"Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang bermanfaat, catat: Bermanfaat. Bukan dimanfaatkan" Meisya~ DR. ANDRO ** Aku termenung sepanjang perjalanan menuju rumah kontrakanku, sudah 23 tahun aku hidup berdampingan dengan merek namun tetap saja sulit rasanya menerima anugrah ini. Sudah 23 Tahun dan aku masih ketakutan menghadapi kejutan yang luar biasa ini. "Kalau mau nangis jangan disini, malu" Kata seseorang yang saat ini berdiri tepat dihadapanku. Aku mendongak menatap seseorang yang suaranya familiar. "Hai" Katanya tersenyum. "Dokter lagi" Kataku menghela nafas, sontak aku buang muka. "Dih, jijik banget kamu sama aku" Jawab Dokter Andro. Salah penumpang transjogja yang duduk disebelahku berdiri menyisakan space tempat duduk yang langsung di tempati oleh dokter Andro. "Ngeliatinnya biasa aja" Gumam Dokter Andro, aku sontak melotot tajam. "Ahahah.. Nah gitu dong" Katanya setelah kelakar tawa menyebalkan itu reda. "Dokter itu ngapain sih, bisa-bisanya di sini. Makan gaji buta ya? " Tudingku jahat. "Pulang lah, Shift malam ku udah selesai, mau ngapain lagi" Katanya menatapku, berdecih. "Ya kan bisa aja di RS dulu, ngapain kek.. Cengcengin suster sana kek" Gumamku pelan, ku pikir Dokter itu tak mendengarnya namun nyatanya aku salah. Ia mencondongkan tubuhnya kearahku, senyum tengil terbesit di bibirnya. "Ututututu, ada yang cemburu" Katanya penuh percaya diri. "Cemburu? sama anda? hei!!! ngaca! males sekali aku" Elaku penuh penekanan, gila saja. Aku tidak mengerti dengan dokter ini, kenapa sih dia memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi? Ah aku yakin 100% dia pasti melakukan hal yang sama pada semua perempuan yang ia temui, dan sialnya kali ini perempuan ini harus aku. Sialan! Apa aku minta tolong paman Arifin untuk membuat perhitungan terhadap dokter ini? ah tidak, nanti Ayah melunjak. Tidak! Tidak! Tidak! "Awww.. " Keluhku saat Dokter nyentrik itu memegang kepalaku "Apaan sih Dokter ini" Sungutku sembari melepaskan tangannya dari kepalaku. "Ya makanya itu kepala nggak usah diputer-puter, pusing aku tuh liatnya" "Ya jangan diliat" "Galak banget" Gumamnya, aku mendelik. Entahlah, hari ini aku telah berapa kali membuka mata ini hanya demi membuat dokter itu sadar jika aku tidak tertarik dengan jokes murahanya. "Nih" Katanya sembari mengulurkan ID Card ku. "Astaga, ini kok bisa ada di dokter" Tanyaku heran "Sama-sama" Jawab dokter itu. "Kok sama-sama, kan saya tanya ini kenapa bisa ada di dokter? " Tanyaku lagi, ia tersenyum sembari menaik turunkan alis kanannya. "Apaan sih, nggak lucu" "Kamu bisa enggak sih kalau sama saya nggak usah jutek-jutek. Itu tadi saya nemu di kamar mandi kamar Aroon. Meisya, itu nama kamu kan? Seharusnya kamu bilang Terimakasih Dokter Andro, atau Mas Andro. Gitu, bukanya marah-marah" Katanya, ia lalu bangkit dari duduknya. Mataku tak lepas dari segala gerak-geriknya, aku mengernyitkan dahi saat melihat dokter itu turun dari Bus. "Dia marah? aku keterlaluan ya? " Gumamku pada diri sendiri. "Cowok emang aneh" Gumam Asoka, tubuhnya melayang dihadapanku. "Ahh,, kebiasaan. Nggagetin" Gumamku. ** Rasanya otakku tak dapat lepas dari perlakuan impulsif Dokter nyentrik itu, hatiku mendadak resah mengingat kejadian di Bus tadi. Apakah aku terlalu keterlaluan? Apakah dia marah? "Ah.. seharusnya aku biasa aja nggak usah nginget dia lagi. Buat apa? Buat apa Meisya? " Gumamku pada diri sendiri. Meskipun mulutku berkata demikian, nyatanya otakku tanpa tahu diri kembali melalang buana menuju kepingan ingatan yang menyebalkan. Tanganku kembali menggenggam ID card yang tertinggal di toilet kamar mandi bangsal tempat Aroon dirawat, aku baru mengingatnya tadi. Setelah selesai mengecek aktivitas yang Aroon lakukan di kamar mandi, aku sempat melepas ID Card ku dan meletakkannya disebelah wastafel tujuanya supaya ID card ku tidak terkena air nantinya. Aku melupakannya, beruntung dokter itu menemukannya dan memberikan padaku. "Ahh, seharusnya aku berterimakasih" Gumamku masih tetap mengingat kejadian yang telah lalu. "Bukanya bilang makasih, malah ngomel-ngomel dan nuduh yang enggak-enggak kedia. Wajar sih kalau dia marah" Gumamku lagi, ah rasanya aku tak dapat berhenti merutuki kesalahanku. "Perhatikan langkahmu Meisya! " Gumam Asoka, hampir saja! Satu langkah lagi jika Asoka tak berkata demikian mungkin saja tubuhku telah tersungkur kedalam lubang gorong-gorong. "Makasih" Kataku, Asoka mengangguk. Perjalan pulang menuju rumah entah mengapa terasa begitu lama, atau karena memang langkah kakiku yang pelan? Biasanya tak selama ini. *** "Selamat pagi anak-anak?" Kataku menyambut anak-anak didikku yang tengah bermain di halaman sekolah. "Selamanya pagi miss Mei-mei!! " Jawab mereka serempak, beberapa dari mereka ada yang berlari menuju arahku. Beberapa yang lainya kembali melanjutkan aktifitas mereka. "Anak-anak, yuk main sama Miss Ira dulu, Miss Mei-mei biar naruh tas dulu" Kata Miss Ira menolongku saat ada begitu banyak anak yang berkumpul mengerumuniku dan mengajak ku bermain. "Thanks you Miss Ira" Ucapku sembari mengangguk. "Your welcome Miss Meisya" Balasnya sembari ikut menundukan kepala. Mentari pagi bersinar hangat, sehangat senyum anak-anak Happiness Kindergarten pagi ini. Kehangatan itulah yang membuatku terasa hidup dan terlahir kembali. Dulu aku tidak pernah merasakan hangatnya mentari, jangankan merasakan hangatnya mengetahui kehadiran atau keberadaan mentari saja aku tidak pernah. Pantas saja jika tubuhku terlalu biru, menggigil kedinginan seolah hangatnya selimut woll tak mampu menghalau rasa dingin yang mencengkeram tubuhku. "Diminum dulu teh nya Miss Mei" Kata Titik, rekan kerjaku yang memiliki kebiasaan minum teh setiap pagi. Katanya, ini adalah rutinitas wajib yang harus ada dan dihadirkan setiap pagi. Aku yang tak pernah sarapan atau minum seduhan entah itu teh atau kopi awalnya merasa cukup heran. Mungkin jika ditanya geger budaya apa yang pertama kali kurasakan saat aku berpindah dari Bali menuju Jogja ya ini salah satunya, "Sarapan dan Minum teh di pagi hari" Sesuatu yang tak pernah Mamaku lakukan untukku karena beliau terlalu sibuk berjualan ikan di pasar. "Makasih Miss" Kataku, Titik tertawa menanggapi. "Sama-sama" Jawabnya. Aku menyeruput teh manis yang Titik buatkan untukku, aku yang tak menyukai rasa manis lama kelamaan terbiasa dengan semua rasa ini. Seperti halnya keramahan dan budaya suka senyum orang-orang Jogja, yap. Dulu pertama kali aku datang ke Jogja rasanya seperti orang tolol yang tak pernah menebarkan senyum, bahkan ketika ada orang Jogja yang tersenyum ramah kepadaku tubuhku bergidik ngeri. Respon yang cukup aneh bukan? Ya, dahulu aku berfikir buat apa tersenyum pada orang yang tak kita kenal? Mamaku saja tidak pernah tersenyum padaku, lalu untuk apa aku tersenyum pada mereka? Aneh rasanya melihat orang asing bersikap serammah itu. Jogja bukan tempat yang ramah untuku yang introvert ini, tidak ada ruang untukku sendiri. Orang-oranh terlalu ramah, aku tidak suka. Namun itu dulu, sekarang berbeda. Jogja terasa begitu hangat, seperti selimut tebal yang terbuat dari kulit domba. "Mei-mei, kalau ngehaluin dokter Andro mbok ya biasa aja" Celetuk Miss Mila. "Uhuks.. Uhuks.." "Miss Mila!!! " Kata Miss Mila sebelum aku buka suara, "Ihh aku mau bilang itu tadi" Teriaku dengan suara melengking. "Udah ketebak!! " Kata Miss Mila dan Miss Ira bersamaan. Sontak Guru-guru Happiness Kindergarten yang ada di ruangan ini tertawa menyaksikan kelakuan kami. "Aku nggak nginget-inget dokter nyentrik itu ya" Kata ku mengoreksi. "Owhhh.. tapi kok senyum-senyum sendiri? "Tuding Miss Mila, aku tau beliau hanya membercandaiku. Sontak Guru yang lain datang dan menanyakan sosok Dokter Andro itu siapa. " Enggak tau, tanya aja sama Miss Mei-mei " Kata Miss Tiktik. "Ih.. Aku polos. Aku ikan" Jawabku lalu segera pergi meninggalkan kerumunan. "Bisa-bisanya mereka mikir kayak gitu, siapa juga yang mikirin Dokter Andro. Idih Najis!! " Kataku. "Sebegitu najisnya kah saya? " "Mati aku!! " *** Bersambung.
bagus bangettt sukaaa
29d
0mantap
10/09
0suka bangettts
09/08
0ดูทั้งหมด