logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

My Sea

My Sea

Navulia


Bab 1

Hari biasa, Senin yang sangat membosankan. Lintang, berdiri di warung kantin bingung mau memilih jajanan apalagi. Pasalnya, semua jajanan ini sudah ia coba semua tapi tetap saja si ibu kantin tidak mau mengubah menu atau berinovasi.
"Ah, sebel!" Ucap Lintang dengan kerutan di dahinya.
"Kesel kenapa atuh neng? Kalo bingung pilih siomay aja enak kok." Sahut si ibu kantin dengan senyum lebarnya.
Gadis itu menarik napas panjang, "Yaudah Bu, siomay satu porsi, ingat jangan pakai kol ya!" Perintahnya pada ibu kantin.
"Hahahaha akhirnya nyerah juga Lo!" Ucap Jeje teman duduk Lintang, ciri khas Jeje adalah selalu meledek Lintang.
"Berisik lo!"
Jeje tersenyum lebar, mendapat respon yang ia sukai dari Lintang. Kacamatanya ia buka, menampilkan mata sipitnya yang kentara sekali jika dilepas.
"Geser dikit dong." Ujar Jeje yang sudah siap dengan piring berisi siomaynya.
Lintang menurut, menggeser tubuh kecilnya sedikit.
"Habis ini, gue mau ke laut lagi mau ikut gak, Je?" Tanya Lintang, sementara piring siomaynya baru saja mendarat di mejanya dengan mulus.
"Makasih Bu!" Seru Lintang berterimakasih pada ibu kantin yang dibalas anggukan khasnya.
"Gue gak bisa, hari ini ada les bahasa inggris." Jawab Jeje dengan cepat.
Lintang kembali berdecak sebal, temannya ini sangat sulit ketika ia mengajaknya ke laut.
"Ck! Kenapa sih?! Hari Senin tuh nyebelin banget."
Jeje menggelengkan kepalanya pasrah telinganya sangat sakit berkat suara cempreng Lintang, kalau bukan temen udah gue sleding ni bocah..
"Cepetan! Gue udah selesai bentar lagi juga bel masuk." Ujar Jeje, ia tidak ingin ketinggalan mata pelajaran favoritnya yaitu Bahasa Inggris bahkan mimpinya untuk menjadi translator pun sepertinya akan tercapai, karena Jeje memang pandai dalam hal itu.
"What the duck!" Pekik Lintang kaget, baru aja istirahat masa udah mau masuk lagi? Sakit nih sekolahan.
"What the fuck njir, bukan duck bebek kali ah." Ucap Jeje menahan tawa.
"Ya.. pokoknya itu deh." Sahut Lintang tanpa ingin memperbaiki kalimatnya.
Dengan cepat, ia melahap siomay tanpa tersisa sedikitpun kemudian meneguk minumannya dengan
cepat. Ia menyusul Jeje yang sudah berada diluar kantin.
"Yuk! Bu uangnya di atas meja ya maaf lagi buru-buru." Ucap Lintang dengan suara cemprengnya.
"Ayo lari, gue gak mau ketinggalan mapel fav gue huhuhu." Ucap Jeje dengan dramatis.
"Kalo bisa gue mau kabur aja sendiri tapi, gue masih sayang nilai."  Ujar Lintang, ia meringis mengingat betapa buruknya nilai semester kemarin.
"Je tunggu!" Teriak Lintang sembari berlari menyusul Jeje dengan cepat.
"Halo sir, i'm sorry-" Ucapan Jeje terputus karena suara nyaring Lintang dibelakangnya.
"Hosh.. huh, cape banget anjir." Lintang menyusul dibelakang Jeje tanpa menyadari bahwa Mr. Revano sudah berdiri di kelas dengan spidol warna hitam pekatnya.
"Ups!"
Jeje dengan cepat mengkode Lintang untuk segera menundukkan kepala dan segera meminta maaf.
"Maafkan saya pak!" Seru Lintang sungguh-sungguh.
"Speak English, Lintang." Sahut Pak Revano dengan tegas.
Lintang melirik Jeje meminta bantuan, ini semua gara-gara sekolahan yang luasnya tidak karuan. Kakinya sampai lecet tadi, tanpa ia sadari.
"Sorry sir, eee.. I telat now." Ucap Lintang dengan tangan gemetar karena ia merasa tidak lancar berbahasa Inggris jadi, yaa terpaksa ia mengarang saja. Dalam mapel kali ini, semua murid wajib menggunakan bahasa Inggris tanpa terkecuali.
Jeje memelototi Lintang, semua teman sekelas mereka mentertawakan ucapan Lintang barusan.
"Hahahahaha..." Serentak semua yang ada dikelas itu tertawa tanpa jeda
"Ngakak anjierrrr!" Ini suara tos yang berasal dari Jhonny, teman sekelas Lintang dan Jeje. Yang suka menempel menanyakan hal apa yang disukai Jeje, jelas Jhonny pasti menyukai temannya. 
Sialan..
🥀🥀🥀
"Aaaaaaa gue benci semua yang ada dibumi!"
"Bisa gak gue pindah planet aja?!"
"Atau gue ke dunia laut aja jadi ikan pari kali ya?"
"Ehm, hahaha.."
Lintang yang sedang berdiri ditepi laut terkejut karena mendengar suara lain selain dirinya.
Harusnya, disini hanya ada suara ombak dan angin yang bersahut. Kenapa ada suara orang lain?
Lintang berbalik badan, menemukan sosok pria dengan sepedanya berdiri tak jauh darinya.
"Apa Lo!?" Sewot Lintang, dia kira gue apaan sampe di liatin gitu.
"Ha-ha-ha maaf, suara lo terlalu kenceng gue jadi denger." Ucapnya meminta
maaf.
Lintang akhirnya menghampiri pria itu, dia tersenyum mengangkat tangan kanannya.
"Gue Lintang, Lo siapa?" Tanyanya, entah apa yang merasuki gadis ini sampai-sampai ia ingin berkenalan dengan cowok
asing.
Namun, pria itu hanya diam menatap mata Lintang yang sedang menatapnya.
"Cepetan, pegel ni tangan gue." Ucap Lintang kesal
"Gue Biru." Sahutnya saat tersadar dari lamunannya.
"Biru? Warna? Hah?!" Kaget Lintang, Namanya biru? What? Baru kali ini gue denger namanya tapi lumayan ganteng juga sih orangnya.
"Kenapa? Nama gue memang unik kan." Pernyataan Biru membuat Lintang mengangguk setuju.
"Nama Lo emang unik sih, tapi.. eh gajadi deh." Sahutnya.
Melihat sepeda Biru, Lintang melihat ada banyak sekali bunga hias palsu apakah itu dijual? Pikirnya.
"Ini dijual? Berapaan?" Tanyanya penasaran.
"Kalau yang satu tangkai 20rb, kalau bunga Camelia 25rb." Jawabnya tanpa ragu.
"Hah?! Beda 5rb doang, gue pengen yang bunga Camelia." Ucap Lintang, mengambil bunga itu dengan cepat.
"Lo mau beli?" Tanya Biru memastikan.
"Nih, uangnya." Lintang menyodorkan uang lima puluh ribuan, menjawab keraguan Biru.
"Kembaliannya." Ucap Biru sembari menyodorkan uang kembalian Lintang
"Besok Lo kesini lagi gak?" Tanya Lintang
Biru menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. Gadis ini, mau apa sebenarnya sampai menanyai hal-hal pribadi seperti ini. Pikirnya.
"Gue nanya buat beli bunganya lagi." Ucap Lintang, melihat Biru yang seperti terganggu dengan pertanyaan itu.
"Setiap hari ini sama Rabu gue selalu disini." Sahutnya lega, matanya menyipit melihat matahari terbenam dengan
cepat.
Dilihat dari warna langit yang mendung, Biru yakin sebentar lagi akan hujan. Baru saja, ia memprediksinya tetesan air kecil turun mengenai hidungnya.
"Wah, udah mulai gerimis gue mau pulang." Ucap Lintang buru-buru pergi tanpa menganggap kalau di depannya ada manusia.
Pria itu, menggelengkan kepalanya heran. Bagaimana bisa anak muda zaman sekarang tidak punya sopan santun, kalau ia bertemu lagi dengannya akan ia nggak, gue gak mau ketemu perempuan itu lagi..
Biru segera pergi dari sana, mengemudikan sepedanya menelusuri hari yang sudah gelap.
Bibirnya tersenyum tipis, mengingat kata-kata dan pertemuannya dengan gadis SMA tadi. Ia jadi tertular semangat Lintang entah bagaimana, dia  teringat ketika masa SMA nya yang sangat seru.
"Apa sih, lupain kejadian tadi lagipula gue gak akan ketemu lagi sama dia." Gumamnya.
Lelaki itu, sudah sampai di depan rumahnya aih, tepatnya rumah Paman dan Bibinya. Ia sudah menumpang disana semenjak ia lulus SMA, menjual bunga dari sore sampai malam sudah ia jalani sekitar 7 bulan ini.
"Eh, Biru udah datang?" Terdengar suara bibinya menyambut kepulangan keponakan kesayangannya.
Biru hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam rumah.
"Hari ini ada tempe goreng cepat makan ya Biru, bibi mau buka kedai bentar lagi." Ucap Letna ia tergesa-gesa mengambil tasnya.
"Jangan lupa dimakan ya." Pesannya pada Biru yang hanya mengangguk patuh.
"Kalau aja gue bisa bantu bibi buat buka kedai juga." Gumam Biru, ia duduk memangku piring yang berisi nasi plus tempe goreng buatan bibinya.
🥀🥀🥀
"Darimana kamu?"
"Kenapa baru pulang sekarang?"
"Aku habis main di rumah Jeje." Lintang sengaja berbohong, untuk tidak ditanyai hal-hal
lain.
Citra hanya mengangguk paham, ia kemudian pergi dari sana.
Lintang masuk ke kamarnya, tatapan matanya yang semula bersinar, kini meredup tanpa sisa.
"Cuma nanya gitu aja? Kenapa dari sekian pertanyaan yang keluar cuma itu." Gumamnya kesal.
"Anak orang lain ditawarin makan dulu kalo pulang ke rumah, ini gue apaan?! Gak di kasih perhatian apapun."
Lintang berdecak sebal, kenapa ia berharap yang tidak mungkin sih? Yang ada, dia selalu bertengkar dengan mamanya atau perang dingin.
"Lebih baik gue mandi." Ucapnya lagi.
Hubungan Lintang dan Citra memang tidak bisa dibilang baik, mereka akan berselisih jika mengobrol banyak. Apalagi, Citra tidak pernah menyematkan waktunya untuk memperhatikan Lintang dengan alasan pekerjaan.
Kurangnya komunikasi, membuat mereka menjadi menjauh dengan sendirinya. Dulu, mereka cukup akrab sekarang mereka seperti kucing dan tikus.
Sepertinya memang benar, kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu benar. Karena sifat mereka benar-benar sama, keras kepala dan juga tidak mau mengalah.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (274)

  • avatar
    123uum

    siap

    29d

      0
  • avatar
    PratiniRehan

    bagus banget bikin baper kata gua teh

    08/05

      0
  • avatar
    FaizRahmat

    bagus

    21/11

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด