“Halo? Dewi? Kamu di mana, Nak? Bapak, mama sama kakakmu nyariin kamu ke mana-mana, loh. Kamu di mana, Sayang?” tanya Satria saat teleponnya berhasil tersambung dengan ponsel Dewi. Tiba-tiba telepon dimatikan secara sepihak membuat Satria jadi makin khawatir. Kemudian, dia mencoba untuk menghubungi ponsel Dewi lagi, tapi panggilannya di reject. “Andre! Ma! Telepon Dewi sudah aktif.” Satria berteriak meminta Andre dan Sintia untuk menghampirinya. Hampir tiap menit mereka bertiga mencoba untuk menghubungi ponsel Dewi, tapi teleponnya mati dan tidak dapat dihubungi. Sejak beberapa jam setelah mereka selesai makan malam, Satria kembali mencoba untuk menghubungi ponsel Dewi dan betapa bahagianya saat telepon itu terhubung dan langsung tersambung dengan Dewi. Sayangnya Satria tidak mendengar suara apa pun saat teleponnya tersambung. “Bagaimana keadaan Dewi, Mas?” tanya Sintia tampak khawatir. “Di mana dia sekarang, Pak?” Andre juga ikut melemparkan pertanyaan karena cemas terhadap adiknya. Sementara Satria masih sibuk menghubungi Dewi karena panggilannya kini diabaikan. “Mas! Kenapa diam saja? Dewi ke mana?!” Sintia jadi sedikit shock karena Satria masih tidak menggubris pertanyaannya. “Dia nggak mau angkat teleponnya, coba kamu minta polisi buat lacak lokasi Dewi, Ndre. Tadi, dia sempat mengangkat telepon dari bapak, tapi dia belum ngomong apa-apa teleponnya udah dimatiin. Bapak coba telepon dia lagi malah ditolak, intinya bapak udah coba telepon dia, tapi nggak mau diangkat sama dia dan sekarang teleponnya nggak aktif lagi,” jelas Satria seraya menaruh ponselnya di saku celana dengan pasrah. “Astaga, Dewi ....” Sintia tak mampu melanjutkan kalimat yang ingin dia ucapkan. Air matanya kini mengalir membentuk sungai kecil di wajahnya. Sementara Satria berusaha untuk menenangkan istrinya. “Mas? Mas ke kantor polisi aja, aku baik-baik aja, kok. Anak kita, Mas. Tolong kamu cari dia, bawa dia —“ “Biar Andre aja yang pergi, Aku di sini sama kamu,” potong Satria yang tidak ingin meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti itu. “Iya, Ma. Biar Andre aja,” Sintia menggeleng cepat dan berusaha untuk menunjukkan bahwa dia sedang baik-baik saja. Satria yang hanya bisa menurut pun beranjak meninggalkan wanita yang sudah hampir tiga puluh tahun bersamanya menuju ke kantor polisi. Andre mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, suasana di dalam mobil begitu hening. Tidak ada yang mau membuka suara karena masing-masing sibuk dengan isi kepala. Salah satu anggota keluarganya yang entah ada di mana, terlebih dia adalah seorang gadis. Bagaimana mungkin mereka tidak pusing memikirkannya. “Pak, mending bapak telepon tante Rani, aja biar mama ada yang temani,” saran Andre karena merasa khawatir pada sang ibu. Tanpa berpikir panjang, pria paruh baya yang duduk di sebelah Andre pun langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel untuk menghubungi adiknya yang bernama Rani. Satria mempunyai adik perempuan, begitu juga dengan Sintia yang memiliki seorang kakak kembar. Namun, Allah lebih mencintai saudara kembar Sintia sehingga kini dirinya tidak punya siapa-siapa lagi selain keluarga kecilnya itu. Orang tua sepasang suami istri itu juga sudah bahagia di alam sana. Jadi, kehilangan satu anggota keluarga saja rasanya masih belum sanggup. Satria kemudian menaruh teleponnya kembali ke saku celana setelah selesai berbincang dengan Rani di Telepon. Lega rasanya karena Rani bersedia untuk menemani istrinya di rumah. “Andre kapan kita sampai?” tanya Satria mulai tidak sabar. “InsyaaAllah bentar lagi, Pak.” Andre berusaha untuk tetap fokus ke jalanan. Wajah Satria dan Andre tampak lesu dan tidak bersemangat saat keluar dari kantor polisi. Bagaimana tidak, mereka tidak bisa menemukan lokasi telepon Dewi dengan alasan ponselnya mati dan tidak bisa dilacak, nomor IMEI tidak diketahui dan alasan-alasan lain yang justru membuat Satria frustrasi dan memilih untuk pergi dari tempat itu. Namun, para polisi itu berjanji bahwa akan terus berusaha untuk mencari keberadaan putri bungsunya. Andre membukakan pintu untuk sang ayah dan berjalan memutar ke pintu di mana setir kemudi berada. Dia pun masuk dan duduk seraya menatap sekilas wajah ayahnya yang terlihat sangat murung. Andre lalu mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian dia perlahan menginjak pedal gas dan mobil Honda Jazz berwarna putih itu pun meninggalkan pelataran Polres Metro yang terletak di Jakarta Selatan. Di perjalanan pulang, Satria kembali mencoba untuk menghubungi ponsel putrinya. Pria paruh baya itu tampak begitu cemas walaupun polisi sudah berjanji akan terus berusaha untuk bisa menemukan Dewi yang entah ada di mana. Melihat Satria tampak frustrasi membuat Andre merasa sedikit kesal pada adiknya yang pergi tanpa pamit dan sudah membuat kedua orang tuanya jadi khawatir. Dia sontak menghentikan mobilnya seraya berkata, “Pak! Tenanglah. Dewi biar aku yang mencari. Kalau bapak terlalu memikirkannya, bapak bisa sakit, terus siapa yang bakal buat mama yakin kalau semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana caranya bapak bisa buat mama kuat menghadapi semua ini kalau bapak sendiri aja kaya gini?’” Satria berhenti menghubungi ponsel Dewi yang jelas-jelas tidak bisa dihubungi karena ponselnya sengaja tidak diaktifkan. “Bapak Cuma cemas aja sama adikmu, Ndre. Dia itu anak perempuan satu-satunya, adik kamu satu-satunya. Nggak ada dia, rumah kita jadi sepi,” “Andre tahu, Pak. Dewi udah dewasa dia bisa jaga diri, bapak harus yakin akan hal itu biar hati bapak tenang. Aku yakin dia bakal balik ke rumah kita secepatnya,” jelas Andre seraya mengelus pundak sang ayah untuk menyalurkan ketenangan. “Kita harus banyak berdoa,” ucap Satria yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Andre. **** “Siapa dia, Ma?!” tanya gadis yang berambut ikal panjang itu setelah Dewi dan Hanin tiba di rumah. Gadis itu menatap tidak suka pada Dewi. “Dia tamu kita, Nduk,” jawab Hanin seraya meminta Dewi untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Gadis berambut ikal itu menatap Dewi dengan tatapan menyelidik seakan tidak percaya kalau dia adalah tamu sang ibu. Bagaimana mungkin gadis muda itu bisa menjadi tamu dari ibunya? Sebut saja gadis berambut ikal itu dengan sebutan Rizka. Dia mengikuti ke mana langkah sang ibu bersama Dewi. “Ini kamarmu, Mbak bisa tidur dengan Rizka. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja sama Rizka atau Mbak bisa panggil saya,” ujar Hanin membuat bola mata Rizka membulat sempurna, Sementara Dewi tersenyum karena merasa senang dengan tawaran Hanin tersebut. “Ma! Apa maksud mama? Memangnya dia siapa?” Rizka meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Dia tamu kita, Sayang. Kamu berbagi kamar, ya, sama dia? Kan seru punya teman sekamar,” jelas Hanin dengan lemah lembut. “Berbagi kamar? Dengan dia?” Hanin kembali memastikan bahwa dia tidak salah dengar dengan apa yang barusan diucapkan oleh ibunya. “Iya,” singkat Hanin menatap Dewi seraya tersenyum untuk meyakinkan gadis itu bahwa putrinya tidak keberatan sama sekali jika harus berbagi kamar dengannya. Dewi yang melihat senyuman Hanin hanya bisa menghela napas pelan. Walaupun Rizka tidak suka, Dewi sangat membutuhkan bantuan seseorang untuk bisa beradaptasi di daerah yang tidak pernah dia kunjungi sebelumnya. Hanin beralih menatap Rizka intens berharap putrinya itu tidak banyak bertanya karena hal itu membuatnya merasa tidak enak pada Dewi. Bagaimana pun dia yang sudah menawarkan tempat tinggal sementara untuk Dewi maka dia juga harus bertanggung jawab atas keputusannya itu meski harus bertentangan dengan sang anak. “Ya, udah, Mbak masuk aja dan istirahat dulu,” ujar Hanin yang langsung dituruti oleh Dewi. Rizka juga ikut masuk ke kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal karena sang ibu membuatnya harus berbagi kamar dengan orang asing. “Permisi, Mbak. Saya mau charger handphone. Stop kontaknya di mana, ya?” tanya Dewi penuh kelembutan berharap Rizka bisa merespons dengan baik juga.
bagus
21/04
0sngt sng dgn liat apliksi ini
21/03
0seru
09/03
0ดูทั้งหมด