logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bab 6. Dunia yang Sempit

🍁🍁🍁
"Hai, Nona!"
Mata Aira melebar saat melihat siapa yang kini berdempetan dengannya di lift, Indra Hendrawan. Ia tak percaya seorang dewan direksi perusahaan W-Corporate ingin berdesakan layaknya karyawan pada umumnya. Keterkejutan di wajah Aira berubah menjadi sebuah kerutan di dahinya. Indra yang melihat hal itu segera tersenyum geli karena dengan mudahnya Aira mengubah air mukanya.
"Jangan diliatin terus, nanti Lu naksir sama gue," bisik Indra membuat Aira memalingkan wajahnya yang merona merah karena malu.
Lift seakan berjalan lambat bagi Aira. Ia benar-benar tak mampu berlama-lama di samping Indra. Aura lelaki di sampingnya terasa begitu mengintimidasi. Apalagi sejak Indra terang-terangan menyapanya dengan kalimat 'Lu-Gue', bahasa nonformal yang menurut Aira tak selayaknya diucapkan seorang pimpinan pada karyawannya.
Aira bernapas lega ketika lift terbuka di lantai delapan tempat divisinya berada. Ia melangkah keluar menyusul beberapa karyawan lain. Sebelum pintu lift tertutup, ia menyempatkan diri untuk berbalik menatap lndra yang kiri seorang diri di dalam lift. Aira membolakkan matanya jengah ketika Indra memberinya lambaian disertai ciuman jauh sebelum pintu lift tertutup.
"Dadah, Sarah Humairah," ujar Indra.
Aira terkejut saat Indra mengetahui namanya. Ia lalu tersadar jika Indra pasti membaca name tag yang tersemat di dada kirinya. Perusahaan memang mewajibkan setiap karyawan memiliki name tag agar mudah memanggil jika diperlukan. Dengan cepat ia menutup name tag di dadanya dengan tas kerjanya.
Lift telah tertutup tetapi, Aira masih menatap lift dengan konyolnya. Ia tersenyum geli mengingat tingkah pimpinannya yang lucu. Sebuah perasaan aneh menjalari hatinya, Aira buka tipe gadis yang gampang di rayu tetapi, perlakuan Indra mampu membuat dirinya lupa sesaat akan masalah pelik kehidupannya. Setiap kali bertemu Indra, Ia selalu merasa bahwa moodnya yang hilang bisa kembali dengan mudah. Seperti saat ini, dengan mudahnya ia melupakan perlakuan Bisma yang semena-mena padanya tadi pagi. Aira mempercepat langkahnya tatkala melihat Renata yang menatapnya dengan tajam dari bilik ruang kerjanya. Ia tak ingin menambah daftar kesialannya hari ini. Gegas ia membereskan peralatan kerjanya dan mulai memulai pekerjaannya hari ini.
🍁🍁🍁
"Sial! Sial! Siaaal ...!"
Indra hanya menatap jengah pada sahabatnya yang tiba-tiba datang ke ruangannya tanpa permisi langsung memuntahkan sumpah serapah. Ia berdecak kesal dengan kelakuan lelaki tampan dihadapannya kini yang bertingkah layaknya balita yang sedang tantrum.
"Lu kenapa lagi, sih, Bisma? Gak ada hujan gak ada petir, lu dateng-dateng marah-marah di ruangan gue. Bikin mood gue lenyap aja!" ujar Indra kesal.
"Gue pecat juga lu!"
"Iya, iya. Tuan Bisma Wijaya, direktur sekaligus pewaris perusahaan W-Corporate yang terhormat," sahut Indra dengan nada yang sengaja disopankan.
"Brensek!" Bisma menjatuhkan diri ke sofa tamu depan meja kerja Indra. Ia terlihat kacau dan putus asa.
"Lu kenapa lagi sama bokaplu? Gak capek apa? Berantem mulu? Ntar dosa Lu makin numpuk, Bro!" ujar Indra sembari terkekeh.
"Bacot! Mending Gue jadi anak haram sekalian, biar gak tau siapa bokap gue!" ujar Bisma kesal.
Sedetik kemudian Bisma seperti tersadar bahwa dia salah bicara ketika melihat wajah Indra berubah menjadi keras dan kelabu.
"Sorry, Ndra ... Gue gak bermaksud menyinggung Lu," ucap Bisma merasa bersalah.
"Okay, I'm Fine! Gue udah biasa," timpal Indra, datar. Ia kembali acuh dan membaca lembaran-lembaran berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
Bisma menyugar kasar rambutnya, ia merasa bersalah menyinggung perasaan sahabatnya.
"Gue kalut. Gue dijodohkan," ujar Bisma lirih.
Indra yang mendengar itu kembali mendongak dan menatap lekat wajah Bisma.
"Serius, Lu?"
Tawa Indra berderai kala melihat Bisma mengangguk kaku.
"Wah, bakalan nikah Lu. Selamat, ya, Bro! Akhirnya pecah telor juga, hahaha!" ujar Indra disela tawanya yang berderai.
"Berisik!" Bisma kembali mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
"Trus, si Dania gimana, Bro?" tanya Indra, penasaran. Ia tahu jika Bisma menjalin hubungan dengan Dania sudah hampir lima tahun.
Indra mengetahui jika Bisma sangat mencintai Dania, lebih tepatnya obsesi pada wanita yang kini berada di luar negeri karena memilih mengejar karir sebagai model internasional. Sejak setahun lalu Dania pergi dan meninggalkan Bisma tanpa kabar. Hal itu pula yang membuat Bisma seperti tak terkendali dan membuat dirinya sering mabuk-mabukan.
Bisma tercenung mendengar ucapan sahabatnya. Pikirannya melambung jauh ke seorang wanita cantik yang meninggalkannya tanpa kabar sampai saat ini. Rahang Bisma menjadi keras dan tatapannya menggelap. Sorot matanya menyiratkan kerinduan dan kebencian dalam waktu bersamaan.
"Dia yang memilih untuk pergi, ini tak ada hubungannya dengan Dania. Gue cabut ke tempat biasa!"
Bisma beranjak dari duduknya. Ia berjalan cepat ke arah pintu keluar. Indra yang melihat tingkah sahabatnya menjadi gelagapan..ia tau bagaimana sifat Bisma jika sedang ada masalah.
"Bisma, t-tunggu! Gue ikut Lu!" Indra segera meletakkan berkas-berkas yang dibacanya dan meraih ponselnya di meja kerja kemudian gegas menyusul Bisma yang telah menghilang di balik pintu.
Kedua orang itu saling berdiam diri dalam lift yang membawa mereka ke dasar gedung. Saat berada di dekat toilet, Indra menyuruh agar Bisma menunggunya di lobi gedung karena ingin buang air kecil.
Bisma yang sedang menunggu Indra tanpa sengaja melihat Aira yang ingin menuju ke pantry. Bisma terkejut mengetahui jika Aira bekerja di perusahaannya. Gegas ia menyusul wanita itu.
Aira yang telah selesai makan siang bermaksud untuk segera kembali ke lantai delapan tempatnya bekerja. Ia terkejut saat melihat Bisma yang berdiri menghalangi langkahnya.
"K-kau ...." Aira bergerak dengan gelisah. Ia tak menyangka jika akan bertemu dengan Bisma di tempat ini.
Sorot mata Bisma yang penuh kemarahan membuat Aira meneguk salivanya. Ia takut jika Bisma kembali memakinya dan menjadi tontonan orang-orang di kantor. Ia tentu saja tak ingin dipecat dari pekerjaannya.
Aira semakin takut saat Bisma segera menghampirinya dengan langkah yang lebar, kakinya secara naluria melangkah mundur ke belakang. Tetapi, langkah kaki Bisma yang panjang dengan segera memudahkannya untuk mencapai tempat Aira berada. Belum sempat Aira berucap, Lelaki itu mencekram pergelangan tangan Aira dan menyeretnya ke sebuah ruangan kecil dekat pantry.
"Lu ikut Gue!" geram Bisma. Ia mencengkram kuat lengan Aira.
Aira merasa kesulitan menyamakan langkah Bisma yang lebar-lebar, belum lagi tangannya terasa sakit karena cekalan Bisma. Tubuh semampainya seperti mainan anak-anak yang terseret tak berdaya. Aira berdoa dalam hati, ia takut dengan segala kemungkinan yang akan dilakukan oleh Bisma terhadapnya. Ia tahu jika Bisma tak pernah menyukainya. Mungkin tak akan pernah.
Bisma membuka ruangan yang dijadikan tempat peralatan kontrol instalasi listrik gedung, ia mendorong tubuh Aira masuk ke dalam. Bisma menutup pintunya kemudian menghampiri Aira yang gemetar ketakutan.
"Lu ngapain di sini, hah! Lu sengaja mata-matain Gue, ya?!" bentak Bisma sembari mencekal dagu Aira.
"S-saya ... bekerja di sini," cicit Aira lirih, hampir tak terdengar.
"Lu jangan bohong!"
"T-tidak ... sa-saya tidak bohong,"
Bisma melepaskan cekalan tangannya pada dagu Aira saat melihat name tag yang tersemat di dadanya. Aira tidak berbohong jika ia memang terdaftar sebagai satu pegawai perusahaannya.
"Ingat! Lu jangan pernah sapa gue di tempat umum kalau Lu gak mau rasakan akibatnya!" bentak Bisma sebelum keluar dari ruang kontrol meninggalkan Aira yang jatuh terduduk menahan tangis.
Suara pintu yang berdebam membuat Aira berjengit. Wajahnya kini basah oleh air mata, ia meratapi hidupnya yang selalu dilanda kepedihan.
🍁🍁🍁
Bisma berjalan cepat menuju lobi gedung, dari jauh dilihatnya Indra yang sedang kebingungan mencarinya. Ia segera menghampiri dan menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Lu dari mana aja, Bro?" tanya Indra keheranan.
"Dari urus kecoa biar gak nyusahin gue," jawab Bisma, sekenanya.
"Kecoa?" timpal Indra kebingungan.
Inda menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian bergegas mengikuti sahabatnya ke area parkiran.
Kecoa di gedung W-Corporate? Ada-ada saja, ujar Indra membatin.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (18)

  • avatar
    ZaskiaKia

    bgs😋

    23/08/2024

      0
  • avatar
    MulyaniNeng

    sangat tidak masuk akal

    04/05/2023

      0
  • avatar
    AlfhiaNabila

    Sangat menyedihkan 🥹

    28/12/2022

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด