logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 4 SOROT MATA DAN BISIK-BISIK

Mobil limosin mewah Arzan berhenti tepat di lobi sebuah restoran fine dining yang telah dipesan secara privat di kawasan SCBD. Begitu pintu mobil dibuka oleh valet, jepretan kamera dari beberapa fotografer internal acara langsung menyambut mereka.
Alena mencengkeram lengan Arzan lebih erat. Sepatu hak tinggi sembilan sentimeter yang dikenakannya membuat ia harus berjalan dengan konsentrasi penuh agar tidak tersandung.
"Tenang," bisik Arzan, tangannya yang besar menepuk punggung tangan Alena yang dingin. "Kau bersamaku. Tidak ada yang berani menyentuhmu."
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam aula restoran yang megah, suasana hangat penuh obrolan bisnis mendadak sunyi sesaat. Semua mata tertuju pada pasangan yang baru datang itu. Arzan Dirgantara—milyarder yang terkenal dingin dan selalu menghadiri acara formal sendirian—malam ini membawa seorang wanita muda yang sangat asing di kalangan sosialita Jakarta.
"Arzan! Akhirnya kau datang juga," seorang pria paruh baya bertubuh tegap, salah satu rekan bisnis senior Arzan, menyapa dengan senyum lebar. Tatapannya kemudian beralih pada Alena, menelitinya dari atas ke bawah. "Dan... siapa wanita cantik di sampingmu ini? Wajah baru?"
"Ini Alena," jawab Arzan singkat dan tegas, tanpa menjelaskan status Alena lebih lanjut. Jawaban yang menggantung itu justru menciptakan aura misterius sekaligus menegaskan bahwa Alena berada di bawah perlindungannya.
"Halo, Tuan. Saya Alena," ucap Alena dengan nada selembut mungkin, mencoba mempraktikkan apa yang sempat diajarkan Madam Chloe di butik tadi.
Di sudut ruangan yang lain, sepasang mata menatap Alena dengan kilatan penuh kebencian. Wanita itu adalah Valerie (28 tahun), seorang model papan atas sekaligus putri dari salah satu taipan properti terbesar di Indonesia. Valerie telah menghabiskan waktu dua tahun mencoba mendekati Arzan, namun selalu berujung pada penolakan dingin. Melihat Arzan membawa gadis muda yang tampak polos ke acara sepenting ini membuat darahnya mendidih.
Valerie berjalan anggun mendekati mereka dengan segelas champagne di tangannya.
"Arzan, Sayang... lama tidak bertemu," sapa Valerie dengan suara yang dibuat semanja mungkin. Ia sengaja mengabaikan keberadaan Alena dan langsung mencoba menyentuh lengan Arzan, namun Arzan dengan halus menarik tubuhnya, membuat tangan Valerie menggantung di udara.
Valerie mendengus sebal, lalu mengalihkan pandangan tajamnya pada Alena. "Dan siapa ini? Arzan, jangan bilang kau sekarang beralih selera pada gadis-gadis yang... well, tampak seperti anak magang? Kulitnya terlalu bersih, riasannya terlalu polos. Kau memungutnya dari mana?"
Perkataan Valerie yang cukup keras itu membuat beberapa sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, melemparkan tatapan sinis ke arah Alena. Alena meremas gaun sutranya. Ia merasa seperti ditelanjangi di depan umum.
Namun, sebelum Alena sempat merasa semakin terpojok, Arzan melangkah maju, memposisikan tubuh tegapnya di depan Alena, menghalangi pandangan Valerie.
"Jaga bicaramu, Valerie," ucap Arzan. Suaranya sangat rendah, namun sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk merinding. "Alena adalah tamuku. Dan siapa pun yang menghinanya di depanku, berarti sedang menantang Dirgantara Group. Kau tahu betul apa yang bisa kulakukan pada bisnis properti ayahmu dalam semalam jika aku mau."
Wajah Valerie seketika memucat. Ia tahu Arzan tidak pernah menggertak sambal. Dengan menahan malu dan amarah, Valerie membalikkan badannya dan pergi meninggalkan mereka tanpa kata lagi.
Arzan berbalik menatap Alena. Ia melihat mata gadis itu sedikit berkaca-kaca karena tekanan emosional yang baru saja dialaminya.
"Kau ingin pulang?" tanya Arzan lembut, sebuah nada yang sangat jarang ia gunakan pada orang lain.
Alena mendongak, menatap mata elang Arzan yang kini memancarkan rasa protektif yang kuat. "B-boleh, Mas? Aku merasa tidak cocok berada di sini."
Arzan tersenyum tipis. Ia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu untuk Yudha. "Ayo. Jamuan ini sudah membosankan bagiku sejak awal. Kita pulang ke tempatmu."
Malam itu, di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Alena menyadari satu hal lagi tentang Arzan Dirgantara: Pria ini bukan hanya sekadar pria kaya yang membelinya, melainkan sebuah pelindung yang sangat berbahaya—yang bisa menghancurkan siapa saja yang berani mengusik miliknya.
---
Suasana di dalam mobil limosin dalam perjalanan pulang terasa jauh lebih hening, namun intensitas di antara mereka justru semakin pekat. Alena bersandar pada kursi kulit, menatap keluar jendela ke arah rintik hujan yang kembali membasahi kaca. Kalung berlian di lehernya terasa berat, seolah mengingatkannya pada harga dari perlindungan luar biasa yang baru saja diberikan Arzan di restoran tadi.
Arzan tidak bersuara sejak mereka meninggalkan tempat acara. Ia hanya duduk diam, melonggarkan dasinya dengan satu tangan, sementara matanya sesekali melirik siluet tubuh Alena yang dibalut gaun hijau zamrud itu.
Begitu lift privat mengantarkan mereka kembali ke lantai 27, pintu terbuka dan memperlihatkan penthouse yang sunyi. Alena melangkah masuk terlebih dahulu, melepas sepatu hak tingginya yang membuat kakinya lecet dan letih. Ia menghela napas lega saat telapak kaki telanjangnya menyentuh dinginnya lantai marmer.
Klek.
Suara pintu lift yang tertutup rapat di belakang mereka memicu detak jantung Alena untuk kembali berpacu cepat. Ia berbalik dan mendapati Arzan sudah berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu menanggalkan jas mahalnya, menyampirungkannya begitu saja di atas sofa, lalu berjalan perlahan mendekati Alena.
"Mas Arzan... terima kasih untuk yang di restoran tadi," bisik Alena, mencoba memecah ketegangan. "Terima kasih sudah membela saya di depan wanita itu."
Arzan berhenti tepat di depan Alena. Jarak mereka begitu mengikis hingga Alena bisa merasakan hawa hangat yang menguar dari tubuh tegap pria itu.
"Sudah kubilang, Alena," suara Arzan berat dan serak, bergema rendah di ruangan yang sepi. "Kau adalah milikku. Menghinamu sama saja dengan merendahkan seleraku, dan aku tidak pernah membiarkan siapa pun melakukannya."
Arzan mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Alena, mengangkat wajah gadis itu agar menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam. "Tapi, perlindungan di duniaku tidak ada yang gratis, Gadis Kecil. Kau tahu itu, bukan?"
Alena menelan ludah. Dinding pertahanan yang coba ia bangun sejak siang tadi di sekolah seketika runtuh di bawah tatapan intens sang milyarder. Ia mengangguk pelan, pasrah pada takdir yang sudah ia pilih sendiri. "Iya, Mas. Aku tahu."
Arzan tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sarat akan dominasi dan gairah yang tertahan. Tanpa peringatan lebih lanjut, ia merengkuh pinggang ramping Alena, menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya.
Alena terpekik kecil saat merasakan kekuatan pelukan Arzan. Sebelum ia sempat bersuara, bibir Arzan sudah kembali mengunci bibirnya. Kali ini, ciuman itu tidak selembut semalam. Ada tuntutan, rasa kepemilikan yang menggebu, dan luapan obsesi yang pekat di setiap pagutannya. Arzan menciumnya seolah ingin menegaskan bahwa di dalam sangkar emas ini, hanya dialah satu-satunya penguasa atas diri Alena.
Jemari tangan Arzan bergerak ke bagian belakang gaun sutra Alena, dengan perlahan namun pasti menurunkan ritsleting yang menahan kain hijau itu. Desir angin dingin dari AC ruangan menyentuh kulit punggung Alena yang tiba-tiba terekspos, membuat tubuhnya merinding hebat.
Arzan melepaskan pautan bibir mereka sejenak, menatap wajah Alena yang merona merah dengan napas yang terengah-engah. Di bawah pendar lampu kota yang menembus dinding kaca penthouse, Alena terlihat begitu memukau dan rapuh di saat yang bersamaan.
"Malam ini, lupakan sekolahmu, lupakan semua masalahmu," bisik Arzan tepat di depan ceruk leher Alena, sebelum kembali memberikan kecupan-kecupan dalam yang menandai kulit mulus gadis itu. "Malam ini, kau hanya milik Mas Arzan, Alena."
Dengan sisa kekuatannya, Alena mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh Arzan, menyerahkan seluruh kendali hidupnya malam itu pada pria yang telah membelinya dari lumpur kemiskinan. Di lantai 27 yang megah itu, pintu sangkar emas telah sepenuhnya mengunci, dan Alena tahu, ia tidak akan pernah bisa—atau mungkin, tidak akan pernah mau—jalan keluar lagi.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (2)

  • avatar
    SajaApa

    lanjut

    19d

      0
  • avatar
    Nevii_Chaa

    saya suka

    19d

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด