logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Part 5 | Masalah Baru

“Permisi, Mbak. Saya mau charger handphone. Stop kontaknya di mana, ya?” tanya Dewi penuh kelembutan berharap Rizka bisa merespons dengan baik juga.
“Di sebelah kanan, lo,” ketus Rizka membuat kening Dewi sekilas berkerut.
Teleponnya sengaja dimatikan agar tidak ada yang bisa menghubunginya, tapi sisa dayanya perlu diisi karena sejak semalam dia tidak men-charger ponselnya. Dewi mengabaikan tatapan tidak suka dari Rizka dan langsung menyambungkan kabel data ke stop kontak untuk mengisi daya ponselnya.
“Lo ngapain, sih, menginap di sini?” tanya Rizka ketus.
“Karena nyokap lo buat salah sama gue dan dia mau tanggung jawab ke gue dengan ngasih kamar ini buat gue pakai,” jawab Dewi tidak kalah ketus.
Awalnya Dewi masih bisa bersabar dengan sikap gadis berambut panjang ikal itu, tapi lama-lama tatapan sinis darinya membuat Dewi merasa dongkol dan tidak tahan untuk bersabar terlalu lama pada gadis yang sama sekali tidak bisa menghargainya.
“Lo pikir bisa tinggal di sini? Gue nggak bakal ketipu sama wajah sok polos lo itu!” sentak Rizka membuat Dewi merasa kesal, tapi memilih mengabaikannya.
Hanin yang kembali dari dapur lalu berdiri di depan pintu kamar dan mendengar ucapan Rizka barusan membuat Hanin sekilas melototi putrinya. Lalu, dia tersenyum ke arah Dewi dan mengajaknya untuk keluar dari kamar.
“Ayo kita makan dulu, Mbak,”
Dewi hanya mengangguk pelan menyetujui ajakan Hanin padahal perutnya baru saja diisi, tapi entah mengapa dia merasa lapar lagi saat Hanin mengajaknya makan.
“Cuma makanan penutup, kok,” kekeh Hanin yang kemudian membuat Dewi mangut-mangut.
“Rizka kamu juga! Mama tunggu di meja makan,” ajak Hanin bermuka datar.
Rizka pun menurut, tapi langkahnya terhenti saat melihat ponsel Dewi yang ter-charger di atas kasurnya. Dia lalu berjalan mendekat dan duduk di kasurnya untuk melihat ponsel Dewi. Apakah Rizka akan mengabaikan privasi orang lain?
Tentu saja, dia melakukannya untuk jaga-jaga. Alasan itu membuat dia sedikit tidak sopan terhadap privasi orang lain. Rizka menyalakan ponsel Dewi dan tidak lama kemudian ada telepon masuk dari kontak teleponnya yang bernama “Bapak”.
Betapa terkejutnya Rizka saat melihat ponsel itu bergetar, dan terdapat notifikasi hampir seratus lebih panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama dan dari beberapa nomor lainnya.
Tanpa ragu dan tidak mau berpikir panjang lagi, Rizka langsung menggeser tombol hijau berbentuk gagang telepon dan menerima telepon tersebut.
“Halo? Dewi? Kamu di mana, Nak? Bapak, mama sama kakakmu nyariin kamu ke mana-mana, loh. Kamu di mana, Sayang?” tanya seorang yang suaranya tampak seperti suara pria paruh baya yang seumuran dengan ayahnya.
Rizka langsung mematikan telepon secara sepihak setelah mendengar pertanyaan itu dari balik telepon, itu semua membuat dia sontak berdiri seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“D-d-dia kabur dari rumah? Perempuan itu? Astaga!” gumam Rizka tidak percaya.
Rizka merasa geram karena menerima perempuan yang saat ini sedang dicari-cari oleh keluarganya. Rizka sangat yakin kalau keluarga perempuan itu sudah meminta bantuan polisi untuk mencarinya dan keluarganya bisa mendapat masalah kalau sampai polisi datang ke rumahnya.
“Awas aja, ya, kamu,” geram Rizka seraya mencabut kabel yang tersambung pada ponsel Dewi. Dengan segera dia menghampiri sang ibu yang kini sedang mengambilkan sepiring desert coklat keju untuk Dewi.
Rizka benar-benar merasa kesal melihat sang ibu memberi banyak perhatian pada gadis yang belum diketahui asal-usulnya itu. Sesak di dada membuat rahangnya mengeras dan tatapannya pada Dewi menajam.
“Ibu! Usir dia dari sini. Keluarga kita bisa-bisa kena masalah karena ada di sini,” jelas Rizka dengan napas yang tidak teratur membuat Hanin melihat ke arahnya dengan tatapan tajam. Namun, Rizka tidak peduli dengan tatapan sang ibu dan memilih untuk membuat Hanin percaya pada dirinya.
“Rizka! Apa yang kamu bicarakan? Dia ini tamu kita!” seru Hanin tak percaya akan sikap buruk putrinya itu.
“Mama harus percaya sama aku kalau dia ini bisa buat kita dalam masalah, dia itu kabur dari rumah dan sekarang keluarganya lagi nyari-nyari dia. Nggak mungkin keluarganya nggak minta bantuan polisi, Ma. Kalau sampai polisi datang ke sini kita yang bakal kena imbasnya juga,” jelas Rizka membuat semua yang ada di meja makan sontak menoleh ke arah Dewi yang juga terkejut atas apa yang barusan didengarnya.
“Apa yang kamu katakan itu Rizka?! Kamu jangan asal menuduh,” tukas Syauqi ayah kandung Rizka yang baru pulang bekerja.
Syauqi sudah diberitahu oleh Hanin bahwa Dewi menginap di rumahnya untuk beberapa hari ke depan sampai dia mendapatkan tempat tinggal yang pas. Hanin memberitahu Syauqi agar bisa merekomendasikan Dewi bekerja di tempatnya. Syauqi justru sangat senang akan kedatangan Dewi dan memintanya untuk tinggal saja di rumah ini agar Rizka tidak kesepian dan punya saudara perempuan. Nggak asyik kalau Rizka jalan sama adiknya yang baru berumur enam tahun. Namun, yang disampaikan oleh Rizka barusan justru membuat mimpi indah Dewi lenyap dalam sekejap.
“Ayah! Aku nggak asal menuduh. Minta perempuan itu untuk menjelaskan semuanya tentang panggilan-panggilan tak terjawab ini.” Rizka menunjukkan beberapa panggilan tidak terjawab di layar ponsel Dewi.
Dewi yang melihat ponselnya berada di tangan Rizka pun bergegas untuk mengambilnya. Dewi langsung merebut ponselnya secara kasar dari tangan Rizka. Merasa geram akan perbuatan Rizka membuat Dewi menatapnya dengan sinis. Setelah mendapatkan ponselnya kembali, Dewi langsung me-non-aktifkan layar 6.1 inci tersebut.
“Lihatlah, pa, ma, dia mematikan ponselnya. Itu karena dia menghindar dari keluarganya.” Rizka membuat suasananya makin memantas.
Sementara Syauqi dan Hanin hanya tertegun menyaksikan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia masih belum percaya akan apa yang putrinya katakan sebelum Rizka sendiri yang menjelaskan semuanya. Tatapan Syauqi dan Hanin seperti seorang yang sedang menuntut penjelasan akan kebenaran.
Merasa dirinya tidak dihargai dan melihat wajah Syauqi dan Hanin tampak sedang menunggu penjelasan darinya, Dewi pun memilih untuk berkata jujur, “Benar! Gue emang kabur dari rumah,” lalu, “tapi lo nggak berhak menyentuh barang milik orang lain. Itu artinya lo nggak menghargai privasi gue sebagai tamu lo di sini. Lagi pula gue nggak pernah minta buat tinggal di rumah ini, nyokap lo aja yang ngajak gue ke sini padahal gue cuma minta bantuan buat ngasih tahu gue kos-kosan atau tempat penginapan yang murah karena gue pertama kali ke kota ini. Masalah gue kabur atau nggak itu bukan urusan lo, dan lo juga nggak tahu alasan gue kabur dari rumah. Jadi, kalau lo nggak suka sama gue, bilang aja. Malam ini juga gue bakal pergi dari RUMAH LO!” ujar Dewi penuh penekanan di akhir kalimat membuat Rizka terpaku mendengar penjelasan Dewi barusan.
“Mbak mau ke mana?!” sahut Hanin yang merasa tidak enak. Namun, Dewi pura-pura tidak mendengarnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Rizka untuk mengambil barang-barangnya.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (372)

  • avatar
    Rara Olivia

    bagus

    21/04

      0
  • avatar
    KusmiatiMia

    sngt sng dgn liat apliksi ini

    21/03

      0
  • avatar
    Fajar Fadilah

    seru

    09/03

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด