🍁🍁🍁 Mobil berwarna hitam yang membawa Aira memasuki sebuah halaman rumah besar dengan arsitektur Eropa klasik. Rumah bercat putih itu memiliki halaman yang luas, terbukti dari jarak pagar hingga ke teras rumah sekitar sepuluh meter jauhnya. Hendarto kemudian menghentikan mobilnya di depan pintu rumah yang di desain untuk seperti lobi hotel sehingga kendaraan bisa langsung mengakses pintu utama. Aira mengerjap perlahan ketika sebuah tangan halus menepuk lembut pipinya. "Aira, bangun, Nak. Kita sudah sampai," ujar Rukmini lembut sembari membangunkan Aira. "Ayo, turun," timpal Hendarto. Lelaki itu lalu turun dari mobil. Rukmini mengangguk pada Aira lalu turun menyusul suaminya. Aira mencoba mengumpulkan segenap kesadarannya kembali. Ia melirik peminda waktu yang berada di lengan kirinya. Ternyata tak lebih dari dua jam mereka telah tiba di kediaman Hendarto. Gadis itu melangkah perlahan. Ia melihat Hendarto berbicara dengan seorang lelaki, setelah menerima kunci mobil, lelaki itu segera membawa mobil Hendarto dan memarkirnya di garasi rumah. Aira mengamati rumah besar yang ada dihadapannya. Rumah yang tiga kali lebih besar dari rumah neneknya. Bangunan bertingkat dua itu terlihat angkuh menyambut kedatangannya. Ia menelan ludah dengan khawatir. Sebuah tanya muncul di kepalanya, apakah ia mampu berbaur dengan keluarga Wijaya nantinya? "Aira! Ayo, masuk!" Suara Rukmini mengembalikan konsentrasi Aira. Ia menguatkan diri lalu melangkah masuk menyusul sang tuan rumah. Aira terpesona saat melihat ornamen di ruang tamu keluarga Wijaya. Ruangan tamu dengan gaya modern klasik berhubungan langsung dengan ruang tengah yang memiliki tangga melingkar dengan aksen kayu pada Titian tangga. Lampu hias besar yang menggantung di langit-langit rumah setinggi hampir delapan meter ikut menambah kesan mewah dan elegan. Tanpa sadar Aira berdecak kagum. Sebuah pigura berukuran besar yang terpasang di dinding ruang tamu menarik perhatian Aira, foto keluarga Wijaya. Di foto itu Rukmini duduk diapit oleh Hendarto dan seorang pemuda dengan sorot mata tajam tanpa senyum. Kening Aira sedikit berkerut. Ia seakan mengenal lelaki yang ada dalam foto itu. "Dia Bisma, putra kami satu-satunya." Aira sedikit berjengit saat terdengar suara Rukmini dari arah belakang. Rukmini menatap sendu foto Bisma. "Ia dulunya anak yang manis, tetapi sejak kejadian itu ...." Aira penasaran dengan kelanjutan ucapan Rukmini, tetapi melihat raut sendu di wajah perempuan setengah baya yang masih cantik itu, ia urung bertanya. Ia hanya terdiam dan berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu Bisma. Aira sangat yakin jika ia pernah bertemu di suatu tempat. Entahlah. Rukmini menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Aira. Wajah sendu yang bergelayut di wajah ayunya kini menghilang saat menatap Aira. "Beristirahatlah. Anggap rumahmu sendiri, Nak. Aku berharap kau betah tinggal di rumah ini. Kamarmu akan ditunjukkan oleh Bi Asih," ucap Rukmini sembari melihat pada seorang wanita paruh baya berpakaian sederhana di belakang Aira. Aira berbalik menatap ke arah pandangan Rukmini. Wanita yang dipanggil Bi Asih mengangguk dan tersenyum lembut padanya. "Terima kasih, Bu," ucap Aira lirih. Rukmini lalu memeluk pundak dan mengusap kepala Aira dengan lembut. Perempuan itu berusaha memberikan kekuatan pada gadis malang dihadapannya. Aira tersentuh dengan perlakuan Rukmini padanya, ia merasa mendapatkan kembali kasih sayang dari seorang ibu. Rukmini mengurai pelukannya lalu mengisyaratkan pada Aira beristirahat. Gadis itu kemudian mengangguk dan segera berjalan di belakang Bi Asih. Saat ini tubuhnya pun mulai menjerit kelelahan. Begitu banyak hal yang terjadi hari ini dalam waktu bersamaan membuat jiwa dan raganya letih. Bi Asih lalu berhenti di sebuah kamar dengan pintu bercat putih. Setelah berbasa-basi sejenak, Aira kemudian masuk kedalam kamar. Kamar berukuran 6x6 meter persegi dengan gaya minimalis berwarna putih abu-abu terkesan hangat dan dingin bersamaan bagi Aira. Di sudut ruangan, tepatnya di samping lemari yang menyatu ke dinding kamar, ia melihat beberapa barang bawaannya. Ia merasa sangat beruntung karena kamar yang di tempatinya memiliki kamar mandi dalam. Setelah membersihkan diri, ia kemudian menghamparkan sajadah. Walaupun ia berasal dari keluarga yang kurang religius, ia selalu berusaha untuk salat dan mengadukan perhal hidupnya. Seperti saat ini, semua kejadian yang dialaminya sangat cepat dan membuatnya sulit bernapas dan berpikir jernih. Setelah puas mengadu pada Sang Maha Kuasa, Aira tertidur di atas sajadah. 🍁🍁🍁 Aira terlonjak kaget dari tidurnya. Ia mendapati dirinya masih menggunakan mukenah sejak semalam. Jam dinding dalam ruangan menunjukkan hampir jam enam pagi, gegas ia bersuci dan salat subuh. Seperti kesetanan ia membersihkan diri dan bersalin pakaian. Hari ini ia harus tetap bekerja, kemarin ia lupa memberikan informasi pada atasannya agar izin tidak masuk kerja. Dari informasi Bi Asih semalam, kini Aira berada di daerah perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan, itu berarti ia harus bergegas karena jarak kantornya lumayan jauh yang berada di Jakarta Pusat. Ia memperkirakan sekitar satu jam perjalanan hingga sampai di kantor. Tentu saja ia tak ingin terlambat dan bertemu dengan supervisor berwatak keras seperti Renata. Aira menggeleng keras. Ia sangat menghindari konfrontasi dengan Renata. Langkah Aira melambat saat sayup-sayup terdengar suara orang yang berdebat dari ruang tamu. Ia berhenti di sisi tangga, ragu untuk mendekat. Sosok pemuda dengan rambut acak-acakan masuk ke dalam ruangan, kemeja yang tidak dikancing bagian atas dan jas yang disandingkan di bahu kanan. Walau jarak yang cukup jauh, Aira bisa mencium bau alkohol yang menguar tajam. "Pulang pagi lagi, Bisma? Sampai kapan kau mau seperti itu terus?" Suara Hendarto membuat perhatian Aira beralih pada lelaki paruh baya itu. Hendarto terlihat sedang duduk di ruang tamu dan membaca surat kabar. Di sisinya terlihat Rukmini dengan raut wajah khawatir memandangi suami dan anaknya secara bergantian. Aira melirik jam yang melingkar manis di tangannya, sudah pukul tujuh tepat. Ia harus bergegas, tetapi aura dalam ruangan itu membuat kakinya seakan terpaku. Bisma tetap melangkah ke arah tangga tanpa menghiraukan ucapan ayahnya. "Bisma! Setiap hari kamu makin kurang ajar. Papa bicara padamu," sahut Hendarto sembari melipat kasar koran di tangannya. "Pah ...." Rukmini mengusap lembut tangan suaminya. "Mau sampai kapan dia begitu, Ma? Pulang pagi dalam keadaan mabuk. Dia tak pernah memikirkan masa depannya," ujar Hendarto, ia menghela napas panjang. Bisma hanya mendengus mendengar percakapan kedua orang tuanya. Ia melanjutkan langkahnya. Saat ingin menaiki tangga, ia tertegun menatap sosok gadis bertubuh semampai yang mengenakan jilbab berwarna salem dan bergamis lengkap sedang berdiri di samping tangga. Ia tersenyum sinis, sungguh bukan tipe gadis impiannya. Bisma yang menatap dengan pandangan lekat membuat Aira merasa jengah. Ia kemudian menunduk karena malu. "Pembantu baru? Atau jangan-jangan ... Kamu gundik baru Papa?" ujar Bisma dengan nada sarkas. "Bisma! Jangan kurang ajar kamu!" teriak Hendarto, murka. "Pah! Bisma! Sopan sama Aira!" timpal Rukmini, gemas dengan tingkah laku putranya yang semena-mena. Aira yang mendengar ucapan Bisma hanya bisa terperangah, sangat ingin membalas ucapan Bisma yang kelewatan. Bisma hanya tersenyum angkuh saat melihat tatapan marah dari Aira. Ia segera bergegas naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Saat ini ia hanya ingin tidur yang nyenyak setelah semalam menghabiskan waktu di diskotik bersama kawan-kawanya. Aira memandangi punggung lelaki yang baru saja melecehkannya secara verbal. Ia melirik jam tangannya, dan terlonjak kaget karena waktu kini menunjukkan setengah jam lagi waktu ceklok berakhir. Ia bergegas menemui kedua orang tua Bisma untuk pamit dan segera berangkat ke tempat kerja. Hendarto dan Rukmini hanya mengangguk dan meminta maaf atas kelakuan putra mereka pada Aira. Mereka bersikeras agar Aira diantar oleh supir pribadi ke tempat kerja. Mengingat jarak dan waktu yang agak sedikit, akhirnya Aira bersedia. Kelakuan Bisma beberapa saat lalu kini tak dipusingkan lagi, ia hanya memikirkan alasan yang bagus agar Renata tidak mempermalukannya di kantor. Perjalanan yang sebenarnya bisa dilalui dengan waktu tiga puluh menit bisa menjadi satu jam karena padatnya lalu lintas kota Jakarta pada pagi hari. Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya Aira sampai di gedung tempatnya bekerja. Ada beberapa perusahaan yang memilih gedung berlantai tiga belas itu untuk berkantor, salah satunya perusahaan tempat Aira bekerja yang terletak di lantai sepuluh gedung yaitu W_Corporate. Perusahaan tempat Aira bekerja bergerak pada bidang retail yang memiliki cabang di seluruh Indonesia. Aira memencet tombol semua lift dengan tidak sabar. Waktu ceklok perusahaan telah lewat lima menit yang lalu, apalagi sejak dua hari lalu Renata mewanti-wanti agar tak ada seorang karyawan divisi akunting yang terlambat datang. Renata mengatakan bahwa akan ada audit keuangan yang akan dilakukan langsung oleh direksi, dan itu dilaksanakan hari ini. Mulut Aira komat-kamit membaca doa semoga hari ini dia tidak bermasalah karena tidak disiplin, gadis manis itu tak menyadari ada seorang lelaki yang mengamati gerak-geriknya sambil tersenyum kecil. Bersambung
bgs😋
23/08/2024
0sangat tidak masuk akal
04/05/2023
0Sangat menyedihkan 🥹
28/12/2022
0ดูทั้งหมด