“Bapak ... Mama ...!” Dewi berteriak setelah menutup pintu rumah, tapi tidak ada yang menyahut panggilannya. Dia pun melangkah ke arah ruang tengah tempat biasa keluarganya bersantai. Dewi sangat yakin bahwa orang tuanya ada di sana. Dia berjalan cepat seraya bersenandung ria. Senyum Dewi merekah setelah berdiri tepat di depan wanita dan pria paruh baya yang sedang menonton siaran televisi. Kedua tangannya menyembunyikan sesuatu di belakang punggung. Sepertinya dia ingin memberikan sebuah kejutan untuk orang tuanya. “Dewi! Jangan di depan TV, dong! Bapak mau nonton,” pinta Satria pada putrinya yang sudah menghalangi layar televisi. “Tunggu dulu, sih, Pak. Dewi punya sesuatu, loh buat bapak sama mama,” ujar Dewi membuat kedua orang tuanya refleks mengerutkan dahi. “Memangnya ada apa?” tanya Satria penasaran. “Iya, apa, nih yang kamu bawa? Mama jadi nggak sabar lihatnya, atau yang di belakangmu itu, ya?” lanjut Sintia lebih penasaran. Sesekali mencuri pandang ke arah belakang Dewi. “Sabar dulu, dong, Pak, Mak” ucap Dewi seraya memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi disembunyikannya di balik punggung. “Tara ...!” Apa yang dibawa oleh Dewi membuat Satria sontak melompat ke belakang sofa karena merasa terkejut. Jantungnya serasa ingin copot di waktu yang bersamaan. “Dewi, bawa dia keluar!” perintah Satria pada Dewi agar membawa keluar anak kucing yang kini berada di genggaman gadis itu. “Kenapa, Pak? Dia lucu, Dewi suka sama dia,” lirihnya sambil mengelus lembut puncak kepala anak kucing tersebut. “Bapak takut, ya?” tanya Dewi kemudian seraya melangkah mendekati pria yang dipanggilnya Bapak sambil mengulurkan anak kucing itu agar lebih dekat dengan wajah Satria. “Nggak, kok,” kata Satria berpura-pura berani. Dewi makin ingin menjahili Satria dengan terus mengulurkan anak kucing itu hingga membuat pria paruh baya itu berjalan mundur untuk menghindar. Namun, Dewi terus saja melangkah maju karena Satria masih gengsi untuk mengakui bahwa dia memang takut dengan anak kucing. Sintia yang menyaksikan keusilan anaknya pada Satria hanya tertawa tipis seraya menggeleng-gelengkan kepala. Tidak percaya kalau suaminya itu sok berani di hadapan Dewi. Padahal, Sintia tahu betul kalau Satria takut dengan kucing apalagi anak kucing. “Bapakmu itu memang takut sama kucing, Wi,” sela Sintia berniat untuk menghentikan Dewi agar menjauhkan anak kucing itu dari Satria. Bukannya menurut, Dewi malah makin semangat menjahili pria paruh baya yang tengah berusaha untuk menahan ketakutannya di depan putri bungsunya yang sedikit usil. “Udah, dong, Sayang. Kasihan bapakmu nanti tenggelam sama keringatnya sendiri,” kekeh Sintia mencoba untuk menghentikan Dewi agar tidak lagi mengganggu Satria. Satria menghela napas kasar mendengar ucapan istrinya. Namun, di sisi lain ada rasa lega yang membuat jantungnya kembali berdetak normal. “Nggak, Ma! Bapak harus mengaku dulu kalau dia memang takut sama kucing baru deh aku putuskan untuk pelihara kucing ini di rumah—Ralat, maksudnya nggak akan aku pelihara,” Dewi berujar sembari menaik-turunkan alisnya. “Nggak, kok. Bapak nggak ta—“ “Udalah, Mas, mengaku saja, lah,” potong Sintia. Satria pun menganggukkan kepalanya pelan tanpa mau menatap wajah putrinya yang mungkin sedang menertawakan dirinya. Benar saja, Dewi langsung tertawa keras menatap mengejek ke arah Satria yang masih menunduk karena malu. Setelah merasa puas tertawa, Dewi pun beranjak dari ruang tengah menuju teras rumah untuk melepas kucing itu kembali ke alam bebas. “Maaf, ya, aku belum bisa merawatmu. Semoga kamu bisa mendapatkan babu yang terbaik dan sayang sama kamu,” gumamnya pelan sembari mengelap air mata yang hampir terjatuh. Rasanya sulit melepaskan kucing itu, tapi kehadirannya akan membuat ketenangan sang ayah terganggu. Tentu saja Dewi tidak ingin membuat ayahnya merasa tidak nyaman di dalam rumah sendiri. Setelah kucing itu menjauh, Dewi pun menutup pintu dan kembali ke ruang tengah. Namun, dia berusaha untuk menormalkan perasaannya terlebih dahulu agar wajah sedihnya tidak terlihat. Satria yang melihat Dewi mendekat pun meminta gadis itu untuk duduk di tengah. Pria paruh baya itu pun tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepala putrinya sebelum mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. “Wi, sebenarnya ada yang bapak mau ceritakan denganmu,” ucap Satria mulai terlihat serius. “Apa, Pak?” tanya Dewi penasaran. “Kamu, kan udah lulus, nih. Sudah waktunya kamu menikah. Bapak mau jodohkan kamu sama anak teman bapak, tapi itu pun kalau kamu mau. Bapak sama mama nggak akan paksa, kok,” jelas Satria penuh harap. “Nggak mau, ah,” tolak Dewi karena mood-nya seketika hancur. “Dengar dulu, Wi. Kita bincang hangat dulu, yuk,” Sintia mencoba mencairkan suasana yang secara drastis berubah jadi panas. “Nggak mau, Ma! Mana ada bincang hangat kaya gini. Ini namanya bencana,” ungkap Dewi yang tahu ke mana arah perbincangan mereka nantinya. “Kamu coba ketemu aja dulu, ya,” bujuk Sintia berharap Dewi akan menurutinya. “Nggak mau!” Dewi sontak menolak bujukan itu. “Masih satu tahun lagi, Sayang,” jelas Sintia pada putri bungsu kesayangannya. “Mau satu tahun, dua tahun, tiga tahun pun Dewi nggak bakal mau ketemu dia!” akunya sembari melipat tangan di depan dada dengan mengerucutkan bibirnya. “Cuma ketemu aja, kalau memang kamu nggak cocok nggak usah dilanjut. Mama sama bapak nggak akan paksa kamu, kok,” Sintia masih berusaha untuk membujuk gadis cantik berambut pendek sebahu yang berada tepat di sampingnya. Lebih tepatnya, berada di antara kedua orang tuanya. “Pokoknya nggak mau, ya, nggak mau, Ma!” tegas Dewi sedikit meninggikan suaranya. Satria dan Sintia memutuskan untuk memberitahukan tentang perjodohan itu lebih awal agar Dewi bisa memikirkannya lebih dulu. Dengan begitu Dewi tidak akan merasa didesak untuk menjalani pernikahan nantinya. Berharap Dewi bisa menimbang-nimbang perjodohan yang sudah sejak lama Satria inginkan. Alasannya hanya satu, dia ingin putrinya menikah dengan pria yang tepat. Terlebih, pria yang ingin dijodohkan dengan putrinya itu bukan pria sembarangan, dia adalah pria baik hati, berakhlak mulia, dan juga mapan. “Kamu pikir-pikir dulu, deh, baru kita lanjuti pembicaraan ini setelah kamu mau mendengarkan maksud kami. Mama yakin kamu nggak bakal menyesal.” Sintia mengusap bahu Dewi seraya bangkit dari duduknya. Sementara Satria menatap Dewi penuh harap sebelum meninggalkan ruang tengah untuk membiarkan Dewi memikirkan semuanya. Dewi terdiam sejenak, Kemudian tersenyum lebar sebelum dia beranjak meninggalkan ruang tengah. Dia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan pelan. Perlahan dia melangkah ke arah cermin dan melihat pantulan dirinya dengan tersenyum sinis. Dewi mengamati seluruh penjuru kamarnya dan mulai memikirkan cara untuk bisa kabur dari rumah ini. Sayangnya, jendela kamar Dewi terhalang teralis.
bagus
21/04
0sngt sng dgn liat apliksi ini
21/03
0seru
09/03
0ดูทั้งหมด