“Apa yang membuatmu mengingat namaku? Menanyakanku pada orang yang mungkin tidak mengenalku?” Gemuruh pertanyaan ini selalu menerpa di hati Sandra. Perasaan Sandra tidak tenang. Banyak pertanyaan yang hinggap dan menuntut untuk dijawab. Dadanya terasa sesak. Pikirannya yang selalu berhasil ia kendalikan, kini tak bisa lagi untuk patuh kepadanya. “Ya, ada yang belum selesai. Tapi, ini sudah tiga tahun berhasil kulewati.” Gumam Sandra. Sandra sangat menyadari apa yang terjadi dengan lelaki itu di masa lalu tidak bisa dianggap selesai. Beberapa pertanyaan membayanginya. Namun, sebagian perkiraan yang mungkin menjadi jawabannya, tak sanggup ia terima. "San, mending kamu nggak usah pesen kopi. Kopi bisa membantumu semakin overthinking." Ujar Mae sambil meminum americano milik Sandra yang mulai berembun karena es batunya telah mencair. Mae bersendawa, kepalanya mulai pusing. "Kenapa, Mae? Kebanyakan kopi ye?" Sindir Juni, "Caramel Latte tanpa kopi enak juga, ya." kemudian tersenyum merasa bangga, akhirnya ia menemukan minuman yang bisa ia minum ketika hangout bersama teman-temannya. Sandra menoleh kepada Juni yang masih asyik menyedot ice blended susu karamelnya. Ada rasa syukur yang mengisi hatinya ketika melihat mereka sedang 'berulah' seperti biasa. Baginya, mereka adalah anugerah yang patut disyukuri. Mae masih mengamati gerak-gerik Sandra yang berbeda. “Ini pasti ada apa-apa.” Kata Mae dalam benaknya. Mae pergi menuju kasir dan memesan minuman dingin untuk Sandra. "Iced Chamomile Tea satu ya mbak." Mae kembali menengok Sandra dan masih mendapati gesturnya yang belum berubah. “San, ada apa? Apakah ada sesuatu antara kau dengan si babang tennis kampus sebelah?” Kecurigaan Mae hanya mampu di pikirannya saja. *** "Romeo?" suaranya berhenti sejenak, "Kamu masih inget aku kan?" Namun, suara itu tidak benar-benar membuat Romeo teringat sesuatu. "Siapa ya?" "Ini Elsa." Romeo menelan ludah. Ia jelas mengenal Elsa. Luar-dalam. Namun, ia tak ingin merasakan apa yang ia rasakan dulu. Segera, ia mengumpulkan kontrol diri. "Ada apa, sa?" Tanya Romeo datar. "Apa kamu lagi dekat dengan seseorang?" "Nggak." "Bisa kita ketemu?" Romeo masih terkejut dengan apa yang ia dengar. "Aku ada persiapan buat pertandingan persahabatan, nggak dulu ya. Sorry, aku lagi sibuk. Semoga lain waktu kita bisa ngobrol. Bye." Romeo menutup panggilan tersebut. Dia tidak habis pikir dengan apa yang sedang terjadi. Beberapa waktu yang lalu, ia merasa bahagia karena mengetahui seseorang yang begitu berarti baginya dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian ia tak sanggup menahan gejolak dari ruang hati lainnya ketika mendengar nama orang itu, Elsa. *** Ken baru saja menyalakan komputer sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa dan mendapati layar LCD tidak ikut menyala. "Ada apa ini? Perasaan baru aja diservis." Tidak banyak pertimbangan, ia segera menelepon salah satu temannya yang memahami masalah ini. "Bro?" Sembari menunggu jawaban dari telepon ia tak sengaja melihat sebuah laporan yang berisi tentang pertanggungjawaban tahunan UKM. Ia mengambilnya kemudian terhenti setelah mendengar panggilan ponselnya telah tersambung. "Eh, halo Lan?" Ken tersadar, "Komputer sekre mati lagi. Bisa ke sini nggak? Biar segera kelar press releasenya.. iya, aku juga ngedit buat majalah kolab UKM sama BEM.. aku males kalo kudu bergantung sama yang lain.. oke ditunggu." Ken menutup teleponnya, kemudian ia melihat kembali laporan pertanggungjawaban tersebut. Ia membuka halaman demi halaman dengan cepat namun berhenti ketika melihat bagian "Pembekuan UKM". Ia mengamati daftar UKM yang hendak dibekukan. Ia melihat klub buku kampus salah satunya. “Klub Buku Kampus ini yang dipimpin sama Sandra, bukan ya?” Ken berusaha mengingat. Setiap tahun selalu ada Unit Kegiatan Mahasiswa atau UKM yang masuk ke dalam daftar merah untuk dibekukan. Pembekuan ini sifatnya permanen dan diresmikan saat sidang paripurna antara BEM dan UKM. Mengingat UKM berada di bawah BEM, maka pembekuan pun juga harus melalui persetujuan BEM tingkat Kampus. Ken hanya tersenyum sinis. Minat baca orang Indonesia memang belum meningkat signifikan. Akan sangat sulit mempertahankan kegiatan semacam ini jika banyak yang tidak memahami pentingnya literasi. “Pastilah KBK sulit buat nyari anggota. Anak zaman sekarang nggak suka baca buku.” Gumam Ken yang diikuti dengan gelengan kepala. "Layar komputer harus diservis, aku nggak ada alatnya dan lagi males buat bongkar." Ken terkejut melihat temannya yang sudah lama berada di depan komputer. "Eh? Sejak kapan kamu di situ?" Tanya Ken. "Ada lima belas menit. Kayaknya." "Ya ampun, Dilan. Ngagetin!" Ken baru menyadari ia melamun hingga tak sadar orang lain ada di dekatnya. "Pintu sekre kebuka, tadi pak presbem masuk bentar terus aku izin periksa komputer. Terus aku lihat kamu ngelamun liat tumpukan kertas itu.” "Sorry. Lagi banyak pikiran." Ken membereskan laporan-laporan yang ada di depannya. "Ngopi yuk! Sebelah tempat servis ada kafe baru buka. Katanya kopinya murah meriah." "Okelah, kepalaku juga lagi pening." Kedua laki-laki itu akhirnya bersepakat untuk rehat bersama kopi. *** "Mae, aku balik dulu ya?" "Lah. Kenapa, San? Jangan remehkan aku sebagai sahabatmu. Aku tahu kamu lagi kenapa-kenapa." Mae memegang tangan Sandra. "Aku emang kenapa-kenapa. Soalnya aku pingin tidur." Sandra menutupi raut wajahnya yang sedang sendu dengan senyuman yang menunjukkan giginya. Namun Mae membacanya dengan cermat. "Kalau kamu nggak mau cerita dulu, nggak apa-apa. Kita pulang sama-sama.” Mereka bertiga segera meninggalkan meja yang kemudian berhenti karena Juni meminta sesuatu, "Tunggu bentar ya, aku pingin pesen Caramel latte blended tanpa kopi lagi. Hehe." Demi sahabatnya, Sandra pun menunda keinginannya untuk segera kembali ke kosan. Padahal, ia ingin segera menangis di kamar sendirian. "Woy, Lan!" Suara Mae terdengar cukup keras hingga semua pengunjung kafe menoleh kepadanya Orang yang Mae maksud melambaikan tangannya pertanda mereka saling mengenal. "Itu siapa yang jalan baren Dilan?" Tanya Juni. "Kenandra, sekjen media BEM." Jawab Mae. "Mae kenal semua orang di kampus. Semua orang kampus kenal Mae." goda Sandra dengan senyuman, usahanya untuk menutupi kesenduannya patut diacungi jempol. "Kamu yang aneh San, masa nggak kenal sama Ken? Atau minimal tahulah. Kamu pikir yang ngelolosin tulisanmu ke majalah kampus siapa kalau bukan dia?" "Loh, bukan Yolanda?" "Yolanda dari dulu udah pingin menghempaskan KBK dan kamu masih anggap dia akan mudah meloloskan tulisanmu masuk majalah kampus? Sudah jadi rahasia umum kalau Yolanda nggak pingin ada UKM yang mirip dengan Persma. Makanya ia berusaha memperlihatkan betapa tidak pentingnya KBK. Emang Yolanda pernah nulis? Kata Ken, Tulisan Yolanda kayak curhat yang nggak solutif, makanya sering nggak dilolosin sama dia.” Juni terperangah dengan penjelasan Mae. Tiba-tiba Juni tergelitik untuk bertanya, "Kenapa dia jadi sekertaris menteri? Bukan jadi menteri? Sekertaris kan urusannya adminstrasi yang ribet? Laki-laki kayak dia memangnya bisa sabar?" "Ken ngancam ke presbem, kalau mau masukkan dia ke kabinet, dia nggak mau menjabat sebagai menteri ke atas. Awalnya si presbem mau nempatin dia ke menko soshum." Sandra tidak peduli apa yang sedang Mae dan Juni perdebatkan. Ia hanya ingin kembali ke kasur dan menangis. Perasaannya sedang tidak baik. Sangat tidak baik. "Yuk pulang!" Urusan caramel latte tanpa kopinya Juni selesai, Sandra langsung bergegas meninggalkan kafe. Ketidakpedulian Sandra memang sempurna. Hingga tatapan Ken yang tak beranjak darinya benar-benar tidak ia rasakan. "Itu siapa yang bareng Mae?" "Juni sama Sandra." "Kok kayak pernah lihat." "Kamu jelas ngelihat Sandra waktu sidang purna UKM pusat. Pas dia didebat sama Yolanda." Ken ingat atas peristiwa itu. "Kasihan banget KBK." "Klub buku diperlukan. Walaupun anggotanya kecil, tapi sebenarnya ini adalah cara kita sebagai mahasiswa belajar dan memahami literasi, mengkritisi pemikiran, ya begitulah. Harusnya dengan adanya KBK kita menambah wawasan tentang buku yang mereka jadikan resensi.” "Tapi kan sudah ada pers mahasiswa." "Pekerjaan pers mahasiswa lima tahun ini hanya mengkritisi BEM. Menurutku, itu nggak dan sangat kurang banget sebagai UKM yang bergerak di Media. harusnya Pers juga mengedukasi, nggak kompor terus. Mengkritisi saja tanpa solusi adalah omong kosong.” Dilan tidak ingin melanjutkan perdebatan. Ia memilih tidak memperpanjang masalah. Dilan berpikir bodoamat. Selama UKM tennis tidak bermasalah, ia tidak akan ikut bermasalah. Ken memandang Sandra yang berjalan menuju ke luar kafe dari kejauhan. Perasaannya tidak bisa ia definisikan. Antara tertarik, kagum, hingga penasaran bercampur dalam hatinya. Ia melihat Sandra sebagai perempuan yang gigih, namun ada yang mengganjal. Ken merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Sandra. Semacam ruang lain yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. “Apakah kita bisa lebih dekat?” pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di pikiran Ken. Pertanyaan itu juga menjelma menjadi rasa penasaran yang memaksanya untuk mencari cara agar dapat lebih dekat dengan Sandra. “Tatapan matanya.. tatapan persembunyian yang sempurna. Kau sedang menyembunyikan apa, Sandra?” tanya Ken dalam hati. Ken mengalihkan pandangannya dan melihat americano sudah sampai di depannya. "Kenapa dah dari tadi ngelamun mulu?" Tanya Dilan. “Lagi mikirin strategi.” Jawab Ken dengan sunggingan bibirnya. “Strategi apa? Ah terserah kamulah! Omonganmu kadang berat sampe aku sendiri nggak paham.” Dilan mencoba kabur dari topik yang ia rasa membebaninya. “Bagaimana mungkin kamu bisa paham, Lan? Karena ini masalah perasaanku.” Lagi-lagi, Ken hanya mengatakannya dalam hati. Pikiran Ken terbang ke arah yang tak pernah ia jelajahi. Sore itu, dia mulai merasa ada yang berbeda. Perasaannya kali ini ikut andil bersuara. Ia sadar harus bergegas. Ia tidak ingin bertanding dengan siapapun.
good
14/01
0bagus hanya akhirnya Sandra belum selesai...
29/11
0sangat lah bagus
02/10
0ดูทั้งหมด