logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 4 Masuk Pesantren

Alya tertegun di balik jendela sambil menatap lurus keluar, dia memikirkan Ben yang mengatakan bahwa dirinya sakit hati saat Alya memeluk Kevin dengan penuh kasih sayang, tetapi gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa karena waktu dia hanya sebentar untuk memikirkan hal itu.
“Alya, Sayang! Ke sni, Nak!” panggil Maya dari bawah.
“Iya, Mah,” sahut Alya.
Dia pun keluar dan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati.
“Ada apa, Mah?”
“Alya, minggu depan kamu sudah masuk pondok, ya,” kata Ayahnya.
“Apa! Bukannya mau sehabis lulus, Pah? Kok minggu depan? Kan belum daftar?” ujar gadis itu dengan penuh perasaan yang tidak bisa digambarkan, kaget dan kesal seperti menjadi satu.
Tangannya bergetar saat mendengar ayahnya akan memasukkan dia ke pesanteren minggu depan. Dia pikir minggu depan itu hannyalah sebuah lelucon yang tidak akan menjadi nyata. Sekaligus alasan itu dipakai untuk dirinya lepas dari tangan Kevin, tetapi kenapa hal itu nyata jadinya.
“Papa sudah daftarin kamu, kemarin. Kamu tinggal beres-beres dan persiapkan aja semuanya dan jangan lupa untuk menghadapi ujian kamu juga harus menghapal, ya,” papar ayahnya.
“Kok, Papa gitu,” ujar gadis itu tidak menerima.
Dia langsung beranjak dari tempat tersebut dan kembali ke kamarnya.
“Alya, dengarkan dulu!” pekik ibunya, tetapi gadis itu tidak mendenngarkannya.
Badannya terbaring lurus, matanya menatap kosong ke langit-langir kamarnya. Hembusan angin dingin yang menyapa tubuhnya seakan menjadikannya teman kesepian seolah tidak ada yang memperhatikan, dari ujung ekor matanya terus mengalirkan air berharganya.
Rasanya dia ingin mengadukan semuanya kepada Ben, tetapi untuk bicara pun lidahnya terasa kelu, mulutnya seakan tidak akan lancar mengatakan apa pun di saat kondisi seperti ini.
Diam, diam adalah caranya, pasrah adalah ujungnya. Tidak ada yang bisa melawan takdir, jika memang ini takdirnya dia memang akan berangkat minggu depan dan jika bukan pasti tidak akan pernah terjadi.
***
Tibalah waktunya di mana Ujian Nasional berakhir, keluarga Ardi sudah bersiap untuk mengantar putrinya ke pondok. Di perjalanan mereka berhenti sebentar untuk menunaikan salat Jum’at dan zuhur. Mereka berangkat pada hari Jum’at pada pukul 10.00 WIB.
Sesudah melaksanakan kewajiban tersebut, mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Alya menyender pada jendela mobilnya sambil melamun, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya di pesantren dan dia pun tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan mereka saat mengetahui bahwa dirinya sudah masuk di pesantren.
“Mah, apa nanti saat kelulusan Alya tidak bisa menghadirinya?” tanyanya lesu.
“Bisa, Sayang. Nanti Mama sama Papa akan kabari ke pengurus pondok soal kehadiran kelulusan, mah.”
“Iya, Sayang. Jangan khawatir, pas nanti kelulusan kamu bisa hadir, kok,” ujar ayahnya menambahkan.
Mendengar ucapan kedua orang tuanya, gadis itu pun merasa tenang dan senyum manisnya pun kembali menghias wajahnya yang ayu.
***
Akhirnya tibalah mereka di Pesantren Nurul Qalbi. Bola mata yang bulat dari Alya terus mengamati seluruh sudut pesantren dari mulai asrama terdekat sampai asrama yang berada di ujung.
Di saat dirinya sudah menginjakkan kaki di tanah penjara suci itu. Tubuhnya bergetar saat melihat seluruh santri memakai pakaian yang rapi, sopan, dan tertutup. Soal perempuan ada yang memakai niqab ada pula yang hanya memakai hijab panjang yang menjuntai selutut.
Dia menangis dan kagum, betapa berharganya seorang perempuan sampai orang lain pun tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk tubuhnya yang indah, kecuali kelak untuk suaminya. Di sana, barulah dia sadar bahwa di balik ayahnya terus mendesak untuk memakai hijab itu karena memang perempuan itu berharga dan saat memakai pakaian yang tidak layak, wajarlah seorang ayah marah ketika melihat putrinya memamerkan tubuhnya yang indah di hadapan semua orang meski memang dia memakai baju, tetapi tidak sempurna.
“Sayang, kenapa malah nangis, loh? Ayo kita masuk ke ruang pengurus dan bertemu pemilik yayasannya!” ajak ayahnya.
“Iya, Pah. Mah, Pah, apa nanti aku akan sendirian di sini? Tidak akan ada yang bangunin aku lagi, tidak ada yang akan menyiapkan susu hangat lagi tiap pagi,” tangisnya.
“Ada, kok, di sini akan lebih banyak teman. Mama dan Papa yakin kalau kamu akan betah di sini,” ujar ibunya sembari memeluk putri kesayangannya dan diikuti oleh ayahnya.
“Ya, udah, ayo kita bilang dulu ke pemilik yayasan bahwa kamu sekarang akan mengaji di sini.”
Gadis itu pun tersenyum saat mendengar ayahnya berbicara dan mengajaknya untuk bertemu dengan pemilik yayasan. Walau berat hati dia rasakan saat akan ditinggalkan oleh orang tersayang dan meninggalkan orang-orang yang dia sayang. Sulit, memang sulit untuk diterima, tetapi itulah yang terbaik baginya saat ini.
Masuklah dia ke ruang pengurus dan berbincang dengan pengurusnya, setelah itu diantarlah mereka ke tempat pemilik yayasan untuk mendoakan gadis itu agar betah di pesantren ini.
Sesampainya di rumah ketua yayasan, mereka pun masuk dan bertemu dengan pemiliknya yaitu Ustaz Muhammad Ali Nawawi yang diantar oleh roisnya.
“Assalamualaikum,” salam pertama diucapkan oleh rois sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumussalam.” Suara jawaban salam dari dalam terdengar.
Keluarlah Ustaz tersebut sambil tersenyum.
“Kang, ada yang mau ketemu, ini keluarga yang kemarin mendaftarkan putrinya,” ujar rois itu menunduk.
“Oh, iya. Silakan duduk, Pak, Bu,” ucapnya mempersilakan keluarga tersebut duduk dan rois kembali ke ruangannya.
Mereka pun mengiyakan dan duduk menghadap Ustaznya.
“Bagaimana, Pak?’ tanya Ustaz tersebut.
“Ini, Pak. Saya mau menitipkan putri saya di sini agar dirinya bisa mendapatkan ilmu agama dan pribadinya yang lebih baik lagi,” tutur Ardi.
“Oh, iya, siapa namanya, Pak?”
“Alya Fahira Aulia.”
“Baik, Neng Alya. Sekarang Neng Alya akan menjadi bagian dari Pesantren Nurul Qalbi, ya. Semoga Neng, betah di sini, mendapatkan ilmu yang bermanfaat, menjadi anak yang salihah, patuh kepada orang tua, serta ilmu yang didapat semoga menjadim ilmu yang bermanfaat dan barakah.”
Serentak semuanya mengucapkan Aamiin dan Ustaz Ali kembali berdoa lagi untuk memantapkan doanya.
“Alhamdulillah, semoga betah, ya, Neng.
Untuk kamarnya, Neng mungkin akan ditempatkan di asrama cahaya. Nanti akan diantar oleh Rois fathur.”
Gadis itu mengangguk dan Ustaz kembali memanggil ketua rois untuk mengantar keluarga tersebut ke asrama cahaya untuk menempatkan Alya di sana.
Sambil menunggu Rois tersebut datang, sebagian santri disuruh untuk membantu mengankat barang-barang Alya yang berada di dalam mobil. Setelah ketua rois datang barulah mereka bergegas menuju asrama cahaya sambil membawa barang yang dibantu oleh sebagian santri.
“Alhamdulillah sampai juga,” ujar Ayahnya.

Alya menatap binar mata kedua orang tuanya tersebut penuh sendu.
“Mah, Pah, Alya di sini sendirian gak ada teman, gak akan ada yang bangunin subuh-subuh dengan suara khasnya, gak akan ada lagi ....”
Keluhan Alya sambil menangis terpotong oleh orang tuanya.
“Sudah, Sayang, sudah. Kita sayang sama Alya, di sini akan ada banyak teman pasti baik-baik, kok,” kata ibunya menenangkan sambil memeluk erat putrinya yang dari saat ini tidak akan lagi serumah dengannya. Begitu juga ayahnya yang sangat memanjakan gadis itu, dia pun memeluk sambil mengusap kepalanya.
Santri yang melihat hal itu seakan sedih karena terbawa suasana, maklumlah mereka pun dulunya seperti itu. Namun, tidak semanja Alya.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (98)

  • avatar
    BahiahSiti

    not bad

    25/02

      0
  • avatar
    AuliaCindy

    bgus

    23/12

      0
  • avatar
    Putri D Ayundasari

    keren baru baca 3bab

    10/09

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด