logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 5 Dislike

"Manusia punya cara sendiri untuk healing, 1001 kata motifasi tidak akan berguna jika jiwa tak kunjung kau buka"
Meisya ~ DR. ANDRO
***
Author POV:
Meisya tertawa bersama Lili dan anak-anak yang lainya. Sembari menunggu jemputan pulang anak-anak di ajak Meisya untuk menyaksikan pertunjukan boneka Jari.
Meisya yang terlalu asyik bercerita tak menyadari jika di depan pintu telah berdiri Andro yang terpana menyaksikan bagaimana Meisya mampu bersikap begitu manis pada anak-anak namun selalu garang terhadap dirinya.
Tanpa Meisya ketahui, Andro sudah menaruh kekaguman pada sosok wanita galak satu ini.
"Iri, jadi pengen jadi bocil juga biar bisa disenyumin tu cewek" Gumam Andro sembari terkekeh. Beruntung masing-masing Guru tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing sehingga apa yang ia katakan barusan tak ada yang mendengar.
"Kancill... ayo ikut aku! Kata Kelinci yang tengah mencoba menarik kancil dari dalam hutan" Kata Meisya sembari berperan sebagai tokoh dan narator.
Andro terkekeh mendengar suara melengking Meisya saat berperan sebagai kelinci.
"Kangcil Awasss!!! Disana berbahaya" Kata Meisya lagi, Seolah tersihir dengan segala tingkah lucu Meisya tanpa sadar Andro tertawa terlalu kencang hingga membuat pertunjukan boneka itu segera dihentikan oleh Meisya.
Sungguh Meisya malu setengah mati melihat kedatangan Andro, apalagi Meisya melihat Andro yang tertawa terbahak.
"Dia pasti mau ngejek aku lagi, sialan banget sih kepergok dia mulu" Gumam Meisya seketika moodnya hilang.
"Lili di jemput Om Andro, ayok Lili siap-siap dulu" Miss Mila dengan ramah mengajak Lili untuk mempersiapkan perlengkapannya sementara aku yang harus profesional kembali melanjutkan dongeng.
"Om... " Teriak Lili kegirangan, ia berlari dan memeluk Andro. Sejenak Andro menurunkan badanya agar dapat sejajar dengan Lili keponakannya.
"Princess" Kata Andro, merentangkan tangan memeluk Lili. Diciuminya rambut Lili sayang.
"Miss Mei-mei, Lili pulang dulu ya" Pamit Lili, Meisya tersenyum seraya mengangguk.
***
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah hiruk piruknya jalanan kota Jogjakarta.
Tangan kanan Andro menyetir sementara tangan kirinya bergerak merapikan anak rambut Lili yang menjuntai menutupi wajah imutnya. Andro menoleh melihat Lili yang tengah terlelap.
Andro tersenyum sembari menatap sosok kecil yang begitu mirip dengan mendiang kakak perempuan yang pernah sangat ia cintai.
"Cantiknya kayak kamu kak" Gumam Andro menatap senja yang kini nampak malu-malu menyapa langit sore.
"Guru galak itu hebat banget ya bisa naklukin gadis es kayak Lili" Kata Andro bermonolog, ia tak habis fikir mengapa justru otaknya mengajak hati dan mulutnya untuk melafalkan kalimat tersebut.
Bukankah ia tengah mengingat sosok perempuan lain, bukankah ia tengah mengingat Jingga? kakak yang paling ia sayang namun mengapa kini hati dan otaknya berubah haluan?
"Guru galak itu?" Gumam Andro sembari mengingat dua hari yang lalu.
Kelak UGD akan bersaksi bagaimana mata Andro tak dapat lepas dari pesona seorang guru TK yang mencoba tenang meskipun muridnya kepalanya setengah bocor.
Tetap tersenyum meskipun 100% Andro yakin ia sangat kelelahan menggendong dan menenangkan seorang anak laki-laki dengan irama tangis tak berujung.
Andro merutuki matanya sebab ia begitu lancang menatap tawa lepas Guru galak itu. Anehnya, dalam waktu super singkat Guru yang ia ketahui bernama Meisya itu membungkam mulutnya rapat saat beraitatap dengan Andro.
"Jelas-jelas aku udah sangat bersikap ramah, tapi Bu Guru galak itu nggak mau senyum Li sama Om Andro. Kenapa ya?" Gumam Andro sekilas melirik Lili.
Andro yakin, tatapan mata Guru galak itu telah diberi ramuan sihir ajaib yang mampu membuat matanya tak dapat beralih menatap yang lain.
Andro yakin, Meisya telah memberinya racun bernama "Cinta" yang kini bersarang jauh di lubuk hatinya.
Bagaimana pun juga, Andro yakin jika Meisya adalah salah satu jenis Alien yang sengaja di turunkan Tuhan ke Bumi untuk menarik hatinya yang telah lama terbenam di dasar danau Toba.
Andro yakin, Meisya bukan manusia sebab jika manusia matanya pasti tidak akan sebegiu menggebunya ingin segera bertemu menatap mata galak itu lagi.
"Besok ambil shift pagi ah, eh tapi anak didik Guru galak itu udah pulang tadi siang. Cari alasan apa ya?" Gumam Andro, otaknya sibuk mengayuh pedal sepeda supaya dapat menyalakan ide cahaya sehingga ia dapat secepatnya menemukan solusi untuk bertemu Guru galak itu lagi.
"Tanpa kehilangan wibawa tentunya" Gumam Andro.
"Anter jemput Lili kayaknya bisa jadi solusi deh" Gumam Andro, ia tersenyum bangga terhadap ide cerdasnya barusan.
***
"Mei, Dokter Andro kayaknya tertarik deh sama kamu. Masa tadi pas kamu lagi main boneka tangan Dokter Andro ngeliatin kamu kayak ngeliatin berlian. Nyengir aja gitu giginya sampai aku khawatir bakalan mengering karena saking lamanya nyengir" Gumam Titik, tanpa siapapun sadari rupanya Titik menangkap tingkah konyol Andro.
Meisya yang tengah menyusun media pembelajaran untuk hari esok tak terlalu nampak menghiraukan Titik.
"Masa sih, salah kali" Jawab Meisya tak terlihat tertarik. Tanganya kini sibuk meraih gunting dan kertas yang berisi warna-warna buah-buahan.
"Besok tema kita buah ini aja? buah-buahan Indonesia kan banyak banget tu Miss, nggak mau di eksplorasi gitu? sekalian ngenalin ke anak?" Gumam Meisya mencoba mengalihkan topik. Jujur ia dongkol dan malu secara bersamaan mendengar kata "Andro" rasanya Meisya ingin membenamkan wajahnya pada gelapnya Tartarus.
Di tertawakan Dokter nyentrik tadi sore bukanlah hal menarik yang Meisya harapkan.
Rasanya ia ingin menghujat ruang UGD itu, jika bisa mengulang waktu ia ingin bertukar tempat dengan Miss Mila.
Sungguh ia tak ingin bertemu dengan dokter rese itu. "Sialan!!! " Gumam Meisya keceplosan.
"Husst.. Bicaranya loh" Tegur Titik. Meisya nyengir dibuatnya.
"Kesel aja inget di UGD kemarin, kesel dek pokoknya" Gumam Meisya ya g justru di tanggapi dengan gelak tawa Miss Titik.
"Lah malah ketawa, apanya coba yang di tertawakan?" Kesal Meisya, Miss Titik justru tertawa semakin keras dibuatnya.
"Yang paling keras Amit-amitnya kemarin biasanya yang paling sering di Aminin sama Tuhan jodohnya loh Mei" Titik tertawa, matanya seolah menelanjangi otak Meisya yang terlihat transparan.
"Miss Titik ih, nggak seru ah" Guman Meisya, gila apa jika Tuhan benar mengaminkan doa Sahabat tidak ada akhlaknya ini.
"Mei motongnya pakai hati jangan pakai tenaga ih, ini bunganya jadi nggak lurus sesuai garis motongnya" Tegur Ika, ia berubah serius ketika mendapati pekerjaan Meisya yang tak berjalan dengan baik.
"Ehh.. Miss, maafkan saya" Tutur Meisya melihat Miss Titik masuk dalam mode profesional.
"Mei, serius Mei" Gumam Titik. "Saya juga minta maaf udah ngajak bercanda, tapi untuk satu ini tolong serius. Ini besok kita temanya buah-buahan di sekitar anak. Ini mubazir juga miss kalau kertasnya motongnya gini. Jadi kebuang" Gumam Titik sembari meninjau kembali hasil kerja Meisya.
"Eh.. em.. iya Miss, maaf ya miss" Kataku tulus, Miss titik mengangguk. Setelah selesai menyiapkan pembelajaran untuk esok hari Meisya dan Titik memutuskan untuk pulang ke tempat masing-masing.
Sekolah yang terletak di jantung kota membuat jarak Meisya dan Titik terbilang cukup dekat.
"Jangan lupa nanti di kunci yang Miss Mei, kata Titik. Aku mengangguk sembari kembali masuk dalam TK dan menunggu jam magrib.
Badanku seketika terasa dingin, sedangkan bahu kananku terasa cukup berat.
" Ah pantes saja Meisya merasakan tak enak badan"
***
Bersambung ..

หนังสือแสดงความคิดเห็น (49)

  • avatar
    SamsunAndi

    bagus bangettt sukaaa

    27d

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด