Hari Minggu, ini hari favorit Lintang. Biasanya, ia akan membawa alat melukisnya dan pergi ke Laut yang sering ia datangi. Laut itu berada dekat dengan rumahnya, hanya perlu mengendarai sepeda dalam waktu 25 menit saja. Gadis itu, sudah bersiap dengan tas berisi alat-alat melukisnya. Dia hanya perlu untuk mengeluarkan sepedanya yang ia simpan di dalam gudang. Saat ia keluar dari kamarnya, tiba-tiba ada suara seseorang yang membuat Lintang menghentikan langkahnya. "Mau kemana?!" Suara ini, benar-benar tak ingin ia dengar. "Mau keluar." Jawabnya cepat. Citra, menatap tas yang dibawa Lintang dengan tajam. "Aku pergi dulu." Ucap Lintang tanpa mau menunggu Mamanya berbicara lagi. "Tunggu." "Itu apa? Kamu melukis lagi?!" Lintang menghela napas kesal. "Emang kenapa?!" "Untuk apa kamu melukis lagi? Mama kira kamu akan fokus untuk belajar." "Kamu kan tahu, kamu itu payah! Harusnya kamu contoh si Jeje yang selalu juara satu dan nilainya diatas rata-rata." Sambungnya lagi, Citra menghela napas lelah. Kemudian dia mendekat ke arah Lintang mengambil tas itu. "Mama! Apaan sih?!" Teriak Lintang marah Citra berjalan cepat menuju halaman rumah, dia dengan sengaja menyalakan api. "Mama akan bakar alat-alat yang gak berguna ini." Ucapnya mantap. Api menyala dengan cepat saat Citra memasukan bahan bakar bensin ke dalamnya. Lintang sangat marah, dengan cepat tangannya meraih tas itu. Kini, ia menggenggamnya dengan erat. "Mama seharusnya kerja kan?! Buat apa mama peduli urusan aku!" "Selama ini, mama cuma peduli sama kerjaan!" Bentaknya tak terima. Lintang menghapus air matanya dengan kasar, ia sangat kesal sekarang seperti api yang sudah menyala tadi. Emosinya juga ikut menyala berkat keegoisan mamanya. "Mama tau apa tentang aku?! Dengan melukis aku bisa bahagia." Tuturnya, ia terus menerus berbicara tanpa henti. "Mama selalu bandingin aku sama Jeje, tapi apa aku pernah bandingin mama sama mama yang lain?!" "Karena, mama selalu sibuk dan aku ditinggal sendiri disini. Apa gunanya aku punya mama?" Citra membalas perkataan Lintang, ia sebenarnya tidak ingin bertengkar seperti ini. "Cukup Lintang, mama mohon sama kamu untuk gak melukis lagi fokus aja sama belajar!" Ucapnya tegas, ia meninggalkan Lintang yang masih menangis. Gadis itu juga segera pergi dari sana, ia melupakan sepedanya dan lari. Menjauh dari halaman rumahnya, terus berlari menuju arah laut. Hosh.. hosh.. "Capek banget." Gumamnya, ia menatap ombak laut yang seirama. Lintang tidak tahu kenapa, semenjak ayah nya tidak ada. Hubungan mereka menjadi renggang, ia juga merasa ini tidak adil untuknya. Setiap berhadapan dengan mamanya hanya argumen-argumen kecil lalu berakhir dengan pertengkaran. Ini yang membuatnya tidak betah di rumah. "Arghhhh, gue cape!" Teriaknya cukup kencang, tanpa menyadari disekitarnya ada beberapa orang yang memang sedang berkunjung di pantai ini. Kalau waktu bisa dipercepat, mungkin Lintang akan memilih untuk cepat dewasa dan hidup dengan mandiri. Tanpa perlu merasa terkekang, pada akhirnya ini hanyalah khayalannya yang tidak mungkin terjadi. Setelah melamun cukup lama, Lintang mengambil pulpen dan kertas dalam tasnya. Ia sudah tidak mood untuk melukis sekarang, kertas itu ia tulis beberapa kata. Gue suka sama lukisan, dan itu buat gue seneng banget. Ngeliat warna-warni cat, terus gue pengen pelukis bisa jadi pekerjaan gue nantinya. Bukannya bagus ya? Buat jalanin hobi sambil kerja juga. Gadis itu duduk ditepi pantai, setelah menulis kata-kata tadi yang akan ia kubur di dalam pasir. Tasnya ia taruh di dekat kakinya, tanpa menunggu lama kertas itu sudah terkubur rapih. Ini baru pertama kali ia lakukan, ternyata melakukan hal yang belum kita lakukan bisa membuat kita merasa lebih baik. Lintang kembali berdecak sebal, ia benci situasi seperti ini. Nantinya ia jadi harus menghindari mamanya lagi, lupakan saja lebih baik ia mengisi perutnya yang keroncongan. Ia melihat warung makan yang biasa ada disini, kemudian beranjak berdiri untuk pergi ke sana. Sebenarnya ini adalah warung makan, biasanya kalau masih pagi disini hanya menjual nasi uduk dan nasi kuning. Ketika sudah siang, menunya akan berubah menjadi lauk pauk rumahan. Lintang memang sudah hafal, berkat ingatannya yang bisa dibilang tajam. Apalagi, ia sering kesini sendiri. Lintang duduk di salah satu bangku yang ada disana, ia akan memesan nanti setelah merasa tenang. Kalau ditanya, inginnya sih Lintang mengajak Jeje juga kesini tapi Jeje selalu menolaknya katanya ia lebih baik dirumah daripada keluyuran gak jelas. Lintang sedang berpikir, apa yang harus ia lakukan setelah ini. Pergi kemana ya? Pikirnya. Gadis itu mengecek handphonenya, melihat chatt nya dengan Jeje semalam. Apa ia hubungi Jeje saja? Sebenarnya, itu bukan pilihan yang buruk mengingat mereka berteman cukup lama. Ya, mau kemana lagi kan? Tapi, bagaimana dengan baju seragamnya? Dia kan, tidak sempat membawa itu. Gue ke rumah dulu kali ya, abis itu langsung bawa baju terus keluar dengan selamat. Tapi, masalahnya si nenek gombreng itu masih dirumah atau keluar ya? Kayaknya sih keluar, karena kan biasanya dia pergi gak tau kemana. Batin Lintang. "Bu saya pesan satu uduk satu porsi ya!" Seru Lintang memesan nasi uduk, ia baru sadar belum memesan sesuatu. "Siap!" Sahut ibu warung Sambil menunggu pesanannya siap, Lintang beralih menghadap laut matanya melirik kesana-kemari, kadang melihat ombak laut, atau melihat orang-orang yang mulai berdatangan. Sepertinya, hari ini akan banyak pengunjung yang datang pikir Lintang. "Ini nasi uduknya." Ucap ibu warung. Lintang yang baru menyadari makanannya datang, lupa untuk mengucapkan terimakasih. Ia segera memakannya dengan lahap. 🥀🥀🥀 Kini, Lintang berada diluar pagar rumahnya matanya menelisik dengan teliti memastikan kalau perempuan itu sudah pergi. Kayaknya udah gak ada deh, duh kenapa gue kayak maling gini ya. "Paket, paket, paket!" Teriak Lintang dengan keras, sengaja untuk benar-benar memastikan tidak ada orang dirumah. Jujur saja, Lintang ingin mentertawakan diri sendiri. "Kenapa teriak-teriak?" Tanya seseorang yang berada dibelakang Lintang. Deg! Lintang merasa tidak ingin untuk berbalik, ia malas kalau harus bertemu perempuan itu. Apalagi, dalam keadaan yang memalukan ini. Gadis itu, terpaksa berbalik demi mengetahui siapa yang bertanya padanya tadi. "Eh Jeje!" Pekik Lintang merasa lega. Jeje bertanya sekali lagi, "Ngapain teriak paket segala." Lintang memberi senyum lebarnya, "Gak kok, gue iseng aja hahaha." Terdengar suara tertawa Lintang yang garing dan ngebosenin. Jeje mengangkat tangan tak peduli, "Kenapa lo mau nginep dirumah gue?" Lintang menghela napas panjang, pada akhirnya ia menceritakan semua hal yang terjadi saat pagi itu. Jeje mendengarkan dengan baik, ia menghela napas panjang. "Yaudah, cepet ambil baju seragamnya." Ucap Jeje, sebelum itu ia memeluk Lintang dengan cepat. Lintang yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa tersenyum dalam hati, ia gengsi untuk berterimakasih pada Jeje. Yang ada Jeje juga akan jijik kepadanya kalau menunjukkan sikap sok manis.
siap
22d
0bagus banget bikin baper kata gua teh
08/05
0bagus
21/11
0ดูทั้งหมด