"Ada seseorang yang begitu bahagia menantikan senyum manismu, namun kau memilih untuk bermuram durja" Andromeda ~ DR. ANDRO *** "Dokter nggak kerja" Tanyaku saat melihat Dokter nyentrik itu tak kunjung berdiri dari tempat duduknya. "Kerja" Jawabnya, namun mata dan senyumnya masih lekat menatapku. "Dokter bisa enggak nggak usah senyum annoyed gitu?" Kataku lagi, kali ini aku benar-benar risih dibuatnya. Memang dasarnya baru, bukanya sadar diri Dokter Andro justru memperlebar senyumannya. "Dokter tuli apa gimana sih" Kataku merendahkan suara, aku khawatir Aroon yang tengah sibuk bermain mobil-mobilan mendengar kalimat rak baikku. "Dok!!! " Gumamku setengah merengek. "Emmm?" Gumamnya dengan sebelah alis yang ia naikan, Demi Neptunus bisa tidak dokter ini ditelan lautan saja? Hampir dua jam ia duduk disebelahku, dan hampir dua jam itu pula dia hanya terdiam sembari menatapku dengan begitu tidak tahu dirinya. Ralat! Tatapan mantanya normal dan profesional jika pasian lain kedapati menatap kami atau jika rekan kerjanya berjalan melewatinya. "Dokter Andromeda" Gumamku menekan suara agar dia mau berhenti bersikap konyol. "Kenapa sih Mei? Tadi kamu senyum sama saya manisssss banget. Sekarang kamu kembali ke mode judes lagi. Kamu sengaja membuat hati dan otaku bingung Mei?" Kata Dokter Andro sungguh tak habis fikir. Setauku seseorang yang menempuh pendidikan kedokteran, hingga menjadi seorang dokter membutuhkan otak yang cerdas dan encer tapi kenapa sangat berbanding terbalik dengan otak Dokter Nyentrik yang seolah keropong? Ditambah mulutnya yang kata orang Jawa disebut lamis, atau semacam mudah bermulut manis. Bah, memangnya dia fikir dia siapa? Tadi memangnya aku tersenyum seperti apa hingga membuat tubuhnya mendadak rusak? Aku rasa tidak seberlebihan ini. Halah.. "Sekarang bermuram durja lagi, saya heran beneran sama kamu. Di luar sana ada lelaki yang sangat bahagia melihat senyum tulus kamu, dan sekarang kamu kembali kedalam mode muram durja. Bisa tidak dihilangkan? " Kata Dokter Andro. "Siapa anda ngatur-ngatur hidup saya? Kenal baru, itupun nggak resmi lah sekarang sok-sok mau ngatur? Hahaha.. Ngaca!! " Jawabku tak suka. Meisya adalah Meisya, cewek independen yang tak sudi diatur siapapun kecuali Tuhannya. Lalu mengapa lantas ia mau di ataru Dokter nyentrik itu barang sejengkal pun? Jangan mimpi kawand!! *** "Kenapa setiap abis ke rumah sakit itu kamu selalu pulang dalam keadaan badmood? " Gumam Miss Mila heran. "Biasa Miss, di gangguin dokter kebanggaanya Tomorrow House" Timpal Miss Titik, aku yang kesal sama sekali tak tertarik untuk sekedar menanggapi. Tubuhku rasanya pegal dan lelah sekali, berbanding terbalik dengan emosi yang membara. Benar kata Miss Mila, mengapa setiap kali datang ke Tommorow House selalu membuat mood ku kacau balau? entahlah.. "Aku kedalam dulu ya Miss" Gumamku, kedua Miss hanya melihatku dengan tatapan aneh. "Kenapa jalanya kayak lemes gitu sih tu anak? badanya sampai bongkok gitu" Gumaman heran Miss Mila tak kuhiraukan. "Kalau bukan karena hantu dan dokter itu, nggak mungkin aku kayak gini" Gumamku sembari berjalan menuju meja kerjaku. Masih segar di ingatanku ketika berulang kali aku meminta dokter itu untuk kembali bekerja, bukanya beranjak dia justru semakin melebarkan senyuman annoyed nya. Rasa-rasanya melihatku marah justru semakin membuatnya bahagia. Aku yang kesal sontak saja menarik rambutnya keras, tentu aku memanfaatkan kesempatan ini mana kalau Aroon muridku itu sedang di panggil dokter untuk melakukan Check-up. Aku sama sekali tak peduli dengan rintihan kesakitan dokter nyentrik itu. "Ada masalah Mei? " Titik datang menginterupsi, menyodorkan ku segelas teh manis hangat dan cemilan berupa kripik singkong yang entahlah ia beli dimana. "Ada, dokter nyebelin itu" Kataku tak kuasa untuk menahan lebih lama hujatan dan makian untuk dokter nyentrik itu. "Masa ya, Miss Titik tau sendiri kan kalau aku Indihome? Nah tadi aku di rumah sakit ngeliat lagi hantu yang pernah aku ceritain, hantu wanita bank itu masih inget?" Tanyaki mulai mengawali sebuah cerita dengan berapi-api. Titik hanya mengangguk sebagai jawaban sekaligus penekanan agar aku kembali melanjutkan ceritaku. "Hantu itu datang, Aroon yang liat awalnya. Kemarin hati itu tidak berwajah semenyeramkan ini tapi kali ini berbeda. Wanita itu terlihat sungguh menyeramkan dan aku terganggu. Tiba-tiba dokter Andro datang membawakanku sekaleng minuman isotonic. Aku yang sedang ketakutan merasa sangaaat bahagia melihat kedatangan dokter Andro. Aku senyum dong, eh ternyata dia salah paham. Mungkin dikiranya aku naksir kali ya sama dia? padahal mah enggak, gimana sih jelasinnya" Kataku mulai kesulitan menemukan kata yang tepat sementara Titik masih setia mendengarkan seluruh ceritaku. "Intinya aku senyum sama dia bukan karena naksir, semacam rasa bahagia karena di tolong. Kehadirannya membuatku merasa tertolong. Hantu itu hilang dan aku merasa sangat lega dan bahagia. Wajar dong aku senyum kedia, senyum bener-bener senyum sebahagia itu" Kataku menjelaskan. "Senyum tulus sama orang yang selalu kamu jutekin, wajar sih kalau sampai membuat orang itu salah sangka" Celetuk Titik, aku cemberut mendengarnya. "Ya bukan salahku dong? memangnya aku bertanggung jawab atas perasaan seseorang terhadapku? aku nggak sanggup bertangguh jawab atas segala hal yang berada diluar kendaliku" Aku berkata, Miss Titik mengangguk memahami. "Aku sadar senyumku tadi bisa menimbulkan salah paham dokter nyentrik sok kegantengan itu.. " "Tapi emang ganteng sih Mei" Celetuk Titik, ia terkekeh melihat gayaku yang seolah-olah ingin muntah. "Tunggu! Jangan dipotong nanti aku lupa mau bilang apa." Kataku dan tepat, aku lupa tadi aku mau bilang apa. "... Yah.. tadi aku mau bilang apa? yahhhh kannn lupa beneran.. Aaaahhhh Miss Titik, aku lupaa nih" Rengekku benar-benar melupakan kalimat apa yang tadi ingin aku sampai kan. "Dasar pikun, ke district dikit Otewe lupa deh. Dah, yuk siapin materi untuk besok. Ngomong-ngomong tadi kamu dicariin Lili." Kata Titik menyampaikan, aku yang tengah meminum teh menoleh. "Ehmm? kenapa? " Tanyaku sembari meletakan gelas teh yang langsung tandas isinya. Titik sontak menatapku horor "Hehehe.. haus mbak" Belaku. "Astaga! Kagak abis naik haji. Dia nyariin kamu, sempet ngambek tapi Miss Mila bisa ngehandle dan akhirnya Lili mulai diajari untuk berbaur." Kata Titik, ia lalu menghabiskan segelas tehnya dan beranjak menuju kelas. "Aku nyicil materinya ya, nanti kalau kamu udah selesai nyusul ya" "Syap Miss" *** Bagiku, Happiness Kindergarten adalah salah satu tempat kerja yang mampu membuatku lupa dengan dunia. Lupa dengan rasa sakit yang kurasa dan lupa dengan segala jenis beban yang ku bawa. Happiness Kindergarten merupakan satu-satunya tempat kerja sekaligus menjadi tempat healing paling ampuh sedunia. Entah sejak kapan aku jatuh cinta dengan anak-anak, tapi sepertinya itu jauh lebih baik sebab hanya bersama dengan anak-anak aku merasa jauh lebih hidup. Bersama anak-anak duniaku terasa jauh lebih berwarna, bersama anak-anak hari-hariki terasa tak pernah sama. Ya, mungkin hanya anak-anak lah yang mampu menjadi pelipur laraku. "Jangan melamun Meisya, sudah magrib ayo pulang" Asoka datang mengagetkan lamunanku. Ia menatap sekeliling ruangan Happiness Kindergarten lalu menggelengkan kepalanya. "Rajinnya kamu" Gumamnya mendapati tak ada satu guru pun kecuali aku di Sekolah ini. "Ayo pulang" Katanya lagi, aku yang sedang menggunting kertas origami meliriknua sekilas dan mengabaikannya. "Gak usah pura-pura gak denger, nggak ada loh yang baiknya kayak aku" Katanya membanggakan diri sendiri. "Hantu dengan tingkat kepercayaan diri yang begitu besar, aku jujur kesel sama kamu Ka. Kalau bukan karena kamu yang nemenin aku sejak lahir, mungkin aku nggak akan liat hantu-hantu menyeramkan itu" Gumamku menumpahkan seluruh kekesalanku. "Ya.. ya.. ya.. Udah ribuan kali kami bilang ini. Dan udah ribuan kali juga di saat aku nggak ada kamu mewek kayak tadi" Katanya menyilangkan kedua tanganya didada. "Like Father like daughter" Gumam Asoka sontak membuat tanganku terkena gunting. "Aww.. " Ringisku, Asoka menoleh dan segera datang membantuku. "Maaf, lupa" Katanya seolah menyadari betapa aku sangat membenci kedua orang tuaku. "Mei.. kamu nggak apa-apa? " Tanya Asoka khawatir. Bukanya menjawab, aku justru menangis dalam pelukan hantu yang sejak kecil mampu ku sentuh keberadaannya. "Mei.. " Gumam Asoka sembari membelai rambutku sayang, aku semakin menangis dibuatnya. Adilkah ini Tuhan? Apa ini tujuanMu mengirimkan sosok Asoka? Aku hanya merasa dialah yang selama ini menyayangiku dengan tulus, sedangkan kedua orang tuaku? Aku tidak peduli, Lagi-lagi hanua inilah yang mampu kukatakan. *** Bersambung..
bagus bangettt sukaaa
25d
0mantap
10/09
0suka bangettts
09/08
0ดูทั้งหมด