Gadis berkulit putih itu turun dari bus di terminal Bungurasih. Setelah berjalan menuju pintu keluar, dia mengambil karet hitam yang melingkar di pergelangan tangan dan mengikat rambut pendeknya. Karena perutnya belum terisi sejak pagi tadi, dia pun memutuskan untuk mengisi perut di warung makan yang tidak jauh dari terminal. Beruntungnya dia bukan pemilih. Jadi, apa pun akan dia lahap kecuali kayu dan batu serta jajarannya. “Silakan, kak,” pelayan mengulurkan daftar menu makanan setelah Dewi mendaratkan bokongnya di salah satu kursi. Dewi tersenyum simpul, matanya mengikuti ke mana arah telunjuknya menyentuh daftar menu tersebut. “Soto ayamnya satu, nasinya juga satu, sama es lemon tea, ya, Mbak,” tutur Dewi lembut pada pelayan yang masih berdiri di sampingnya. Pelayan itu tersenyum sembari mengulang semua pesanan Dewi sebelum beranjak dari meja gadis itu. Sambil menunggu makanannya tersaji, Dewi membuka kantong plastik hitam yang dibawanya. Karena plastiknya itu mengundang banyak mata mengarah ke arahnya. Gara-gara itu dia menjadi pusat perhatian. Mana ada orang dari Jakarta ke Surabaya hanya membawa kantong plastik keresek yang cukup besar. Orang akan mengira bahwa dia tidak mampu membeli tas. Mungkin ada juga yang mengira dia terlalu berhemat sampai tidak mau membeli tas. Namun, mengingat keberhasilannya untuk melarikan diri dari rumah membuat sudut-sudut bibir Dewi tertarik membentuk bulan sabit yang indah. Perlahan dia mengeluarkan bag travel dari plastik itu, kemudian mengeluarkan baju-baju serta keperluan pribadinya dan memasukkannya ke dalam bag travel yang berukuran cukup besar. Dia melakukan itu dengan senyuman yang masih tersungging indah merasa bangga pada dirinya karena ide plastik sampah itu berhasil membuatnya kabur dari rumah tanpa ada yang mencurigainya. “Siapa suruh bapak sama mama main jodoh-jodohin aku, maapin Dewi, ya. Mending Dewi kabur aja, nggak akan lama, kok,” gumam Dewi seakan-akan mereka tengah duduk bersama. Beberapa menit kemudian, pesanannya sudah tersaji di atas meja. Gadis itu langsung melahap cepat makanannya. Di sela Dewi menikmati makanannya, seorang anak kecil tidak sengaja menumpahkan es teh ke celana pendek gadis berkulit putih tersebut. “Astaga, Raka!” teriak wanita paruh baya yang berada tidak jauh dari meja Dewi. Wanita paruh baya itu berjalan cepat menghampiri anak kecil itu dan langsung menyuruhnya untuk kembali ke meja makan mereka. Sementara Dewi langsung mengambil tisu dan mengelap bekas es teh yang tertempel di celananya, walaupun itu tidak membuatnya kering. “Maaf, Mbak, anak saya tidak sengaja. Biar saya ganti, ya, Mbak pakai uang,” tuturnya merasa tidak enak. Dewi melirik sekilas dan sejenak berpikir untuk memanfaatkan situasi ini dengan baik, dia lalu menatap wanita itu dengan senyuman penuh arti. “Nggak apa-apa, Bu. Saya Cuma butuh tumpangan sehari. Saya butuh tempat tinggal malam ini, tapi untuk menyewa kamar hotel rasanya terlalu mahal untuk saya, saya tidak tahu wilayah ini. Siapa tahu Anda bisa membantu saya mencari kos-kosan murah atau penginapan yang murah, saya akan merasa sangat senang dengan bantuan, Ibu. Dengan begitu juga saya nggak akan mempermasalahkan ulah anak ibu tadi,” jelas Dewi sedikit menyindir di akhir kalimat. “Mbak tinggal di rumah saya saja, saya punya anak perempuan juga, kok. Mbak boleh tinggal di rumah saya sampai dapat tempat tinggal, atau sambil mencari kos-kosan. Nanti saya suruh suami saya buat bantuin Mbak,” ujar wanita paruh baya itu dengan senang hati. Bola mata Dewi sontak melebar karena tidak menyangka orang yang dia manfaatkan kesalahannya ternyata memberikan sesuatu yang jauh dari harapan. Dia mengharapkan bisa mendapatkan uang sewa kamar untuk semalam, tapi yang dia dapatkan justru lebih dari yang dibayangkan. Seolah sedang berdagang dan menunggu pelaris, pelanggan pertama yang datang malah langsung memborong habis. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Dewi tersenyum dalam hati, rasanya dia ingin berjingkrak-jingkrak karena kesenangan. Kalau begini hidupnya tidak akan terlalu menyulitkan. Rumah gratis, makan gratis, ditambah dapat bantuan gratis. Siapa yang ingin menolak itu semua? “Ada apa, Mbak? Tanya wanita paruh baya itu membuat Dewi sedikit terkejut. “E-e ... apa nggak merepotkan, Bu?” tanya Dewi basa-basi berharap wanita paruh baya itu mengangguk. Benar saja, harapan Dewi terkabul. Dia tidak akan jadi gelandangan malam ini dan untuk beberapa hari ke depan. Dia harus bisa beradaptasi dengan daerah padat tersebut agar bisa hidup dengan baik di sini. “Terima kasih, ya, bu atas bantuannya,” tutur Dewi tak lupa berterima kasih pada orang yang bagaimana pun sudah mau membantunya dengan sepenuh hati. Dewi tidak pernah lupa dengan ajaran dari Ayahnya agar jangan pernah lupa untuk mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah mau membantu kita. Karena kita belum tentu bisa menjadi orang yang sama seperti dia. “Oh, iya, kita belum kenalan. Nama Mbak siapa?” tanya wanita paruh baya itu penuh senyuman. “Dewi, Bu,” jawabnya sedikit tertunduk. “Namanya bagus, Saya Hanin, senang berkenalan dengan Mbak,” balasnya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Mbak dari mana?” sambungnya lagi. “Jakarta, Bu,” singkatnya. “Oh, tujuannya ke Surabaya buat apa, Mbak?” tanya wanita itu lagi mulai membuat Dewi merasa suntuk. “Mau cari kerja, Bu. Merantau,” jawab Dewi terpaksa berbohong. Dewi sudah merasa malas dengan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Hanin karena menurutnya itu semua adalah sebuah privasi untuknya. “Apa untungnya, sih. Tanya-tanya gitu. Bikin kesel aja!” ucap Dewi dalam hati seketika membuat ekspresi wajahnya berubah menjadi dingin. Hanin yang mulai merasakan perubahan wajah Dewi pun mulai mengerti bahwa dia tidak sedang ingin diganggu dengan berbagai pertanyaan darinya. Sehingga, membuat Hanin terpaksa untuk mengubur semua rasa penasaran tentang siapa gadis itu. Bukan apa-apa, dia hanya ingin memastikan bahwa dia tidak memberi bantuan pada orang yang salah. Wajar saja jika Hanin ingin tahu banyak tujuan gadis itu berada di Surabaya agar hatinya menjadi jauh lebih tenang. Dan, mau bagaimana lagi, satu-satunya cara untuk bisa merasa lepas dari rasa bersalah akibat ulah putranya hanyalah dengan membantu gadis itu. Seusai itu, Hanin langsung mengajak Dewi untuk ikut bersamanya. Dengan senang hati Dewi menurut karena tidak sabar untuk bisa beristirahat dan melepas penat di rumah gratis. “Sopir saya ada di sana. Ayok, Mbak,” ajak Hanin seraya menunjuk ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari jarak mereka sekarang. Dewi dan Hanin segera menghampiri mobil Kijang Innova hitam yang terparkir rapi di sebelah Utara mereka. “Ayok, Mbak, masuk!” Hanin meminta Dewi untuk segera masuk ke dalam mobil agar mereka bisa langsung meluncur ke tempat tujuan. “Siapa dia, Ma?!” tanya gadis yang berambut ikal panjang itu setelah Dewi dan Hanin tiba di rumah. Gadis itu menatap tidak suka pada Dewi.
bagus
21/04
0sngt sng dgn liat apliksi ini
21/03
0seru
09/03
0ดูทั้งหมด