logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bab 3. Bos Tampan

🍁🍁🍁
Aira akhirnya tersenyum lega ketika salah satu pintu lift terbuka, dengan cepat ia masuk dan hampir saja menabrak lelaki yang ikut melangkah masuk. Aira mengatur napasnya yang tersengal dan sibuk membenahi ujung jilbab di kepalanya melalui pantulan lift.
Segala tingkah lakunya menarik perhatian lelaki yang berdiri di sebelahnya.
"Terlambat masuk, ya, Mbak?" ujar lelaki itu sembari tersenyum simpul.
Aira lalu tersadar bahwa dalam lift ia tak sendirian. Dengan gugup ia menoleh ke arah datangnya suara.
Seorang lelaki dengan tinggi di atas rata-rata memandangnya dengan jenaka. Wajah lelaki itu mengingatkannya dengan beberapa artis drama korea yang sering ditontonnya. Potongan rambut yang sedikit panjang dengan kulit putih bersih membuat Aira terpesona. Aira mengerjap setelah lelaki itu berdehem. Senyum di wajah lelaki itu kian melebar saat melihat semburat merah di pipi Aira.
"I-iya, Mas," sahut Aira, tergagap.
Ia segera memalingkan wajahnya karena merasa malu. Untung saja lift segera terbuka dan sampai di lantai yang dituju. Ia segera melangkah keluar dan tak menyadari bahwa lelaki yang bersamanya dalam lift ikut serta.
Langkah Aira melambat saat melihat Renata menatapnya dengan sorot mata penuh amarah dari meja kerjanya. Saat ingin menjelaskan alasan keterlambatan, tiba-tiba sikap Renata berubah menjadi sangat manis. Pimpinan divisinya itu segera berlalu dengan senyum semringah di wajah.
Aira hanya bisa mengangkat bahu, ia berpikir bahwa ini hari keberuntungannya. Ia bersyukur hari ini ia tidak mendapat masalah, jika tidak mungkin ini hari terakhirnya bekerja. Tidak lucu jika ia dipecat padahal baru dua bulan bekerja. Ia menatap Renata yang tak biasanya bersikap manis apalagi tersenyum jika tak ada hal yang menyenangkan hatinya.
Aira memutuskan segera membereskan meja kerjanya dan memulai harinya. Bisik-bisik teman samping meja kerjanya terdengar riuh. Aira mendongak dan mencoba mengetahui apa yang terjadi, sontak ia tercegang melihat sosok yang berjalan di samping Renata.
'Dia ...,' gumam batin Aira.
Wajah Renata terlihat sumringah saat berjalan di samping lelaki yang baru saja Aira temui di lift. Sesekali Renata membetulkan letak poni dan rambutnya yang bergelombang. Dari sikapnya sangat terlihat jika ia ingin menarik perhatian lelaki tampan itu. Sesekali tangan Renata menyentuh lengan lelaki itu yang kemudian di tolak secara halus, adegan itu membuat Aira tersenyum geli.
Renata lalu bertepuk tangan untuk meminta perhatian pada enam orang bawahannya dalam ruangan itu.
"Perkenalkan ini Pak Indra Hendrawan. Beliau adalah manager operasional di perusahaan kita, saat ini beliau ingin mengadakan audit rutin mewakili direksi. Jadi, saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan beliau," ucap Renata.
"Baik, Bu!" ujar beberapa karyawan dengan serempak.
Setelah memperkenalkan sosok yang bersamanya, Renata kemudian mengamit lengan Indra untuk segera mengikutinya ke ruang kerja yang berada di belakang ruangan. Indra terlihat berusaha melepas kaitan tangan Renata di lengannya dan rupanya sia-sia. Akhirnya, Indra melangkah dengan pasrah bersama Renata. Bisik-bisik karyawan tentang tingkah laku Renata semakin terdengar, saat melewati meja kerja Aira. Indra mengedipkan matanya sebelah dengan jahil dan berlalu. Tindakan lelaki itu membuat Aira kembali tergagap, ia menunduk dan segera duduk memegang pipinya yang terasa panas.
Perempuan itu kemudian hanyut dalam rutinitasnya sebagai asisten akuntan perusahaan. Tak ada saling sapa saat mereka bekerja. Enam orang bawahan Renata termasuk dirinya di tempatkan di bilik-bilik meja kerja yang terpisah agak jauh, jadi tidak memungkinkan mereka untuk saling bercerita saat jam kerja. Bunyi perutnya yang agak keras membuat Aira melirik jam yang berada di atas dinding kantor.
'Pantas saja terasa lapar, rupanya sudah waktunya istrahat dan makan siang' batin Aira.
Gegas ia merapikan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya sebelum bergegas untuk beristirahat. Tak lupa ia membawa mukena untuk salat di mushalla gedung yang berada di lantai dasar. Lantai dasar gedung memang di desain khusus untuk mushalla dan kantin karyawan.
🍁🍁🍁
Indra menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya yang empuk. Ia lalu melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya. Inilah mengapa ia sangat malas menggunakan dasi kecuali acara formal.
Ia meregangkan otot-otot lehernya yang tegang. Audit bulanan yang harus ia lakukan memaksanya untuk mengunjungi setiap divisi.
Audit terakhirnya di ruangan Renata. Otot-otot terasa tegang karena sikap Renata yang terus-menerus bersikap agresif.
Indra kemudian terkenang akan sosok manis gadis berjilbab yang dilihatnya dalam lift yang ternyata bekerja di divisi akunting bawahan Renata. Sosok itu terasa menghibur dengan tingkahnya yang lucu sehingga tanpa sadar saat keluar dari ruangan Renata, ekor matanya mencari sosok bertubuh semampai itu. Sayangnya, gadis itu sedang pergi, mungkin sedang makan siang pikir Indra.
Setelah memejamkan mata sejenak, Indra lalu mengambil handphonenya yang terletak di atas meja dan memencet satu kontak dengan nama 'Boss'.
"Hm ...." Setelah beberapa kali bunyi dering terdengar akhirnya seseorang bersuara bariton menyahut panggilan Indra dengan malas.
"Ebuset! Jangan bilang lu baru bangun, Bro," ujar Indra dengan suara jahil.
"Berisik!"
"Lu gak ke kantor?"
"Ngapain?"
"Eh, lupa kalau Elu itu direktur perusahaan ini? Masa gak pernah muncul di kantor sendiri?" sahut Indra, gemas.
"Kan ada Elu, Ndra!" ujar suara di seberang telepon dengan malas.
"Ntar gue ambil alih perusahaan Lu, baru tahu rasa!"
"Ambil gih ambil! Udah, gue mau siap-siap dulu. Gue tunggu di tempat biasa!"
Indra terkekeh sambil menggeleng kepala saat sambungan telepon diputuskan secara sepihak. Jabatan Indra memang hanya sebagai manajer operasional di atas kertas, tetapi nyatanya ia juga merangkap sebagai pimpinan perusahaan. Semua kegiatan perusahaan di kendalikan olehnya yang seharusnya direktur utama yang jalankan. Ia selalu protes pada sahabatnya yang menjabat direktur dan juga pemilik perusahaan agar bisa bekerja sesuai porsi jabatan, namun temannya itu saat ini tak bisa diharapkan.
I menggeleng kuat mengingat tingkah sahabatnya. Cinta memang kadang membuat seseorang bisa melakukan hal diluar logika, termasuk sahabatnya yang kini sedang patah hati karena wanita yang dicintainya lebih memilih karir dan meninggalkannya ke luar negeri.
Indra memang memiliki banyak teman wanita, tetapi tak satu pun yang menjadi pujaan hatinya. Ia hanya menjadikan wanita-wanita itu sebagai teman kencan dan berakhir dengan pergumulan panas di tempat tidur. Dengan wajah tampan dan jabatan ekslusif, hampir tak ada wanita yang menolak pesonanya termasuk Renata. Hanya saja, ia tak terlalu menyukai wanita yang cenderung mengobral dirinya.
[Gue udah di lokasi.]
Sebuah pesan yang masuk di gawainya membuat Indra bergegas. Ia tak ingin membuat sahabatnya itu menunggu dan membuat keonaran di tempat umum. Indra segera mengeluarkan kartu pas khusus anggota VVIP perusahaan agar bisa mengakses lift gedung.
Lift gedung memang di rancang agar bisa digunakan secara umum sampai lantai sepuluh, selebihnya sampai lantai tiga belas merupakan ruangan khusus direksi perusahaan. Ruangan Indra sendiri berada di lantai sebelas.
Indra melangkah masuk ke dalam lift dan memencet tombol ke lantai paling dasar. Ia tiba di lantai dasar bertepatan dengan waktu pulangnya karyawan. Beberapa karyawan perusahannya menunduk hormat saat ia lewat. Ekor matanya melihat bayangan Aira yang sedang menuju ke arah parkiran karyawan sebelum tertutup oleh gerombolan karyawan yang juga sedang menuju pulang.
Ia memijit pelipisnya, entah mengapa bayangan perempuan berhijab itu mampu mengusik hatinya, padahal baru beberapa jam lalu mereka bertemu secara tidak sengaja. Ia menghalau pikirannya tentang Aira dan memutuskan segera menuju mobilnya yang berada diparkiran khusus direksi.
Saat ingin menaiki mobilnya, tanpa sengaja ia melihat sosok Aira yang dijemput menggunakan mobil hitam. Kening Indra berkerut. Ia seakan mengenali mobil yang dinaiki oleh salah satu karyawannya itu, tetapi bunyi handphone yang berdering terus menerus mengalihkan perhatiannya. Ia melengos kesal, seseorang sedang menantinya dengan tidak sabar.
Dengan kesal Indra menaikkan tombol untuk menerima telepon.
"Gak sabar banget Lu jadi orang!"
"Lagian Lu lelet kayak anak cewek lagi dandan," sahut seseorang di seberang telepon sembari terkekeh.
"Lu kira gue demit bisa langsung nyampe ke lokasi Lu? Sabar dikit! Puyeng gue lama-lama!"
Indra memutuskan telponnya dan melempar asal gawainya ke kursi seberang kemudi. Ia lalu melarikan mobilnya ke arah lokasi pertemuan yang telah mereka tentukan sebelumnya.
Bersambung

หนังสือแสดงความคิดเห็น (18)

  • avatar
    ZaskiaKia

    bgs😋

    23/08/2024

      0
  • avatar
    MulyaniNeng

    sangat tidak masuk akal

    04/05/2023

      0
  • avatar
    AlfhiaNabila

    Sangat menyedihkan 🥹

    28/12/2022

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด