Setelah meninggalkan orang-orang tersayang dan rumah istananya, resmilah dia kini menjalani kehidupan baru di pesantren, karena tadi sampainya setelah Zuhur dan udara yang panas dia pun mandi dengan membawa peralatannya. Sebelum pergi untuk mandi gadis itu bertanya dahulu kepada salah seorang santriah untuk menujukkan letak kamar mandi. “Kak, maaf. Kalau kamar mandi di mana, ya?” tanya Alya sopan. Di tempat ini, Alya harus menempatkan bahasa dan kata yang tepat agar tidak menjadi bahan omongan orang yang menjadikannya dijauhi karena bahasa dan tingkahnya yang tidak sesuai dengan fitrahnya. “Oh, kamu tinggal lurus aja dari sini, setelah kamu melewati dua kamar kamu tinggal belok kiri,” jelasnya. “Baik, Kak. Terima kasih.” Dia masih belum memanggil semua santri di sana dengan panggilan nama kerena dia belum mengenalnya dan sama sekali belum berkenalan. Sesampainya di tempat, gadis itu keheranan dan merasa malu karena menemukan orang baru lagi dan lebih tepatnya di kamar mandi. Dia berpikir bahwa kamar mandinya banyak ternyata hanya terdapat tujuh WC dari tiap asrama sehingga banyak juga yang ngantri mandi di sana, karena setelah sore akan susah sekali kebagian untuk mandi. Asrama Cahaya memiliki kamar dua puluh satu kamar yang masing-masing kamar terdapat lima orang santri, kecuali kamar PIV tempat roisah dan pengurus lainnya yang tidak lain ditempati oleh Alya sehingga jumlahnya ada enam orang. Karena Alya tidak mau dicap sebagai orang yang pendiam apalagi karena murid baru, dia selalu memberanikan diri untuk mengawalinya bertanya lebih dulu, tersenyum atau pun menyapa meski dia tidak tahu namanya, tetapi sayang ada salah satu santriah yang sepertinya tidak suka padanya, padahal Alya tidak tahu apa-apa. Apa kesalahannya? Tersenyum pun malah dibalas dengan delikan yang kesal. Dia hanya diam, mencoba untuk sabar agar tidak mendapat sebuah masalah. “Ra, dia kayaknya murid baru. Dia cantik, bisa-bisa Cep Adnan suka lagi sama dia!” Ucapan salah satu teman santriah tadi seperti mengompori dan perkataan tadib terdengar oleh Alya. ‘Cep Adnan, siapa dia? Apa hubungannya?’ batinnya bertanya-tanya. “Apaan, sih, kamu!” bentak perempuan itu marah pada temannya. Ara Delia adalah namanya, dia adalah santriah cantik nan pintar, tetapi sayang dia terlalu sombong dengan apa yang dimilikinya bahkan dia pun memiliki sifat yang egois. Terlebih lagi dia menggemari Cep Adnan, di mana sosok tersebut adalah sosok dambaan para wanita, sehingga jika gadis itu mendengar bahwa orang lain pun menyukainya pasti dia akan membenci orang yang menyukainya tersebut. Tidak heran, meskipun dia cantik dan pintar. Ara tidak banyak disukai orang karena sifatnya tersebut. Sehingga yang dekat dengannya hanya dua sahabatnya saja yang sama-sama satu type hanya beda kesukaan saja. *** Menunggu antrean mandi ternyata lama dan membuat kesal juga. Alya yang sudah tidak tahan ingin mengguyur tubuhnya dengan air masih harus menunggu tiga orang lagi yaitu Ara dan dua sahabatnya. Di samping itu Ara terus menatap dan mendeliknya dengan sinis seperti membencinya. Namun, Alya dalam posisi ini terlihat polos sehingga hanya menanggapinya dengan bodo amat karena memang tidak penting dan kenal juga, tidak. Muak dan sebal itulah yang dirasakan Ara, dia sangat kesal melihat Alya karena pikiran dan hatinya sedang ketakutan dan membayangkan bahwa Cep Adnan akan memuji-muji Alya karena parasnya yang cantik apalagi dia adalah murid baru yang pastinya akan menjadi sorotan semua orang. “Gaiss, nanti aja, yuk! Mandinya. Kesel gue lama-lama di sini, muak,” decaknya. “Loh, kenapa?” tanya kedua sahabatnya heran.
“Sudahlah, mandinya nanti aja,” desisnya sambil berjalan menuju keluar, sontak temannya pun langsung mengikutinya. Melihat hal itu, Alya hanya mengeryitkan dahinya kebingungan, rasanya dia ingin cepat-cepat beres mandi dan ingin bertanya kepada yang di kamar tentang Cep Adnan. “Sukurin, deh, dia pergi. Jadi ‘kan gue mandinya agak cepetan. Emh, tapi, kok ... kenapa bahasanya kasar, ya? Sudahlah bodo amat,” ucapnya bermonolog. Sudah lama menunggu akhirnya WC nomor dua kosong juga, tanpa basa-basi dia pun masuk. *** Sesuai dengan rasa penasaran tadi, Alya langsung bertanya pada kakak kelas di kamarnya. “Kak, boleh nanya?” tanya Alya sopan. “Iya, mau nanya apa?” jawabnya. “Kak, Cep Adnan itu siapa?”tanyanya penasaran. “Oh, dia. Dia itu putera bungsu dari ketua yayasan sekaligus pengajar ngaji juga. Soal umur dia gak jauh beda sih, sama kita. Dia masih muda baru sekitar 22 tahunan,” jelasnya. “Oh, gitu.” Alya mengangguk. “Iya, btw kamu tahu dari mana nama dia?” Kakak itu bertanya balik. Mendengar pertanyaan tersebut Alya langsung menceritakan semuanya tanpa basa-basi, setelah beres dia ceritakan, kakak tersebut tertawa kecil. “Loh, Kakak, kok, ketawa?” “Hi hi, iya. Pasti yang tadi itu Ara. Dia emang gitu anaknya. Jangan takutlah sama dia. Ara mah emang gitu apalagi sama murid baru cantik, kalem bukan kamu aja kok, korbannya,” tutur Kakak tadi. “Kok, gitu sih. Kak?” “Iya, dia begitu karena dia emang anak pinter sih, di sini. Hanya saja agak sombong. Terus dia itu katanya suka sama Cep Adnan, padahal Cep adnan itu orangnya cuek dan gak sembarangan pilihan perempuan.” “Oh, gitu, ya. Kak,” kata Aulia tersenyum. “Oh iya, nama Kakak siapa? Maaf Alya baru nanya, he he,” ujarnya tanpa rasa malu karena banyak bertanya, tetapi belum berkenalan. “Nama Kakak, Aisyah dan kebetulan saya roisahnya di sini. Makanya kamu jangan takut sama yang namanya Ara,” ujar Aisyah. “Dih, nggaklah, Kak. Masa iya Alya takut sama yang begituan, ha ha.” Mereka pun akhirnya berbincang lama dan semakin akrab dan sangat kebetulan sekali dia sekamar dengan roisahnya. Entah itu kebetulan atau memang sengaja dia ditempatkan di asrama cahaya dan sekamar dengan roisahnya di kamar nomor sembilan. ‘Permulaan yang mengesankan, belum sehari aja, sudah ada yang mau ngajak musuh-musuhan, padahal kenal juga tidak. Jadi penasaran sama yang namanya Cep Adnan, seperti apa dia?” batinya bertanya. “Alya, nanti malam kamu sudah mulai ngaji, ya. Karena kamu murid baru, sesuai dengan peraturan pesantren kamu akan ditempatkan di kelas persiapan dulu,” ujar Aisyah. “Iya, Kak. Siap. Soal ilmu, gadis itu memang sangat bersemangat sekali dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk mendapatkan ilmu yang baru dan lebih bermanfaat lagi meskipun dia pernah mengecewakan kedua orang tuanya karena nakal. *** Magrib pun telah tiba, semua santri berangkat ke mesjid untuk melakukan salat berjamaah termasuk Alya, setelah habis melakukan salat barulah semua santri baik laki-laki atau perempuan memasuki kelasnya masing-masing. Alya yang kala itu masih santri baru, dia tidak tau di mana kelas yang akan dia tempati, santriah di sana tidak ada yang bertanya atau pun mengajak dirinya, dengan berani dia pun bertanya kepada salah satu santriah yang dia panggil. “Kak, tunggu! Saya mau tanya, kalau kelas persiapan di mana, ya?” seketika orang itu menoleh kepadanya. “Oh, iya, kamu murid baru di sini, ya?” “Iya.” “Kamu tinggal lurus aja dari sini, setelah kamu mendapati tiga ruangan setelah bangunan itu nanti ada tulisannya kok, di sana Kelas Persiapan,” jelasnya. “Oh, iya, Kak. Baik, terima kasih.” “Sama-sama.” Dari serambi masjid Alya harus berjalan lurus sampai dia melewati tiga ruangan yang berdekatan dengan bangunan tempat para pengurus sampai dia menemukan ruangan yang bertuliskan kelas persiapan. Berjalanlah gadis itu mengikuti arahan dari Kakak kelasnya sampai dia pun menemukan kelasnya. Entah apa yang dipelajari di kelas ini, dia sama sekali tidak membawa kitab apa pun. Mungkin orang tuanya lupa untuk membelikannya atau memang tidak tahu dan harus menunggu panggilan Alya tentang kitab apa yang dia butuhkan. Masuklah dia ke ruangan tersebut, semua santriah melihatnya dengan tatapan yang serius, ada yang tersenyum ada pula yang seakan melihat sesuatu yang aneh. Dalam pembelajara santri laki-laki dan perempuan terpisah tetapi gurunya sama. Mereka tersekat oleh tembok, tetapi gurunya sama. Jadi di dalam kelas persiapan satu yang Alya tempati terdapat dua ruangan tersekat tembok yang di depannya terdapat celah untuk guru memantai santri dan santriahnya. “Kamu murid baru ya, di sini?” tanya salah seorang santriah antusias di saat Alya masih berdiri dan bingung akan duduk di mana karena penuh. “Iya,” balasanya sambil tersenyum. “Ya, sudah. Ayo duduk di sini sama aku!” tawarnya mengajak. Tanpa berpikir panjang Alya pun langsung mengiyakan ajakannya. Netra gadis itu terus memperhatikan orang-orang di sekitarnya apalagi dia sedang menunggu orang yang Ara gemari itu. Sangat senang dan bebas di sini, karena Alya tidak sekelas dengan orang yang namanya Ara. Wajarlah jka tidak sekelas karena Ara sudah tiga tahun mondok di sininya tidak seperti dirinya. Huff, seketika keadaan kelas hening. Ternyata guru pengajar sudah datang. Namun, dia bukanlah orang yang dia tunggu dari penanmpilannya pun sudah terlihat bahwa guru tesebut sudah bisa dibilang tua, ya karena sudah bapak-bapak dan beristri. Dia adalah Ustaz Abdul Fatah, menantu dari sang pemilik yayasan yang selalu dipanggil Ustaz Fatah. Ternyata benar kata orang tua dulu-dulu, soal jodoh mah gak bakalan kesasar pasti ketemu sama yang sederajat dan sebanding lagi sama kitanya. Ustaz Fatah pun masuk dengan mengucapkan salam, karena dia tahu bahwa telah kedatangan murid baru, Ustaz Fatah pun menyuruh Alya untuk memperkenalkan dirinya di hadapan santriahnya. Alya pun menuruti perintah gurunya tersebut. Tatkala di depan, tidak sengaja dia menoleh ke arah pria dan mereka langsung menatap dan memujinya yang seketika suasana di ruangan santri putra menjadi ramai. “Wah, dia cantik, ya?” “Masih sekolah, gak, ya? “Sangat menawan dan manis.” Beragam pujian membanjiri dirinya, tetapi dia tidak banyak menanggapi hal itu karena dia pun sadar bahwa usianya tidak semuda teman-temannya yang di sini, pikirnya. Dia menganggap dirinya adalah yang paling tua sehingga membuat dirinya malu. Usianya masih delapan tahun, tetapi wajahnya massih terlihat seperti umur lima belas tahun, mungkin karena efek dia adalah gadis yang manja dan sekaligus terpelihara. Setelah memperkenalkan diri, perempuan itu pun dipersilakan duduk kembali oleh ustaznya. Dia pun duduk kembali di tempatnya. Saat pembelajaran di mulai semua orang mulai menerjemah kitab kata perkata atau dalam bahasa sundanya sering disebut dengan melogat. Karena dia tidak membawa kitabnya, dia hanya bisa menyimak dan menuliskan kata-kata yang penting dan pesan-pesan penting dari apa yang dikatakan oleh ustaz tersebut. Di momen-momen terakhir ustaz mengajar, seperti biasanya Ustaz Fatah selalu memberikan soal kepada semua santrinya dan orang yang pertama ditanya oleh ustaz tersebut adalah Alya. Sengaja seorang guru bertanya pada muridnya untuk mengetahui kemampuannya dan sampai di mana letak keseriusannya. Satu pertanyaan berhasil dia jawab dengan sempurna meski tanpa melihat kitab. Kitab yang diampu oleh Ustaz Fatah adalah Kitab Sulam Munajat. Waktu mengajarnya sekitar dua jam dan setelah itu salat isya dan dilanjutkan lagi oleh guru yang lain sampai jam sepuluh. Awal yang sempurna dan terlihat indah tanpa celah. Gadis itu sangat merasa senang untuk pertama kalinya dia duduk dan tidur tidak bersama dengan orang tua. Ya, walau hati memang sangat menrindu, tetapi pelan-pelan hal itu terobati oleh suasana yang menentramkan hati seperti ini. Setiap orang jika memang ada niat untuk memperbaiki dirinya agar lebih baik, seburuk apa pun masa lalunya jika dia memiliki keinginan untuk mengubah dirinya agar lebih baik lagi, secara perlahan hal itu akan terjadi. Tidak ada yang instan karena semuanya memiliki proses. Rumah tidak akan langsung berdiri tanpa adanya pondasi terlebih dahulu. Nikmati dulu prosesnya karena semua akan indah pada waktunya dan ingat, hasil pun tidak akan mengkhianati usaha.
not bad
25/02
0bgus
23/12
0keren baru baca 3bab
10/09
0ดูทั้งหมด