logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 7 SETENGAH KEBERUNTUNGAN

“Alhamdulillah”. Rasa syukur dirasakan. Pulang dari masjid bersama om.
“Bhy! besok ke rumah ibumu yuk?”
“Maauuuuuu”.
“Om juga ingin berkenalan dengan ayahmu itu”.
“Mendapatkan keluarga baru memberikan ku nuansa untuk berkembang dalam proses karir pendidikan.”
Kami bisa merasakannya bahwa kehadirannya memberikan peluang lebih terhadap kebaikan keluarga.
“Greeeng” suara sepeda motor milik bapak.
“Bhyyyy! Ayooo.” Ajakan om sudah terdengar.
“Mau kemana?” Tanya nenek padanya.
“Ke rumahnya mbak yu, bu.” Jawab om.
“Bhybhy mana?” tanya nenek. Sebentar yah nak, ibu ambilkan sayuran dulu untuk embakmu itu.
“Oooomm, mana nek?”
“Sebentar Bhy, nenek menyiapkan sayuran dulu untuk ibumu.” Menunjuk ke dapur.
“Bhy, ini berikan pada ibumu, salamkan kalau nenek belum bisa ke sana.”
“Keresek berwarna hitam yang berisi segala jenis sayur mayur dan ketela hasil panen, siap untuk diberikan kepada ibu.”
“Bu kami pamit dulu.” bersalaman pada nenek.
“Bhy! iya nek?” sahutku.
“Hati-hati yah.” Jawab nenek
Perjalanan Sosok Ayah ini bisa dikatakan bekerja serabutan selain pekerjaan utamanya adalah seorang Montir di daerah perumahan kontarakan kami. Sebelumnya, beliau adalah seorang pembantu mekanik di angkatan darat.
“Ayah, kerjaannya cek banyaknya!”
“Lho, kalau tidak banyak, nanti kamu gak bisa beli-beli.” Begitu sahutnya pada.
“meringis padanya.” wah sangatlah keren rupanya Ayah ini.
Sembari bekerja memperbaiki kondisi kendaraan mobilnya begitu banyak. Anak buahnya pun lima orang, dengan menggarap yang berbeda-beda.
“Lee! kesinii.” Ajakan salah satu pekerja ayah kepada.
“Endak, kotor” “he he he” sahut padanya.
Namanya mas Sugeng, sedang berada di bawah mobil yang telah di dongkrak.
“menghampiri mas sugeng”
“Jangan di situuuu!!” sahut ayah.
“Kaget”.
“Ha ha ha, kalau mau lihat, di depan saja, jangan dibawah situ.” menunjuk arah ban belakang mobil.
suara bising lengkap berada di rumah ini.
“Tang tang tang tang” suara mesin pompa ban.
“Weeeeeeeeerrrr” mesin cat mobil juga berbunyi.
Semua pekerjaan ini masing-masing di garap oleh anak buah ayah.
Suara bising ini membuat tak tahan berada di luar rumah. “cekleekk” membuka pintu rumah.
“Ibuu!”.
“Kenapa?” sahut ibu.
“Diluar rameee!.”
“Duduk di dapur saja sini”. om dan ibu sedang berada di dapur.
Tepat malam hari aku bertanya kepada ibu
“kemana Ayah?” sudah sejam lebih aku ta melihatnya berada dalam rumah.”
“Ayahnya barusan berangkat ke luar kota Bhy!.”
“Kok tidak pamit Bhybhy!” Tanya pada ibu.
“Hemm” kalau ngorok, masa mau di bangunin bhy!” Sahut om ku
“Yaa kan bisa nunggu sampai bangun, om!” Ucap.
“Ayahmu sedang terburu-buru Bhy!” Kata ibu menjelaskan pada.
“Sedang apa sih bu disana?”
“Ayahmu mengantarkan seorang teman yang akan memberikan gaji kepada karyawannya.”
“Kenapa harus dengan ayah?” tanya menyela.
Itu juga termasuk tanggung jawab ayahmu kepada orang lain dan temannya, jadi sebelum ayahmu mengenalmu, ia juga bekerja keluar kota bersama temannya itu, namun tidak perlu khawatir sehari dan paling lambat dua hari pagi pasti sampai rumah. Begitu kata ibu.
Ibu yang menjawab dengan penuh kekhawatiran itu mencoba menenangkanku atas pertanyaan yang aku ajukan padanya.
“Bagaimana capeknya jikalau bekerja seharian penuh?”
Akankah seperti ini sosok Ayah seharusnya?”
Yang Farabhy mulai heran dengan pekerjaan dan perjuangannya itu.
“Bhy! Om pulang dulu yah?”
“Jangaaan, kasian ibu disini. Geger pada om.”
“Sebentar saja Bhy!” sahut om
“Om itu mau menjemput nenek Bhy!” Sahut ibu.
“ouhh, jangan lama-lama yah”.
Tak berpikir panjang Farabhy yang sudah bisa menonton tayangan televisi dengan berbagai acara sangatlah senang dengan ini. Biasanya harus berkunjung ke rumah tetangga untuk bersama-sama menikmati tayangan perfilman, atau kalau tidak begitu ya dengan bermain berkumpul dengan teman sebagai pengganti hiburan di rumah.
Saat ini diusia yang masih menginjak 10 tahun dengan duduk dibangku kelas 4 sangatlah mewah.
Perjalanan menuju sekolah dengan fasilitas BECAK langganan membuatku terkesima dengan fasilitas yang diberikan Ayah dan keluarga baruku ini, awalnya jalan kaki namun sekarang bisa menggunakan BECAK langganan, sungguh kehidupan yang tak seperti biasanya.
Kehidupan yang awalnya sungguh dalam kekurangan berubah menjadi kesederhanaan bahkan cukup menurutku, sebab kekurangan yang aku alami sebelumnya memberikan pelajaran bahwa semua barang yang dimiliki wajib dijaga betul secara utuh dan benar, dan itu terwujud dikala Ayah membelikan perlengkapan sekolah kepadaku.
“sseeetttt” rem sepeda terdengar di halam rumahku, bertanda om telah datang bersama nenek.
“Wwwiiiiihh, lihat apa Bhy!” ucap nenek pada.
“Sini nek, bagus lhooo.” fokus dengan tayangan di televisi.
Di rumah itu, ibu menjelaskan pada om dan aku, tentang sosok ayah. Karakter dan tingkah lakunya memberikan nuansa dalam rumah ini menjadi teratur. Tegas, sehingga membuat Farabhy lebih kuat lagi melatih mental dan kesiapan menjalani persoalan hidup ini.
Ketegasan, terstruktur sangatlah diterapkan oleh Ayah, sosok yang tidak banyak berbicara namun sekali memberikan kode baik gerak tubuhnya sudah memberikan ketakutan padaku, seolah olah tanpa bicara aku harus diam terlebih dahulu. Begitulah ternyata wataknya, dan bagi anak harus layak patuh kepadanya.
“Suatu ketika Farabhy lupa menaruh perlengkapan sekolah.”
“Permisiiiiii” suara pak becak yang sudah terdengar di halaman rumah.
“Lama menungguku, tak kunjung keluar rumah. Tak sabar rasanya tukang BECAK memanggil Ayah menanyakan keberadaanku padanya.”
“Bhyyyyyy! Suara ayah dengan sedikit kerasss.” Kamu sudah ditungguu!!!.
“kaget dengan nada itu”,belum aku jawab, beliau menyahutnya. “Kamu cari Apaa!!”
“Gemeter rasanya sangking dan tambah keringetan badanku.” Farabhy jawab” Tasku gada di meja dekat Televisi. Dengan nada gemeter akupun menjawab itu.
Serontak tidak membantu mencarikan malah ayah keluar dengan nada halus berbincang kepada sang tukang BECAK.
“Maaf anakku hari ini tidak bisa ke sekolah, dia SAKIT.”
Akhirnya sang becak memaklumi itu, akupun lega dengan ungkapan penyataan ayah kepada sang tukang BECAK .
Akan tetapi setelah sang BECAK pergi dari halaman rumah, seketika juga pintu rumah ditutup rapat-rapat oleh Ayah.
“Lain kalau naruh barang apapaun jangan sembarangan, kamu itu jangan pernah mempersulit orang lain, coba lihat Tukang BECAK itu masih ada pekerjaan yang lain yang harus ia kerjakan, bukan hanya mengantarkan kamu sekolah!”.
Dengan ungkapan dan perkataan itu seketika Ayah adalah orang yang tegas, berbicara padanya perlu kehati hatian gurau namun namun tak bisa sembarangan. Tapi ayahku Hebat

หนังสือแสดงความคิดเห็น (123)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    beberapa bab awal alurnya membingungkan bertele tele , bab bab akhir baru jelas alurnya, ceritanya bagus..

    21d

      0
  • avatar
    Dewa hardiansya

    sangat baik

    05/02

      0
  • avatar
    Jerry Wahyudi

    bagus

    17/08

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด