logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Part 2 | Menghilang

Setelah makan malam selesai, di waktu yang sama Andre baru saja pulang bekerja. Pria itu tersenyum lebar melihat kedua orang tuanya sedang menikmati acara yang sedang berlangsung di layar empat puluh inci yang terpampang di depan mereka.
“Assalamualaikum ....” Semua keluarganya tidak sadar kalau Andre sudah berdiri di belakang mereka.
“Assalamualaikum ... aku pulang,” ulang Andre, tetapi tidak ada yang menyadari kehadirannya.
“Eh, Kak Andre udah pulang, minta uang dong!” Suara Dewi yang cempreng membuat ayah dan ibunya sontak menoleh ke belakang dan melihat Andre seraya tersenyum bahagia menatap putra sulung yang sudah hampir tiga pekan berada di luar kota.
Sementara Andre juga tersenyum menatap kedua orang tuanya yang sudah sangat dia rindukan itu. Dewi yang melihat aksi saling tatap-menatap di antara mereka bertiga pun menghela napas panjang. Lalu,
“Kak Andre! Minta uang dong!” teriak Dewi seketika membuat ruang keluarga itu hampir terguncang.
Andre terkejut seraya merogoh saku celananya dan mengambil dompet. Adik perempuannya ini memang sangat menyebalkan, bukannya menyambut kedatangan Andre dengan pelukan malah isi dompet yang diinginkannya. Andre mengeluarkan lima belas uang seratus ribu dari dompetnya dan langsung memberikan semua itu pada Dewi.
Bola mata Dewi melebar saat menerima pemberian Andre. Dia meloncat kegirangan dan mendaratkan satu ciuman di pipi sang kakak lalu beranjak dari sana.
“Tunggu dulu!” Andre membuat langkah Dewi seketika berhenti dan menoleh dengan alis yang saling bertautan.
“Ada apa, sih, Kak?” tanya Dewi sedikit takut.
“Apa yang kamu bawa itu? Apa isi kantong hitam yang kamu bawa dan mau ke mana kamu?” tanya Andre sedikit curiga melihat Dewi membawa kantong hitam yang cukup besar.
“Ish, Kakak, mah. Ini sampah, aku mau keluar sebentar buat buang sampah ini. Aku lagi beres-beres kamar soalnya,” ujar Dewi seraya melanjutkan langkahnya.
“Tunggu dulu, kenapa nggak buang besok aja? Sekarang, kan sudah malam,” tanya Satria yang juga ikut merasa curiga.
“Ihh ... ya, udah, sih. Dewi buang besok aja, deh! Gini amat nasib anak cewek. Nggak boleh ke mana-mana kalau malam apalagi siang — eh ke balik,” Dewi terpaksa mengurungkan niatnya malam ini karena sadar sang keluarga curiga terhadap dirinya.
“Itu karena kamu sangat berharga buat kita, Sayang,” lirih Sintia seraya tersenyum tipis.
Andre mengelus-elus puncak kepala Dewi dan membuat rambut pendeknya sedikit berantakan. Dewi pun tersenyum tipis sembari menghembuskan napas kasar. Lalu, kembali beranjak menuju kamarnya.
“Sampahnya taruh depan rumah aja, masa mau kamu bawa ke kamar lagi?” tegur Satria pada Dewi yang hendak kembali ke kamarnya.
Dewi menoleh dan berkata, “Malas keluar, ah. Besok aja sekalian. Selamat malam semua,”
Satria mengembuskan napas kasar melihat tingkah putrinya itu. Sementara Andre langsung meraih tangan kedua orang tuanya dan menyalami keduanya serta mendaratkan satu ciuman di pipi Sintia.
Sikap Andre memang berbanding terbalik dengan sikap Dewi yang ura-urakan. Namun, kehadiran Dewi membuat rumah mereka terasa hidup. Ulah Dewi yang terbilang blak-blakan, tidak tahu malu, bar-bar, dan ceplas-ceplos itu membuat rumah seperti pasar malam.
Tibanya di depan kamar, wanita berambut sebahu itu perlahan memutar gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Setelah itu Dewi menutup pintu secara kasar, dan mengentakkan kaki merasa kesal karena tidak bisa keluar malam ini.
Dia berdiri di depan cermin meneliti pantulan dirinya yang begitu sangat menggemaskan. Dewi perlahan menaikkan sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah seringai. Lalu, secara kasar merebahkan tubuhnya di atas kasur memutuskan untuk tidur.
Tiba-tiba, dia terkejut dan langsung meraba saku celananya untuk memastikan uang yang diberikan oleh Andre itu aman. Dia tidak ingin kehilangan uang itu, karena uang itu begitu berharga untuknya kali ini. Tabungannya akan dia pakai untuk berjaga-jaga di masa depan.
****
“Andre!” sahut Satria sedikit berteriak agar si pemilik nama bisa mendengar panggilannya.
Andre yang berlari menghampiri Satria pun bertanya, “Ada apa, Pak?”
“Ke mana Dewi?” tanya Satria membuat kening Andre berkerut dan alisnya saling bertautan.
“Bukannya tadi pagi dia keluar untuk buang sampah dan katanya dia juga ingin membeli sesuatu, masa dia belum pulang, sih, Pak?” Andre sedikit bingung karena tidak mungkin gadis itu pergi dan tidak kembali.
“Dia nggak ada di kamarnya, Ndre. Bapak udah cari dia ke mana-mana. Bapak tadi mau suruh dia bikin kopi, di panggil-panggil nggak menyahut-nyahut, Bapak samperi ke kamarnya dia nggak ada terus bapak cari-cari juga nggak ketemu,” Satria menjelaskan dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.
“Apa!” teriak Sintia yang entah sejak kapan berada di belakang mereka.
“Ini udah malam, loh, Mas. Ayo kita cari Dewi, Mas. Andre lapor polisi buat bantuin kita temuin adik kamu, Nak,” sambung Sintia merasa shock mendengar penjelasan Satria pada Andre barusan.
Sejak di perjalanan pulang dari pesta temannya, perasaan Sintia sudah tidak enak dan cemas. Ikatan batin seorang Ibu memang begitu kuat pada anaknya. Lihatlah yang terjadi sekarang, Dewi menghilang dan belum kembali sejak tadi pagi meminta izin untuk membuang sampah dan belanja sesuatu.
Namun, hari sudah malam. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Dewi masih tidak kembali. Andre tampak cemas dan khawatir. Dia bertanggung jawab atas kepergian Dewi tadi pagi, dia yang memberi izin pada adiknya untuk pergi. Seharusnya Andre mengantarnya, harusnya Andre tidak mengizinkan Dewi pergi sendiri. Andre merasa bersalah karena gagal menjaga adiknya sampai membuat kedua orang tuanya jadi khawatir.
“Tenang, ya, Bapak sama Ibu di rumah aja. Biar Andre yang ke kantor polisi untuk minta bantuan mereka,” ujar Andre mencoba menenangkan kedua orang tuanya agar tidak terlalu memikirkan hal-hal yang buruk pada Dewi.
Andre meminta keduanya untuk banyak-banyak berdoa agar Dewi segera ditemukan dan yakin kalau tidak akan terjadi apa-apa pada gadis berkulit putih dan berambut sebahu itu.
“Mama pengen ikut, Nak. Mama nggak akan—“
“Nggak, Ma. Mama tenang aja, Andre bakalan cari Dewi sampai ketemu. Percaya sama Andre,” potong Andre dan mencoba untuk meyakinkan Sintia.
Sementara Satria hanya terpaku dan tidak berkutik apa pun. Dia memilih menurut pada Andre padahal dalam hati ada beribu ketakutan. Dia takut jika sesuatu terjadi pada putrinya itu.
“Bapak jaga Mama, aku pastikan untuk kembali bersama Dewi,” ucapnya sebelum beranjak meninggalkan mereka berdua.
Andre dengan cepat masuk ke mobil Fortuner berwarna hitam dan mulai menyalakan mesinnya. Selang beberapa detik, mobil Andre sudah melaju meninggalkan pelataran rumah.
Dalam hati, Andre terus berdoa agar adiknya baik-baik saja dan bisa segera dia temukan. Andre berjanji dalam hati akan menjaga adiknya dengan baik setelah berhasil menemukan Dewi.
Jalanan macet di Jakarta ini sudah menjadi hal yang lumrah, tapi hari ini malah membuat kepala Andre terasa ingin pecah karena frustrasi. Padahal sudah malam, tapi jalan raya itu masih tampak ramai.
Harus dari mana dia memulai untuk mencari adik perempuannya itu. Andre tampak bingung dan merasa sangat khawatir di waktu yang bersamaan. Entah ke mana Dewi pergi?
“Ke mana, sih, kamu, Wi? Gumam Andre pelan.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (372)

  • avatar
    Rara Olivia

    bagus

    21/04

      0
  • avatar
    KusmiatiMia

    sngt sng dgn liat apliksi ini

    21/03

      0
  • avatar
    Fajar Fadilah

    seru

    09/03

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด