Malam itu, gelapnya datang dengan hujan yang menemaninya. Menunggu pagi untuk menggantikan posisi. Hawa dinginnya saat ini berguna untuk membuat gadis yang tengah melamun merasa cukup nyaman. Gadis itu terdiam, ia menatap langit kamar dengan berharap bahwa hari esok akan berjalan dengan semestinya, seperti hari dimana ia sudah lupa bahwa dulu pernah memiliki duka. Duka yang perlahan-lahan menghilang, dan diganti dengan suka, dan sedikit tawa. Tentunya lewat kekuatan doa dan usaha kerasnya keluar dari masa sulit itu. Lagi-lagi dia terbangun. Padahal semua orang tengah tertidur lelap. Rahel lantas membuka laci buku meja belajar, dan mengambil secarik kertas yang berhasil membuat tidurnya terusik. Mengingat lagi saat pertama kali ia menemukan kertas itu di bawah lantai rumahnya. Membuat gadis berpakaian rumahan itu selalu bertanya-tanya siapakah pengirimnya. Tanpa Rahel sadari air matanya mulai turun di pipi, menetes lagi. Takut jika sosok yang dia pikirkan adalah sang pengirim. Ia sungguh tidak ingin laki-laki itu kembali. Meski dari dalam lubuk hati masih sedikit mengharapkan kehadirannya. Mengesampingkan perasaan, ia berusaha untuk selalu lebih memilih logika saja yang memimpin. Daripada masuk ke lubang yang sama, dia lebih memilih masuk ke jalan tak berlubang. Hati yang lain yang mungkin lebih menyayanginya dengan tulus. "Gue udah capek. Air mata gue udah bener-bener ke kuras saat beberapa tahun lalu. Beneran nggak mau inget dia lagi. Semua yang dia inginkan, katakan, dan yang dia rencanakan berbanding terbalik dengan yang dia lakukan." "Terima kasih gue ucapkan untuk kelakuan lo itu. Selamat, lo berhasil membuat gue jatuh. Menganggap lo yang sudah lenyap mungkin cara yang benar buat gue lakukan. Dengan begitu gue berhasil mengembalikan tawa tulus gue, yang udah lama terpendam jadi bisa muncul lagi. Gue harap lo nggak akan menghancurkannya lagi, tapi ... saat gue liat itu kertas, pertahanan gue ternyata nggak cukup kuat, gampang roboh. Pikiran gue cuma satu, itu lo ... Daniel." Setelah menulis apa yang tengah ia rasakan, Rahel kembali menuju tempat tidurnya. Menuntaskan tidurnya malam ini supaya dapat menikmati hari esok tanpa kantuk yang menghampiri di siang hari. Sungguh, dia hanya ingin kesedihan itu benar-benar lenyap dari hidupnya. * Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Rasanya menyenangkan menikmati coklat panas dan kue kering di pagi hari tanpa dikejar waktu ke sekolah. Menonton film kesukaan di rumah atau membaca novel bertumpuk- tumpuk, sepertinya bukan ide yang buruk untuk melakukan kegiatan di hari libur ini, yaitu hari Sabtu. Nica tersenyum, usil sekali. Dia mengambil coklat panas buatan sang kakak. "Makasih, Kak," ujarnya tak tahu malu. "Iya. Habis ini cari cemilan ya, Nic. Takut kehabisan, temen gue mau main ntar siang," balas Rahel dengan nada memohon. Nica yang mendengar permintaan itu pun mengerutkan dahi, bingung. "Emang di kulkas masih dikit, ya? Perasaan kemarin gue lihat masih banyak deh, Kak." "Iya, masih dikit. Mana cukup nanti? Orang temen gue nggak satu doang," jelas Rahel singkat. "Jangan-jangan lo yang udah ngehabisin, ya?!" "Iya," ucapnya enteng. "Oh, gue tau! Lo buatin minuman coklat ini karena ngerasa bersalah udah ngehabisin cemilan, kan? Pakai nyogok gue segala lo, Kak. Basi!" jawab Nica percaya diri. "Lah. Lo lupa kalau ini jadwal gue? Gue kan yang bakal masak hari ini? Ya otomatis kalau mau cemilan atau minum, juga gue yang nyiapin. Harus gue jelasin lagi? Enggak, 'kan?" tanyanya santai. "Oh iya, kok bisa ya gue lupa? Hehe, nggak usah dijelasin lagi lah, udah paham dan jelas banget." Rahel menggerakkan kepala ke atas bawah dan bergumam, "Hem," sambil mengambil dan memakan kue yang masih ada. "Heran gue, kenapa film kartun ini dari dulu nggak tamat-tamat, yak," ucap Nica berkomentar. Tatapannya fokus ke benda pipih namun besar di depan sana. "Ha … ha … iyalah, biar semua anak-anak pada punya pengalaman nonton itu film. Film turun-temurun," balas Rahel yang seketika tertawa. "Lo suka, ya? Semangat amat lo nontonnya," melihat Rahel yang antusias pada kartun yang ditonton mereka sekarang. Rahel menggeleng. "Biasa aja," jawabnya dengan kaki jenjangnya yang ia selonjorkan. Sambil mengelus perutnya Nica bertanya, "Lo udah masak nasi kan, Kak? Pengen makan gue. Belum kenyang kalau belum makan nasi." Rahel yang tak terlalu fokus menonton televisi itu merespons, "Udah, tapi belum mateng deh kayaknya. Masih beberapa menit lalu," dengan tangan meraih coklat panas. "Nggak papa sih, gue mau goreng telur dulu. Pengen banget telur goreng deh gue, Kak. Tiba-tiba pengen makan telur goreng." "Jangan-jangan elo ...?" ucap Rahel sambil nyengir. "Apaan?! Sinting lo!" "Ha … ha … bercanda, Sayang. Gue kan udah masak sawi sama telur balado, ngapain harus goreng telur? Makan seadanya aja, Nic. Nggak usah banyak tingkah lo!" nasehatnya saat sang adik sudah berjalan menjauh dari ruang televisi dan hendak pergi ke dapur. Sang adik lantas menoleh. "Idih, kayak jual mainan aja, pakai nyebut sayang. Sayang anak sayang anak, kalau nggak beli enggak sayang," sahut Nica dengan asal, namun bernada. Lalu kembali jalan ke sofa dan duduk di sana. "Serah," balas Rahel pasrah. “Yang ...,” kata itu lagi-lagi bernada, seperti cuplikan lagu. "Hah?" tanya Rahel heran, mengerutkan kening saking bingungnya dengan keanehan saudari kandungnya sendiri itu. "Yang digoyang, digoyang yang ...." Tawa refleks Rahel yang tak bisa ditahan pun mengudara. "Apaan sih?! Receh lo!" pekik Rahel kemudian sambil memegang perut. "Yang ...." Rahel dengan cepat mengacungkan jari telunjuknya. "Gue tau!" Nica pun mengangkat alis, meminta sang kakak untuk memberitahu jawabannya. "Yang haus, yang haus, yang haus, sepuluh ribuan," balas Rahel tak mau kalah. "Iyalah lo tau. Lo kan yang jual kemarin itu. Jujur aja lo, Kak." "Emang gue, tau aja lo! Oh iya, gue baru inget! Lo itu kan yang kemarin ngajak gue buat duel! Lupa gue, Nic!" "Hah?! Duel apa, sih?" tanya Nica yang sekarang dibuat bingung dengan balasan sang kakak. "Iya, duel ... duel siapa yang paling cepet habis jualannya." Menggembungkan pipinya, Nica kemudian membuang napas setengah kesal sekaligus lelah. "Iyain deh, biar seneng." "Kalah juga kan lo? Senangnya hati gue ngalahin adek manis ini ...." "Idih, baru juga menang sekali udah bangga aja. Lo nggak jelas deh, Kak." "Biarin." "Udah ah, gue naik dulu ya. Mau ambil baju sama siap-siap buat nganterin lo beli cemilan." "Buru-buru amat. Gue aja nyantai." "Pengen jalan-jalan juga gue kak. Bosen di rumah mulu." "Ya udah, sejam sebelum mereka dateng kita harus udah ada di rumah," teriak Rahel karena adiknya sudah menaiki tangga. "Oke," sembur Nica singkat sambil memasuki kamar. "Lah, belum jadi makan nasi itu anak?" kata Rahel pelan. Sehabis itu, suara langkah kaki mendadak terdengar kencang dari tangga rumahnya. Ia terkejut, karena Nica kembali dengan nafas tersengal-sengal. "Haduh. Gue lupa makan heh, huh!" keluh Nica ngos-ngosan setelah berlari menuruni tangga. Tampak begitu aneh di mata Rahel, tapi dia cukup cemas karena Nica sangat terengah-engah. "Santai aja kenapa, sih!" "Hehe," cengiran lebar tak lupa ditunjukkan. * Setibanya di pusat perbelanjaan, Rahel dan Nica berniat untuk melihat- lihat pakaian. Banyak pakaian yang menarik hati dan menggoda untuk segera dibeli. Sayang seribu sayang, uang mereka nyatanya belum cukup untuk membeli pakaian mahal di depan mata. Hanya dua cup ice cream yang ada di genggaman mereka saat ini. Entah karena suka atau rakus, tak butuh waktu lama untuk adik dan kakak tersebut menghabiskannya. Mereka juga sudah sampai di tempat tujuan utama. "Ini Kak, enak," mengangkat salah satu makanan ringan berbahan dasar kentang. Rahel pun melirik Nica dan menyahut, "Iya. Masukin aja. Penting jangan lupa patungan." "Iya-iya, patungan. Perhitungan lo jadi orang." "Lah... itu kan cemilan buat kita berdua. Masa iya pake jajan bulanan gue doang?!" "Iya, Kak... Ros...!" jawab Nica nyengir. "Serah," ucap Rahel sembari menengok ke kanan karena merasa ada sepasang mata yang mengarah padanya, tetapi begitu dicek tidak ada orang. "Ekh, kok gue ngerasa ada yang merhatiin? Apa cuma perasaan gue doang gara-gara rame ini tempat? Jadi parno sendiri kan gu-" belum selesai Rahel membatin, tiba-tiba Nica mengejutkannya. Memukul pundak Rahel sembarangan. "Lo milih apa aja?" tanya sang adik yang membawa keranjang belanjaan dari supermarket. "Taruh sini, Kak. Kayak keberatan gitu bawanya, dasar sok kuat lo!" Menerima keranjang pemberian Nica, muka kesal Rahel masih terpampang jelas. "Bilang apa? Sok kuat? Emang gue kuat dari dulu. Lo aja yang nggak tahu, Nic!" bentaknya sebelum sadar bahwa apa yang diucapkannya barusan berlebihan. "Eh, kok gue jadi ngegas? Santai," menarik napas lalu membuangnya perlahan, Rahel berusaha menatap sang adik dengan senyum dibuat-buat. "Lo masih muda, Hel. Sayang hidup lo kalau marah-marah mulu!" teriaknya lagi di dalam hati. "Kenapa mesti nggak kuat? Nggak sampai berpuluh-puluh kilogram kali ... emangnya lo, manja ...," sambung Rahel yang dibalas sang adik dengan senyuman remeh. Mengibaskan rambutnya, Nica yang tampak kesal membalas, "Terserah. Diperhatiin malah nyolot, diajak berantem mukanya asem. Serba salah gue." "Jujur amat, lo." "Heran gue punya kakak macem lo. Kak Ros versi nyata kalau ini mah," kata Nica pelan, namun masih terdengar oleh Rahel. "Emang tuyul ya lo. Ngomong yang keras sekalian, ngapain pelan-pelan." "Gue masih punya malu, Kak. Ini bukan rumah kita. Liat-liat dulu kalau mau cekcok sama gue. Belum profesional sih, jadi bukan tandingan gue." Rahel menoleh ke samping kanan dan kiri. Memang benar kata Nica, ini bukan rumah. Banyak pasang mata yang sesekali melihat ke arah mereka. "Mampus! Mamah, help me! Malu, mah. Pinter juga otaknya Nica! Waduh ... merah dah ini muka." Betul sekali, muka Rahel memang sudah memerah. "Argh! pulang sekarang!" bentak Rahel kesal. Mencoba sok cuek terhadap sekeliling. "BWAHA ... Ha ... Ha ... malu kan, lo?! Muka lo kayak warna CD gue, Kak." "Serah." "Mungkin belum saatnya," lirih seseorang yang jaraknya tak jauh dari mereka berdua. Dia membalikkan tubuh, persis setelah Rahel dan Nica berjalan ke kasir.
kakk baguss banget
13/04/2025
0kasih 5bintang
23/02/2025
0enak
15/02/2025
0ดูทั้งหมด