"Bukan jarum suntik yang nyakitin, ekspetasi dirimu lah yang menyakitkmu" Andromeda ~ DR. ANDRO *** Mataku terpaku pada barisan bintang yang tertata rapi di angkasa. Bibirku melengkung keatas, mungkin sekedar ingin mengapresiasi kepatuhan Bintang-bintang disana. Setidaknya bintang-bintang di angkasa jauh lebih baiklah daripada aku. Aku cukup sadar diri jika kedatanganku kedunia ini bukanlah anugrah, kedatanganku tidak diharapkan oleh kedua orang tua yang tak pernah kurasakan kehadirannya. Itulah mengapa tadi aku bilang, jika bintang jauh lebih baik dariku. Mengapa? ya karena bintang sangat nurut diatur oleh semesta harus begini dan begitu sedangkan aku tidak! Meisya selalu menjadi Meisya, tak peduli apapun bahkan Aku juga tak peduli seberapa lantangnya Mamaku meneriaki namaku. "Meisya makan!!" Begitulah kitanya Mama menyuruhku, kendati demikian aku tidak pantas bergerak untuk makan. Aku tidak lapar. "Tidur Meisya sudah malam, besok kamu harus kembali bekerja bukan?" Itu suara Asoka. Aku cemberut, bukan ini yang aku harapkan. "Iya, sebentar lagi" Gumamku, aku tidak tahu bagaimana raut wajah Asoka tapi aku bisa menebaknya jika ia tentulah kecewa. Ini bukan kali pertama aku mengabaikan kata-katanya. Aku kecewa karena setan jauh lebih manusia daripada manusia, Setan jauh lebih perhatian padaku dari pada Mamaku sendiri. Seharusnya aku mengerti jika Mama bekerja keras juga demi menghidupkan bukan? namun aku terlalu lelah untuk peduli. Aku juga butuh di sayang Ma, aku butuh Mama! Tanpa sadar, sepertinya aku kembali menangis semalaman dan terbangun dalam keadaan mata bengkak dan sembab. "Ya Tuhan, aku lupa!!! Hari ini ada janji menemani pengasuh Aroon ke Rumah sakit. Marilah aku!" Teriaku didepan meja riasku. ** Aku berjalan tak khusus disepanjang pelatar rumah sakit, mataku yang bengkak terus saja menghantui dan mengganggu pagi yang enggak cerah. Outfil kebanggaanku, roksepan dan blouse coklat dengan jas warna senada nampak tak nyaman cemberut menatap mataku yang tak biasa. "Seharusnya aku cantik hari ini tapi karena mataku bengkak, aku jadi kelihatan jelek" Gerutuku dengan cermin kebanggan yang selalu kubawa kemanapun. "Udah pakai Conseller tapi masih aja kelihatan bengkaknya, ohh Tuhan andai semalam petir tidak mencambuk langit tentu badai tak akan pernah mengunjungi bumi" Gumamku kesal. "Tanpa badai, pelangi tidak mungkin muncul didepan mata ku hari ini bukan?" Suara tengil itu lagi. Aku beralih fokus menatap sumber suara yang sudah sangat kuhafal milik siapa! "Dokter Andro!! Hehehe, selamat pagi" Gumamku penuh nada sarkasme namun harus dipaksakan tersenyum ramah. "Bu Guru Meisya" Balas Dokter nyentrik sok cakep itu, hari ini ia terlihat mengenakan seragam kebanggan dokternya. Celana linen berwarna coksu serta kacamata bulat yang aku yakini 100 persen itu bukan kacamata minus. "Terpesona?" Kata Dokter Andro sontak membuat tanganku mendarah indah dikepalanya. "Oops.. maaf! Nggak sengaja" Gumamku seolah-olah tak sengaja, padahal 100% aku sangat sengaja. "Jangankan kepala, hati saya aja udah dari bu Mei-mei tampar saya biasa aja kok Bu. Justru semakin membuat hati saya cekut-cekut" Gumamku Dokter Andro, seketika makanan yang baru saja kutelan beberapa jam lalu memberontak ingin dikeluarkan. "Pengen bilang Na-ji-s deh Dok" Bisiku tepat ditelinga Dokter Andro, sebelumnya aku hanya mencoba menggertak dokter andro dengan bisikan sarkasme namun tanpa kusadari justru perbuatan ku ini dapat menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Dokter Andro menahan tubuhku disana, kedua tangan kanannya menahan pinggangku agar tak bergerak seincipun. Matanya mengunci tatapan mataku agar tak beralih dari tatapan matanya sementara senyumnya mengembang, seolah ia sengaja menambah ekstra gula agar semakin terlihat manis dan menawan. Aroma kopi juga nampak menguar dari celah pori-pori tubuhnya seolah ia mampu menebak dan membaca otaku. Menebak jika aku tentulah menyukai aromanya hari ini dan membaca jika seorang Meisya merupakan seorang pecinta kopi sejati. "Apa kamu sudah cukup terpesona padaku Bu Guru Meisya?" Bisik Dokter Andro, deru nafas hangatnya membelai lembut gendang telingaku. Mengantarkanku pada sensasi aneh yang rupanya membuat gelegar aneh dihatiku. "Gak!! " Gumamku keras, aku menginjak kakinya keras. Ia terkejut hingga tanpa sadar melepaskan pelukanya, seharusnya aku bahagia bukan gelisah. "Permisi" Kataku segera berlalu meninggalkan Dokter Nyentrik yang saat ini tengah mengaduh kesakitan. "Awww... setidaknya kamu minta maaf dulu Mei" Balasnya namun tak kuhiraukan. Aku tidak salah dan aku tidak sudi minta maaf, jika ada yang harus minta maaf maka dialah orangnya bukan aku. *** "Kenapa sih Mei? Kayak liat setan aja" Bisik Titik yang ternyata telah lebih dulu datang menemani Aroon, wajahnya terheran melihatku yang nampak setengah berlari kearahnya. Aku mengatur nafas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Miss Titik "Bukan!" Kataku menggeleng "Aku tiap hari ketemu setan dan nggak takut, tapi ini beda. Hari ini seperti aku sedang membuat dewa ketenangan marah sehingga mengirimkan anak iblis datang mengganggu ketenangan jantungku" Jawabku hiperbolis. Bukanya puas dengan jawabanku, Miss titik justru terkekeh seolah mengetahui siapa sosok yang ku maksud. "Dibilangin Hati-hati, eh lama-lama malah makai hati. Meisya- Meisya" Gumam Titik tak habis Fikir. "Miss Titik kayaknya salah paham deh" Gumamku, aku akhirnya lebih memilih duduk didekat Aroon mengajaknya ngobrol dan bermain ketimbang meladeni ledekan Titik yang seolah tak kunjung habis. "10 menit lagi aku harus kembali kesekolah, minta tolong kamu yang ngawasin Aroon ya. Dokter Check-up nya masih sedikit lama." Kata Titik sembari menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan Aroon. Aku mengangguk menerimanya. Setelah kepergian Titik, pengasuh Aroon berpamitan sebentar untuk membelikan Aroon kudapan. "Miss Mei-mei" Gumam Aroon sembari berbisik ditelingaku. Aku menoleh seraya merendahkan tubuhku agar dapat sejajar dengan ukuran tubuh Aroon. "Iya? " Tanyaki, Aroon lalu kembali mendekatkan mulutnya ketelingaku. "Dari tadi, wanita melayang itu mengikuti miss Mei-mei" Kata Aroon sembari menoleh pada sosok perempuan yang pernah kutemui menangis didalam kamar mandi. Aku menoleh, melihat sosok perempuan berseragam itu dengan tatapan penuh tanda tanya? "Emm.. tidak apa-ala sayang, dia baik kok! " Gumamku penuh dengan kepercayaan durian kendari hatiku juga merasa sama resahnya dengan Aroon. Aku penasaran, namun untuk hari ini aku sedang tak berwncana untuk membuka komunikasi dengan sosok manapun bahkan Asoka termasuk didalamnya. Aku memejamkan mata sembari merapalkan doa-doa yang kupelajari sewaktu kecil. Tuhan, jujur saja aku terganggu dengan Anugrah ini namun aku bisa apa Tuhan? Mungkin seperti inilah rasanya jadi Mama yang terganggu dengan kelahiran ku. "Minum dulu" Entah mengapa hatiku terasa sangat bahagia melihat keberadaan orang yang beberapa jam lalu sangat kuhindari. Aku menoleh dan tersenyum menemukan kehadirannya. "Makasih banyak dok" Kataku tiba-tiba, mungkin terlalu tiba-tiba hingga membuat dokter Andeo membeku beberapa saat. Aroon menatap kami cukup dalam sebelum akhirnya ia berbisik lagi "Sekarang wanita melayang itu telah pergi" Aku lega, hingga tak sadar meneteskan airmata. "Hei kenapa? ada apa?" Gumamnya Panik.
bagus bangettt sukaaa
27d
0mantap
10/09
0suka bangettts
09/08
0ดูทั้งหมด