logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 4 Dokter Nyentrik Itu?

"Mulutmu Harimau mu, adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan ketololan otak yang tercekoki gengsi"
Meisya ~ DR. ANDRO
**
Menjadi manusia dengan mulut sembrono sungguh sangatlah mudah. Lihat saja, hari ini aku sudah bertemu dengan dokter nyentrik ini entah untuk yang keberapa kalinya.
Kedatanganya sungguh seperti setan saja, bahkan sejenis Asoka insecure dengan keberadaanya lihat saja setiap kali Dokter Andro hadir wanita itu pasti tak terlihat batang hidungnya.
"Jadi, apakah saya senajis itu Miss Meisya" Katanya, senyum tengil yang kulihat pagi tadi telah kenyamanan digantikan dengan tatapan mata sedingin Es balok yang pernah melukai tanganku.
"Em.. Mohon maaf atas atas kelancangan mulut saya Pak Andro, saya hanya bercanda" Kataku meminta maaf, saat ini aku tengah menyandang status guru akan sangat tidak sopan jika aku mengeluarkan sifat bar-barku bukan?
Dalam pengertian orang Jawa, Guru adalah orang yang sepantasnya digugu kan di tiru. Maksudnya ialah sudah sewajarnya guru mampu menjadi sosok suri taulan bagi peserta didiknya.
Segala tindak-tanduk guru harus sejalan dan selaras dengan apa yang ia ajarkan. Tidak lucu bukan jika disekolah guru mengajarkan nilai-nilai moral namun pribadinya tak bermoral?
"Miss Meisya" Tegur Dokter Andro.
"Ah iya? " Kataku terkejut.
"Anda mengapa suka sekali menggeleng-gelengkan kepala? Miss Meisya! " Tegurnya, makin kaulah tubuhku.
Entah mengapa aku tidak suka mendengar nada suara Dokter Andro terkesan dingin, sungguh aku lebih baik mendengarkan suara narsisnya daripada suara dinginnya.
Aku tidak suka.
Suaranya mirip seperti Ayah, suaranya mengingatkan aku pada kilas balik masa lalu ayah.
"Saya minta maaf dokter Andro, ehmm maksud saya Pak Andro. Saya tidak bermaksud menyakiti hati anda dengan kalimat tajam saja." Kataku, dia terlihat kembali duduk.
"Mohon maaf, ada keperluan apa ya sehingga dokter Andro bisa berada di sini? Ada yang bisa saya bantu? "Tanyaku sopan, belum sempat ia menjawab seorang wanita paruh baya menghampiri Dokter Andro.
" Udah mah?" Ujar dokter Andri sembari berdiri dari tempat duduknya. Aku refleksi ikut berdiri, membungkukkan diri dan tersenyum menyapa Wanita paruh baya yang baru saja di panggil Mah.
Aku asumsikan ia adalah ibu dari Dokter Andro.
"Udah, Lili nggak mau di tinggal" Kata Wanita itu.
Wanita itu menoleh menatapku, senyumnya ramah membalasku. Tatapan matanya setelah pohon randu.
"Anda?" Tanya Beliau penuh makna.
"Saya Meisya, guru TK B di Happiness Kindergarten Ibu" Jawabku sembari mengulurkan tangan kanan.
"Owalah, saya pikir Pacar Andro, saya Nara. Keynara ibunda Andromeda" Katanya menjabat uluran tanganku.
"Ah.. Salam kenal Bu Nara, senang bisa bertemu dengan Anda"
"Saya juga, Ayo nak. Nak Mei, Ibu permisi dulu masih ada keperluan. Nitip Lili cucu saya ya" Kata beliau ramah sangat berbeda jauh dengan putranya.
"Jangan melamun, kalau ngelakuin saya boleh deh" Bisik Dokter Andro sebelum ia berlalu pergi.
"Andro!! " Tegur Bu Nara,
"Iya Mah" Jawab Dokter Andro nurut, aku tertawa menyaksikan dokter Andro yang terlihat pasrah di jitak Bu Nara.
"Jangan godain anak orang, kebiasaan" Samar telingaku menangkap suara Bu Nara memarahi Dokter Andro.
"Sukurin!! " Gumamku merasa bahagia melihat Dokter Andro pasrah dibawah petuaj sang ibu.
***
Kedatangan dokter Andro tadi rupanya untuk mengantar Bu Nara menitipkan Lili, cucunya yang mulai saat ini sedang menjalani masa trials guna melihat apakah ia mampu beradaptasi dengan suasana baru Happiness kindergarten. Sebelum akhirnya ia benar-benar bergabung menjadi murid tetap disini atau hanya menjadi murid non tetap kami.
Menurut Miss Mila, kedua orang tua Lili tengah berlulang ke rumah Tuhan. Saat ini ia di asuk oleh kakek nenek dari pihak perempuan.
"Lili sayang, yuk ikut bermain sama temen-temen" Kataku mencoba mengajak Lili yang masih pasif dalam bersosialisasi.
Lili tak merespon, sedari kedatanganya tadi pagi hingga siang ini dia masih bersikap seperti ini.
Diam, tak banyak bicara, tak banyak gerak.
Tatapanya kosong dan sendu.
"Lili sayang, Miss mei-mei punya sesuatu untuk Lili. Coba mana tangan Lili, hayuk buka sayang" Kataku sembari mengajak anak ini berkomunikasi.
Ia diam, tak merespon.
Aku menoleh, menatap Miss Titik yang tengah menatap kami di sudut ruang kelas. Aku menggelengkan kepala mengisyaratkan kalimat tersirat.
"Belum bisa dideketin, gimana dong?" Tanyaku pada Titik.
Titik kemudian berjalan menghampiri kami "Hallo Lili, Miss Titik pengen tau dong Lili suka main apa dirumah" Kata titik berupaya mengajak ngobrol Lili namun lagi-lagi Lili hanya bungkam.
"Mei, tolong ya. Aku jagain anak yang lain, kamu ajak dia komunikasi dulu. okayy? "
"Okay"
**
Satu jam berlalu terasa sangat lambat, aku masih duduk ditempat yang sama. Menemani Lili yang masih diam ditempatnya.
Gadis kecil bertubuh gempal dengan rambut hitam keriting panjang sepunggung, nampak asyik dengan Keterdiamannya.
Gadis ini seperti mengingatkan aku pada masa kecilku, aku dulu pernah bersikap seperti ini.
Aku melakukan aksi bungkam saat Ibuki memutuskan pindah dari rumah lama kami menuju rumah baru suaminya. Aku yang susah menyesuaikan tempat tak mampu berkata-kata, yang ku inginkan hanya menangis waktu itu namun aku terlalu takut menangis. Mama galak, akan sangat tidak tepat jika aku menangis waktu itu.
Jadilah aku memilih bungkam.
"Lili sayang, Miss Mei-mei boleh meluk kamu nak? " Tanya ku meminta ijin, diluar dugaanku gadis cilik ini berhambur dan memelukku erat.
"Boleh nangis dulu sayang, Miss mei-mei disini" Ucapku sembari mengusap-usap punggung Lili.
Benar seperti dugaanku, anak itu sedari tadi rupanya menahan isah tangis.
"Hua... Hua... Mami.. Hua.. Lili mau ikut mami" Katanya kencang.
Beberapa Guru yang ada di luar datang menghampiri kami, namun belum sempat mendekat Miss Mila datang menghentikan mereka.
"Biarkan Miss Meisya menenangkan dulu, beri ruang untuk mereka" Kata Miss Mila, pengalamanya belasan tahun dalam mendidik anak membuatnya tahu situasi dan kondisi yang sedang anak hadapi.
Aku menatap teman-teman guru tersenyum meyakinkan mereka bahwa kami baik-baik saja.
"Hua..!!!" Tangis Lili sembari mengeratkan pelukan yang di leherku.
"Miss Mei ada disini untuk Lili, di luar juga ada Miss-Miss yang lain. Jangan khawatir ya sayang" Gumamku.
"Kangen Mami, Lili mau ketemu Mami. Lili mau ketemu Papi. Lili kangen mereka" Rancaunya semakin kencang menangis.
Aku menunggu Lili menangis, membiarkan ia menuangkan segala isi hatinya.
"Kenapa Mami sama papi ninggalin Lili, mereka nggak sayang ya sama Lili?" Tanya gadis itu sembari mengurai pelukannya.
"Sayang, Mami sama Papi sayang banget sama Lili" Kataku sembari mengelap air mata Lili. Pipi chubby nya basah penuh dengan lelehan air mata.
"Papi sama Mami Lili, saaaaayaaaangg banget sama Lili. Mereka pergi karena memang tugas mereka sudah cukup sampai disini, suatu saat nanti Lili pasti mengerti apa yang Miss Meisya Katakan.
Lili sayang sama Mami?" Tanyaku, gadis berambut keriting ini mengangguk.
"Lili sayang sama Papi?" Ia mengangguk lagi.
"Sebesar apa coba? Miss Mei mau tau dong" Kataku dengan kalimat dan bahasa jenaka.
Gadis keriting ini kalau mengurai pelukanya dan mulai membuat bola lingkaran raksasa dengan kedua tangannya.
"Sebesar ini, sebesar ini, sebesar ini" Katanya membuat gelembung-gelembung raksasa. Aku tersenyum, Aku pun berdiri dan membuat gelembung-gelembung raksasa.
"Mami sama Papi juga sayangnya sebar ini" Kataku sembari menirukan gaya Lili dalam membuat gelembung.
"Sebesar ini, dan sebesar ini" Kata ku menuangkan kalimat positif bernada jenaka.
Lili menatapku, ia terlihat memandangiku hingga tanpa sadar aku mendengar suara cacing yang berbunyi dari perut Lili.
"Owwhhh... Ada suara apa itu?" Tanyaku pada udara hampa. Lili menekan perutnya agar tidak menimbulkan suara keras lagi.
Tangan kananku ketempelkan pada telinga kananku, sementara tangan kiri berpura-pura memegang kaca pembesar.
"Owwww... Tadi sepertinya Miss mei-mei mendengar suara sesuatu. Suara apa itu?" Tanyaku, Lili kembali menekan perutnya yang berbunyi semakin keras.
"Ow... Sepertinya Miss mei-mei kembali mendengar suara lagi. Suara perut lapar?" Kataku masih dengan nada jenaka. Lili mulai menunjukkan ekspresi malu, ia lalu tertawa.
"Hihihi.. perut Lili bunyi-bunyi terus.. " Katanya dengan senyum yang dihiasi lesung pipi.
"Owaaaaww .. Ternyata suara perut teman kita Lili loh teman-teman" Kataku bermonolog. Sontak Lili tertawa.
Tawanya ringan namun terasa hangat ditelingaku.
Senyumnya indah sekali, dihiasi lesung pipi yang semakin menambah kesan manis gadis kecil ini.
Ah Lili, Miss Mei senang kamu sudah bisa tersenyum.
***
Bersambung..

หนังสือแสดงความคิดเห็น (49)

  • avatar
    SamsunAndi

    bagus bangettt sukaaa

    27d

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด