Hari ini semua orang di kota ini terlihat sibuk. Beberapa dari mereka memadati sudut kota. Pemandangan yang cukup mengejutkan. Setelah tiba di kota ini, perlahan memasuki sebuah gedung yang tidak lain merupakan tempatnya bekerja. Seorang wanita berusia 27 tahun menyambutnya dengan hangat. Senyuman orang itu terasa seperti matahari pagi. Dengan langkah kaki yang terasa gugup, kemudian memasuki lift menuju ke lantai 23. Sesampainya di sana, terlihat beberapa orang yang berlalu-lalang dan tidak lupa mengucapkan salam sambil tersenyum ramah. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Tibalah tepat di depan pintu sebuah ruangan. Saat itu juga mulai memasukinya. Ruangan yang terlihat terang oleh sinar matahari dari balik jendela membuat suasananya terasa damai. Vivian. Itulah namaku. Seumur hidupku selalu mengerikan. Darah, keringat bahkan air mata. Semuanya terlihat seperti santapan sehari-hari. Keluargaku meninggalkanku tepat setelah hari itu. Saat ini, Vivian berjalan menemui seseorang. “Selamat datang Vivian,” ucap seorang pria yang berdiri menghadap ke arahnya dengan sangat ramah. Pria tersebut mempersilahkannya untuk duduk. “Maaf, sepertinya saya mengganggu waktu anda.” “Tidak. Justru kebetulan sekali hari ini tidak terlalu sibuk. Ngomong-ngomong, bagaimana? Apa kau sudah mempertimbangkannya?” “Sejauh ini, saya sudah memikirkannya.” “Jadi apa keputusanmu?” “Saya menerima tawaran bekerja di sini.” “Baiklah, senang mendengarnya. Selamat bergabung Vivian.” “Baik tuan.” Ini adalah hari pertama dimana Vivian bekerja di tempat ini. Sebuah markas pemerintahan. Saat ini tepatnya beberapa bulan yang lalu, ketika dirinya masih berada di kota sebelah. Seorang wanita yang merupakan teman masa kuliahnya bertemu dengannya dan menanyakan kabar terbaru mengenai dirinya. Pandangan yang terlihat penasaran terpancar di wajahnya. “Sudah lama sekali yak, Vivian,” ucapnya dengan senyuman. “Ah, senang bertemu lagi denganmu. Apa yang kau inginkan?” “Apa? kenapa kau bertanya seperti itu? Apa aku terlihat sedang memeras mu?” “Bukan, hanya saja terlihat aneh. Bagaimana kau bisa menemuiku seperti ini.” “Ah, rupanya kau salah paham. Aku datang menemuimu karena beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan kabar kalau kau sudah pulang. Karena itu, aku datang berkunjung.” “Apa benar begitu?” “Hey, kau ini. Tolong jangan salah paham. Aku tidak bermaksud apa-apa.” “Bagaimana dengan dirimu?” “Ya?” “Sekarang kau bekerja dimana? Sudah lama aku tidak pernah melihatmu dan juga kau seolah lenyap begitu saja.” “Itu karena aku tidak punya waktu untuk bertemu dengan orang lain.” “Kenapa?” “Karena sibuk. Itulah kenapa sekarang aku datang.” “Baiklah. Terserah kau saja.” “Oh iya, aku mendengar sesuatu apa itu benar?” “Kali ini apalagi?” “Ah, tidak. Aku tidak jadi.” “Kalau kau tidak mau mengatakannya, ya sudah.” Vivian yang terlihat sedang merapikan barang-barang di tokonya itu, kemudian merasa risih karena tingkah temannya itu. Sebuah toko yang sebelumnya menjadi milik keluarganya yang merupakan salah satu hal yang paling berharga yang dimilikinya saat ini. Sekarang toko itu dikelola oleh salah satu rekannya. Tidak lama kemudian, dirinya mendapatkan pesan dari seseorang setelah memeriksa ponselnya sesaat. Pesan itu berisikan informasi lamaran pekerjaan yang sedang dibutuhkan. Dengan perlahan, dirinya menarik nafas panjang dan kemudian kembali merapikan beberapa barang yang ada di tokonya itu. “Kau ada masalah?” ucap temannya yang ternyata belum juga pergi dari sana. “Tidak ada.” “Ah, ternyata kau memang selalu tertutup.” “Dengar! Jika kau tidak ada yang ingin dikatakan lupakan saja.” “Sebenarnya aku ingin tahu, kenapa kau tidak pernah ada kabar.” “Untuk apa?” “Teman-teman yang lainnya baru-batu ini membicarakanmu. Sepertinya mereka penasaran.” “Katakan saja pada mereka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” “Jangan bercanda.” Malam harinya. Vivian yang terlihat kelelahan karena terus bekerja membantu mengelola toko, kini dirinya duduk sambil menghadap ke arah monitor komputernya. Di sana, dirinya kerap kali memeriksa beberapa postingan di internet. Postingan yang cukup membuat sejuta umat merasa heboh. Tidak lama kemudian, dirinya mulai teringat akan sesuatu dan mengambil sebuah dokumen yang berisikan data pribadinya dan sejumlah dokumen rahasia. Dengan teliti, dirinya terus memeriksanya mulai dari riwayat hidup sampai dengan pendidikan terakhirnya. Wajah Vivian terlihat cemas, sambil terus memandangi semua dokumen itu dan dirinya kembali menarik nafas. “Apa yang harus kulakukan?” gumam Vivian penuh tekanan. Saat ini, di tempat yang berbeda. Orang-orang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Jauh dari keramaian, tepatnya di sebuah jalan kecil. Seorang wanita terlihat sangat ketakutan dan dirinya terjatuh. Begitu mencoba untuk bangkit, beberapa pria yang ada di hadapannya terlihat menyeramkan dan mengelilinginya. Wanita itu masih berada di sana dengan wajah yang sangat ketakutan dan bingung harus berbuat apa. Dirinya yang mencoba untuk meminta pertolongan itu seakan tidak ada harapan. “Tidak. Tolong jangan mendekat! Ampuni saya,” ucap wanita itu sambil menangis. “Ah, kau merengek rupanya. Jangan khawatir. Kami tidak akan macam-macam,” ucap salah satu pria dengan tatapan yang menjijikan itu. “Kumohon jangan mendekat.” Wanita itu terus memohon kepada orang-orang yang mengerumuninya itu, tapi mereka malah terus membuatnya ketakutan. Sampai akhirnya seseorang datang ke arah sana dan kemudian berteriak kepada mereka. “Apa yang kalian lakukan!” ucap seorang pria yang terlihat berpakaian rapi. Mereka yang tadinya mengerumuni wanita itu, kini melirik dan langsung berhadapan dengan pria tersebut. “Siapa kau? Mengganggu saja!” Vivian yang berada di kediamannya, kini dirinya masih dalam kebingungan yang luar biasa. Satu bulan yang lalu, dirinya berhenti bekerja karena ada masalah dengan salah satu orang yang sempat terbunuh karena ulah dirinya. Pada akhirnya semua orang menyalahkan dirinya dan Vivian tidak lagi bekerja di sana. Rasa trauma yang masih kerap kali muncul, membuat dirinya kesulitan dalam mengambil keputusan. Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Dirinya dengan cepat langsung mengangkat panggilan tersebut. “Halo?” “Dimana kau sekarang?” “Apa? tentu saja aku berada di rumah keluargaku.” “Kau sungguh kembali ke sana?” “Ya. Apa lagi yang harus kulakukan? Tidak ada yang bisa kulakukan.” “Astaga, jujur saja kau tidak salah. Tapi, apa kau tidak berniat untuk bangkit? Apa kau sungguh akan meninggalkan semuanya? Itu tidak akan berjalan semudah itu Vivian.” “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Sepertinya aku sudah memutuskan untuk menjadi biasa.” “Sadarlah. Kau bisa melakukannya.” Panggilan tersebut kemudian berakhir. Vivian yang terus menatap layar ponselnya itu kemudian dirinya beranjak dari tempat duduknya dan langsung mencari informasi di internet. Saat ini di suatu tempat seorang pria yang sebelumnya terlihat menghubungi seseorang dengan panggilan telepon, menyadari jika rekannya memperhatikannya. Rekannya itu langsung menghampirinya dan menanyakan sesuatu kepadanya. “Kau baru saja berbicara dengan orang itu?” “Ah, kedengaran rupanya.” “Suaramu keras sekali. Sungguh orang itu?” “Benar. Memangnya kenapa?” “Tidak. Hanya saja aku penasaran dengan keadaannya saat ini.” “Soal itu, aku sendiri tidak yakin. Aku sudah melakukannya. Sekarang tinggal kembali kepada pemikirannya saja.” “Kau memang orang yang baik Samuel.” “Berhenti mengejek dan kembali bekerja sana.” Malam yang indah terlihat di langit kota. Vivian kemudian terlihat dengan senyuman menyeringai begitu dirinya menemukan sesuatu di internet. Pilihan yang cukup merepotkan kini berada ditangannya. “Sial, aku tidak ingin berurusan dengan mafia,” gumam Vivian sambil menatap layar monitor.
mantap
17d
0mantap
22d
0kkkkk
25d
0ดูทั้งหมด