logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bab 2

Langit biru, Lintang menengadah pada langit yang entah mengapa begitu cerah dan biru. Gadis itu, sedang berada di lapangan olahraga bersama teman-temannya yang lain.
Pelajaran olahraga kali ini, berlari mengelilingi lapangan sepertinya gurunya sengaja tidak mau mengajar. Buktinya, mereka hanya disuruh berlari tanpa teori apapun.
Biru, oh ya si Biru yang waktu itu.
"Lintang, cepet dong larinya ih lambat deh." Ujar Jeje, dia sedang memegang stopwatch untuk menghitung berapa lama Lintang sanggup untuk berlari
"Iya, udah ini gue selesai kok gak mau lari lagi cape ah." Sahut Lintang, ia berlari kembali takut banget deh si Jeje gak bisa lari.
"Stop!"
"Berapa menit gue lari?" Tanya Lintang
"Apaan menit, Lo baru 50 detik hahahaha." Tawa Jeje terdengar kencang
"Aish, biarin ah gue udah cape sini stopwatchnya."
Jeje mulai berlari, sementara Lintang mulai memencet stopwatch tadi. Ia meminum air putih yang ia bawa dari rumah.
"Ayo Je, semangat! Bentar lagi 5 menit ayooo." Teriak Lintang menyemangati Jeje
Jeje memang sangat pandai dalam hal apapun, dia tidak pernah merendahkan Lintang yang berbeda dengannya.
Lintang memang masih belum mengetahui ingin menguasai hal apa, tetapi ia menyukai satu bidang yakni melukis. Gambar Lintang mungkin masih belum sempurna, dan untuk membuktikan itu dia sekarang sedang berusaha mewujudkannya.
Meskipun ini hanya mimpi kecil Lintang, dia serius tentang hal ini.
"Stop, udah 5 menit."
"Oke."
Jeje berhenti berlari, dia ikut duduk bersama Lintang. Mengamati teman mereka yang lain sedang berlari.
"Huft, cape deh minta air minum dong." Pinta Jeje
Lintang memberinya botol minum yang isinya sudah setengah dari botolnya.
"Je, gue jadi pengen ikut les melukis deh."
"Kenapa nggak? Tinggal daftar aja apa susahnya." Sahut Jeje
Lintang tersenyum, "Kalau gitu, temenin gue dong ke tempat les nya ya, ya?"
Jeje mendengus sebal, masa gitu aja harus dianter.
"Iya, tapi jangan hari ini gue ada janji mau kumpul sama English club." Ucap Jeje
Lintang menanggapi dengan mengangkat satu jempolnya pertanda setuju.
"Ganti baju yuk, gerah nih."
"Emang udahan ya?" Tanya Lintang
"Gurunya kan gak ada, jadi bebas."
"Oke."
Lintang bukannya tidak bisa pergi sendiri, hanya saja ia ingin Jeje mendukungnya dengan cara menemaninya daftar les. Itu sudah cukup untuk membuat Lintang merasa didukung.
Terkadang, kata 'semangat' dan 'kamu pasti bisa' terdengar fana. Ia pikir, hal-hal seperti itu tidak terasa nyata sebab tidak ada wujudnya.
Sementara dengan tindakan, ia rasa itu dapat memicu rasa semangatnya dan merasa bahwa ia didukung dengan baik.
Hari ini, kepalanya dipenuhi pikiran negatif tentang dirinya sendiri.
Ia berpikir;
Gue bisa gak ya?
Gue takut.
Keahlian gue cuma melukis
Mama bakal dukung gak ya?
Gue takut mau bilang.
"Eh Je, kenapa Lo bengong?"
"Gue udah selesai cepet ganti baju." Ucap Lintang menyadarkan Jeje yang entah sedang berpikir apa.
"Iya."
Lintang berdiri diluar pintu kamar mandi, rambutnya ia ikat dengan kencang.
"Gerah banget."
Matanya menengadah, melihat langit.
"Kenapa langit warnanya biru ya?"
"Kayaknya, mulai sekarang warna favorit gue biru." 
Setelah pelajaran olahraga selanjutnya adalah Matematika, pelajaran yang selalu ia benci. Maka dari itu, Lintang sudah bersiap untuk tertidur dikelas.
"Yuk!" Ajak Jeje yang sudah selesai berganti baju
"Let's go."
"Udah ini MTK kan?" Tanya Jeje
"Iya, mohon bantuannya kak jeje." Ucap Lintang bersikap sopan
Mereka sudah terbiasa untuk bekerja sama, dalam hal ini Jeje menjadi seorang pengawas yang mengawasi ketika guru matematika akan melirik ke arah meja mereka.
"Sebagai gantinya, Lo pinjemin komik kesukaan gue di toko mawar ya." Ujar Jeje
"Pake duit Lo!" Ujarnya sekali lagi
"Iya tenang aja sih." Sahut Lintang tanpa menoleh pada lawan bicaranya
🥀🥀🥀
Sekolah sudah bubar, Lintang dengan senang hati keluar dari kelasnya. Berjalan bersamaan dengan teman-temannya yang lain.
Sebenarnya, dia ingin lebih lama di sekolah. Kalau dirumah, dia akan bertemu dengan mamanya yang cuma bisa marah padanya.
Dirumah memang nyaman, ada TV, tiduran dikasur. Tapi, gue ngerasa gak tenang kalau ada mama dirumah.
Bahkan, seharusnya yang dekat dengan kita adalah keluarga. Terkecuali pada Lintang, ia malah merasa jauh dengan keluarganya. Semenjak ayahnya pergi untuk selama-lamanya.
"Kenapa hari ini panas banget dah."
Kini, Lintang sudah berada di toko mawar yang letaknya cukup dekat dengan sekolahnya. Ia sedang mencari buku komik yang diperintahkan Jeje padanya
"Dragon ball, mana sih si dragon ball." Ucapnya tanpa sadar dengan keras
"Halo, butuh bantuan?"
Lintang menoleh ke sampingnya, seperti pernah melihat orang ini tapi siapa ya?
"Loh?" Ucap pria yang memakai topi khusus untuk karyawan yang ada di toko mawar ini.
"Oh aha, lo biru kan?" Tanya Lintang menunjuk wajah Biru tanpa segan
"Loh, kerja disini?"
"Biasanya ada Pak Sowaf yang jaga." Sambungnya lagi.
Biru menatap tak percaya, ia berjanji tidak akan pernah bertemu wanita ini.
"Ya, begitulah." Jawabnya terus terang "Gue disini cuma pekerja paruh waktu."
"Lo cari komik dragon ball kan?"
"Sini ikut gue." Ucapnya, berusaha profesional.
Lintang mengikutinya, dia merasa ini bukan kebetulan dirinya berjumpa lagi dengan Biru.
"Ini, harga sewanya lima belas ribu." Ucap Biru
"Oke, nih uangnya." Lintang menyodorkan uangnya, kayak de Javu
Lintang yang sudah merasa haus, menitipkan komik tadi pada Biru
"Titip dulu ya, gue mau beli air minum."
Tanpa aba-aba lagi, ia langsung keluar dari toko itu dan menuju ke arah supermarket dengan berlari.
"Sepertinya, itu kebiasaan dia yang selalu ceroboh." Ucap Biru, namun matanya tetap memperhatikan Lintang yamg masih terlihat saat memasuki pintu supermarket.
Tangannya dengan cepat membungkus komik dengan plastik khusus member, Toko komik disini memang sangat nyaman dan bagus, disini bisa membeli atau menyewa jadi sangat cocok untuk para siswa termasuk umum yang tidak mau mengoleksi.
"Sorry, gue lama nih, buat lo." Lintang meletakkan botol minum dengan rasa lemon itu diatas meja.
Biru yang tidak menyadari Lintang sudah kembali, terkejut mendapati gadis itu sudah ada di hadapannya dengan plastik berisi minuman.
"Gak usah, gue gak suka lemon." Tolak Biru dengan tegas
"Eits, gak boleh nolak dah selamat bekerja." Ucap Lintang, dia keluar dari toko itu tanpa menghiraukan perkataan Biru yang bilang bahwa dia tidak suka lemon.
"Ternyata itu memang sifatnya, gue kan udah bilang nggak suka lemon."
Biru menatap minuman itu lama, dia bergelut dengan pikirannya apakah harus ia minum?
Glek!
Ternyata ia juga haus,
"Terimakasih." Gumamnya, Biru meneguk air lemon itu.
"Wah, ternyata lemon enak juga ya."
"Kok baru kerasa enak, atau karena yang ngasih Lintang ya?"
"Ngawur Lo." Pekiknya saat menyadari perkataannya sendiri.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (274)

  • avatar
    123uum

    siap

    24d

      0
  • avatar
    PratiniRehan

    bagus banget bikin baper kata gua teh

    08/05

      0
  • avatar
    FaizRahmat

    bagus

    21/11

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด