Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden otomatis penthouse terasa lebih menyengat bagi Alena. Tubuhnya terasa luar biasa letih, menyisakan sensasi hangat dan debar yang belum sepenuhnya pudar dari malam tadi. Ketika ia menoleh, Arzan sudah tidak ada lagi di sampingnya. Namun, di atas nakas, sebuah buket kecil bunga mawar putih segar diletakkan di samping sebuah kotak perhiasan baru dan catatan singkat: "Nilai ujian simulasimu harus tetap sempurna, Alena. Yudha sudah menunggumu di bawah. — Mas Arzan." Alena menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Pria itu begitu dingin dan menuntut, namun detail-detail perhatian kecil seperti ini perlahan mulai menyusup ke dalam celah hatinya yang paling dalam—sebuah hal berbahaya yang seharusnya ia hindari sesuai kontrak. Dua puluh menit kemudian, Alena sudah berada di dalam mobil sedan hitam bersama Yudha. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela, mencoba memikirkan bagaimana cara menghadapi dunia nyatanya kembali: dunia sekolah, ujian, dan teman-teman sebayanya. Sesampainya di tempat penurunan biasa dekat minimarket, Alena berpamitan pada Yudha dan berjalan perlahan menuju gerbang sekolah. Suasana pagi itu tampak riuh seperti biasa. Namun, begitu ia melangkah melewati koridor kelas dua belas, langkahnya terhenti saat melihat Kevin berdiri di dekat loker, seolah memang sedang menunggunya. "Pagi, Alena," sapa Kevin dengan senyum ramah yang selalu berhasil membuat siswi lain meleleh. "P-pagi, Kevin," jawab Alena canggung, reflex mengeratkan pegangan pada tali tas sekolahnya. Kevin berjalan mendekat, matanya menatap Alena dengan binar yang berbeda dari biasanya—tatapan penuh rasa ingin tahu sekaligus kekhawatiran. "Al, kemarin sore aku lihat kamu dijemput di dekat minimarket. Mobilnya bagus banget, hitam, dan... rasanya itu bukan mobil jemputan umum atau taksi online biasa. Kamu... baik-baik saja, kan? Ibumu gimana?" Jantung Alena serasa berhenti berdetak. Ia tidak menyangka Kevin akan melihatnya kemarin. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. "Oh... itu," Alena menelan ludah, mencoba merangkai kebohongan secepat mungkin. "Itu mobil... kerabat jauh papaku yang tempo hari aku ceritain ke Dita. Mereka yang bantu biaya rumah sakit ibuku sekarang. Jadi, mereka kadang minta sopirnya buat pastiin aku pulang dengan aman." Kevin terdiam sejenak, matanya menatap dalam ke netra Alena, mencoba mencari tahu apakah gadis di depannya sedang menyembunyikan sesuatu. Kevin sudah menyukai Alena sejak kelas sepuluh karena kepolosan dan kecerdasannya. Namun hari ini, Kevin merasakan ada aura yang berbeda dari Alena. Gadis itu tampak lebih dewasa, sedikit tertutup, dan ada kilau asing di lehernya. "Kalung yang kamu pakai... bagus banget, Al," ucap Kevin pelan, menunjuk ke arah kerah seragam Alena yang sedikit longgar, menampilkan untaian rantai emas putih tipis pemberian Arzan semalam. Alena lupa melepasnya karena terburu-buru pagi tadi. Alena langsung tersentak dan dengan cepat membetulkan kerah seragamnya, menyembunyikan kalung berlian itu dari pandangan Kevin. "Ini... ini cuma barang imitasi biasa, Kev. Hadiah ulang tahun lama dari sepupuku." "Alena," Kevin melangkah satu kali lebih dekat, suaranya merendah dan terdengar tulus. "Kalau kamu ada masalah besar... atau kalau kamu terpaksa melakukan sesuatu yang berat demi pengobatan ibumu, kamu bisa cerita sama aku. Aku mungkin nggak sekaya orang-orang di mobil mewah itu, tapi aku mau bantu kamu bebas dari beban apa pun." Perkataan tulus Kevin menghantam ulu hati Alena. Di depan cowok sebaik Kevin, ia merasa seperti seorang pendosa besar. Ia ingin berteriak dan mengatakan bahwa ia sudah terjebak dalam sangkar emas seorang milyarder posesif, namun ia tidak bisa. Kontraknya dengan Arzan mutlak, dan keselamatan keluarganya bergantung pada rahasia ini. "Aku nggak apa-apa, Kevin. Makasih atas perhatiannya. Aku harus ke kelas sekarang karena sebentar lagi bel," ucap Alena dengan nada dingin yang dipaksakan. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Kevin yang terpaku di koridor. Alena tidak menyadari bahwa di ujung koridor yang lain, Dita tidak sengaja memperhatikan interaksi mereka dengan dahi berkerut, mulai merasakan ada kejanggalan besar yang sedang disembunyikan oleh sahabat baiknya itu. --- Sepanjang jam pelajaran matematika dan sejarah, pikiran Alena sama sekali tidak tertuju pada papan tulis. Kata-kata Kevin terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan rasa takut jika rahasia besarnya terbongkar. Di sampingnya, Dita berulang kali mencuri pandang. Kecurigaan Dita bukan tanpa alasan; Alena yang biasanya aktif mencatat, hari ini hanya melamun sembari memutar-mutar pulpennya. Gelagat sahabatnya itu terlalu mencurigakan. Begitu bel pulang sekolah berbunyi pukul 15.00 WIB, Alena langsung menyampirkan tasnya. "Al, kamu beneran langsung ke rumah sakit lagi?" tanya Dita sengaja memancing. "Gimana kalau aku ikut? Aku pengen jenguk Tante Widya juga. Udah lama nggak ketemu." Jantung Alena berdegup kencang. "Ah... jangan hari ini deh, Dit. Ibuku masih di ruang intensif, jam besuknya ketat banget dan dibatasi cuma buat keluarga inti. Nanti kalau udah dipindah ke kamar biasa, aku kabari kamu, ya?" Dita tersenyum, namun matanya tidak memancarkan kehangatan yang sama. "Oh, gitu ya? Ya udah deh. Hati-hati ya, Al." Alena mengangguk cepat lalu melangkah keluar kelas setengah berlari. Dita tidak langsung pulang. Dengan rasa penasaran yang membubung tinggi, ia mengukuti Alena dari jarak aman, bersembunyi di balik kerumunan siswa lain. Alena berjalan cepat menuju minimarket tempat Yudha biasanya menunggu. Namun, begitu ia sampai di area parkir, matanya terbelalak. Bukan mobil sedan hitam biasa yang ada di sana, melainkan sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengilat yang sangat mencolok—mobil utama milik Arzan Dirgantara. Beberapa siswa SMA Harapan Bangsa yang kebetulan lewat di depan minimarket tampak berbisik-bisik, mengagumi mobil super mewah yang jarang sekali terlihat di kawasan sekolah mereka. Pintu belakang mobil mewah itu terbuka. Sosok pria dengan setelan kemeja hitam formal tanpa dasi melangkah keluar. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, menampilkan garis rahang tegas yang sangat maskulin. Arzan Dirgantara berdiri di samping mobilnya, mengabaikan tatapan kagum sekaligus bingung dari orang-orang di sekitar. Mata elangnya langsung mengunci sosok Alena yang berdiri mematung di seberang jalan. Alena merasa seluruh sendinya lemas. Kenapa Mas Arzan nekat datang ke sini dengan mobil semencolok ini? pikirnya panik. Dengan langkah ragu dan kepala tertunduk dalam-dalam, Alena menyeberang jalan dan mendekati Arzan. "Mas Arzan... kenapa ke sini? Ini di dekat sekolahku," bisik Alena dengan nada panik yang tertahan ketika sudah berdiri di depan pria itu. Arzan membuka kacamata hitamnya, menatap Alena dengan senyuman tipis yang penuh kepemilikan. Ia mengulurkan tangan, mengusap pucuk kepala Alena dengan lembut di depan umum. "Aku merindukan sugar baby-ku. Dan aku kebetulan habis menghadiri pertemuan di dekat daerah ini. Masuklah." Alena tidak punya pilihan. Jika ia mendebat, perhatian orang-orang justru akan semakin tersedot pada mereka. Ia segera masuk ke dalam kabin mobil yang super mewah dan kedap suara tersebut. Arzan menyusul masuk, dan mobil itu langsung melaju membelah jalanan, meninggalkan area sekolah. Di balik tiang listrik dekat minimarket, Dita berdiri dengan tangan menutup mulutnya karena terkejut. Matanya menyaksikan dengan jelas bagaimana sahabatnya yang berpakaian seragam SMA masuk ke dalam mobil milyarder yang usianya jelas jauh di atas mereka. "Alena..." bisik Dita dengan tatapan tidak percaya sekaligus kecewa. "Jadi ini rahasia kamu? Kamu... jadi wanita simpanan?" Sementara itu, di dalam mobil, Alena masih meremas rok abu-abunya dengan tegang. Arzan yang menyadari ketakutan gadis itu langsung meraih tangan Alena, menautkan jemari mereka dengan erat. "Kenapa kau gemetar? Kau tidak suka aku jemput?" tanya Arzan, suaranya merendah, menuntut jawaban jujur. "Bukan begitu, Mas... aku hanya takut ada teman sekolahku yang melihat. Kalau mereka tahu hubungan kita, aku... aku bisa dikeluarkan dari sekolah," ucap Alena lirih, matanya mulai berkaca-kaca. Arzan menarik tubuh Alena hingga bersandar di dada bidangnya. Ia mengecup kening Alena dengan dalam. "Tidak akan ada yang berani mengeluarkanku atau mengusikmu, Alena. Selama kau berada di bawah sayapku, duniaku akan melindungimu. Tapi..." Arzan menjeda kalimatnya, tatapannya berubah menjadi dingin dan tajam. "Jika ada yang berani menyebarkan rumor buruk tentangmu di sekolah, katakan padaku. Aku akan memastikan sekolah itu rata dengan tanah dalam semalam." Alena memejamkan mata di pelukan Arzan. Perlindungan pria ini begitu absolut, namun di saat yang sama, Alena tahu badai besar akibat kecurigaan Dita dan Kevin sedang mengintai kehidupannya di sekolah. Sangkar emas ini melindunginya dari luar, tapi apakah bisa melindunginya dari kehancuran reputasi yang mulai mengancam?
lanjut
17d
0saya suka
17d
0ดูทั้งหมด