gajelas disini. Dah..." Luna melambaikan tangan bergegas pergi. "Dih, gayane wes koyok wong paling sugih-sugiho ayu-ayuo wae" kembali Bu Harto menatapnya sengit. "Wajar Bu, suaminya berpangkat. Pantes lagaknya sombong" Bu Mifta menengahi. "Lho, kita-kita disini ini yo banyak sing suamie berpangkat. Tapi gak sombong koyok arek iku. Arek jaman kapan" celoteh Bu Nora tak mau kalah. "Sudah sudah Buibu, eh besok kocokan di rumah siapa ya? Semoga namaku yang keluar" Tita mengalihkan pembicaraan. "Di rumahku, iyawes ndungo sing akeh . Semoga aja terkabul" balas Bu RT. Memang sebulan sekali Buibu komplek mengadakan arisan untuk mempererat silaturahmi katanya. Namun tetap saja, ujung-ujungnya ya untuk ajang gosip manjah. "Ojok lupa Bu RT, buah-buahan yang seger hehe. Pingin es buah" seperti biasa Bu Gina yang tambun ribut perihal makanan. "Sip lah, bisa diatur" Bu RT mengacungkan kedua jempolnya. *** 'Bosen banget di rumah ya, ngeMall seru kali. Tapi tanggung, Mas Fathir bentar lagi pulang' rutuk Luna kesal. 'Ah mending aku olahraga sore aja deh keliling komplek, lumayan bakar kalori' Luna segera mengganti pakaian, ia mengenakan tanktop merah dipadu celana pendek khas olahraga, kets putih dan handuk kecil menggantung di leher. Perfect! Luna keluar rumah, berlari mengelilingi komplek dan berputar di lapangan. Bapak-bapak dan sekumpulan lelaki muda yang berada di lapangan menyorot Luna dengan wajah mupeng. "Suit suit, wah siapa tuh? Baru kali ini aku lihat" Pak Totok, suami Bu Neneng menatap Luna tak berkedip . "Bening bener" Pak Asep menelan ludah dengan susah payah. Tio Cs yang sedang bermain bola ikut-ikutan menggoda Luna sambil bersiul-siul. Luna pun sepertinya bangga, menjadi pusat perhatian kaum lelaki di sekelilingnya. Dengan gaya dibuat-buat, Luna merentangkan tangannya dan bergerak ala-ala stretching. Otomatis, kaum lelaki disana tak melewatkan pemandangan indah tersebut. Mereka berkumpul dan bersatu menikmati setiap lekukan tubuh Luna yang meliuk-liuk. Tak luput dari pedagang pentol, cilok dan sempol yang berada di sekitar lapangan asyik menikmati gerak-gerik Luna . 'Ah kampungan banget mereka, nggak pernah lihat body bohay kali ya' bangga Luna dalam hati . Luna merapikan rambutnya yang basah oleh keringat, menggelengkan kepala dan mengangkat tinggi rambutnya lalu mengikatnya menjadi ekor kuda. Adegan itu memamerkan ketiak putihnya dan juga lehernya yang mulus. Luna menatap kaum lelaki di depannya dengan senyum yang menggoda. "Uhhh hot banget, rasanya naik nih syahwat" Pak Harto mulai bereaksi. "Betul Pak, Iman ini kuat, eh Imron dibawah ini lho gakuat" Pak Asep menimpali. "Huuuuuuuuuu" Seketika teriakan ricuh dari Bapak lainnya terdengar menyoraki, kompak sekali. "Tin....tin.....tinnnn" suara klakson mobil mengagetkan Luna dari aktifitasnya. Luna menoleh ke sumber suara, betapa tercengang ia melihat Fathir di balik kemudi sedang melotot ke arahnya. Mata Fathir mengisyaratkan untuk Luna segera masuk ke mobil. Luna gemetar, ia takut Fathir sejak tadi memperhatikannya. 'Duh gawat! Sejak kapan ya Mas Fathir ada disana, apa ia melihat semua aksiku tadi' 'Duh, malu aku' Luna menyesali perbuatannya. "Masuk!" Ujar Fathir memerintah. "Ii..iyaa Mas" Luna segera masuk dan duduk di samping Fathir. Terlihat raut kecewa dari semua lelaki di lapangan. Mereka kehilangan tontonan indah gratis yang memanjakan mata. ****** ******* ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
bagus
3d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0ดูทั้งหมด