Kevin sudah merencanakan rencana kedua agar Alya kembali kepadanya, padahal tanpa dia sadari rencana yang pertama pun gagal total, bukan malah mendekatkan Alya pada dirinya melainkan menjauhkannya bahkan sangat jauh dan dalam menempuh masa depan bersamanya pun rasanya mustahil sekali. Alya sudah benar-benar benci kepada Kevin karena telah menghancurkan kepercayaannya selama ini, memang tidak lama juga, sih, hubungan mereka hanya bertahan selama kurang lebih satu tahun. Bagi sebagian orang mungkin hubungan itu sangatlah lama, tetapi bagi yang berpikir positif dan berkepanjangan, memiliki hubungan selama satu tahun itu sangatlah sebentar. Tidak berhenti di kantin saja, tenyata lelaki yang pernah hadir di masa lalunya itu mengejar dirinya dan masuk ke kelas tersebut. “Loh, kenapa lo ngikutin gue, sih?” tanya Alya bengis. “Al gue gak bakalan pergi sebelum, lo balikan lagi sama gue,” pintanya memaksa. “Dikira gue ini gila, apa! Harus nerima lo yang kagak jelass hati lo itu buat siapa!” bentaknya. “Kok, ngomongnya gitu?” “Pergi gak, lo! Pergi! Kerjain tuh soal buat latihan ujian, jangan ganggu orang pergi ...!” Namun, pria itu tetap diam di tempat yaitu di samping Alya, prilaku mereka berdua sudah tidak asing lagi bagi para siswa lainnya, karena hubungan mereka sudah diketahui oleh siapapun bahkan keluarga sekalipun. Sudah waktunya masuk dan mengerjakan latihan soal, tetapi pria itu masih tetap di sampingnya, sampai pada akhirnya guru mapel pun datang. Namun, tetap saja dia diam di tempat dan guru itu pun hanya dia saja. Apa karena takut oleh Kevin, sebab dia adalah anak dari temannya? Atau sengaja karena semua orang pun sudah tahu perihal hubungan mereka. Keberadaan Kevin benar-benar membuat Alya dan teman-teman lainnya risih. Pria itu sangat mengganggu sekali dan guru pun apa? Hanya diam saja tidak mengusirnya untuk keluar padahal ‘kan kelasnya pun berbeda bahkan guru pengajarnya pun berbeda. Gadis itu sangat geram sekali, dia mulai menyobekkan kertas secara kasar dan membentuknya seperti bulatan. ‘Sesabar dan setahan apa sih, dia?’ gumamnya dalam hati sambil menyunggingkan sebelah bibirnya. Perlahan-lahan, Alya mengambil tindakan. Satu lemparan berhasil lolos mengenai wajahnya. “Alya ...,” geram Kevin, tetapi pria itu berusaha menahan amarahnya. “Apa, lo!? Pergi gak, dari sini!?” bentaknya sambil mendengkus. “Gue gak akan pergi sebelum cinta gue diterima kembali.” Pria itu lagi-lagi membuatnya naik darah, wajah cantiknya seakan terlihat seram. Namun, amarah gadis itu dipadamkan oleh ketiga temannya yang maju ke depan menghampiri Alya. “Woy, gak punya kuping, ya? Bukannya lo pinter? Apa mau kita potong aja kupingnya!” cerca Gavin. “Heh, jangan ikut campu masalah gue,” balasnya melengos. Mereka berempat saling debat, tidak ada yang mau mengalah. Kevin terus berambisi akan keluar setelah Alya menerima cintanya lagi dan Kevin mengancam dia tidak akan pulang sebelum cintanya diterima kembali. Keras kepala, iya mereka sama-sama keras kepala dan punya pendirian masing-masing. Alya mempertahankan image-nya di mana dia tidak akan pernah kembali lagi ke masas lalu meskipun hanya satu detik dan Kevin tetap pada ambisi dan kemauannya yang sangat tinggi. Soal cinta, Kevin memang sangat mencintai perempuan cantik itu, tetapi di sisi lain dia juga ingin memiliki perusahaan ayahnya dan tidak boleh jatuh ke tangan adiknya. Mengenai selingkuh, yang namanya manusia tidak lepas dari yang namanya nafsu. Selama satu tahun menjalin hubungan Kevin dan Alya tidak pernah kencan, makan malam berduaan, main di taman, dan segala hal lainnya. Cukup bertemu di sekolah dan jika di luar itu Kevin harus menemui Alya di rumah agar mendapat pengawasan dari orang tuanya. Bisa dikatakan pria yang memiliki ambisi tinggi itu serakah, memiliki sifat cemburu yang tinggi, tetapi dia pandai menyembunyikannya. *** Kevin yang terus berdebat dengan sahabat Alya membuat ricuh seisi kelas tersebut, sama sekali tidak berfokus pada yang namanya belajar. Di saat kondisi tersebut mulai panas barulah Pak Rega yang selaku guru fisika, angkat bicara dan mengancam akan melaporkannya ke kepala sekolah. Tiga langkah setelah Pak Rega mengancam dan mulai berjalan ke luar untuk menemui Pak Kepsek, tiba-tiba Kevin pingsan di tempat dan membuat Alya khawatir. Tentu saja yanng namanya kasihan masih tetap ada apalagi jika dalam kondisi seperti ini. Namun, jeleknya adalah dia akan terus menyalahkan diri sendiri jika dia merasa bahwa hal tersebut karena ulahnya. Suasana kelas menjadi hening, Pak Rega pun menghentikan langkahnya saat mendengar seruan dari salah satu siswa yang menyuruh untuk kembali ke kelasnya dengan wajah yang panik. “Ada apa?” tanya Pak Rega. “Itu Pak ... i-itu, Kevin pingsan,” jawabnya terbata-bata. “Apa!?” Guru tersebut pun langsung kembali ke kelasnya untuk memastikan, ternyata benar bahwa pria yang terobsesi dengan Alya sedang terbaring di pangkuannya. “Vin, Kevin bangun! Kevin.” Cemas Alya sambil menepuk-nepuk pipinya agar segera sadar, tetapi hasilnya nihil. “Vin, maafin Alya. Kevin, bangun,” imbuhnya. Wajahnya cemas tak karuan, dia meminta tiga sahabatnya untuk membawa Kevin ke UKS, ada rasa sakit dalam hati Ben saat mendengar hal itu. Namun, dia tetap berusaha terlihat baik-baik saja demi melihat gadis itu tenang. Pria kelas sebelah itu langsung dibawa ke UKS oleh tiga sahabat Alya, gadis itu menutupkan kedua tangannya di muka sambil menangis. Berjalan, dia berjalan mengikuti mereka dan tidak menghiraukan Pak Rega dan teman-teman lainnya. “Sudah-sudah, cepat kalian masuk dan belajar lagi!” perintah Pak Rega pada semua murid agar kembali ke kelas dan belajar kembali. *** Di UKS, pria itu langsung dibaringkan dan Alya langsung memanggil kepala sekolah yang selaku pamannya Kevin. Dia berjalan dengan begitu cepat dan penuh dengan rasa kekhawatiran. “Nggak, ini bukan salahku, bukan!” gumamnya sambil mengacak rambutnya karena takut disalahkan dan terus berjalan dengan cepat yang diiringi rasa lemas. Sesampainya di ruang Kepsek, secara refleks dia langsung mengayunkan tangannya dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, setelah mendengar panggilan bahwa dia dipersilakan masuk barulah gadis itu masuk dan mengucapkan salam kembali di hadapan Pak Kepsek tersebut. “Alya!?” kata Pak Gio selaku kepala sekolah. “Assalamualaikum, Pak,” ucapnya sambil menunduk. “Waalaikumussalam, Alya. Ada apa? Kamu kenapa?” tanya Pak Gio baik dan perhatian. “Pak, maafin Alya.” “Iya, kenapa?” tanyanya lagi. “Itu Pak ... Kevin pingsan, sekarang dia di UKS,” ujarnya dan bendungan dari tangis yang ditahan kembali membanjiri lagi. “Apa! Ya, sudah. Kamu jangan nangisn lagi dan ayo kita ke sana!” kata Pak Gio sambil mengajak. Mereka pun berjalan menuju UKS untuk melihat Kevin yang terbaring lemah. Sesampainya di lokasi keadaan Kevin masih terlihat sama, dia masih belum sadarkan diri. Sontak Pak Gio terus bertanya-tanya dan mendesak Alya tentang sebabnya. Namun, gadis itu tidak menjawabnya. Mulutnya kaku dan matanya terus membanjiri pipinya. Dia tidak ingin disalahkan karena ini bukan salahnya, gadis itu ketakutan. Namun, jika dia tidak mengatakannya maka Pak Gio akan terus mendesaknya, di saat gadis itu mulai membuka mulutnya untuk berbicara tiba-tiba Kevin sadar dan langsung memanggil namanya. “Al-ya?” Mendengar panggilannya tersebut Alya langsung menoleh dengan wajah yang sembab dan menghampirinya bahkan sampai memeluknya. “Kevin, maafin Alya,” pintanya memohon dengan lembut sambil memeluk. “Iya, asalkan kamu kembali lagi sama aku ya, minions,” pinta Kevin. Gadis itu melepaskan pelukannya dan memegangi tangannya. “Kevin, jaga kesehatan, ya. Gue gak bakalan bisa balik lagi sama lo dan gak bakalan bisa hubungin lo lagi,” jelasnya sambil mengusap tangan Kevin. “Kenapa?” tanya Kevin antusias. “Karena, minggu depan gue akan mondok di pesantren dan gak bakalan bisa bawa HP atau pun laptop.” “Tapi alasannya apa? Bukannya kamu mau kuliah?” tanyanya lagi. Gadis itu pun menghela nafasnya dalam-dalam dan mulai menceritakan semuanya, mendengar penuturan Alya, barulah Kevin tersadar bahwa rencana sebelumnya membuat dirinya kehilangan segalanya. “Apa?” ujarnya lemah dan tidak menerima. “Iya. Ya, sudah, sekarang kamu istirahat dulu ada paman, kok, di sini. Gue mau kembali lagi ke kelas, selamat tinggal,” pamitnya sambil mengajak tiga sahabatnya untuk kembali bersamanya ke kelas. Saat itu pula Kevin membenci semuanya, benci akan tingkah dirinya yang selama ini membuat dirinya hancur karena telah membuat gadisnya semakin menjauh darinya. Semua rencana yang dia rencanakan gagal semua baik itu rencana pertama yang membuat Alya sedih karena akan dimasukkan ke pesantren dan yang kedua pura-pura pingsan yang membuat Alya khawatir tetap saja tidak membawa efek yang lebuh baik melainkan hancur semuanya. Namun, segagal apa pun dia, sebelum Alya menikah dia akan tetap mengejarnya.
not bad
25/02
0bgus
23/12
0keren baru baca 3bab
10/09
0ดูทั้งหมด