"Kalau sudah begini, langsung kita nikahkan aja ya Mba Kasih? Gimana?" ucapan Mama Rayyan yang terdengar sangat bersemangat hingga dapat mengalihkan fokusku kembali. Kulihat Rayyan hanya diam menatap seolah tak percaya. Sedangkan suaminya seperti tak kaget, sepertinya suaminya juga tak kalah antusiasnya dengan Ibu Andin. "Kalau saya apa kata anak-anak Dek Andin," ujar Bunda sambil tersenyum lebar, jawaban Bunda is the best pokoknya. "Dhira, Mamanya Nak Rayyan ini temen Bunda dari kecil, makanya kita akrab, Mama Nak Rayyan latar belakangnya sama kaya kamu sayang, kita sama-sama tinggal di panti ini, dan ini Papanya Nak Rayyan, namanya Rehan. Teman Bunda juga dulu. Kita tetanggaan dulu ya dek Rehan" jelas Bunda sambil bertanya kepada papa Rayyan. "Iya, dulu kita selalu bersama, kita berempat dengan almarhum …" belum sempat meneruskan omongan nya Mama Andin sudah mencubit paha suaminya, sambil memberi kode yang entah apa maksudnya. "Maaf mba Kasih," lanjut Papa Rehan dengan tampang bersalahnya. "Sudah, cerita lama itu hahaha," jawab Bunda sambil tertawa, namun aku tau tatapan matanya menunjukan kesedihan dan kesepian yang mendalam. Ucapan Bunda membuatku semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka dulu. Tapi aku berasumsi mereka tidak pernah terlibat sesuatu yang menjadikan mereka tercerai berai. Dan sekilas dengar tadi Pak Rehan menyebut kata Almarhum, apa ini ada kaitannya dengan Bunda yang tak pernah mau menikah? "Jadi bagaimana selanjutnya, aku mah udah setuju banget dengan pilihan Rayyan" tanya Mama Andin memecah keheningan. "Ehm, begini Andhira saya kesini membawa serta kedua orang tua saya, ingin melamarmu untuk menjadi pendamping hidupku, teman hidupku, ibu dari anak-anakku. Ayo kita menikah, menua bersama dan tidak terpisahkan oleh apapun kecuali maut," ucapan penuh keyakinan Rayyan yang ditujukan padaku. "Apakah anda yakin dengan ucapan anda itu? Anda pasti sudah tahu bagaimana latar belakang saya," jawabku dengan penuh kesopanan. "Apa yang ada di dirimu aku menerimanya sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan, kau pun tau Mama saya punya latar belakang yang sama dengan mu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang itu, iya kan Mah? Pah?" jawabnya disertai meminta dukungan pendapat orang tuanya. "Mama tidak peduli dengan latar belakangmu Nak Dhira, yang Mama tahu Andhira perempuan sholehan, pintar, punya sopan santun dan budi pekerti yang baik, Mama kira itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikanmu seorang istri dan ibu yang baik, ingat Mama juga bernasib sama dengan mu, jangan minder hanya dengan itu nak, prestasimu lebih dari cukup untuk menutupi itu semua," jawab mama Andin. "Begitu juga Papa, Papa saja bisa menerima Mama sampai saat ini, jadi jangan pernah khawatir kan masalah itu, kami dengan senang hati menerimamu sebagai menantu ah bukan menantu, tapi anak perempuan kami," jawab Papa Rehan lugas. Akupun menganggukkan kepala tanda setuju menerima pinangannya. Terdengar ucapan hamdalah bersamaan. "Ku harap keputusanmu ini tidak mendatangkan penyesalan di kemudian hari," ucapku lirih namun masih terdengar oleh Rayyan. "Tidak akan sayang, kamu cinta pertama dan terakhirku," jawab Pak Rayyan membuatku malu. "Hust sayang sayang cinta cinta belum sah, jadi kapan hari H nya? Konsepnya gimana?" seru mama Andin. "Aku ikut Andhira mah, Andhira mau mas kawin apa?" tanya Rayyan kepadaku. "Iya sayang, kamu mau apa? Dan bagaimana nanti acaranya?" tanya Mama Andin tak mau kalah. "Untuk mas kawin terserah anda saja, sedangkan untuk acara saya mau ijab qobul di panti ini, cukup keluarga inti saja, untuk yang lain saya ikut," jawabku sambil menunduk. "Ck Dhira kaku banget ya mba Kasih," ujar Papa Rehan. "Iya, masa masih anda saya sama calon suami, kayaknya kita kasih waktu berdua aja deh, yuk kita masuk dulu, biarin mereka berdua," ajak Bunda sambil menarik tangan Mama Andin, diikuti Papa Rehan di belakangnya. "Bun..." rengekku namun tak dihiraukan. Disinilah kita sekarang, hanya aku dengannya. Suasana hening, aku pun enggan memulainya. "Dhira, boleh aku panggil begitu?" tanya Rayyan. "Anda boleh memanggilku dengan nama Dhira," jawabku sedikit gugup. "Jangan terlalu formal, aku kamu lebih baik, atau lebih baik lagi panggil mas adek, bisa? Mas ingin kita lebih akrab lagi, karena Mas yakin, tidak lama lagi kita menikah, Mas sudah hafal sifat Mama," terangnya. "Baik Mas," jawabku semakin gugup. Kita memulai dari awal, berbicara banyak hal, lebih mengenal satu sama lain, jujur hatiku mulai tenang di dekat Mas Rayyan. Dari obrolan-obrolan yang kita lakukan, sedikit banyak aku mengetahui sifat-sifat Mas Rayyan, begitu juga sifat-sifat orangtuanya. Seperti yang aku lihat tadi, antusiasme kedua orang tua Mas Rayyan saat mengetahui akulah gadis yang menarik perhatian anaknya, membuat dadaku penuh dengan bunga-bunga bermekaran. Ada rasa senang, karena ketakutan yang selama ini memenuhi pikiranku tidak terjadi. Aku yakin orang tua Mas Rayyan pasti dapat menerimaku sebagai menantunya dengan tulus. Jujur, aku masih penasaran kenapa Mas Rayyan memilihku sebagai istrinya, padahal diluar sana banyak sekali wanita-wanita yang lebih cantik, lebih pintar, lebih Sholehah dan lebih segala-galanya daripada diriku ini. Ingin kutanyakan alasannya, namun otak seperti enggan memerintahkan bibir untuk mengajukan pertanyaan ini, mungkin nanti setelah menikah aku bisa menanyakannya. Kita sepertinya satu frekuensi, obrolan kita selalu berjalan, tanpa adanya jeda. Layaknya dua orang teman yang sudah lama kenal. Mungkinkah jodoh itu seperti ini? Yah sekarang aku percaya kekuatan jodoh, dari yang asing menjadi familiar dan intim, dari yang enggan berbicara jadi ingin dan ingin selalu berbicara. Saling menanggapi, saling tersenyum, bahkan tertawa. Mungkinkan aku jatuh cinta dengannya, atau hanya sebatas nyaman? Jujur ini pertama kalinya aku berbicara banyak bahkan sampai tertawa dengan orang baru, bahkan dengan asistenku pun aku tak pernah selepas ini. Mungkinkan ini juga salah satu kejutan jodoh? Ya semoga saja aku benar-benar berjodoh dengannya. Berjodoh hingga akhir hayat. "Tak terasa sudah malam, saatnya Mas pulang, jangan cemberut Mas yakin tak lama lagi kita akan terikat dalam tali suci sebuah pernikahan, percayalah," ucap Mas Rayyan setengah menggoda. "Siapa juga yang cemberut, sana pulang," ucapku sambil beranjak memasuki ruang keluarga yang hanya disekat dengan sebuah bufet besar. Kudatapi Bunda dan Mama yang gelagapan tertangkap basah mencuri dengar percakapan ku dengan Mas Rayyan. "Ish Bunda ngapain coba, Mas Rayyan mau pulang loh Bun, udah malem katanya, ini kan rumah gadis, dan penuh dengan gadis" ucapku. " Iya sayang, ayo ke depan dulu," Akhirnya aku kembali ke depan, mereka berpamitan. Bunda mengantar sampai tempat mobil mereka terparkir, sedangkan aku duduk di kursi teras, memandangi punggung lebar calon suamiku. Akh mukaku memanas.
mantap
01/03
0mantappppp
24/07/2025
0bagussss
24/07/2025
0ดูทั้งหมด