POV; Mustofa Aini sama Aina menangis terus saat Ibu juga masih menangis. Hari sudah berganti namun luka masih seperti bersemi. Kapan keadilan ditegakkan, apakah dunia ini adil? Ayah ditangkap dan barusan dikeluarkan lima bulan ke depan. Padahal ayah tidak ada kesalahan, ayah hanya saja membela diri. Apa salah ayah? Ketidak adilan seperti terjadi bertubi-tubi semenjak pagi kemarin. "Sabarlah bu, aku yakin semua akan baik-baik saja!" Aku memeluk ibu. Mengecup berkali-kali ubun-ubun kepalanya, aku begitu khawatir dengan ibu. Aku tidak tega melihat Ibu sedih seperti ini. "Bagaimana aku bisa sabar nak, kasihan ayahmu yang disana!" Rintih ibu semakin keras mengucapkan kata-kata. Rasanya batinku ingin menjerit sekeras mungkin, rasanya aku ingin marah-marah kepada Pak Darsono yang karena kesalahannya sendiri namun keluargaku yang jadi imbasnya. Namun kenapa aku tidak bisa? Apakah ini yang dinamakan terluka namun tidak ada darahnya? Rasanya lebih sakit. "Kalau ibu seperti ini, bagaimana kami bisa kuat bu?" Aku memberi pertanyaan yang harus dijawab ibu. Sementara Aina denga Aini masih menangis namun masih dibiarkan ibu. Akupun juga bingung harus meladeni yang mana, apakah Ibu ataukah Aina dan Aini. Mereka berdua seakan benar-benar tahu kalau Ibu sedang menangisi kejadian yang tidak akan pernah terlupakan. "Ibu tidak tahu harus melakukan apa nak, hati ibu amatlah terluka. Bagaimana kita bisa hidup tanpa ayahmu untuk beberapa bulan ini!" Aku juga berfikiran sama seperti yang Ibu rasakan. Namun aku harus apa? "Insyaallah ada jalannya bu, " Tabahku, Lalu ibu mengusap air matanya kemudian mengambil Aini yang menangis dan aku mengambil Aina yang menangis. Mengapa kedua adikku ini sangatlah tahu kalau orang tuanya sedang mengalami tekanan? "Cup.., cup..., jangan menangis nak!" Ibu menyusui Aini, sementara aku keluar untuk menuju dapur mengambil ASI ibu yang sudah ibu siapkan di dot. "Kak Mustofa janji dek, kakak akan menyayangimu.., menyayangi Aina juga..., walaupun kalian bisa merasakan dunia ini memanglah tidak adil namun ketika kalian berdua menjumpai kasih sayangnya ayah, ibu dan aku. Kalian akan bahagia dek! Janji kak Mustofa itu. Kamu jangan menangis adikku sayang!" Air mataku keluar dan aku membiarkan air mata itu jatuh begitu saja tanpa mengusapnya. Apakah kesedihan ini tiada henti ujungnya? Aku ke ruang tamu, menimang-nimang adikku sambil meminumnnya susu. Ya allah, kenapa seperti engkau tutup jalan rizki ini. Bagaimana keluargaku akan hidup. Ibu selama ini tidak bekerja. Ayah bekerja sebagai arsitek itupun kalau ayah tidak bekerja maka tidak akan dibayar, atau mungkin dibayar namun hanya lima belaspersen. Sementara aku juga sekolah membutuhkan uang untuk membayar bulanan, lalu ibu juga membutuhkan uang untuk kesehariannya. Kenapa kami mengahadapi semua ini? "Mus!" Ibu memanggilku dari arah kamar Aini!" Aku menghampirinya dengan cepat. "Iya bu? Ibu mencariku?" Aku lihat Aini sudah tidur pulas kembali dan sudah ibu taruh di ranjang tidur. "Mus, jagain adikmu ya nak.., ibu mau ke kantornya ayahmu. Memberitahukan yang sebenarnya!" Mata ibu kembali berkaca-kaca, sesekali sebulir air matanya menetes. Aku mengusap. Ibu memandangku dengan tatapan yang penuh, aku tidak menghindari namun aku membalas tatapan ibu. Dengan pandanganku, aku mungkin bisa membantu ibu tegar dengan meyakinkanya secara tidak langsung. "Iya bu, tapi jangan menangis ya..., kami ada untuk ibu!" Ibu mengangguk lalu berjalan cepat ke arah kamar. Seharusnya hari ini aku masuk sekolah, seharusnya aku hari ini sudah mengumpulkan tugas Pak Deni. Seharusnya aku bukan ada dirumah untuk menjaga Aini dan Aina. Apa yang harus aku lakukan saat teman-temanku tahu kalau ayahku di bawa polisi? Apa yang akan ada dalam benak mereka mengenai ayah? Jangan sampai noda buruk menghinggap dikeluargaku, janganlah sampai celaan menghantui bayangan masa depanku yang akan aku jalani. *** POV; Tuan Air Rangga Selesai jumatan aku mengingat Raisa, bukankah dia ingin sekali bertemu denganku hari ini? Aku yakin ibunya sekarang sudah pulang. Jadi aman buatku untuk menemuinya. Aku menelpond Raisa, sekali aku telpond tertulis di layar memanggil. Apa koneksi internetku lagi bermasalah? Aku menelpond Raisa untuk kedua kalinya tertulis dilayar masih memanggil. Apa data selulernya mati? Entahlah, ini yang terakhir. Kalau tidak dijawab aku akan ke rumahnya langsung. Lalu akan aku tanyakan kemana saja saat aku menelpondnya. Ini panggilan ke tiga, tertulis dilayar berdering. Aku tersenyum melihat tulisan berdering yang ada dilayar handpond, karena sebentar lagi panggilan telponku akan terjawab. Aku sangat tahu sekali kalau Raisa itu Fast Respons telponku. Setahuku dia cepat-cepat mengangkat telponku karena takut aku akan mematikan panggilan. Sudah tujuh kali dering tidak ada jawaban, Raisa ini dimana? Aku melihat pesam chat yang Raisa kirim. Dan terakhir pesan itu berbunyi. "Aku mencintaimu mas!" Rasanya mengapa ada yang berbeda dari spam Raisa. Lihatlah sepuluh pesan yang sama ini. Sama-sama berbunyi. "Angkat telponku mas, aku butuh kamu". Hatiku entah mengapa mendadak cemas saja membaca pesannya kali ini. Padahal aku tahu sekali, setiap kali Raisa mengirim pesan. Aku selalu bersikap biasa, lalu terkadang tersenyum kemudia membalas pesannya. Tetapi entah kenapa hari ini aku merasa berbeda dengan pesannya. Apalagi pesan yang terakhir. "Aku mencintaimu mas" seperti memberikan isyarat padaku untuk secepatnya ke rumahnya. Raisa sudah lama tidak mengucapkan kata itu lagi. Semenjak dua bulan yang lalu, itulah yang terakhir. Aku juga masih ingat itu, seperti malam yang panjang buatku dan keluargaku karena kakek meninggal. Sebaiknya saat ini aku akan menemuinya ke rumahnya. Apa aku cemas karena aku sedang bersalah karena aku tadi tidak mengucapkan salam, atau karena aku tadi juga menutup telpon secara tiba-tiba lalu menolak semua panggilan darinya. Bahkan aku mematikan data lalu mematikan ponselku. "Assalamualaikum, iya bunda?" Aku tidak tahu juga kenapa bunda menelpondku, apa aku disuruh ke pabrik ayah sekarang? Bukankah baru ada orang sekitar jam setengah satu? Kalau bukan itu, alasan bunda menelpondku karena apa? "Waalaikum salam, Angga kamu dimana?" "Barusan selesai Jumatan bunda, yang dekat dengan SMK!" Bunda kenapa cari aku lagi dimana? Apa aku disuruh menemui bunda ke rumah atau bagaimana? Aku mendekat ke arah motorku sambil menyimak jawaban bunda. "Oh iya..., habis ini ke pabrik kamu nak?" Tanya bunda dengan nada penuh tanya. Aku memakai helm, sambil mulai menaiki motorku. "Tidak bisa Bun, Angga mau ke Rumah Raisa bentaran. Lalu baru ke Pabrik." Bunda tahu Raisa itu seperti apa, jadi aku yakin kalau Bunda tidak akan bisa mencegahku untuk pergi ke Rumah Raisa. "Ya sudah, nak. Nanti kalau ke Pabrik Ayahmu, tolong bawakan baju Ibu yang kemarin malam sempat tertinggal ya. Soalnya Ayahmu nanti katanya akan pulang larut malam jadi tidak bisa ngantar kalau sore ini. Tahu sendiri kan, kalau nanti sore mau ada tamu keluarga Bunda dari Surabaya ...." "Iya Bunda, Mbak Syahna sama Mas Ahkam kan?"
bagus
04/07/2024
0baikkk
03/07/2024
0asyik cerita nya bro
21/06/2024
0ดูทั้งหมด